
Aku mendengar bunyi gamelan dari dalam rumahku ini, aku merasa heran dan juga bingung. Aku pun mencoba mencari bunyi suara gamelan itu di seluruh sudut rumahku, tapi aku sama sekali tidak menemukannya, sampai pada akhirnya bunyi suara gamelan itu sedikit demi sedikit mulai berhenti.
Sampai ada tangan yang memegang pundakku dari belakang, aku pun kaget dan langsung melihat ke belakang, ternyata itu adalah tangan mbok ratih.
"mbok, ya ampun buat kaget saja! Saya pikir siapa?" ucapku sambil mengelus-ngelus dada.
"maaf ibu kalau saya membuat ibu kaget? Tapi kalau saya boleh tau, ibu sedang mencari apa? Kok, kelihatannya seperti orang bingung begitu." tanya mbok ratih
"ini loh mbok, tadi saya seperti mendengar bunyi gamelan dari dalam rumah ini. Tapi pas saya cari sumber suara itu, malah gak ada!" jelasku
"ibu yakin, kalau itu suara gamelan?" tanyanya lagi
"saya yakin banget mbok, itu suara gamelan."
"ya udah ibu, sekarang istirahat aja dulu. Kasihan selama ini ibu kurang istirahat karena menunggu non rara di rumah sakit." ucap mbok ratih
Akhirnya aku pun mengikuti saran dari mbok ratih. Mungkin karena aku kelelahan, makanya aku jadi mendengar bunyi yang aneh-aneh.
Aku pun segera masuk ke dalam kamar dan berbaring di samping rara. Aku pun memilih untuk segera tidur sambil memeluk putri semata wayangku ini.
***
Aku tersadar di jam 4 pagi, aku memang tertidur dengan sangat nyenyak dengan mimpi yang buruk. Aku pun segera mandi, dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat subuh.
Setelah selesai shalat aku pun segera menuju dapur untuk memasak air, membuat kopi.
Entah kenapa hari ini aku merasa kepalaku sangat sakit sekali, apakah mungkin karena efek tidak minum kopi atau karena pikiran dengan mas dimas? Aku menyayangkan mas dimas yang telah menalakku tadi malam. Aku tidak menyangka hanya karena perempuan seperti susi, dia tega sampai mengkhianati janji suci pernikahan kami berdua.
"selamat pagi ibu," sapa mbok mirna kepadaku
"eh, pagi juga mbok!" sapaku balik
__ADS_1
"ibu, buat apa? Biarin saya yang buatin minum untuk ibu ya." ucap mbok mirna
"ya udah mbok buatin aku kopi tapi jangan terlalu manis ya? Dan nanti langsung diantarkan ke ruang tv saja kopinya." perintahku kepada mbok mirna
sampai detik ini aku belum bisa menerima kata talak dari mas dimas. Selama 6 tahun kami berumah tangga, baru kali ini aku benar-benar kecewa kepada mas dimas, dia bisa lebih memilih perempuan sundal itu.
Dan aku tidak tau harus berbuat apa lagi? aku merasa kasihan kepada rara, anakku. Dia masih sangat kecil tapi dia harus melihat perpisahan kedua orangtuanya, mudah-mudahan itu tidak akan menjadi trauma untuk dirinya.
Ketika aku sedang menonton tv, aku mendengar bunyi mobil berhenti di halaman rumah. Aku pun segera keluar untuk melihat siapa yang datang, ternyata Mas Dimas lah yang datang sepagi ini.
"buat apa kamu datang lagi ke sini, mas?" tanyaku dengan wajah keheranan, bukannya kemarin dia telah menalakku dan memutuskan untuk keluar dari rumah ini.
"aku datang ke sini hanya untuk mengambil semua barang-barangku dan juga surat-surat penting milikku." ucapnya sambil terus berjalan menuju kamar kami.
untungnya tadi malam aku tidur di kamar rara, jadi rara tidak perlu melihat drama pertengkaran antara aku dan mas dimas. aku sengaja tidak mau mengikutinya ke dalam kamar, karena hatiku sudah terlalu sakit dengan semua sifatnya yang telah berselingkuh di belakangku. Aku pun tidak mau lagi ribut-ribut dengannya, aku sudah pasrah dengan takdir hidupku ini.
Tidak lama kemudian aku melihat mas dimas keluar dari kamar dengan menarik dua koper besar di kedua tangannya.
"aku pasti akan datang mas, kamu tidak usah khawatir. Lagipula aku pun sudah siap bercerai darimu." ucapku dengan tegas
Mas dimas pun hanya tersenyum sinis menanggapi jawabanku. Dan tanpa banyak basa-basi mas dimas segera pergi dari rumah yang menjadi saksi cinta kami selama 6 tahun ini.
'Ya Tuhan, berikan aku kekuatan dalam menghadapi ujian ini." ucapku dalam hati
Tidak lama kemudian rara pun terbangun dari tidurnya. Aku pun segera membuatkan susu dan roti untuknya. Setelah selesai sarapan, rara pun segera aku mandikan dan aku pakaikan baju yang aku beli satu bulan yang lalu.
Ketika aku sedang menyisir rambut rara, mbok mirna datang ke kamarku dan mengatakan bahwa ada tamu yang datang ingin menjenguk rara.
"ibu, maaf saya mau memberitahukan bahwa di ruang tamu ada tamu yang ingin berjumpa dengan non rara?" ucap mbok mirna
"siapa yang datang mbok?" tanyaku dengan wajah penasaran
__ADS_1
"itu loh ibu, dokter yang tadi malam datang ke rumah ini." jawab mbok mirna
"oh iya dokter ghani itu, mbok." ucapku sambil tersenyum
"suruh saja beliau tunggu sebentar ya mbok, dan jangan lupa buatkan beliau minuman." perintahku kepada mbok mirna
"siap ibu." jawabnya sambil berlalu dari kamar kami
"siapa yang datang, ma?" tanya rara kepadaku
"siapa ya?" jawabku sambil tersenyum menggodanya
"daripada kamu penasaran, Lebih baik sekarang kita ke ruang tamu ya sayang untuk melihat sebenarnya siapa sih yang datang?" ucapku sambil menggendongnya dan dia pun menganggukkan kepalanya kepadaku.
Begitu sampai di depan, rara yang melihat kedatangan dokter ghani sangat senang. Dia pun memintaku untuk segera menurunkannya dari gendonganku, dan segera berlari memeluk dokter ghani.
"terimakasih ya om dokter sudah mau datang lagi kesini?" ucapnya dengan wajah yang begitu bahagia
"iya, om kan sudah janji akan datang lagi kesini untuk melihat keadaan rara. Ini om bawakan mainan dan juga kue untuk rara." ucap dokter ghani sambil mencium wajah rara yang membuatnya merasa geli karena dokter ghani memiliki jambang dan kumis tipis di wajahnya. Jambang dan kumisnya itulah yang membuat dia semakin bertambah macho dan keren.
dokter ghani juga membawakan boneka beruang besar dan juga boneka doraemon untuk rara. Lalu dia juga membawakan kue brownies coklat dan juga permen untuk anak perempuanku itu.
Aku sangat senang melihat perhatian dokter ghani kepada rara, walaupun kami baru saja kenal di rumah sakit. dan rara pun sepertinya bahagia berada dekat dengan dokter ghani, berada dekat beliau membuat rara seperti anak yang tidak pernah kehilangan ayahnya.
Melihat itu aku menjadi sangat sedih, seandainya mas dimas tidak berselingkuh, mungkin sekarang kami bertiga sedang bersenda gurau seperti ini.
Ketika kami bertiga sedang berbincang-bincang tiba-tiba aku mendengar suara yang berteriak,
"pantes kamu tidak menolak perceraian kita, Ternyata kamu sudah mendapatkan pengganti diriku!" kami bertiga pun menoleh ke arah suara itu dan ternyata itu adalah,
"Mas Dimas...??"
__ADS_1
***BERSAMBUNG***