SUSUK SANG PELAKOR

SUSUK SANG PELAKOR
BAB 24. KATA TALAK


__ADS_3

"MAS, APA YANG KAMU LAKUKAN...??" teriakku kepadanya


Bisa-bisanya dia berpelukan dan berciuman dengan sangat mesra dengan pelakor itu di rumah kami dan juga di hadapan putrinya.


"ti-tiara, kalian sudah pulang?" tanyanya dengan gugup


"iya, rara sudah diperbolehkan pulang hari ini oleh dokter. Dan kamu, ayah macam apa kamu? Yang bahkan tidak pernah menanyakan kapan anaknya akan keluar dari rumah sakit dan bahkan untuk menjemput kami pun, kamu tidak bisa." ucapku tanpa henti kepadanya


"bahkan untuk biaya administrasi perawatan anakmu saja, kamu tidak bisa membayarnya! Tega sekali kamu, mas." teriakku kepadanya, sedangkan pelakor itu hanya tersenyum sinis kepadaku.


"dan kenapa kamu membawa pelakor ini ke rumah kita, mas?" tanyaku kepadanya


"dia istriku juga tiara! jadi tidak masalah kalau aku membawanya ke rumah ini." jawab mas dimas


"dia hanya istri sirimu mas, ingat itu! Dan aku tidak mau melihat dia ada di rumah ini, Bawa dia pergi dari sini! Dan kamu harus ingat sertifikat rumah ini atas namaku, jadi aku punya hak untuk mengijinkan siapa yang boleh ada di sini dan yang tidak boleh ada di rumah ini." ucapku dengan tegas, dan terlihat dengan jelas wajah pelakor itu yang kesal dengan perkataanku.


"benar yang dikatakan oleh mbak tiara, mas?" tanya susi


"iya benar, ini adalah rumahnya tiara dan juga sertifikat atas namanya." jawab mas dimas


"ayo, aku antar kamu kembali ke apartemenmu" ucap mas dimas


'oohhh, jadi diam-diam mas dimas sudah membelikan apartemen untuk pelakor ini. Okelah, kita tinggal tunggu saja tanggal mainnya.' ucapku dalam hati


"mas, anakmu baru saja keluar dari rumah sakit. Dan kamu mau pergi begitu saja dengan wanita perusak rumah tangga orang ini?" ucapku sambil menunjuk wajahnya


"rara masih ada kamu, sedangkan susi ini yatim piatu. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain aku, jadi tolong mengertilah." ucap mas dimas


"mengerti? Kamu minta aku mengerti kamu mas? Egois sekali kamu mas, kamu bisa lebih mementingkan pelakor ini daripada anakmu sendiri. Mas, kalau kamu berani mengantarkan dia, jangan harap kamu bisa kembali lagi ke rumah ini. Ingat itu mas." ucapku dengan sangat tegas kepadanya.


"baiklah kalau itu maumu tiara, dan mulai hari ini saya dimas anggara menalakmu tiara andini." perkataan yang keluar dari mulut mas dimas membuatku sangat terkejut. Aku tidak menyangka kehadiran susi bisa memporak-porandakan rumah tanggaku sampai kata talaklah yang harus aku terima dari suamiku.


"teganya kamu mas kepada aku dan juga rara? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini! Dan kamu pelacur murahan, pelet apa yang kamu kasih ke suamiku, sampai dia bisa sebegitu teganya kepada kami berdua." teriakku


"harusnya kamu yang tanya kepada dirimu sendiri, kenapa suamimu bisa berubah dan lebih memilih diriku." jawab perempuan itu dengan sangat sinis.


"ayo mas, kita pergi dari rumah ini." ajak susi menarik tangan suamiku


"papa, papa tidak sayang lagi kepada rara kah?" tanya anakku yang dari tadi diam saja melihat pertengkaran kami.


mas dimas yang tadinya sudah berjalan, akhirnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"papa, sangat menyayangimu rara? Tapi maafkan papa, papa harus pergi bersama tante susi. Kalau rara kangen papa, rara bisa datang ke apartemen papa dan juga tante susi." jelas mas dimas

__ADS_1


"rara hanya mau papa dan mama bersatu lagi. Rara tidak mau tante itu! dia jahat dan juga menyeramkan." ucap susi sambil menunjuk susi


"tapi papa mencintai tante susi, sekali lagi maafkan papa, nak!" ucap mas dimas sambil terus melangkah bersama wanita murahan itu tanpa menoleh ke belakang dan tidak menghiraukan panggilan rara yang terus meneriakkan namanya.


Sampai aku melihat rara sudah jantuh pingsan.


"rara, rara? Ya ampun nak, kamu kenapa sayang?" teriakku sambil menggendong tubuhnya dan berteriak memanggil mbok mirna dan juga mbok ratih.


Mereka pun segera berdatangan, dan aku menidurkan rara di kamarnya dan segera menelepon dokter ghani. Aku ingat beliau berpesan jika ada apa-apa dengan rara, aku harus segera meneleponnya.


Dan aku pun segera menghubungi beliau, TUT...TUT...TUT... Terdengar sambungan telepon di seberang sana.


"halo, selamat malam," sapa suara lembut di seberang sana.


"dokter ghani, ini saya dengan tiara! Ibu dari rara, pasien anak kecil yang baru pulang tadi sore dari rumah sakit" ucapku


"oh iya, aku ingat! Ada yang bisa saya bantu kan nyonya?" tanyanya kepadaku


"dok, tolong saya? Anak saya sekarang pingsan dan belum sadarkan diri, bisakah anda segera ke rumah saya sekarang? Saya akan mengsharelockkan alamat rumah saya." ucapku dengan terburu-buru


"oke, kamu tunggu di situ ya? Aku akan segera menuju ke sana." ucap dokter itu sambil mematikan sambungan telepon kami.


Aku menunggu dengan harap-harap cemas kedatangan dokter tersebut. rara memang sudah sadar tapi dia belum bisa membuka matanya dan bahkan dia terus menyebut nama papanya di dalam tidurnya itu.


"ibu, ini dokternya sudah datang?" ucap pak dodi


"iya pak dodi, terimakasih banyak." jawabku


"ahh, syukurlah anda datang juga, dok!" sapaku dengan wajah bahagia


"bagaimana keadaan putri kecil?" tanya dokter tersebut


"dia sudah sadar tapi belum bisa membuka matanya, dan dia terus mengigau memanggil nama papanya." jelasku


"lalu di mana papanya?" tanya dokter itu


"hmmm...papanya sudah pergi bersama istri sirinya." jawabku tanpa mau menjelaskan panjang lebar.


Aku pun segera mengajak beliau untuk masuk ke dalam kamar anakku, aku ingin rara segera diperiksa. Aku sangat mencemaskan keadaan putri semata wayangku itu.


Dokter ghani pun segera memeriksa tubuh anakku, dan dari wajahnya aku dapat melihat bahwa dia sedih dan juga sedikit emosi.


"maaf apakah aku boleh bertanya?" ucap dokter ghani kepadaku dan aku pun menganggukkan kepalaku.

__ADS_1


"maaf bukannya mau mencampuri urusan anda? Tapi apakah tadi anda ada berkelahi dengan suami anda dan rara melihat kejadian itu." tanyanya kepadaku


"iya, saya memang berkelahi dengan papanya rara dan rara juga melihat kejadian tersebut. Dan yang membuat rara pingsan adalah karena kepergian ayahnya dari rumah ini bersama istri sirinya." jelasku kepadanya


"hmmm...kan, sudah saya bilang tadi jangan biarkan dia memikirkan hal yang berat-berat apalagi dia ini masih sangat kecil. Takutnya nanti malah bisa berdampak pada gangguan mentalnya." jelas dokter itu


"ra, rara, ini om dokter datang. Bangun sudah, nak?" ucap dokter itu membangunkan rara


dan entah mukjizat dari mana rara pun langsung membuka matanya, dan langsung memeluk om dokter.


"om dokter, om datang ke sini?" tanyanya


"iya om datang, untuk melihat keadaanmu. Rara, harus kuat ya? Rara anak pintar dan rara juga yang akan menjaga mama, jadi rara harus sehat terus, tidak boleh sakit-sakitan lagi." nasehat dokter ghani


"iya, makasih om dokter! om dokter baik sekali. Tapi rara benci dengan papa! Papa tega meninggalkan aku dengan mama hanya demi tante susi. Rara benci papa dan juga wanita itu." ucap rara dengan wajah marah.


aku kaget mendengar anak berumur 5 tahun bisa mengucapkan kata-kata seperti itu dan aku pun melihat wajah terkejut dari dokter ghani


"rara sayang, kamu tidak boleh membenci papa. Biar bagaimanapun beliau adalah papanya rara dan tanpa dia rara tidak mungkin ada di dunia ini." ucapku


"tapi papa tega ma? Dia bahkan tidak memperdulikanku yang terus memanggil namanya." ucapnya lagi


"rara, gak usah lagi mikirin itu ya? Sekarang rara istirahat, om dokter mau pulang dulu." pamit dokter ghani


"om dokter, besok ke sini lagi ya?" ucapnya


"tapi sayang, om dokter kan harus kerja?" jelasku


"iya om janji, besok om akan datang bawain kamu mainan dan juga kue ya? Sekarang rara istirahat ya, om pamit dulu."


aku pun mengantarkan dokter ghani sampai teras rumah.


"saya cukup prihatin dengan musibah yang menimpa rumah tangga anda. tapi ingat anda harus tetap kuat, karena rara sangat membutuhkan anda." pesan dokter ghani kepadaku


"baik, terimakasih banyak ya dokter ghani untuk perhatian anda kepada rara."


"iya, sama-sama kalau begitu saya pamit dulu."


Dokter ghani pun segera menuju mobilnya dan pulang kembali ke rumahnya.


Aku pun segera kembali ke dalam rumah. baru saja aku hendak menutup pintu, tiba-tiba aku mendengar bunyi suara musik yang samar-samar. Dan ternyata itu adalah bunyi,


'suara gamelan...??'

__ADS_1


***BERSAMBUNG***


__ADS_2