
Setelah beberapa 3 jam Awan tidak sadarkan diri, akhirnya ia kembali membuka matanya. Ia mencoba menggerakkan kepalanya untuk menoleh kekanan dan kekiri. Akhirnya ia menyadari, kalau saat ini ia berada di rumah sakit.
Tiba-tiba seorang suster perawat masuk ruangan untuk mengecek infus dan kondisi pasien. Suster itu pun, mendapati Awan yang sudah siluman.
"Oh, masnya udah bangun toh." ucap suster itu dengan senyuman.
"Saya cek dulu ya mas ... Gimana mas apa yang di rasain sekarang?" tanya suster itu.
"Cantik..." jawab Awan asal.
Mendengar ucapan Awan tersebut, suster itu pun tersenyum.
"Ditanya kemana jawabnya kemana." ucap suster itu dengan wajh yang memerah.
"Becnda mba, rasanya pusing banget pas buka mata. Tapi pas liat mbanya, pusingnya reda." ucap Awan lemas, namun mencoba menggombal.
"Masnya bercandanya sama kaya suami saya, hahaha..." jawab suster tersebut dengan tawa kecil.
Mendengar hal itu Awan terdiam.
"Hahahaha... Babak belur gitu aja, masih sempet godain Boni orang," tawa Rudiat yang duduk di sofa ruang rawat Awan.
Awan pun segera menatap kearah suara Rudiat yang tengah menertawakan nya. Sekejap wahaj Awan pun memerah menahan malu.
"Hehehe, salm but suaminya mba." ucap Awan sambil menahan malu.
"Oke ... Nah kalo masih pusing itu wajar mas, soalnya mas bru aja kehilangan darah banyak banget. Nanti tunggu 1 jam lagi, kalo masih pusing bilang ya. Saya tinggal dulu ya ... Mari pak." jelas suster itu, kemudian berpamitan pada Awan dan Rudiat untuk keluar ruangan.
Awan dan Rudiat pun menjawab dengan anggukan kepala.
"Bro, selra mu boleh juga, binor alias bini orang Haha..." ucap Rudiat mengejek Awan.
"Apaan sih om, becanda doang juga..." sahut Awan malas.
"Hahaha... Halah, bilang aja mencoba peruntungan." sangkal Rudiat.
"Hehe... Bapack-bapack tau aja, tapi emang cantik kan mba tadi?" ucap Awan.
"Hihihi... Ia cantik. Tapi kamu ngaca dulu dong, mukamu itu ga ada bentuknya." ucap Rudiat.
"Rasanya sih kaya bengkak gitu, coba om ada kaca ga? Mau liat." ucap Awan
"Ngapain pake kaca, sini om fotoin ... Nah ni liat hahaha..." ucap Rudiat yang kemudian tak kuat menahan tawa.
__ADS_1
"YA AMPUN!!! Muka gue ga simetris," ucap Awan terkejut.
"Hahahaha... Kaya gitu masih ngegombalin binor. Hahahah..." timpal Rudiat.
"Tau gini saya mending diem tadi om ... Ya ampun, masih ketolong apa engga ini ya? Gini amat." ucap Awan menyesali perbuatannya.
"Hahaha... Tanya sendiri sama dokternya, tapi om rasa itu mah permanen." ucap Rudiat yang sedari tadi terus menertawai Awan.
"Ah, yang bener om? Bisa jadi jomblo akut saya hahaha..." ucap Awan kemudian mereka pun tertawa bersama.
"Tok! Tok! Tok!"
Tiba-tiba pintu diketuk tiga kali dari luar. Rudiat pun segera membukakan pintu, ternyata yang datang adalah Arka bersama dengan Akim.
"Masuk ka ... Wah, ada calom pengantin juga nih." ucap Rudiat.
Arka pun segera masuk, di ikuti dengan Akim.
"Hehehe... Ia nih om, om apa kabar?" Ucap Akim basa basi.
"Om baik kok." jawab Rudiat singkat.
"Weiiits, jagoan udah sadar kayanya." ucap Arka ketika melihat kondisi Awan.
"Ya ampun, muka apa gemblong itu?" ucap Akim asal.
"Wah, ko sampe parah gitu muka lu?" tanya Akim.
"Ah, ia bang... Untung masih hidup ini bang." jawab Akim.
"Wah, bisa sembuh cepet ga ya? Aca gue hari sabtu malem Wan ... Tapi kalo masih sakit jangan di paksain, istirahat aja dulu Wan." ucap Akim.
"Bisa kok, tadi gue udah tanya sama dokter. Klo di kepala, Awan ga ada cidera serius, paling memar aja kaya gitu. Bisa di bantu pake make up. Paling buat tangan kirinya ga bisa bnyak gerak dulu, paling engga satu bulan sampe luka sobeknya sembuh. Nanti gue cari temen deh buat bantu di acara, biar ni anak nyanyi aja." jelas Arka.
"Oh gitu? Syukur deh kalo gitu. Hebat lo Wan, menang lawan om Bobbie."
"Bang Akim kenal om Bobbie juga?" tanya Awan.
"Kenal lah, dulu waktu masih sma, gue sering kerumahnya Arka. Nah, bokapnya Arka yang ngenalin temen-temenya ke gue, kuncen, Maman, sama Ogi." ucap Akim.
"Oh gitu... Bang Arka, gue bisa balik ga malam ini? Soalnya gue ada ujian besok." tanya Awan.
"Kalo hari ini belom, karena masih di pntau am dokter. Dan lo juga paling belom kuat jalan. Untuk ujian nanti gue maintain ujian susulan di hari lo bisa msuk." ucap Arka.
"Bang makasih bnyak ya bang, lo bantu gue banget bang. Kalo ga ada lo, udah mati kali gue," ucap Arka dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ga usah lebay..." ucap Arka kemudian mengusap kasar wajah Awan.
"AAAAAA!!!" teriak Awan.
"Eeehh! Maap, lupa gue Wan!" ucap Arka panik dan merasa bersalah.
"Gila lo, makin berantakan tuh muka." seru Akim.
Rudiat pun hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka bertiga.
...----------------...
Dua hari Kemudian.
Awan pun dinyatakan sudah membaik, namun luka di lengannya masih perlu perawatan khusus. Namun Awan sudah dinyatakan boleh pulang. Awan pun menanyakan perihal biaya pengobatannya, ternyata semua telah di tanggung oleh Rudiat. Kemudian Awan menanyakan tentang pasien yang bernama Bobbie, karena ia mendapat info dari Arka, bila Bobbie juga datang kerumah sakit ini bersamanya. Petugas administrasi pun menyatakan pasien ats nama Bobbie langsung boleh pulang di hari yang sama setelah dia masuk.
'Gue harus temuin bang Bobbie sebelum balik kerumah mayang.' gumam Awan dalam hatinya.
"Bro, udah siap pulang?" tanya Arka.
"Udah bang, lo mau kemana sekarang bang?" tanya Awan.
"Gue mau ketemuan ama orang yang bakal bantu kita di acara Akim besok, abis itu ke kampus." ucap Arka.
"Ya udah, drop gue sampe terminal aja bang. Soalnya gue mau liat kondisi bang Bobbie." ucap Awan.
"Oh, OK... Lagi juga ketemuan ya di cafe biasa ... Yo, cabut." ucap Arka.
"OK bang..." jawab Awan keduian mereka berdua pun menuju parkiran tempat motor Arka terparkir.
Sesampainya di terminal, Awan pun turun dari motor milik Arka.
"Bang sekali lagi, makasih banget ya, sampein salam gue buat om Rudiat." ucap Awan.
"Santai aja Wan, itu gunanya temen. Ya udah gue ke cafe dulu ya. Ati-ati di sana, pastiin ga ribut." pesan Arka.
"Sip bang." jawab Arka.
Kemudian Awan melangkah menuju kediaman Bobbie, banyak orang yang memperhatikannya karena banyak luka dan masih terlihat sisa lebam di wajahnya.
Anak-anak jalanan pun menundukkan wajah ketika melihat Awan. Beberapa dari mereka, ada yang mendekat dan menyapa Awan. Mulai dari kekalahan Bobbie dua hari yang lalu, Bobbie telah menyerahkan kepempinan anak jalanan daerah terminal pada Awan. Bobbie juga menyatakan pada mereka, siap yng berani menentang Awan, berarti menentang dirinya juga.
"Emm, bang Bobbie ada?" tanya Awan.
"Ada boss, di dalem lagi terapi Boni jalan." jawab salah satu anak jalanan tersebut.
__ADS_1
'Apaan si, manggil boss segala.' gumam Awan dalam hati.
Bersambung...