SUSUK SANG PELAKOR

SUSUK SANG PELAKOR
BAB 22. ADIK MADU


__ADS_3

POV TIARA


"ma-mas dimas...??"


Aku terkejut ketika membuka pintu ruangan suamiku, disana aku melihat susi sedang bermesraan dengan suamiku begitu intimnya yang membuatku naik pitam.


"Mas dimas, keterlaluan kamu!!" mas dimas dan susi yang mendengar suaraku pun ikut terkejut. Mereka segera melepaskan pagutan mereka dan langsung berdiri menghadapku.


"tega kamu mas, disaat anak kita sedang terbaring lemah di rumah sakit, kamu malah asik-asik bercinta dengan pel***r ini...!!" teriakku lagi


"tolong ya mulutnya dijaga mbak, siapa yang kamu bilang pelacur?" tanya susi


"ya tentu kamu dong? Perempuan tidak tau malu, kamu mau jadi pelakor ya?" ucapku


"TIARA, jaga mulutmu itu! Dia bukan pelakor. susi adalah istriku, dan dia adalah Adik Madumu." ucapan mas dimas membuatku sangat kaget


"a-apa? Apa maksud perkataanmu, mas?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca.


"kamu tuli ya mbak!! Mas dimas aku adalah istrinya, dan aku adalah adik madumu." ucap susi dengan tatapan sinisnya


Aku yang sudah tidak tahan lagi langsung menamparnya, 'PLAK...PLAKK...'


"perempuan sundal, kamu pasti pake pelet sehingga suamiku bisa mengkhianatiku sebegitu teganya." teriakku sambil menjambak rambutnya itu.


Mas dimas yang melihatku menjambak rambut susi langsung melerai kami berdua, dia mendorongku sampai terjatuh, sedangkan susi dia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"mas, aku takut? Aku takut melihat kelakuan gila istrimu itu." ucap susi sambil menangis di pelukan mas dimas


"ee pelakor, simpan air mata buayamu itu! kamu pikir, aku tidak tau kalau kamu itu hanya mengincar harta mas dimas, sampai rela menjual dirimu dengan pria yang sudah beristri." makiku


"STOP TIARA!!" bentak mas dimas


"lebih baik sekarang kamu pulang dulu ke rumah, kita akan bicarakan semuanya di rumah nanti." jelas mas dimas


"kamu mengusirku mas? Seharusnya perempuan ini yang kamu usir dari sini, bukan aku yang merupakan istri SAH mu." balasku lagi


"tiara, aku mohon jangan sampai aku bertindak kasar kepadamu. Kita akan selesaikan masalah ini di rumah, nanti." ucap mas dimas dengan tegas sambil menatapku tajam.


"oke, aku menunggumu di rumah." ucapku tanpa basa-basi dan segera angkat kaki dari ruangan mas dimas.


aku kecewa, marah, dan sakit hati. Ternyata dugaanku selama ini benar kalau mas dimas berselingkuh dengan wanita itu. Hanya saja aku tidak menyangka kalau ternyata mas dimas sudah melangkah terlalu jauh. Dia tega mengkhianatiku sampai menikah dengan wanita itu.


aku yakin mereka menikah ketika mas dimas berada di bandung, pantas dia tidak pernah ada kabar selama dia berada di bandung, bahkan nomornya sering tidak aktif.

__ADS_1


Aku menelepon mbak ratih untuk menjaga dulu rara sampai aku ke rumah sakit. Dan meminta mbok mirna mengantarkan makanan ke rumah sakit, karena aku masih ada urusan dengan mas dimas.


***


Aku mendengar suara langkah kaki, dan ternyata itu adalah mas dimas. Aku memang sengaja menunggunya di kamar, supaya jangan ada yang mendengar pertengkaran kami.


"akhirnya kamu datang juga mas, sekarang kamu bisa jelaskan semuanya kepadaku." ucapku dengan tegas


"apa yang ingin kamu ketahui, tiara?" tanya mas dimas


"kamu bisa bertanya seperti itu mas? Kamu tega mas mengkhianati aku dengan perempuan itu!"


"aku sangat mencintai susi, dan aku hanya meminta kamu untuk ikhlas menerima dia sebagai adik madumu?" ucapan mas dimas membuatku tertawa.


"hahaha...di dunia ini apakah ada wanita yang mau dimadu? Atau adakah wanita yang senang jika suaminya itu menikah secara diam-diam dengan wanita lain?" tanyaku


"tentu saja banyak lah? Lagian di agama kita tidak dilarang untuk mempunyai istri lebih dari satu." ucap mas dimas


"memang tidak dilarang, tapi jika itu diketahui oleh istri pertama. Tapi ini kamu telah menikahi sundal itu tanpa ijin dariku, mas. Aku bisa saja melaporkan ini mas." teriakku


"tidak usah mengancamku tiara!" ucap mas dimas dengan emosi


"dan berhenti untuk mengatakan dia perempuan yang tidak baik." ucapnya lagi dengan tegas


"kalau memang kamu mau tetap bersama perempuan itu? silakan talak aku sekarang, mas. Aku tidak sudi di madu, apalagi harus berbagi suami." teriakku lagi


"hmmm...jangan pernah bermimpi aku akan menceraikan kamu tiara. Jadi mulai sekarang terimalah susi sebagai adik madumu. Dan kamu tenang saja, susi tidak akan tinggal di sini. Dan aku pun berjanji akan menafkahi kalian berdua secara adil." ucap mas dimas


"egois kamu mas, aku muak melihat wajahmu itu." teriakku lagi kepadanya


Dan tanpa banyak bicara, aku segera pergi ke rumah sakit diantarkan oleh pak anwar, aku tidak menyangka kalau mas dimas benar-benar sudah berubah. Aku tau suamiku itu pria yang baik dan penyayang. Tapi ketika sudah kenal dengan pelacur itu, dia menjadi berubah 100 persen. Bahkan dia sudah tidak perduli lagi dengan putrinya itu.


Sesampainya aku di rumah sakit, ternyata rara belun tidur. Dia masih duduk bercerita dengan mbok ratih dan mbok mirna


"selamat malam anak mama, Kenapa belum tidur sih rara? Udah malam ini." tanyaku sambil mencium keningnya


"aku belum mengantuk ma, dan aku juga menunggu mama, maunya tidur dipeluk sama mama." jawab anakku itu dengan polosnya


Dan aku pun menjadi sangat sedih? Kasihan rara kalau sampai dia tau papanya yang dia kagumi sudah menikah lagi dengan perempuan lain.


"ma, ma...?" panggilan rara mengagetkanku


"i-iya, kenapa nak?" tanyaku

__ADS_1


"mama kok malah ngelamun sih?" tanya rara


"ti-tidak kok nak, mama hanya rasa capek." jawabku


"apa kalian sudah pada makan?" tanyaku kepada mbok mirna dan mbok ratih untuk mengalihkan pembicaraan antara aku dan rara.


"kami sudah makan buk? Bahkan non rara pun hari ini sudah makan banyak sekali." jelas mbok ratih


"syukurlah kalau begitu?" ucapku kepada mereka berdua


"mbok ratih dengan mbok mirna boleh pulang ke rumah. Besok pagi mbak ratih jangan lupa ke sini bawa dengan sarapan pagi ya." pesanku kepada mbok ratih


"siap ibuk, kalau begitu saya dan mbok mirna permisi pulang duluan." pamit mbok ratih dan mbok mirna.


aku memang lebih suka menjaga anakku sendiri di malam hari. Walaupun kata orang memyeramkan, tapi menurutku biasa saja. Aku pun tidak mau merepotkan mbok mirna dan mbok ratih yang umurnya pasti sudah lumayaan tua. Dimana harus diberikan istirahat dan dimanjakan. Makanya aku menyuruh mereka pulang dan pagi-pagi baru balik lagi ke rumah sakit.


Aku pun pada akhirnya tertidur bersama putriku dengan memeluk dirinya sampai pagi.


Aku tersadar di jam 4 pagi, setelah itu aku pun segera membersihkan diri dan melaksanakan shalat lima waktuku.


Selesai shalat, aku duduk-duduk di sofa sambil memainkan gadgetku. Tidak lama kemudian datanglah mbok ratih mengantarkan sarapan pagi untuk kami berdua. Aku segera membangunkan rara mengajaknya untuk membersihkan diri dan sarapan dulu roti dan susu sambil menunggu dokter melakukan kunjungan. Walaupun ada makanan dari rumah sakit, jarang rara mau menyentuhnya karena dia bilang rasanya tawar sekali.


15 menit kemudian dokter melakukan kunjungan dan segera memeriksakan keadaan rara.


"wah...sepertinya gadis kecil ini sudah sehat ya?" ucap dokter sambil mengelus rambutnya dan juga tersenyum.


Dan dokter ini begitu tampan, berkharisma dan juga humble, aku senang melihatnya. Apalagi disaat dia tersenyum? Senyumannya itu begitu mempesona.


'akhhh...tiara apa sih yang kamu pikirkan? Ingat status kamu yang masih menjadi istri dimas.' ucapku dalam hati sambil memukul-mukul kepalaku dengan pelan saja


"ibu tiara, anda kenapa? Kok mukul-mukul kepala, apakah anda merasa pusing?" tanya dokter itu kepadaku dengan jarak yang sangat dekat, dan aku pun kaget sekali melihat wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku.


"ti-tidak dok, aku sehat kok." jawabku sambil memundurkan wajahku yang tadinya sangat dekat dengannya, dan kembali mengatur nafasku yang deg-degan.


"aku cuma mau menyampaikan bahwa sebentar sore rara sudah boleh pulang ke rumahnya." ucap dokter itu


"baiklah dok, terimakasih banyak ya." balasku sambil tersenyum.


Dan ketika aku sedang menyuapkan bubur untuk rara, terdengar suara yang memanggil anakku,


"selamat pagi rara...??" aku pun segera menoleh ke arah suara itu.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


__ADS_2