
POV TIARA
"Dokter ghani...??" aku terkejut ketika melihat dokter ghani datang ke ruangan sahabatku ini.
"kamu kenal sama kak ghani?" tanya andrean
"iya, aku kenal! Waktu rara sakit, dokter ghani lah yang mengobati anakku." jelasku
"ini sepupuku, say? kebetulan dialah pemilik perusahaan ini tapi karena dia lebih ingin fokus menjadi dokter maka akulah yang mengurus pekerjaannya." jawab andrean
"hai tiara, apa kabarmu?" tanya dokter ghani sambil tersenyum kepadaku
"kabarku baik, dok!" jawabku. aku masih sedikit terkejut karena selama ini aku tidak tau kalau andrean punya sepupu seorang dokter.
"ndre, aku baru tau kalau kamu punya sepupu yang seorang dokter," ucapku
"hahaha...mas ghani itu selama ini tinggal di luar negeri, dia baru 1 tahun di sini. Sebenarnya om herman, ayahnya mas ghani menyuruh beliau untuk mengurus perusahaan ini, tapi mas ghani lebih memilih sibuk sebagai dokter, jadi perusahaan ini sementara aku yang pegang kendali." jelas andrean
Aku pun hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya.
"aku juga kaget, ternyata kamu adalah sahabatnya andrean." ucap dokter ghani
"oh iya mas, tiara ini sudah menanamkan sahamnya di perusahaan kita! Dengan begini perusahaan kita bisa lebih maju lagi, dan aku juga menawarkan dia untuk menduduki posisi direktur keuangan, tapi tiara sepertinya masih harus berpikir terlebih dahulu." jelas andrean kepada dokter ghani
"wahh...terimakasih banyak ya tiara berkat kamu perusahaan aku jadi tertolong. Semenjak meninggalnya ayahku, perusahaan ini memang diujung tanduk. Tapi karena kegigihan sepupuku andrean, dan juga berkat bantuan kamu, perusahaan ini akan kembali normal lagi. Dan untuk posisi direktur keuangan, kamu tidak usah terburu-buru mengambil keputusan? Karena aku tau kamu pasti masih kepikiran dengan rara. Hanya saja saat ini kami memang butuh orang untuk posisi ini, karena direktur keuangan yang sebelumnya telah melakukan korupsi dan membuat perusahaan kami menjadi hampir bangkrut." jelas dokter ghani
Aku merasa kasihan juga dengan dokter ghani, tapi saat ini memang aku masih harus menyelesaikan masalahku.
"satu minggu lagi aku harus menghadiri sidang perceraianku dengan mas dimas, jadi aku butuh waktu untuk menyelesaikan masalahku ini. Aku janji setelah masalahku beres, aku akan menduduki posisi yang kamu tawarkan itu. Dan besok aku akan mengantarkan CV milikku ke sini." jelasku
"lalu bagaimana dengan rara? Apakah tidak masalah kalau kamu bekerja?" tanya andrean dan juga dokter ghani
"tidak masalah! Aku yakin rara akan mengerti. Lagipula di rumah ada mbok mirna dan mbok ratih yang akan menjaga rara." jawabku
"baiklah kalau begitu, say! Kamu urus saja dulu sidang perceraianmu. Kamu tidak usah takut, ada aku yang akan selalu mendukungmu," ucap andrean sambil memelukku dengan kuat.
"dan kalau minggu depan aku tidak sibuk, aku akan menemanimu di persidangan," ucap andrean.
"boleh, kalau memang kamu tidak sibuk?" balasku
Kami bertiga pun berbincang-bincang sampai aku memilih untuk pamit pulang karena memang aku sudah terlalu lama meninggalkan rara, aku takut dia akan mencariku.
__ADS_1
***
Aku membelikan beberapa kue coklat untuk rara, karena memang dia sangat menyukai coklat.
Sesampainya aku di rumah, aku sedikit kaget karena melihat ada mobil asing di halaman rumahku.
Tanpa bertanya-tanya aku pun segera masuk ke dalam rumah, dan di sana aku melihat wanita yang sangat kubenci sudah duduk di ruang tamu.
"mau apa kamu datang ke rumahku?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"wahh...santai nyonya tiara! Aku kesini hanya untuk melihat keadaanmu, aku takut jangan sampai kamu bunuh diri karena diceraikan oleh mas dimas! Hahaha..." ucapnya sambil tertawa. Dan entah kenapa mendengar tawanya itu aku sangat takut, aku merasa wanita ini sangat mengerikan.
"aku bunuh diri, Apakah Kamu tidak salah bicara? Aku tidak akan pernah melakukan hal gila seperti itu! Aku masih waras untuk melakukan sesuatu hal yang bisa merugikan diriku. Justru aku senang karena pada akhirnya aku bisa lepas dari seorang pengkhianat seperti mas dimas. Seorang pengkhianat dan seorang pelakor memang cocok untuk hidup bersama. Paling tidak aku puas karena sudah membuang sampah pada tempatnya!" ucapku dengan sinis.
"perempuan kurang ajar...!!" pelakor di depanku ini berusaha untuk menamparku tapi aku bisa menangkap tangannya.
"jangan pernah sentuh tubuhku dengan tanganmu yang kotor ini...!!" ucapku sambil menghempaskan tangannya, dan aku pun langsung melayangkan tanganku kepipinya.
PLAKK... "ini untuk kamu yang telah membuat putriku terluka!"
PLAKK... "ini untuk balasan tamparan yang pernah engkau berikan kepadaku!"
PLAKK... "ini untuk kamu yang telah menghancurkan rumah tanggaku!"
"sekarang pergi kamu dari rumahku! Dan jangan pernah lagi mengganggu kehidupanku." ucapku sambil menarik rambutnya sampai di depan teras dan langsung mendorongnya hingga dia terjatuh.
"perempuan sialan...! Kamu lihat saja, aku akan membalas semua perbuatanmu."
"aku akan menunggunya dengan senang hati," ucapku sambil tersenyum sinis.
Pak anwar dan pak dodi yang mendengar keributan di depan rumah langsung segera datang.
"ibu tiara, apa yang terjadi?" tanya pak anwar
"usir pelakor ini dari rumahku! dan ingat lain kali kalau dia datang lagi, jangan pernah ijinkan dia untuk masuk." perintahku kepada mereka berdua
"siap ibu," jawab mereka berdua serempak.
pak anwar dan pak dodi pun segera menarik tangan wanita itu untuk keluar.
"lepaskan aku, brengsek! Aku bisa keluar dari rumah ini sendiri, dan jangan coba-coba kalian menyentuhku dengan tangan kotor kalian! Kamu lihat saja tiara, kamu akan menyesal karena telah berlaku kasar kepadaku." teriak perempuan gila itu
__ADS_1
"kamu memang pantas mendapatkannya." ucapku dengan tegas
Tanpa berbicara lagi perempuan gila itu segera pergi dari rumahku dengan mengendarai mobilnya yang aku duga dibelikan oleh mas dimas.
Aku tidak menyangka mas dimas bisa berubah secepat itu. Jujur di hati yang paling dalam aku masih sangat mencintainya, banyak kenanganku bersama dirinya baik yang manis maupun pahit. Walaupun memang pernikahan kami karena dijodohkan, tapi tidak pernah sedikitpun mas dimas berlaku kasar kepadaku.
"maafkan kami berdua, ibu tiara! Kami ceroboh telah mengijinkan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah ini?" ucap pak dodi dengan takut-takut.
Aku pun tersadar dari lamunanku mendengar suara pak dodi. "tidak apa-apa, pak. Tapi lain kali saya minta jangan pernah ijinkan wanita itu untuk masuk ke dalan rumah ini." jawabku
Aku pun segera masuk ke dalam rumah untuk melihat rara, "mama, sudah datang?" tanya rara sambil berlari ke pelukanku.
"sudah sayangku, maaf ya mama terlambat! Rara, sudah makan?" tanyaku
"sudah ma, rara sudah makan! Tadi disuapin sama mbok ratih."
"maafkan kami ibu, wanita tadi yang memaksa untuk masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan ibu, walaupun kami sudah mengusirnya, dia tetap saja memaksa," jelas mbok ratih
"gak apa-apa, mbok! Lagian aku puas karena sudah memberikannnya pelajaran, agar dia jangan pernah meremehkanku lagi." jawabku
"iya, makanya tadi pas saya mendengar suara ibu, saya langsung buru-buru mengajak rara untuk masuk ke dalam kamar. saya juga tidak mau sampai rara melihat wanita itu dan juga melihat pertengkaran ibu dengannya." jelas mbok ratih
"iya, makasih banyak mbok untuk pengertiannya," balasku.
"tapi ibu harus hati-hati dengan wanita itu, saya merasa dia seperti dikelilingi oleh ilmu hitam." jelas mbok ratih
"sebenarnya aku pun merasa seperti itu, mbok! Tapi kita tidak usah takut, kita serahkan semuanya kepada Allah." balasku
"rara, ini mama bawakan kue coklat untuk kamu," ucapku sambil memberikan bungkusan untuk rara.
Dia pun membuka bungkusan itu, dan matanya langsung bersinar setelah melihat kue coklat itu.
"wahhh....?? Makasih banyak mama," jawabnya sambil mengecup pipiku.
"ini kue kesukaanku, mbok ratih bawa piring ke sini ya kita makan sama-sama sekalian bagi untuk mereka di depan." ucap anakku
Aku senang sekali tanpa aku suruh dia sudah mempunya niat untuk membagi kue itu dengan semua orang yang ada di dalam rumah. Rara memang mempunyai hati yang baik seperti mas dimas. Tapi setelah mengenal wanita itu mas dimas menjadi berubah sangat drastis. Ya Tuhan, kenapa aku terus mengingat pria itu?
Ketika aku sedang menata kue di piring, aku mendengar suara teriakan yang sangat keras di depan.
"Tiara, keluar kamu...??"
__ADS_1
Aku pun bergegas keluar untuk melihat siapa yang berteriak, dan ternyata...??
***BERSAMBUNG***