Sweet Wound

Sweet Wound
Track 3


__ADS_3

Yang tersisa, mungkin hanya rindu yang mengulum waras logika. Ada padamu, kunanti sekaligus kubenci.


-Moammar Emka


🌄🌄🌄


"Eum, aku bingung, dua-duanya bagus. Gimana menurut kamu Yan, bagusan hitam apa putih?" Wanita dengan midi skirt itu sibuk memilih warna yang akan ia ambil.


Kepalanya mendongak ke atas akibat terlalu lama menanti jawaban pria didepannya malah mendapati kekasihnya itu sedang tak fokus."Ish, Iyan kok bengong!! Ah, aku tahu. Kamu lagi mikir kotor, kan?dasar mesum! Baru liat ginian udah kemana-mana pikirannya." Ejek si wanita.


"Hehehehehe, abis lingerienya seksi banget. Aku langsung ngebayangin gaya yang pas buat entar malem. Tapi masih bagusan bugil, sih." Ujar Pria itu, menggoda balik wanita di depannya. Berusaha agar si wanita tidak curiga kepadanya.


Wanita itu terkekeh. Sudah terbiasa digoda seperti ini bahkan lebih liar dari ini. "Cepetan bantu aku milih biar rencana kamu langsung terlaksana." Bisiknya nakal.


Di balas si pria dengan senyum lebar yang membuat ketampanannya 2x lipat meningkat.


Setelah hampir setengah jam berkutat dengan berbagai jenis pakaian hingga dalaman wanita, mereka berdua segera menuju kasir. Tentu saja si pria yang membayar.


Selesai belanja karena rengekan lapar, mereka berdua menuju salah satu resto yang menghidangkan makanan korea. Tidak tahu bagaimana sampai mereka berada di situ.


Pikiran pria itu kembali menjelajah ke masa lalu. Beberapa tahun lalu, ia pernah kesini. Ya, ini tempat kencan pertamanya dengan seorang gadis muda yang sekarang sudah berevolusi menjadi wanita dewasa yang juga menjadi penyebab mengapa ia tidak konsen selama seminggu ini.


Grian menyuruh pacarnya memesan duluan. Ia harus ke toilet. Cuci muka mungkin bisa membantunya menghilangkan bayangan wanita itu di pikirannya.


"Eung, hello uncle. Can you help me?"


Grian menatap ke bawah. Ada seorang anak laki-laki yang memegang celananya.


"Sure. What can i do for you?"


"Eumm, aku lupa jalan balik ke dalam restoran. Hehehhehe."


Tawa pria itu pecah. Tidak tahu mengapa, namun raut anak ini membuat dia gemas. Ah, benar anak ini masih kecil. Sepertinya umurnya sekitar 8 atau 9 tahun. Dimana sih orang tuanya? Masa meninggalkan anak mereka sendirian begini?


"Oh, okay. Ayo, ikut uncle." Ajaknya.

__ADS_1


Mata anak itu langsung berbinar. "Thank you so much, uncle."


Grian hanya tersenyum. Mereka berjalan meninggalkan toilet. Restoran ini lumayan luas sehingga toiletnya agak jauh dari tempat duduk pelanggan.


Selama mereka berjalan, Grian sempat bertanya pada anak kecil yang sedari tadi mengenggam tangannya. Siapa namanya dan dengan siapa ia datang. Anak itu bilang ia datang bersama ibunya, dan pria itu sangat terpesona dengan namanya.


Wren Elhanan.


Nama yang indah, menurutnya.


"So, where is your sit?" Grian bertanya saat mereka sudah ada dalam resto.


Mata anak itu berkeliaran. "Eumm, i forget the number. But, one thing i know, my mom wearing white shirt."


Mendengar penuturan Wren, mata lelaki itu ikut mencari. Jemarinya mencengkram erat tangan kecil itu setelah matanya berhasil menemukan tempat duduk seorang wanita dengan warna baju persis yang anak kecil itu sebutkan tampak sedang menelpon.


"Mom!' Teriak Wren. Anak lelaki itu langsung berlari dan memeluk ibunya dari belakang.


Wanita yang dipeluk itu sontak berbalik.


Grian membeku di tempat.


Melihat pria itu berdiri dalam jarak dekat dengan putranya, wanita itu langsung bersikap defensif. Ia memeluk Wren erat seakan-akan sedang berhadapan dengan penculik.


Elva tersentak saat putra kecilnya itu mencubit lengannya pelan. "Mom, bilang trimakasih sama uncle ini. Tadi Ren lupa jalan balik  terus dibantuiin uncle dan finally ketemu deh sitnya kita."


Wren tampaknya tidak mengerti dengan ketegangan diantara dua orang dewasa didepannya itu. Elva mencoba bersikap seperti biasa--walau sulit--sedangkan Grian masih terdiam di tempatnya.


Wanita itu memberanikan diri, "Terima kasih banyak pak, sudah menolong anak saya."


"E-eung,sama-sama." Balas Grian. Kentara jika dirinya sedang tak fokus. Netranya langsung berpindah pada anak kecil dalam pelukan ibunya itu."Wren, uncle balik dulu. Enjoy the food!"


Sebelum melangkah pergi, tatapan tajam khas penuh intimidasi itu mengarah pada Elva, "Lain kali anaknya dijaga. Jangan keasyikan sendiri terus lupa tanggung jawab. Permisi!"


Elva hanya diam, berusaha agar tidak termakan emosi.

__ADS_1


"Thanks uncle G, hope we'll meet again, bye!" Ujar Wren penuh harap. Dibalas senyum oleh Grian.


"Sayang, quickly,please! Mom harus kembali ke kantor."


"Sorry, mom. Wren lupa bentar lagi jam istirahat selesai, hehehehe," Anak kecil itu tertawa hingga kerutan kecil muncul ditulang pipinya." Kalo nanti dimarahin, Wren yang akan minta maaf ke poppa." Lanjutnya masih dengan tawa yang sayangnya makin mengingatkan Elva pada pria yang sedang duduk di dekat pintu masuk bersama kekasihnya itu.


Elva tersenyum kecut. Tidak, ia tidak khawatir ditegur karna terlambat kembali ke kantor. Yang ia khawatir ialah bagaimna jika pria itu akan merebut kembali kebahagiaanya sama seperti dulu. Alasan ia bisa bertahan hidup sampai sekarang, yakni putranya.


🌄🌄🌄


Dalam kamar berukuran 3 X 4 itu tampak seorang wanita sedang bergelung manja dilengan yang tak lagi kekar. Tangan satunya, pria itu gunakan untuk mengelus punggung si wanita."Sssst, kakak udah. Kalo Ren liat gimana?"


"Kakak takut pah. Kakak takut kalo nantinya Ren lebih milih sama ******** itu daripada kakak. Aku gak bisa terus nutupin identitas ayahnya, anakku udah 9 tahun pah. Cepat atau lambat dia bakal tahu dan aku gak siap jauh dari Ren."


Wanita itu makin terisak. Kepalanya pening penuh dengan berbagai kemungkinan yang sangat tidak ia inginkan.


"Maafin papah, nak. Semua salah papah, kamu tersiksa karna keegoisan papah. Papah yang salah kak, maaf."


Gelengan kepala menandakan ketidaksetujuan akan kalimat ayahnya, wanita itu menatap ayahnya lembut lalu menggenggam tangan sang ayah.


"No,pah! Semua yang Ica alami sudah diatur Tuhan. Bukan karna salah siapa-siapa. Ica gamau denger papah ngomong gitu lagi. Walau banyak pahitnya,Ica pun dikasih hadiah terindah, itu Ren. Everytime i look at his eyes, i'm happy and that's all i need," Matanya menatap foto sang anak yang terpampang didekat nakas.


"Dia satu-satunya alasan aku masih bertahan sampe sekarang.  Aku gak bisa bayangin gimana hidupku tanpa Ren, pah." ia memluk erat foto putra kecilnya yang ia ambil saat mereka berlibur di Bali tahun lalu. "But now that bastard is in here. It  scared me a lot, i swear." Isak tangis mengucur deras seiiring kata per kata yang wanita itu lontarkan.


Sang ayah terus mengusap pelan punggungnya. Jikalau bisa, lelaki tua itu ingin menghapus semua kesedihan putrinya. Atau bolehkah ia meminta pada yang diatas agar semua kesedihan putrinya itu dikurangi walau sedikit.


Sungguh, ia tak tahan melihat putrinya itu sedih. Sudah terlalu banyak air mata yang keluar dari mata indah putrinya yang kini berganti didominasi oleh pilu.


"Dam, aku mohon. Cuman itu satu-satunya cara buat aku dan keluargaku  membalas semua jasa kamu. Tolong, kasih restumu. Aku jamin dan janji, gak bakal ada satu tetes air mata yang keluar dari mata putrimu saat ia jadi menantuku."  Ujar pria yang masih terlihat tampan di umurnya yang sudah kepala 5 itu bersunguh-sunguh.


Siapapun yang mendengar kalimatnya dipastikan akan percaya melihat sirat kesungguhan yang seolah memperkuat omongan, lebih tepatnya janji pria itu.


Aldama Kamagi sebagai seorang yang sudah menghabiskan masa suka dan duka bersama pria didepannya itu akhirnya memutuskan untuk sepakat. Berharap putri semata wayangnya kelak bisa mencicipi kebahagiaan.


Dengan kepala tertunduk, lelaki tua itu sungguh menyesali kebodohan masa lalunya. Namun, apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur bukan?

__ADS_1


__ADS_2