SUSUK SANG PELAKOR

SUSUK SANG PELAKOR
BAB 23. AKU HANYA PUNYA SATU MAMA


__ADS_3

"selamat pagi rara...??" aku pun segera menoleh ke arah suara itu.


Ternyata mas dimas datang bersama wanita itu, wanita yang sekarang menjadi adik maduku.


"ayah," panggil rara kepada ayahnya. Dan mas dimas pun mulai mendekati rara, putriku pun memeluk dan mencium mas dimas.


"ayah, rara kangen ayah." ucap anakku


"iya sayang, ayah juga kangen rara. Kamu cepat sembuh ya sayang, supaya kamu bisa jalan- jalan bersama ayah, mama tiara, dan mama susi." jelas mas dimas tanpa memikirkan perasaan anak kami


"Siapa mama susi? Ayah, mamaku hanya mama tiara, tidak ada yang lain. Kenapa sekarang ayah datang lagi bersama tante itu? Apa dia yang namanya tante susi?" tanya anakku


"iya sayang, dia tante susi! Dan dia akan menjadi mamanya rara juga." ucap mas dimas memberikan pengertian


"gak! Rara gak mau tante itu jadi mamanya rara. Rara hanya punya satu mama yaitu mama tiara dan selamanya tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan mama tiara di hatinya rara." ucap anakku dengan tegas


aku melihat wajah mas dimas yang seperti tidak enak hati kepada susi, sedangkan susi wajahnya menahan kesal karena mendengar perkataan rara.


"sudahlah mas, kalau rara tidak mau menganggap susi sebagai mamanya, kamu jangan memaksa! Rara pun bisa memilih dan melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik." ucapku


"apa maksudmu mbak? Apakah menurut kamu, aku tidak baik untuk susi?" tanya susi dengan wajah marah kepadaku


"kalau anakku saja tidak bisa menerima kamu, itu berarti kamu tidak baik untuknya. Ingat ya, aku yang melahirkan dan membesarkan rara! jadi kamu tidak usah sok pake mau mengambil hati rara, karena sampai kapan pun hanya ada satu mama untuk rara, yaitu aku." ucapku dengan sangat tegas kepadanya


"kamu bisa mengambil mas dimas dariku, tapi kamu tidak bisa mengambil rara dariku." ucapku lagi kepadanya


"mas dimas lebih baik kamu bawa pergi perempuan ini dari sini! Aku tidak mau rara tambah sakit melihat dirinya." ucapku sambil menunjuk wajahnya


Akhirnya mas dimas pun mengalah, dia membawa susi keluar dari ruangan anakku dengan wajah menahan emosi.


Setelah kepergian dua pengkhianat itu, aku langsung menghampiri rara dan memeluknya dengan sangat kuat.


"ma, siapa wanita itu? Aku tidak suka melihatnya, wajahnya pun sangat menyeramkan." ucap rara


Menurutku susi sangat cantik dan elegant, tapi kenapa rara bisa mengatakan wajahnya menyeramkan? Aku merasa bingung dan aneh.


"tante sus cantik kok sayang, kenapa kamu malah bilang wajahnya menyeramkan." tanyaku lagi

__ADS_1


"cantik apanya ma? Tante susi dan mama bagaikan langit dan bumi. Wajah tante susi malah kelihatan seperti nenek-nenek tua." jelas rara


"kok nenek tua sih sayang?" tanyaku merasa aneh


"ibu, non rara itu kan masih kecil dan polos. Jadi dia dapat melihat jelas seperti apa yang namanya susi itu." jelas mbok ratih


"maksudnya mbok?" tanyaku lagi


"nanti baru kita omong lagi ya ibu, sekarang urus saja dulu non rara." pesan mbok ratih dan aku pun mengikuti anjurannya


"pokoknya yang rara tau mamaku hanya mama tiara tidak ada yang lain!" ucap rara


"iya sayang, rara selamanya akan menjadi anak mama tiara, karena mamalah yang telah melahirkan kamu ke dunia ini. Nah, Sekarang rara lanjutin makannya lagi ya?" ucapku sambil menyuapkan bubur ke dalam mulut rara.


setelah rara selesai makan, aku menyuruhnya untuk tidur siang dulu. Dan aku pun mulai membereskan barang-barang yang akan aku bawa pulang ke rumah.


Mbok ratih aku suruh pulang duluan saja sambil membawa sebagian barang. Sedangkan aku menunggu lagi pak anwar datang menjemputku dan sambil menunggu dokter datang lagi sore nanti.


Pada akhirnya aku tertidur dengan sangat nyenyak di atas sofa yang ada di dalam ruangan ini. Sampai aku bermimpi yang sangat menyeramkan, aku melihat seorang wanita dengan rambut panjang berusaha untuk mengambil rara dari pelukanku. dan aku pun berusaha untuk menahan tubuh anakku supaya dia tidak bisa membawa rara, tapi aku gagal wanita itu berhasil membawanya pergi.


Aku pun segera menoleh ke arah rara yang juga sedang tertidur dengan sangat nyenyaknya. Aku pun segera menghampirinya, aku memeluk dan menciumnya, aku takut sekali kalau mimpiku yang tadi menjadi kenyataan.


"ma, ada apa?" tanya rara yang tersadar dari tidurnya


"mama mimpi buruk, nak! Ada yang mengambil kamu dari mama." jawabku


"mama tenang saja, sampai kapan pun rara tidak akan pernah meninggalkan mama karena selamanya rara hanya mempunyai satu mama." ucap anakku sambil mencium pipiku


"selamat sore rara," sapa dokter tampan dari balik pintu


"selamat sore,dok! Silakan masuk." sapaku sambil menghapus sisa air mataku


"bagaimana keadaan putri kecil ini?" tanyanya pada rara


"aku sudah sehat dok, bolehkah aku pulang ke rumah? Aku sudah sangat bosan di rumah sakit terus." keluh rara kepada dokter itu


"iya rara boleh kok pulang sore ini? Tapi dokter periksa dulu kamu ya." ucapnya

__ADS_1


Dokter tampan itu pun segera memeriksa keadaan rara.


"saya rasa rara sudah sehat, tapi jangan dibiarkan anak sekecil ini memikirkan hal-hal yang berat ya? Dan ini kartu namaku." pesannya sambil memberikan aku kartu namanya


"kalau ada apa-apa dengan rara, anda bisa segera menghubungi saya." ucapnya


Aku melihat nama dokter itu, namanya adalah Ghani hermawan. Di situ sudah tertera nomor handphone dan juga nomor rumah sakit tempat dia bekerja.


"oke, terimakasih banyak dokter untuk kartu namanya. Aku akan menyimpannya baik-baik."


"kalau begitu saya tinggal dulu ya, kalian bisa langsung pulang dan untuk administrasinya sudah saya urus semuanya." ucap dokter itu


"tapi dok," belum aku selesai berbicara, dokter itu sudah memotong perkataanku.


"aku sangat menyayangi rara dan menganggapnya seperti putriku sendiri, walaupun aku baru bertemu dengan dia. Jadi anda tidak usah sungkan, saya ikhlas membantu kalian berdua." ucap dokter itu


"terimakasih banyak dok, untuk bantuannya." balasku


"sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu ya?" ucapnya sambil pamit kepada kami berdua


"ma, dokter tampan itu sangat baik ya? coba kalau aku punya papa seperti dia, aku akan sangat senang sekali." ucapnya kepadaku dan aku pun hanya tersenyum mendengar perkataannya.


Aku pun segera menelepon pak anwar dan memintanya untuk menjemput kami di ruangan rawat rara. Dan juga untuk membantuku membawa barang-barang kami.


***


Akhirnya kami berdua pun sampai di rumah, dan di sana aku melihat mobil mas dimas terparkir di halaman.


'ternyata dia ada di rumah? Tumben sekali.' ucapku dalam hati


aku pun segera menggandeng rara untuk masuk ke dalam rumah. Tapi pemandangan di dalam rumah seketika itu membuatku muak dan ingin muntah.


"MAS...??"


***BERSAMBUNG***


Maaf ya baru bisa update bab lagi, pengaruh ada sakit dan juga natalan.

__ADS_1


__ADS_2