
Pov Tiara
akhirnya aku dan mas dimas resmi bercerai, aku merasa senang sekaligus sedih. pernikahanku bersama mas dimas yang sudah berjalan selama 6 tahun harus kandas hanya karena hadirnya orang ketiga. aku kasihan melihat rara, putriku yang masih berumur 5 tahun itu, dia harus menyaksikan perpisahan ayah dan ibunya. tapi aku sudah berjanji akan menjaga rara dengan baik, aku akan menjadi ayah sekaligus ibu untuk dirinya, dan tidak akan pernah aku biarkan siapapun mengganggu kebahagiaan kami.
ketika aku melihat kamar ini, aku kembali teringat dengan kenanganku bersama mas dimas. memang betul pernikahan kami berdua itu karena dijodohkan, tapi seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu semakin tumbuh besar kepada mas dimas begitupun sebaliknya sehingga rara bisa ada di dunia ini. aku pun memutuskan akan mengurus pindahan ke rumah yang lain, sedangkan rumah ini akan aku kontrakan beserta isinya kepada orang lain.
"ma, mama sedang apa?" suara mungil nan indah itu membuyarkan lamunanku.
"rara, sini sayang?" panggilku.
rara pun datang menghampiriku, aku pun segera memeluk dan menciumnya lalu memangkunya.
"rara, mau gak kalau kita pindah ke rumah yang baru? rumah yang ada kolam renangnya." tanyaku kepada rara
"rara mau, ma?" jawabnya dengan wajah gembira.
"rara juga sudah merasa bosan tinggal di rumah ini ditambah hawanya agak sedikit berbeda, ma?" ucap rara yang membuatku merasa aneh.
"berbeda yang bagaimana, nak?" tanyaku lagi.
"rara merasa takut tinggal di rumah ini, ma! rara mau secepat mungkin kita pindah ya, ma?" ucap anak itu sambil memandangku penuh harap.
"baiklah rara sayang, mama janji besok kita akan mengurus pindahan kita ke rumah baru ya?" jawabanku membuat rara memeluk dan menciumku, dan dia pun melompat kegirangan.
aku pun segera menemui mbok Ratih dan mbok mirna untuk, memberitahukan tentang pindahan kami besok.
"mbok mirna dan mbok Ratih siap-siap ya? dan beritahukan juga kepada yang lain bahwa besok kita akan pindah ke rumah yang baru, dan rumah ini akan saya sewakan kepada orang lain." ucapku
"siap ibu, mungkin memang sudah seharusnya kita keluar dari rumah ini. saya mengerti begitu banyak kenangan ibu tiara dengan pak dimas yang tidak bisa dilupakan di rumah ini." ucap mbok ratih
"bukan hanya itu saja, rara pun merasa sudah tidak betah tinggal di rumah ini. rara bilang katanya dia takut tinggal di rumah ini, entah yang kenapa?" jelasku lagi.
__ADS_1
"rumah ini memang sudah dikuasai oleh roh jahat yang berasal dari ibu susi. keputusan ibu tiara untuk keluar dari rumah ini sudah sangat tepat." ucap mbok Ratih lagi kepadaku
"ya sudahlah, tidak usah dibahas lagi yang penting sekarang kita beres-beres saja." ucapku kepada mbok Ratih dan mbok mirna, aku merupakan pribadi yang tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu.
aku pun segera meninggalkan mereka berdua menuju kamar dan mulai merapikan barang-barangku dan juga barang-barang rara.
"ma, rara mengantuk! rara boleh tidur duluan ya, ma?" ucap anakku itu.
"iya, boleh nak!" aku pun menyelimuti tubuhnya dan membelai rambutnya hingga dia tertidur lelap.
setelah melihat dia terlelap, aku berniat ke dapur ingin membuat kopi untuk diriku sendiri. ketika sampai di dapur aku kaget, karena mbok mirna ternyata sedang ada di dapur juga.
"mbok, belum tidur kah?" tanyaku kepadanya.
"belum ibu, saya haus makanya saya ke dapur." ucapnya kepadaku
tapi aku merasa mbok mirna kelihatan lain, seperti yang sakit karena wajahnya sangat pucat.
"tidak ibu! ibu mau minum kopi, saya buatkan ya?" ucap mbok mirna dan aku pun menyetujuinya.
tidak beberapa lama kemudian kopi itu pun dihidangkan di hadapanku, dan bau kopi ini begitu enak di hidungku.
"silakan diminum, bu? kalau begitu saya lanjut ke kamar dulu ya?" ucap mbok mirna yang langsung menuju kamarnya.
aku pun mengangkat cangkir kopi itu untuk diminum, tapi ketika aku mau meminumnya aku merasa kopi itu berbau sangat amis seperti bau darah.
"kenapa baunya seperti ini ya? perasaan tadi ketika baru habis dibuat baunya sangat enak dan menggoda kenapa sekarang jadi berbau amis?" ucapku
ketika aku sedang berpikir dan berbicara sendiri, mbok mirna masuk lagi ke dapur.
"mbok mirna, kok balik lagi ke dapur? apa ada yang tertinggal?" tanyaku kepada beliau, hanya saja aku melihat mimik wajah mbok mirna seperti orang kebingungan,
__ADS_1
"datang lagi? maksudnya gimana ya, bu?" tanya beliau.
"iya, tadi kan ketika aku ke dapur ada mbok mirna di sini. dan kopi ini pun mbok yang buatkan untuk saya?" jelasku kepadanya.
"dari tadi saya di kamar, bu! dan saya ke dapur saat ini cuma untuk minum air, karena memang saya merasa haus." jelasnya kepadaku
aku sangat terkejut dan juga merasa aneh, kalau tadi yang masuk dapur bukan mbok mirna, berarti tadi itu siapa?
"mbok yakin...?? mbok, gak usah bercanda deh! tadi tuh beneran pas aku ke dapur, orang pertama yang aku lihat mbok mirna dan bahkan mbok membuatkan kopi untukku." aku bertanya lagi kepada mbok mirna untuk meyakinkan diriku kalau tadi itu benar-benar mbok mirna.
"saya berani bersumpah, bu! kalau saya baru saja ke dapur, dari tadi saya di kamar terus." jelasnya lagi kepadaku
seketika aku merasa merinding, jangan sampai tadi itu benar-benar makhluk halus, apalagi kopi ini baunya sangat amis. akhirnya tanpa berpikir panjang, aku segera membuang kopi itu ke wastafel dan segera mencuci cangkir tersebut.
"kenapa kopinya di buang, bu?" tanya mbok mirna.
"aku gak mau minum kopi itu mbok, apalagi baunya sangat amis seperti darah! dan tadi itu bukan mbok mirna yang asli tapi mbok mirna jadi-jadian yang membuatkan kopi untukku. " ucapku
"ya sudah ibu, udah malam kita istirahat saja dan besok segera pindah dari sini, mungkin betul yang dibilang sama mbok Ratih bahwa roh jahat mulai menguasai rumah ini." ucap mbok mirna
"aku sebenarnya bukan orang yang percaya dengan hal-hal seperti itu. tapi kalau melihat dari kejadian yang aku alami, aku jadi percaya kalau mereka ada dan itu membuatku takut." jelasku kepada mbok mirna
"tidak usah takut, bu! yakin dan percaya bahwa Allah akan selalu melindungi umatnya dari hal-hal yang tidak baik, selama kita selalu berserah kepadanya." jelasnya lagi
akhirnya aku pun segera masuk ke dalam kamarku dan bersiap untuk tidur, walaupun dengan perasaan takut dan juga cemas.
baru saja aku meletakkan kepalaku di atas bantal, aku langsung tertidur dengan nyenyak nya. dan,
"Akkkhhhhhh.......!!"
***BERSAMBUNG***
__ADS_1
penasaran ya? baca terus kelanjutan cerita "susuk sang pelakor". author lanjut episode berikutnya besok pagi ya?