
POV AUTHOR
"brengsek wanita itu, dia lihat saja aku akan mengadukannya kepada mas dimas...!!" teriak susi sambil mengendarai mobilnya menuju perusahaan dimas.
Setelah memarkirkan mobilnya di basement, susi segera menaiki lift menuju ruangan dimas, dia tidak mau lewat depan karena malu kalau orang-orang akan melihat penampilannya yang sangat berantakan dan jelek.
Sampai depan ruangan dimas, sekretarisnya yang baru sempat menegur susi, tapi dia tidak membalasnya karena memang saat itu dia sedang sangat emosi.
'BRAKK...' susi membuka pintu ruangan dimas dan langsung menutupnya dengan sangat kasar hingga sang sekretaris pun sangat kaget dan menggelengkan kepala melihat tingkah dari istri kedua pak dimas itu.
Iya, di perusahaan itu semua orang sudah tau kalau susi adalah istri kedua pak dimas. tapi mereka tidak tau kalau sedikit lagi tiara akan bercerai dari dimas dan dimas akan menikahi susi secara resmi.
"susi, ada apa?" tanya dimas yang kaget dengan bantingan pintu dan juga penampilan susi yang berantakan.
"mas, ini semua adalah ulah dari mantan istrimu itu! Dia telah menamparku, menghina, dan bahkan juga telah menarik rambutku lalu mendorongku sampai aku terjatuh." jawab susi sambil menangis terisak-isak di pelukan dimas
"yang benar saja kamu? Tiara bukanlah wanita yang kasar, dia sangat lembut." bela dimas
"kamu tidak percaya kepadaku! Apakah kamu tidak melihat penampilanku ini? Apakah masih kurang bekas merah di pipiku ini, mas?" teriak susi
"bu-bukan begitu sayang? Oke-oke aku percaya. Sekarang ceritakan kepadaku, sehingga tiara melakukan ini kepadamu." dimas sebenarnya malas meladeni masalah seperti ini? Tapi karena dia menghargai susi, maka dia pun mendengarkan keluh kesahnya susi.
Apalagi saat ini dimas sedang stres karena tiara sudah menarik saham dari perusahaannya, maka dia pun harus menarik investor baru untuk bisa menanamkan saham di perusahaannya kalau tidak perusahaannya bisa mendapatkan masalah besar.
Sebenarnya dimas sangat kecewa dengan keputusan tiara, dan di dasar hatinya dimas pun masih mencintai tiara. Tapi, entah kenapa sekarang disaat dia melihat tiara, dia malah merasa bosan dan juga benci. Begitulah kalau dukun sudah bertindak, maka yang cinta bisa menjadi benci.
"aku tadi ke rumahnya hanya untuk bertemu dengan rara, karena bagaimana pun aku ingin mendekatkan diriku dengan anakmu itu, mas? Tapi sampai di sana mbak tiara malah menampar, menghina, dan menjambak rambutku, mas! Dia bilang seorang pengkhianat seperti mas memang cocok berdampingan denganku, dan juga dia bilang dia sudah membuang sampah tepat pada tempatnya." ucap susi dengan seenaknya tanpa berpikir bahwa dialah yang telah memancing amarah tiara sehingga tiara memberikannya pelajaran seperti itu. Dan dimas yang mendengar cerita yang keluar dari mulut susi pun menjadi tersulut amarahnya.
__ADS_1
"kurang ajar sekali tiara! Aku akan ke rumahnya sekarang juga. Apakah kamu mau ikut atau mau tinggal disini?" tanya dimas kepada susi
"aku tunggu disini saja, mas! Aku takut bertemu dengan mantan istrimu yang sangat bar-bar itu," ucap susi.
Maka pada akhirnya dimas sendiri lah yang datang ke rumah tiara.
***
"TIARA, KELUAR KAMU??" teriak dimas dari luar gerbang.
Pak Anwar dan Pak Dodi yang mendengar teriakan dari mantan majikannya itu pun segera memberitahukan kepada tiara. Dan saat itu sebelum mereka memberitahukannya ternyata tiara sudah mendengar teriakan dari mantan suaminya itu.
"mbok, bawa rara ke taman belakang ya? Aku gak mau sampai dia bertemu dengan ayahnya yang sedang dalam keadaan marah." pesan tiara kepada mbok ratih dan mbok mirna, dan mereka pun menuruti perintah dari tiara.
tiara pun segera menuju ke depan dan berdiri di balik pagar tanpa membuka gerbang tersebut. "mau apa kamu kesini? Oh iya, pasti si pelakor itu telah mengadu kepadamu tentang perbuatanku ya? Hahaha, wanita itu hanya bisa mengadu ternyata...!" ucap tiara dengan tertawa mengejek dimas.
"diam kamu tiara! Kamu memang perempuan paling jahat dan juga egois." ucap dimas
"susi hanya ingin bertemu dengan rara, anak sambungnya. Apakah itu salah?" ucap dimas
"bertemu rara? Jadi itu yang disampaikan oleh wanita itu kepadamu. Kamu bodoh sekali bisa percaya dengannya! dia ke sini hanya untuk mencari masalah denganku, bukan untuk bertemu rara. Dan kalaupun dia ingin bertemu rara, aku yakin rara tidak akan mau bertemu dengan pelakor itu. Lebih baik kamu pergi saja dari sini, mas. Aku muak melihat wajahmu itu, dan bela saja terus istrimu itu." jawab tiara
"kamu lihat tiara, di pengadilan nanti aku pasti akan mendapatkan hak asuh rara." ancam mas dimas
"kamu pikir aku takut, mas! Kita lihat saja nanti siapa yang berhak atas hak asuh tiara, aku atau kamu...??" setelah mengucapkan kata itu, tiara langsung meninggalkan dimas tanpa memperdulikan teriakan dari dimas.
"Tiara, tunggu aku belum selesai berbicara? Tiara!! Brengsek...!!" maki dimas sambil menendang pintu pagar dengan sangat kuat.
__ADS_1
"kurang ajar sekali perempuan itu! Kamu lihat saja tiara, aku pasti akan menghancurkanmu," ucap dimas dengan penuh dendam.
Setelah itu dia pun langsung meninggalkan rumah tiara dengan membawa beribu kemarahan dan juga dendam.
***
Tiara pun sedikit takut dengan ancaman dimas, bagaimanapun tiara tidak mau kalau sampai dimas mengambil rara dari hidupnya. Karena rara merupakan anugrah terindah yang Tuhan kirim untuknya.
Akhirnya tiara pun mencoba menghubungi andrean, sahabatnya itu. Siapa tau andrean bisa membantu dia untuk mencari seorang pengacara yang handal.
Tut...tut...tut...
"halo, selamat sore tiara. Ada apa nih tiba-tiba kamu menghubungi aku?" tanya suara merdu di seberang sana.
"sore juga, ndre! Maaf kalau aku mengganggu kamu. Kamu punya gak kenalan seorang pengacara handal yang bisa membantuku? Karena mas dimas sepertinya ingin supaya hak asuh tiara bisa jatuh ke tangannya." jelas tiara kepada andrean
"haa...gila bener si dimas itu! Udah dia yang selingkuh, eh malah pengen ngambil rara dari kamu. Dia pikir si pelakor itu bakalan bisa jadi ibu yang baik untuk rara?" ucap andrean dengan emosi yang menggebu-gebu.
"makanya itu, ndre! Aku mohon bantu aku ya? Aku gak mau kehilangan rara, dia penyemangat hidupku." ucap tiara sambil menangis.
"udah, kamu jangan nangis ya? Gini aja, sebentar malam jam 7 kita ketemu di cafe XX. Aku akan memperkenalkan kamu dengan seseorang yang sudah banyak sekali menangani kasus seperti ini, Aku yakin dia bisa membantumu." jelas andrean
"oke kalau begitu, aku siap-siap dulu ya? Dan sekali lagi terimakasih banyak untuk bantuan kamu, say." ucap tiara kepada andrean
"iya, sama-sama. Kan udah aku bilang kalau ada apa-apa kamu bisa hubungin aku, dan aku akan berusaha untuk membantu kamu." balas andrean
Lalu mereka berdua pun segera mengakhiri panggilan teleponnya. Dan tiara pun bersiap-siap untuk berangkat ke cafe XX.
__ADS_1
Apakah hak asuh rara bisa jatuh ke tangan tiara atau malah jatuh ke tangan dimas? Baca terus kelanjutan dari cerita 'Susuk Sang Pelakor'
***BERSAMBUNG***