
Jujur, aku sangat senang berada diantara Mayang dan ayahnya, aku merasa memiliki keluarga lagi, seperti waktu itu. Namun aku tak ingin menambah beban pada mereka. Sampai kapanpun, takan kulupakan jasa mereka.
Pagi ini aku memutuskan untuk pergi mendatangi sekolahku, stelah kemarin aku tidak dapat pergi kesekolah. Sesampainya di sekolah, semua nampak berbeda. Kali ini terlihat banyak sekali siswa yang berada di luar kelas.
Seperti biasa hanya satu yang ku cari, ya itu Nala. Kuedarkan pandangan ku diantara ramainya siswa, sebentar ku mencari, namun belum kudapati. Aku coba mencari lagi, kudatangi tempat biasa kita berjumpa, namun masih belum kutemukan.
Aku terus berjalan membelah kerumunan siswa, dan aku mulai melihat rambut hitam yang terurai indah. Aku sangat mengenali pemilik rambut itu. Keindahan itu bagaikan magnet, yang menarik semua pandangan untuk melihat ke arahnya. Lagi-lagi ini adalh bagian favoritku, menatap dirinnya dari belakang. Aku diam dan menunggu dia yang menoleh kepadaku dan menyapaku.
Kulihat kali ini dirinya sangat sibuk, di kelilingi oleh teman-temannya jauh lebih banyak dari biasanya. Mungkin karena dia kini jauh lebih terkenal.
Aku masih setia dengan senyumannya, senyuman yang selalu melintas beriringan dengan setiap tutur kata yang dirinya ucapkan. Tak ingin kubagi cerita ini dengan yang lain, akan selalu kusimpan dan cukup aku yang tau bila aku benar-benar mengagumimu sedalam ini.
Telah lama aku berdiri di belakangnya, akhirnya waktu yang ku tunggu tiba di detik-detik terakhir. Dia menyapaku, menyebut namaku, dan kini berlari ke arahku. Melihat dia berlari ke arahku, ingin ranaya kurentangkan tangan dan menyambutnya datang dengan pelukan. Namun itu terjadi pada khayalanku saja.
"Selamat pagi Jawa, seneng banget liat kamu masuk hari ini." ucap Nala dengan senyuman manis.
"Se... Selamat pagi Nala. Cantik banget kamu hari ini." ucap ku yang salah tingkah.
"Hahahah lucu juga pake bahasa aku kamu Wa."
"Kaku banget, tapi enak dengernya."
Bel pun berbunyi untuk memisahkan kita. Dia pun pergi dengan meninggalkan senyuman serta lambaian tangan yang akan selalu berhasil menjadi asupan vitamin penyemangat hidupku.
****************
Sepulang sekolah Awan pun menunggu Nala di depan kelasnya, untuk melakukan rutinitas yang biasa mereka lakukan, yaitu pulang bersama. Nala keluar dari kelasnya sambil mengprasikan smartphone miliknya.
"Wow, hp baru nih" ucap Awan menyadarkan Nala yang berjalan dengan terus menatap smartphone miliknya.
"Ehh Jawa, lo udah disini aja. Iani hp kerja, mulai hari ini kerjaan gue di mulai Wa."
"Oh gitu, semangat Nal. Tunjukin performa lo yang terbaik."
"Tapi gue sedih nih. Ga bisa konser bareng lo lagi. Di tambah lagi gitar lo udah ancur kan Wa? Gimana kalo Lo gue kenalin ke kak Nico, suara lo itu kan bagus banget Wa. Biar kita bisa kerja bareng lagi dan tidak terpisahkan."
"Jangan ngawur kamu Nal, kerja aja belom mulai mau bawa orang. Udahlah Nal, fokus aja sama project lo saat ini. Gue dapet kerjaan di cafe tempat bapaknya Mayang kerja, katanya di sana terima part time. Dan gue juga udah pamitan sama mayang dan bapaknya, buat tinggal di rumah gue sendiri. Jadi gue ga tinggal di rumah Mayang lagi."
"Wow, cafe? Nyanyi Wa?"
"Kurang tau, tapi pastinya pelayan sih. Soalnya biasanya part time jadi pelayan atau stay di dapur."
"Oh gitu, syukur deh. Kayanya bentar lagi supir kak Nico dateng Wa. Nanti gue bisa nitip beliin es cendol yang ada di depan sekolahan buat mamah. Tadi soalnya mesen dia. Sedangkan gue kayanya ga pulang dulu kerumah, soalnya kak Nico sengaja pengen aku pake seragam sekolah buat kebutuhan konten youtube dia."
"Ok, Nal. Gue yang atur kalo ke mamah. Lo ati-ati ya, jaga diri lo."
__ADS_1
"Ok sayang 😉"
"To... Tolong pegang pegangin gue Nal."
"Eeehh... Kenapa Wa? Lo baik-baik aja kan?"
"Tolong gue mau terbang di panggil sayang."
Nala tidak menjawab apapun hanya mendorong kepala Awan dengan ujung jari miliknya.
"Bye Jawa 😉" ucap Nala kemudian mengedipkan satu matanya ke arah Awan.
"kawaiiii 🫰" ucap Awan.
Nala pun pergi bersama mobil jemputan milik Nico. Seperti yang di pesan oleh Nala, Awan membelikan es cendol kesukaan ibu Ratih, ibu dari Nala. Setelah membelinya, Awan pun berjalan menuju Rumah Nala yang tidak terlalu jauh, kira-kira 25 menit berjalan kaki.
Awan membeli es cendol titipan Nala tanpa es batu, karena memang itu kebiasaan Nala. Agar esnya tidak men cair di perjalanan, dan akan tetap manis bila di sajikan. Sedangkan untuk es batu, kebetulan ibu Ratih menjualnya di rumah, sehingga tidak membutuhkan es dari tukang cendol langganannya.
Sesampainya di kediaman Nala, Awan memberikan pesanan Nala yaitu minuman cendol kesukaan ibu Ratih.
"Ya ampun nak, jadi ngerepotin kamu." ucap bu Ratih.
"Ah ga papa bu, kebetulan saya pulangnya juga lewat sini. Tadi Nala mau ada syuting udah di jemput sama supirnya kak Nico." jawab Awan.
"Ia tadi juga bilang ibu, katanya pulang sekolah mau langsung di jemput. Semoga aja semua berjalan baik."
"Ia smoga aja ya nak, oh ia sini masuk dulu. Temenin dulu Naufal ngerjain tugas tuh, dari tadi uring-uringan ga jelas."
"Oh ia bu, saya bantuin bentar."
Tak lama setelah Awan masuk kedalam rumah ibu Ratih, tiba-tiba para tetangga yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan ibu Ratih dan Awan pun mendekat.
"Bu, bu Ratih... Ko masih biarin Nala deket sama anak gelandangan itu sih? Bentar lagi kan anak ibu udah jadi artis, itu bisa mempengaruhi karier Nala loh bu. Gimana kalo Awan cuma jadi banlu, manfaatin Nala doang bu. Nala juga udah mulai harus pilih-pilih temen bu." Ucap tetangga ibu Ratih yang sangat hobi bergosip.
"Semoga yang di omongin ibu-ibu ga bener ya, soalnya Awan itu anak baik ko bu. Makasih ya bu udah khawatir sama anak saya." jawab ibu Ratih singkat.
"Ibu Ratih liatin aja nanti, pasti si gembel itu bakal manfaatin ketenaran Nala bu, ya udah ya bu, kami cuma mau peringtin bu Ratih Aja, kalo anak jalanan tuh g ada yang bener bu." ucap ibu-ibu tersebut dan pergi meninggalkan ibu Ratih.
Ibu Ratih hanya mampu menghela nafas panjang mendengar guntingan tetangganya tentang Awan. Hal itu malah membuatnya semakin iba dengan Awan yang hidup seorang diri di ibukota yang sangat keras ini.
"Bu, saya udah selesai bantuin tugas Naufal, sekarang aku pamit pulang dulu ya bu. Kalo boleh minta doanya sekalian, saya mau coba kerja part time di cafe yang deket terminal. Nanti salamin aja buat Nala ya bu kalo dia udah pulang." ucap Awan yang segera berpamitan karena telah selesai membantu tugas sekolah adik dari Nala.
"Oh ya, ibu domain semoga kerjaanmu lancar nak, harus tetap hati-hati dan tetap semangat ya." ucap ibu Ratih tulus.
"Makasih bu, Awan pamit" ucap Awan dengan mata yang berkaca-kaca karena merasa sangat senang mendapat doa dan nasihat dari seorang ibu
__ADS_1
walaupun bukan ibu kandungnya, namun Awan mampu membayangkan bila ia memiliki seorang ibu, pastinya akan melakukan hal sama terhadapnya. Mendukungnya dalam setiap hal positif yang ia lakukan, dan menasihatinya ketika ia melakukan kesalahan.
...----------------...
Sesampainya di cafe Awan bertemu dengan Ayah dari Mayang. Tertulis nama pada dadanya yang bertuliskan Yadi.
"Oh kamu udah dateng. Ayo bapa kenalin sama atasan bapa." ujar pak Yadi.
"Baik pak."
Awan menatap ke sekeliling cafe. Walaupun siang hari, cafe ini sangat ramai. Banyak dikunjungi para remaja, anak sekolah, mahasiswa, bahkan pegawai kantoran yang tengah meeting ataupun sekedar santai.
Sesampainya di ruang manager cafe, pak Yadi memperkenalkan Awan pada atasannya tersebut. Awan pun memperkenalkan dirinya serta menjelaskan maksud tujuannya untuk bekerja di cafe ini.
Di karenakan saat ini cafe sedang full pelanggan, manager tersebut pun merasa senang dengan hadirnya Awan untuk dapat membantu pekerjaan di cafe.
"Kebetulan banget, hari ini cafe lagi full banget tuh. Kamu bisa bantu-bantu disini. Untuk pekerjaan apa yang harus kamu kerjakan, kamu bisa langsung tanyakan pada Yadi." ucap sang manager cafe
"Baik pak, terimakasih banyak pak." ucap Awan dengan penuh semangat.
Awan pun menuju dapur untuk menemui pak Yadi, guna mendapatkan tugas pertamanya.
"Gimana?" tanya Yadi.
"Aku di terima pak, dan bisa langsung bantu-bantu katanya." jawab Awan dengan senyuman lebar.
"Syukur deh, sekarang kamu bisa bantu beresin meja yang udah kosong, bawa semua piring dan gelas kotor disana ke belakang untuk di cuci. Jangan lupa kamu kenalan sama pegawai yang lain ya." ucap pak Yadi yang ikut senang.
"Ok, siap pa. Makasih banget ya pa, bapa lagi-lagi udah nolong saya."
"Udah, kerja yang bener ya."
"Siap."
...****************...
Ini adalah hari pertama ku bekerja di sebuah cafe. Aku pun berkenalan dengan para pegawai yang lain yang ada disana, semuanya tampak ramah dan baik. Ketika aku sedang membersihkan satu meja, tiba terdengar suara yang tidak asing bagiku. Suara yang indah yang sering kudengar.
Aku menatap sebuah layar LCD besar, ternyata operator tengah menyayangkan siaran langsung dari cha el youtube Nicolas Jeremy. Aku melihat orang kucintai berada di sana dan sedang menya yikan sebuah lagu bersama Nico.
Aku tidak memperhatikan Nico yang juga bernyanyi. Aku hanya memandang lurus ke arah Nala. Dirinya selalu mampu menyita perhtianku. Dan kali ini, kau dia terlihat semakin cantik. Aku tersadar dari lamunanku, kemudian melanjutkan pekerjaanku. Mungkin ini akan jadi penyangat tersendiri buatku. Bekerja diiringi suaranya, walau aku tau dia tidak bernyanyi untukku, tapi aku ucapkan terimakasih.
...****************...
Semua pengunjung cafe terpana mendengar dan melihat Nala dan Nico bernyanyi. Ada yang kagum dengan suara Nala, ada juga yang kagum karena kecantikannya. Dalam satu kali tampil di chanel youtube milik Nico, Nala berhasil menjadi trending topik dan menambah jumlah viewer dan subscriber untuk chanel youtube Nico.
__ADS_1
Yang lebih menarik perhatian para netizen adalah sikap Nico pada Nala yang terkesan so sweet bagi mereka.
Bersambung...