
Aku pun penasaran dengan amplop coklat itu, maka aku pun membukanya, dan ternyata itu adalah...??
Ternyata ini adalah surat dari pengadilan, 1 minggu lagi sidang perceraian antara aku dengan mas dimas akan diadakan. Aku tidak menyangka pernikahan yang telah aku bina harus berakhir hanya karena perempuan itu. Tapi aku tau aku harus kuat, karena aku masih punya rara yang butuh perhatian dan juga kasih sayang.
"maaf ibu, apakah itu surat cerai?" tanya mbok marni
"iya mbok, ini surat undangan dari pengadilan untuk sidang pertama kami." jawabku
"ibu, harus tetap semangat ya? Ingat apapun yang terjadi ibu masih punya rara yang sangat membutuhkan kasih sayang." nasehat mbok marni kepadaku
"iya mbok, terimakasih banyak untuk nasehatnya." jawabku
Aku pun segera ke dalam kamar untuk melihat anakku, dan ketika aku sampai di dalama kamar ternyata rara sudah bangun.
"nak, kamu sudah bangun?" tanyaku sambil menggendong tubuh gembulnya itu
"iya ma," jawab anakku
Aku pun segera memandikan rara, setelah selesai kami menuju meja makan untuk sarapan
"rara, hari ini mama harus keluar sebentar ya karena ada urusan sedikit, rara di rumah dengan mbok ratih dan mbok mirna ya?" pesanku
"iya ma! Mama jangan pergi lama-lama ya?" ucap anakku sambil menatapku lekat
"iya sayang, nanti mama bawakan kamu coklat ya?" ucapku dan rara pun hanya tersenyum senang karena coklat yang aku janjikan itu.
Hari ini aku akan pergi ke perusahaan mas dimas, bagaimanapun di perusahaan itu masih ada sahamku di sana, dan rencananya aku akan menarik sahamku dari perusahaan itu. Dan aku mau lihat apa jadinya perusahaan itu jika tanpa sahamku.
Aku segera memarkirkan mobilku di basement, dan aku pun segera menaiki lift menuju ruangan mas dimas.
"selamat siang, apakah mas dimas ada didalam?" tanyaku kepada seorang wanita yang ternyata adalah sekretaris baru dari mas dimas. Dan aku rasa perempuan itu pasti sekarang sudah berhenti bekerja.
"iya, pak dimasnya ada? Maaf dengan ibu siapa ya?" tanyanya lagi dengan ramah kepadaku
"aku tiara, mantan istrinya mas dimas." jawabku
"baiklah, kalau begitu ibu tunggu sebentar ya, saya akan memberitahukan kepada pak dimas terlebih dahulu." lalu dia pun meninggalkan aku yang berdiri menunggu di depan ruangan mas dimas, tidak lama kemudian wanita itu pun menghampiriku.
"silakan ibu tiara, pak dimas sudah menunggu ibu didalam." jawabnya lagi dengan sangat sopan
Dan aku pun setelah mengucapkan terimakasih langsung masuk ke dalam ruangan mas dimas.
__ADS_1
"ada apa kamu datang kesini, tiara?" tanyanya kepadaku
"aku tidak mau berbasa-basi, aku kesini hanya untuk menarik sahamku dari perusahaan ini." jawabku
"apa maksudmu tiara?" tanya mas dimas dengan nada marah
"aku mau menarik sahamku yang ada di perusahaan ini." ulangku lagi
"jangan ngaco kamu? Kamu pikir kamu siapa, bisa seenaknya menarik sahammu dari sini." ejek mas dimas
"saham itu adalah milikku, ayah mertua sudah memberikannya kepadaku. jadi aku berhak untuk menarik sahamku itu! Suka atau tidak suka, aku akan mengambil hakku, mengerti kamu?" jelasku kepadanya
"kamu terlalu sombong tiara, kamu pikir dengan kamu menarik sahammu, maka perusahaan ini akan bangkrut?"
"aku tidak perduli mau kamu bangkrut atau apapun itu, yang penting aku akan tetap menarik sahamku dan memindahkannya ke perusahaan yang lebih layak." tantangku
"oke silakan," jawab mas dimas
Aku pun segera pergi dari ruangan mas dimas, dan segera menemui dewan direksi untuk mencabut sahamku. Bagaimanapun juga aku punya hak untuk mengambil milikku. Aku berencana akan menanamkan sahamku di perusahaan sahabat lamaku yang bernama andrean, karena yang aku tau saat ini perusahannya sedang dalam masalah.
Setelah membicarakan semuanya dengan dewan direksi, mereka pun setuju jika aku mengambil kembali sahamku walaupun nantinya perusahaan mas dimas akan sedikit mengalami masalah. Tapi aku tidak mau ambil pusing dengan itu semua, hatiku sudah terlalu sakit dengan perbuatan mas dimas.
"halo andrean, bisakah hari ini kita bertemu?" tanyaku kepada sahabatku lewat telepon
Aku pun segera mengakhiri panggilan telepon kami, dan langsung mengendarai mobilku membelah jalanan. Siang ini cuaca tidak terlalu panas dan juga macet.
satu jam kemudian aku sampai di perusahaan andrean, dan di sana aku melihat seorang wanita cantik sudah menungguku di lobi.
"apa anda dengan ibu tiara?" tanyanya setelah aku menghampirinya
"iya, aku tiara!" jawabku sambil tersenyum ramah kepadanya
"mari ibu, bIsa mengikuti saya menuju ruangan ibu andrean." ajaknya kepadaku
Kami pun segera menaiki lift yang memang khusus untuk pejabat-pejabat penting di perusahaan ini.
Sampai di lantai 15, aku langsung diantarkan ke ruangan andrean.
'TOKK...TOKK...' tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam yang menyuruh kami untuk masuk.
"selamat siang ibu," sapa asisten itu
__ADS_1
"selamat siang, tiara apa kabar dirimu?" tanya andrean sambil memeluk diriku dengan kuat
"baik ndre, ya ampun kamu tambah cantik saja? Sampai pangling aku melihatnya," pujiku.
"ah, kamu bisa aja! Kamu juga tambah cantik dan segar. Rita, kamu bisa tolong buatkan juice advokat dua dan antarkan ke sini ya?" perintah andrean, dan ternyata dia masih ingat kalau aku sangat menyukai jus advokat.
"makasih ya say, kamu masih ingat saja kesukaanku?" ucapku
"tentu aku ingat dong, say! Oh iya, gimana kabar dimas dan anakmu?" tanya andrean
Aku dan andrean sudah 4 tahun tidak bertemu, saat aku lahiran dia sempat menjengukku, jadi dia tau kalau aku sudah mempunyai anak perempuan yang sangat cantik. Bahkan disaat aku menikah dengan mas dimas, andrean lah yang mendampingiku.
"anakku rara baik, ndre!" jawabku
"lalu bagaimana dengan suamimu?" tanya lagi kepadaku. Aku sedikit bingung harus menjawab apa, karena aku memang orang yang agak sedikit tertutup dalam hal rumah tanggaku.
"apakah kamu ada masalah? Kalau memang ada ceritalah, tia! Aku janji akan menjaga rahasia ini dengan baik, apalagi kita ini sahabat." ucap andrean
Aku pun menarik nafas, dan mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Dan andrean pun mendengarnya dengan baik tanpa menyela ceritaku.
"kenapa dimas bisa setega itu kepadamu? Bukannya dulu dimas sangat bucin dengan dirimu!" tanya andrean dengan wajah terheran-heran
"entahlah aku juga tidak tau? Yang pastinya sekarang dia sudah menceraikanku dan lebih memilih hidup dengan perempuan itu!" jelasku kepada andrean.
Andrean pun langsung memelukku dan memberikan aku semangat.
"aku pun akan menanamkan sahamku di perusahaanmu, apalagi sekarang kan perusahaanmu sedang dalam masalah," jelasku
"tapi tiara, apakah kamu tidak takut dengan dimas? Dia pasti marah sekali ketika tau kamu telah menarik sahammu dari perusahaannya dia." ucap andrean
"mau marah atau apapun itu, aku sudah tidak perduli lagi dengannya! Yang harus aku urus sekarang adalah anakku," jawabku
"baiklah terserah kamu saja, say. Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Baiklah kamu bisa menanamkan saham di perusahaan ini, dan aku sangat berterimakasih dengan bantuanmu ini. Dan kalau kamu mau, kamu juga bisa bekerja di sini sebagai direktur keuangan, karena yang lama telah mengundurkan diri. Lagipula kan sayang kalau ijasah S1 kamu hanya disimpan saja." jelas andrean panjang lebar
"kalau untuk hal itu, akan aku pikirkan dulu ya, ndre?" jawabku
"oke, tidak apa-apa! Tapi jangan terlalu lama ya, say?" ucapnya sambil kami berdua tertawa terbahak-bahak.
Ketika kami sedang asyik berbincang- bincang, tidak lama datanglah seorang pria yang sangat aku kenal.
"Dokter Ghani...??"
__ADS_1
***BERSAMBUNG***