
If the hurt comes, so will the happiness.
- Rupi Kaur
🌄🌄🌄
Elvarette Rycca Kamagi (30 y.o)
A single mom
"Ren is enough for me. Coz, there is nothing matters in this shitty world unless my little boy."
Grianly Theodore Saskara (35 y.o)
Heirs of SSKR Corp
"Past only past, Life must go on. You only live once. Just, enjoy the ride."
🌄🌄🌄
Kau tahu, di tengah semua kesedihan itu, setidaknya saat itu aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. Tidak bisa. Hati itu sudah rusak, tidak utuh lagi. Maka aku memutuskan membuat hati yang baru. Ya, hati yang benar-benar baru.
- Tere Liye
🌄🌄🌄
Peluh berjatuhan membahasi kening hingga wajah lelah wanita itu. Keheningan dan cahaya ruangan yang mulai redup tidak lantas menghentikan dirinya.
Seharusnya, 30 menit yang lalu ia sudah berada di apartemennya. Namun, mau bagaimana lagi Ia punya kewajiban yang harus di utamakan bahkan kesehatan dirinya sendiri di nomor duakan.
Wanita itu, Elvarette Rycca Kamagi. Kepala Divisi Pemasaran di sebuah Perusahaan yang bergerak di bidang bisnis jual-beli mobil sport, Your Dream Cars.
Elegan, ramah dan pekerja keras sudah melekat sebagai citra dirinya saat di kantor. Tapi, jika diluar kantor ia dikenal sebagai Ibu yang tegas, disiplin dan penyayang.
Seriously? Ibu?
Jangan kaget! Elva, begitu ia disapa sudah menjadi ibu tunggal seminggu setelah ia genap berusia 21 tahun.
Tolong di catat ibu tunggal.
Tapi wanita itu sungguh menikmati perannya sebagai seorang ibu untuk putra tunggalnya yang berusia 9 tahun, Wren Elhanan.
Bagi kalian yang bertanya dimana suaminya? Ia hanya bisa menjawab tidak ada. Ia merasa tidak pernah memiliki suami. Ia hanya mengenal si pendonor ******. Bukan seorang suami atau ayah dari putranya.
Wanita itu kembali melanjutkan perang melawan komputer dan berpuluh bahkan beratus data yang menunggu untuk diolah sampai suara ponselnya menginterupsi.
"Mama, mengapa belum pulang? Ren udah lapar pengen makan tapi males kalo ga ada mama. Hurry up,please!"
Elva tersenyum lebar mendengar suara putranya di telpon. Ia langsung membayangkan betapa lucunya wajah Ren sekarang. "Ren, 40 minutes remain. Moms will be there."
Matanya tertuju pada jam di atas meja kerjanya yang menunujukan pukul 19.15 WIB. Time flies so fast. Ia harus segera pulang mengingat buah hatinya sudah kelaparan.
Suara dengusan terdengar dari sebrang telpon. "Hmm, okay. I'll be waiting. Take care, mom. I love you!"
"I Love You Too, boy. Bye!"
__ADS_1
Panggilan berakhir. Dengan cekatan, Elva melanjutkan pekerjaannya sampai waktu menunjukan pukul 19.35 WIB. Ia segera merapihkan mejanya dan bergegas pulang.
🌄🌄🌄
"Va, lo baru dateng? Tumben telat. Nganterin Ren kesekolah, yah?"
Elva menaruh tasnya lalu duduk sambil menyalakan komputer tanpa memperdulikan pertanyaan orang di depan mejanya.
"WOI!! Gua sumpaiin budek ya! Va, Elva jawab kek! Ish, sumpah lo tuh ya tayi bener sama sahabat sendiri."
Kanindya Wiratmadja, perempuan yang duduk didepan Elva yang adalah sekertaris di perusahaan sekaligus sahabat baiknya. Mereka berdua adalah teman sekampus yang berakhir menjadi partner kerja serta partner berkeluh kesah.
Kanindya itu setipe sama Netizen Indonesia. Keponya minta ampun. Apalagi, hari ini Elva kelihatan tidak bersemangat dan menjadi kali pertama, ibu beranak satu itu terlambat.
Apapun yang terjadi sama Elva, Ia wajib tahu. Dan sudah menjadi kewajiban Elva untuk berbagi semua yang ia rasakan dan alami pada Kanindya begitu sebaliknya.
Tapi, terkadang tidak semua hal dapat kita bagi dengan orang lain, bukan? Terlebih hal yang selalu menjadi ketakutan dan seringkali menghantui pikiran kita.
Ada kalanya, kita butuh waktu untuk menyendiri sampai kita siap terbuka dan mau berbagi semua yang menjadi keresahan dan kekhawatiran kita.
Jujur saja, Elva pun ingin berbagi semua yang ia alami. Namun, ia merasa tidak enak dan takut sahabatnya itu ikut terbebani.
Walaupun, jiwa keponya dalam kategori akut bahkan menobatkan diri sendiri menjadi Queen Lambe, Kanindya itu amat sangat peduli. Benar- benar tipe orang yang dapat diandalkan dalam susah maupun senang.
"Ssst diem Nin, gue ngantuk." Elva mengisyratkan dengan menaruh jari telunjuk di depan mulutnya lalu menaruh kepalanya di atas meja kerja.
"Heh! Tayi, malah tidur. Elva, ish!!" Kanindya yang kesal menarik rambut lurus Elva yang selalu terkuncir.
Elva menghela nafas pelan. Ia sudah tak tahan memendam semua ketakutannya sendirian. "Dia disini. Pria ******** itu disini." Ujar wanita itu dengan suara serak menahan tangis.
No more sad, No more tears, No more cry!
Namun, tidak semua luka akan langsung sembuh, kan?
Mereka selalu meninggalkan bekas. Memudar bila terus diobati dan seiring berjalannya waktu, akan hilang dengan sendirinya.
Dan wanita itu tahu, jikalau lukanya belum sembuh. Tidak, hampir sembuh. Tapi, sekarang lukanya kembali terbuka dan penyebabnya masih sama.
Pria itu.
Bahkan untuk menyebutkan namanya saja, Elva tak mampu. Terlalu dalam luka yang pria itu torehkan.
Semalam sesampainya di apartemen, wanita itu langsung menyiapkan makan malam. Tak memakan banyak waktu , Nasi Tim menjadi menu makan malam ia dan putranya.
Elva segera membangunkan putra kecilnya yang tertidur di sofa ruang tv mungkin karna menunggunya pulang. Ia membantu Ren mencuci tangannya setelah itu mereka makan bersama di ruang tv mengingat tidak ada cukup ruang yang bisa digunakan sebagai ruang makan.
Putra kecilnya makan dengan lahap tanpa bertanya pada ibunya seperti yang biasa Ren lakukan. Elva menduga putranya itu masih mengantuk melihat mata berbinar nan indah milik lelaki kecilnya yang sangat mirip dengan seseorang itu tampak sayu.
Setelah memastikan Ren benar-benar tertidur, wanita itu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia membuka email kiriman staffnya yang berisi daftar nama pelanggan yang barangnya telah ready dan siap dikirim. Wanita itu memulai dari pelanggan dengan produk termahal.
Ia membaca satu persatu data dan terkejut setelah melihat nama pelanggan yang memesan Mansory Vivere Bugatti Veyron, salah satu mobil termahal didunia yang dijual perusahaanya.
Tidak. Ia tidak kaget karna ada yang mau membeli mobil seharga USD 3,4 juta atau sekitar Rp47,6 miliar itu. Namun, penyebabnya ada pada si pelanggan.
Pelanggannya adalah, Grianly Theodore Saskara. Elva tau betul siapa orang itu. 9 tahun setelah berpisah tak lantas membuatnya lupa.
__ADS_1
Tentu saja, ia tidak akan lupa mengingat banyaknya kenangan buruk yang ia punya dibanding kenangan indah. Oh, bahkan ia tak pernah benar-benar merasakan apa itu kebahagian semenjak 9 tahun lalu terikat dalam hubungan palsu berkedok pernikahan sampai Wren hadir dalam rahimnya.
Well, People who've been hurt will never forget their bad memories.
"W-what do you mean? You mean, Ren's father?"
"I've told you many times, Nin. Jangan pernah sebut pria brengsek itu papanya Ren. Dia cuman pria ******** yang tanpa sengaja menabur benihnya di rahimku."
Elva marah, Kanindya tahu itu.
"Ica, i've been loo-- Hey, Why do you crying?" Elva dan Kanindya kaget karna interupsi seseorang. Dengan cepat, ibu berbuntut satu itu mengelap air matanya.
Pria itu mendekat, menatap Elva dengan raut khawtir. "Kamu kenapa? Ren gak kenapa-napa kan?"
Elva menggeleng. Tatapannya ia alihkan ke Kanindya. Kanindya paham dan langsung menjawab. "Biasalah bos, tamu bulanan. Jadi, emosinya gak stabil."
"Oh, i see . Mau aku beliin sesuatu?" Elva menolak dengan cepat dengan gelengan kepala. Bosnya itu sudah keterlaluan baiknya.
"Okay. Kalo masih nyeri, kamu pulang aja. Nin, dijaga Icanya. Kakak ada meeting sebentar lagi." Pria itu menatap Kanindya lalu netranya kembali berpindah ke Elva "Aku pergi dulu, inget pesan aku tadi. Bye!"
Elva mengisyratkan kalimat 'hati-hati' dibalas anggukan dari si Pria.
Pria itu adalah bosnya. Kakaknya Kanindya yang telah memberinya pekerjaan dan juga turut berperan banyak dalam pertumbuhan Wren, anaknya.
Xander Wiratmadja, namanya. Xander artinya Penolong, sama seperti orangnya yang dengan setia menolong sesama tanpa pamrih.
Bosnya itu yang repot menjaganya selama ia hamil bahkan menjadi korban saat emosinya tidak stabil. Xander dan Kanindya bersama kedua Orangtua Elva yang menemani dan memberinya semangat saat persalinannya tiba.
Elva masih mengingat dengan baik kata-kata Xander saat ia ingin menggugurkan bayinya kala itu.
Bayangkan saja Ia baru saja bercerai dari lelaki brengsek yang selama 1 tahun menjadi suaminya tapi Tuhan seolah-olah ingin agar sosok mantan suaminya itu selalu ia ingat dengan menitipkan benih orang yang paling ia benci di rahimnya.
Elva tidak siap. Saat itu sakit hati dan dendam masih sepenuhnya memegang kendali atas dirinya sehingga kata biadap--Aborsi--muncul dipikirannya.
Tak ada yang tahu perihal kehamilannya selain Kanindya. Elva tak ingin membebani kedua orangtuanya yang saat itu finansialnya sedang buruk.
Oleh karna itu, dengan sisa tabungannya wanita itu menelpon Kanindya meminta sahabatnya tuk menemaninya ke bidan agar kandungan yang baru berusia 3 minggu itu segera digugurkan.
Ia menunggu Kanindya menjemput di depan rumah kontrakan keluarganya. Kanindya datang namun tidak sendiri. Gadis itu ditemani kakak laki-lakinya yang dulunya sempat dekat dengan Elva, Xander.
Didalam perjalanan, Xander yang menyetir tiba-tiba berputar arah dan membawa mereka ke Panti Asuhan. Pria itu meminta mereka masuk ke dalam Panti.
Ia meminta Kanindya agar membiarkan mereka berdua sendiri. Dan disitulah, Xander membuat Elva menangis. Bukan karna pria itu menyakitinya, namun karna kata-kata yang dilontarkan membuat Elva merasa bersalah dan membatalkan niat bodohnya.
Elva kembali menangis sekaligus merasa bersalah pada Wren mengingat betapa bodohnya dia 9 tahun yang lalu.
"Va, sorry. Gue keluar bentar biar elo bisa nenangin pikiran dulu. Kalo ada perlu telpon aja."
Setelah Kanindya keluar, air mata wanita itu kembali menetes. Lagi-lagi, bayangan masa lalu yang hampir berhasil ia lupakan kembali teringat.
Terlalu berat baginya. Apalagi sekarang sudah ada Wren. Suatu saat, anaknya pasti akan bertanya siapa ayahnya dan sudah tak mungkin lagi bagi Elva untuk berbohong tentang identitas si penabur ****** pada sang anak.
Tangannya mencari-cari benda kecil berbentuk persegi miliknya. Setelah suara sapaan dari seberang terdengar ia segera berbicara "Mama, Ica perlu kalian."
🌄🌄🌄m
__ADS_1