SUSUK SANG PELAKOR

SUSUK SANG PELAKOR
BAB 21. WANITA JAHAT


__ADS_3

'PLAKK...PLAKK...'


"ka-kamu tega sekali menamparku mas, hanya demi perempuan pelacur itu kamu sampai seperti ini." ucapku dengan air mata yang berjatuhan di pipi.


"aku tidak suka jika kamu mencurigai aku seperti itu...!!" teriak mas dimas


"curiga? Kamu bilang aku curiga sama kamu, mas telingaku ini tidak tuli? aku mendengar sendiri kamu telponan dengan perempuan sundal itu. Bahkan kamu memakai kata-kata sayang dengan dirinya! Kamu lihat saja mas, aku akan mencari tau semuanya itu. Dan kalau memang benar kecurigaanku, aku akan menghancurkanmu. Jangan pikir aku ini perempuan yang hanya bisa menangis." balasku dengan sengit kepadanya


"sudahlah aku lelah menghadapi sifatmu ini," ucap mas bayu sambil berjalan meninggalkanku


"mas, kamu mau kemana? Kamu belum melihat keadaan rara sama sekali dari kemarin. Di mana hati kamu sebagai seorang ayah, mas...!! Ucapku sambil berlari mengejarnya


Tapi terlambat mas dimas sudah mengendarai mobilnya dan segera pergi meninggalkan aku.


"Ya Tuhan, kamu kenapa mas? Kenapa sifat kamu jadi berubah 90 derajat kepadaku dan rara, apa sebenarnya salahku kepadamu, mas...??" ucapku sambil menangis sesenggukkan


Mbok ratih yang sedari tadi berdiri di belakangku, segera membantuku untuk berdiri, dan memapahku masuk ke dalam rumah dan mendudukkanku di sofa ruang keluarga, lalu dia segera pergi ke dapur dan tidak lama dia kembali sambil membawakan teh hangat untukku.


"ibu, diminum dulu tehnya ya? Supaya ibu bisa tenang." ucap mbok ratih sambil memberikan teh kepadaku dan aku pun mengucapkan terimakasih kepadanya


"maaf ya ibu kalau saya lancang? Tapi pak dimas itu setelah pulang dari Bandung auranya sangat gelap, dan sepertinya pak dimas sudah terkena guna-guna dari seorang wanita, makanya beliau jadi seperti itu. Saya sempat melihat ada sekelebatan bayangan perempuan yang mengikuti pak dimas sampai ke dalam rumah ini, tapi saya tidak tau siapa wanita itu?" jelas mbok ratih


"aku juga merasa seperti itu mbok ratih, mas dimas yang biasanya sangat lembut dan menyayangiku dan rara berubah jadi pribadi yang kasar hanya dalam dua malam saja." ucapku lirih


"ibu yang sabar ya? Harus banyak shalat dan serahkan semuanya ke dalam Tangan Allah SWT." pesan mbok ratih kepadaku


"makasih ya mbok." ucapku tulus kepadanya


"mbok, bisa siapkan makanan untukku dan juga mbok mirna supaya aku bawa sekalian ke rumah sakit. Aku sudah terlalu lama meninggalkan anakku, takutnya dia mencariku." jelasku kepada mbok ratih


"baiklah ibu, akan saya siapkan! Dan ibu sebaiknya cuci muka dulu, tidak enak nanti kalau orang melihat mata ibu sembab seperti itu." pesan mbok ratih, dan aku pun segera pergi ke lantai atas untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.

__ADS_1


Setelah selesai semuanya, aku pun segera pamit kepada mbok ratih untuk kembali ke rumah sakit. Sudah jam 10 malam, aku sudah terlalu lama meninggalkan anakku, kasihan juga dengan mbok mirna yang pastinya sudah lapar. Dan Aku meminta pak anwar untuk kembali mengantarkan aku ke rumah sakit.


Sesampainya aku di rumah sakit ternyata rara sudah tertidur dengan sangat nyenyaknya. mungkin karena pengaruh obat, makanya dia tidak terlalu rewel.


"mbok mirna, maaf ya aku terlalu lama? Ini aku bawakan nasi untuk mbok, mbok makan saja dulu ya? Setelah itu mbok bisa langsung pulang ke rumah. Besok pagi suruh mbok ratih membawakan makan pagi ke sini." jelasku


"tapi ibu, kalau saya pulang berarti ibu hanya sendiri, saya gak tega ninggalin ibu menjaga rara sendirian di sini."


"gak apa-apa kok mbok, gak masalah untuk saya. Cukup rara saja yang sakit, jangan sampai salah satu di antara mbok mirna atau mbok ratih sakit, nanti saya jadi susah. tapi Bukan susah karena ngurusin mbok atau takut rugi. Hanya saja saya mau kalian berdua selalu sehat, karena hanya kalian berdua yang saya bisa percaya saat ini dan juga tempat saya untuk berkeluh kesah. Kalau tidak ada kalian bedua entah bagaimana dengan saya? Mas dimas sudah berubah mbok, hanya rara, dan kalian berdua yang saya punya saat ini." ucapku lirih sambil menangis


Aku adalah anak yatim piatu, hanya saja kedua orangtuaku meninggalkan aku dengan banyaknya harta warisan yang tidak akan membuatku jatuh miskin. Bahkan di perusahaan mas dimas terdapat sahamku yang lumayan besar di sana. Dan kalau aku tarik semua sahamku, mas dimas bisa saja bangkrut. Tapi saat ini aku tidak boleh gegabah, aku akan lihat ke depannya, kalau ke depannya mas dimas tetap seperti itu atau sampai ketawan berselingkuh, maka aku akan membuatnya jatuh miskin sampai selingkuhannya tidak akan mau lagi memandang wajahnya.


"hmmm...ada yang mau saya katakan kepada ibu?" ucap mbok mirna


"apa mbok, katakan saja?" jawabku


"tadi pak dimas datang ke sini menjenguk non rara. Tapi pak dimas tidak datang sendiri, beliau datang dengan perempuan cantik dan juga sexy." jelas mbok mirna


"perempuan? Perempuan siapa mbok?" tanyaku lagi


"perempuan itu pun pakaiannya sangat tidak sopan dan dia bertingkah seperti perempuan pelacur di depan saya dan rara tapi aku melihat pak dimas begitu memanjakannya. Dan yang lebih anehnya non rara takut melihat wajah perempuan itu, ibu. Non rara bilang perempuan itu wajahnya seram seperti setan, tapi menurut saya dia cantik hanya saja auranya agak gelap." jelas mbok marni


"perempuan jahat itu, pasti dia yang telah membuat suamiku berubah. Tunggu saja besok aku akan melabraknya di kantor." ucapku dengan penuh emosi


"ibu harus hati-hati menghadapi perempuan ular seperti itu, karena saya melihat auranya begitu gelap dan juga hawanya ketika berada di dekat wanita itu sangat dingin ibu." jelas mbok marni


"iya mbok tenang saja aku akan berhati-hati, lagian kita masih punya Allah SWT yang akan selalu melindungi kita." ucapku


"mbok, boleh pulang istirahat sekarang ya? Besok pagi gantian sama mbok ratih yang antar makan ke sini ya. Sekalian besok mbok ratih jagain dulu rara, karena besok saya harus mencari tau hubungan mereka berdua." jelasku


"siap ibu, kalau begitu saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa ibu bisa menghubungi kami berdua." pesan mbok mirna

__ADS_1


Aku pun segera menganggukkan kepalaku, dan setelah kepergian mbok mirna, aku segera mengunci pintu ruangan rara. Dan Aku pun segera tertidur di samping tubuh anakku, sambil memeluk dirinya.


***


Tanpa terasa sudah jam 4 pagi, aku pun segera bangun terburu-buru, mandi, dan segera melaksanakan shalat subuhku.


Setelah shalatku selesai, aku melihat anakku rara sudah terbangun.


"selamat pagi anak mama, kamu sudah bangun kah sayang?" sapaku


"mama," ucap rara sambil memintaku untuk menggendongnya.


"ma, tadi malam papa datang dengan wanita yang mukanya sangat seram seperti setan. Aku tidak suka melihat papa bersama wanita seperti itu! Siapa wanitu itu, ma?" tanyaku


"itu teman kantornya papa sayang, tadi malam itu karena mama masih sibuk, jadi papa datang bersama sekretarisnya itu sayang."ucapku membohongi rara


Aku tidak mau membongkar kebusukan dirinya di depan anak kandungnya yang juga sangat menyayangi dirinya dengan sepenuh hati.


"oh gitu ya ma! tapi kenapa tante itu bersikap begitu mesra kepada papa?" tanyanya lagi


"entahlah sayang, sudah jangan dipikirin lagi ya? Sekarang rara harus fokus untuk kesembuhan rara supaya rara bisa cepat pulang ke rumah." nasehatku kepadanya.


Dokter bilang kalau malam ini badan rara tidak panas lagi, maka besok rara sudah bisa pulang ke rumah, dan rara pun sangat senang mendengarnya.


tidak lama mbok ratih datang membawa makanan dan juga pakaian ganti untukku, setelah itu aku pamit kepada mbok ratih dan rara untuk melihat pak dimas di kantornya.


akhirnya aku sampai juga di kantor mas dimas dengan diantarkan oleh pak anwar. Aku meminta pak anwar untuk menungguku. Entah mengapa kali ini aku merasa takut dan juga firasatku sepertinya tidak enak sekali.


Aku pun segera menuju ruangan mas dimas, tapi aku tidak melihat keberadaan susi, entah dimana dia?


Aku pun segera membuka pintu ruangan suamiku tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, dan

__ADS_1


"ma-mas dimas...??"


***BERSAMBUNG***


__ADS_2