SUARA SENJA

SUARA SENJA
Bab 24 "Let's Fight"


__ADS_3


"Lo jagoan di sini? Berani-beraninya lo mukulin Ade gue sampe masuk rumah sakit. Udah punya banyak nyawa lo. Malem ini, gue abisin semua nyawa lo bangsat."


"Aaahh..." rintih Awan.


"Mati lo Anj... AAAARRGHH!!!" tiba-tiba ucapan pria besar itu terhenti, kemudian jatuh tersungkur.


Rupanya Awan menyerang area vital pada pria tersebut. Melihat saudara dari Boni yang mengerang kesakitan, Angga segera gerak cepat dengan menangkap Awan dari arah belakang. Awan melihat Angga memegang pisau pada tangan kanannya, namun Angga tidak mencoba untuk menusuk Awan melainkan memegangi tubuh Awan agar Awan tidak dapat lari. Hal ini membuat Awan yakin, bila Angga tidak punya nyali ituk menusuk seseorang.


Awan pun menyerang Angga dengan kepala Bagian belakang miliknya. Serangan tersebut mengenai hidung mancung milik Angga hingga berdarah.


"Aaahh... BAJINGAN!!!" jerit Angga yang akhirnya melepaskan Awan.


Awan yang terbebas dari jeratan Angga, berniat untuk menghajar Angga dan pria besar tersebut. Namun tiba-tiba datang sekitar lebih dari lima orang meneriaki Awan.


"Woi!!! Ngapain lo!!!" seru rombongan preman yang baru datang dan siap memburu Awan.


Segera Awan mengurungkan niatnya untuk menghajar Angga dan pria besar itu, Awan memilih berlari meninggalkan mereka semua ke arah pemukiman warga.


"Arrghhh!!! Si Bangsat itu kabur." ucap pria besar itu.


"Kejar ga bang?" tanya anak buah dari pria tersebut.


"Ga usah, Kita jaga abisin dia besok." ucap prua besar itu yang masih merasakan sakit di area Vital nya.


Arka baru saja sampai tempat kejadian, ia sempat melihat pertarungan Awan dari kejauhan. Saat Arka hendak menolongnya terlihat Awan dapat mengatasi masalah itu dan lari. Arka pun berhenti mengikuti Awan, karena preman tersebut pun tidak mengejarnya.


'Cih... Seru juga hidup tuh bocah.' gumam Arka dalam hati sambil tersenyum.


Awan berlari sangat jauh, bahkan melewati kediaman milik mayang dan ayahnya. Awan tak ingin bila pak Yadi dan Mayang akan terlibat dengan masalahnya. Awan pun memutuskan untuk pulang kerumahnya yang ada di kolong jembatan.


Sesampainya di sana, Awan sangat terkejut. Karena rumah miliknya telah hancur. Rumahnya yang 80% terbuat dari kayu dan tripleks, kini sudah hancur berantakan.


"Wan, tadi sore ada banyak preman dateng kesini, terus mereka ngancurin rumah lo gitu aja. Warga ga ada yang berani cegah preman-preman itu." ucap salah satu tangga Awan.


Awan hanya tertunduk dan mengepalkan tangannya dangan sangat kuat.

__ADS_1


"Ok, makasih ya infonya kang..." ucap Awan dengan senyuman.


'Kenapa lo semua ngelakuin ini njing? Aarggh!!!' umpat Awan dalam hati.


Awan menuju rumahnya yang telah hancur tersebut. Dangan penerangan seadanya, Awan mencoba mengumpulkan barang-barang yang masih ia bisa pakai. Awan menemukan mangkok keramik pemberian mendiang nenek angkatnya.


Butiran air mata kembali hadir. Terkenang semua kenangannya bersama nenek angkatnya di rumah ini. Walau bukan nenek kandung, namun Kasih sayangnya kepada Awan tidak diragukan. Ketulusan yang tercurahkan dari sang nenek, membuat ia bisa hidup sampai saat ini.


Flash back*


"Wan, Awan... Sini nak. Nanak udah masak sup nih buat kamu." ucap sang nenek.


"Woah! Sup ayam ya nek?" tanya Awan kecil dengan penuh semangat.


"Hahaha... Sup wortel sama kentang, kalo ayamnya ga ada, tapi nenek pake masako rasa ayam loh." jawab sang nenek lembut.


"Wah! Rasanya jadi kaya pake ayam ya nek?... Wihhh!! Ini mangkok baru ya nek, akhirnya bisa pake mangkok keramik juga kaya orang-orang nek ... Nek liat, di mangkoknya ada gambar ayam jagonya." ucap Awan kecil kegirangan.


"Ia, kemarin nenek tukerin barang bekas ke mangkok keramik. Nenek inget, kamu selalu pengen nyobain makan pake mangkok keramik. Hahahaha..." ucap nenek sambil menuangkan sop yang baru matang kedalam mangkok sedikit demi sedikit.


Awan kecil pun memeluk erat neneknya itu.


"Ia, ia... Nenek yakin, Awan pasti jadi orang sukses nanti. Makanya Awan harus semangat belajarnya. Nanti kalo udah pinter, Awan bisa jadi orang sukses." jawab sang nenek dan membalas pelukan cucu angkatnya yang sangat ia sayangi.


*****


Kenangan yang indah semasa nenek angkatnya masih hidup pun menambah kesedihan Awan. Ia melanjutkan mengumpulkan barang-barang yang masih berguna dan berarti di hidupnya.


'Nek, maafin Awan nek. Awan ga bisa jagain rumah nenek. Awan ga berguna nek. Maafin Awan.' gumam Awan mengutuk dirinya sendiri.


...----------------...


Awan membuka matanya, ia melihat langit yang mulai terang. Ia tertidur di atas puingan rumahnya yang telah hancur. Semalaman ia Mencoba mengumpulkan barang-barang yang menurutnya sangat berarti. Yaitu barang-barang pemberian nenek angkatnya semasa neneknya masih hidup.


Hari ini adalah hari minggu, yang berarti ia libur sekolah. Awan telah memikirkan baik-baik langkah apa yang akan ia ambil kali ini.


Pertama-tama ia akan menitipkan barang-barang miliknya di kediaman pak Yadi. Awan tidak menemui mayang ataupun pak Yadi, Awan hanya menaruh semua barangnya di dalam pagar rumahnya, menitipkan sebuah amplop yang berisi uang Serta sebuah surat.

__ADS_1


Kemudian keputusan terbesarnya adalah mendatangi rumah Boni, yang menjadi tempat berkumpulnya para anak jalanan dan para preman, sebelum mereka berkeliaran di sekitaran terminal. Awan merasa bahwa ia harus mengakhiri semua ini. Jika ia terus lari pun, tidak dapat menjamin keselamatan dirinya beserta orang-orang disekitarnya.


Awan sudah siap jika ia harus terluka ataupun mati, karna ia sangat mengetahui watak para preman. Mereka takan berenti sampai ada yang mati. Saat ia melewati sisi kanan terminal, tiba-tiba ada yang menariknya dari belakang.


"Pagi bro..." ucap Arka.


"Loh, bang Arka? ngapain pagi-pagi udah ada disini bang?" tanya Awan sedikit terkejut.


"Rasanya gue mau sedikit olahraga aja Wan. Ayo!" jawab Arka santai.


"Hah? Ayo kemana bang?" tanya Awan heran.


"Perang lah..." ucap Arka.


Kemudian muncul satu orang berbadan tinggi besar dan memakai pakaian yang rapih.


"Ii... Itu siapa bang?" tanya Awan


"Ini om gue, om Rudiat namanya ... Om ini Awan, tang kemarin Arka ceritain." jawab Arka kemudian memperkenalkan om nya pada Awan.


"Gini bro, kemarin malem gue liat lo di keroyok sama preman sini. Tapi ada satu orang yang badannya gede dan lebih dewasa dari yang lain, dan gue kenal dia. Itu Bobbie bawahan dari om gue. Nah, lawan lo kali ini bukan preman bro, tapi gangster. Menurut gue ini ga adil bro. Makanya gue bawa om Rudiat buat jaga-jaga. Gangster beda sama preman kampung, dia ga segan-segan buat bunuh lo Wan." jelas Arka.


"Bang, gue rasa lo g usah ikut campur bang. Gue ga mau masalah ini panjang, lo juga bakal terlibat nantinya. Biarin gue urus sendiri aja semua. Apapun resikonya, gue udah siap bang." ucap Awan tegas.


"Nak, om disini cuma mau memastikan ga akan ada yang kehilangan nyawa. Om cuma ngeliat aja. Nyawa kamu ter ancam de, kalo kamu maju sendiri." ujar Rudiat.


Awan berfikir sejenak tentang semua ini.


'Kalo emang om Rudiat beneran bisa mastiin ga akan ada korban nyawa, itu lebih bagus.' gumam Awan dalam hati.


"Sebelumnya gue mau bilang makasih banget buat lo bang, dan buat om juga saya makasih banget om udah mau ikut bantu saya. Kalo emang om bisa mastiin gada korban jiwa, saya setuju om. Tapi untuk pertarungan saya dengan Bobbie, saya mohon om sama bang Arka ga usah ikut campur, walaupun saya hancur sekalipun. Karena ini menyangkut dendam antara dia dan saya om. Kalo om sampe ikutan, masalah ini ga akan selesai." ucap Awan.


"Kamu yakin? Lawan mu itu Bobbie loh. Salh satu orang yang kuat di kelompok om, cuma dia agak bodoh aja. Kalo soal kekuatan dia ga bisa kamu anggap remeh." jelas Rudiat yang mengkhawatirkan keputusan Awan.


"Om, itu adalah keputusan seorang laki-laki. Kita hargai dia. Gue yakin dia bakal baik-baik aja om." ucap Arka.


"Oke kalo gitu, tapi saya cuma mau kasih saran. Kamu bikin si Bobbie kehabisan tenaga, kalo dia udah cape, gerakan dia bakalan jadi lambat banget. Nah di situ kamu baru mulai serang si botak itu. Satu pukulan atau tendangan kuat pada bagian rahang udah bisa bikin dia tumbang kalo kamu berhasil bikin dia kelelahan." saran dari Rudiat pada Awan.

__ADS_1


"Oke om, saya coba semampu saya. Ayo kita jalan sekarang..." seru Awan dan kemudian bergegasenuju kediaman Boni.


Bersambung...


__ADS_2