
What gets us into trouble is not what we don't know. It's what we know for sure that just ain't so.
- Mark Twain
🌄🌄🌄
“Prenagen rasa Chocolate,kan?”
“Iya.”
“Itu aja?”
“Emang boleh minta yang lain?”tanya elva.
“Ya bolehlah, kan kakak udah bilang kamu boleh minta apapun yang penting disetujui dokter dan gak ngefek ke babynya. Mau tteobeoki atau samgyetang? Lokasi kakak masih deket restoran Korea favorit kamu,nih.”
“Hngg, thanks. Tapi aku gak mau makan apapun sekarang.”
“Terus mau apa? Liburan? Bali? Lombok? Sumba? Atau Korea? Nanti kakak konsul ke dokter dulu, kalo dibolehin, kakak langsung pesen tiket.”balas Xander menyebut berbagai tempat yang mungkin saja ingin dikunjungi si ibu hamil.
“Hmm, liburan sounds great tapi aku gak mau kemana-mana sekarang. Kasur udah kayak istana soalnya, hehehhe. Aku mau nonton kakak main futsal.”
“Hah? Futsal?? Ya ampun, kenapa gak bikang dari tadi sih. Yaudah, kakak hubungin anak-anak dulu, kamu siap-siap. Kalo clear, kakak jemput.”
“Kakak yakin mreka stuju, jam segini mah waktu paling pas buat tidur apalagi ini weekend. Kalo gak bisa, kakak pulang aja, nanti aku minta Nindya kesini.”
“Kamu lupa kakak siapa? Diancam dikit ciut dah mreka. Udah kamu siap-siap aja.”
“Iya deh, Pak bos. Take care.”
“Bye, rycca. Salam buat baby.”
__ADS_1
Sepenggal memori saat dia pertama kali ngidam dulu muncul kembali, membuat Elva lagi-lagi merasa bersalah karna selalu meratapi nasibnya padahal dibandingkan dengan orang lain, Elva masih kebih beruntung.
Saat itu, dirinya memang harus menghadapi kehamilan tanpa dalang atau orang yang berperan dalam menciptakan sebuh kehidupan di perutnya, tapi dia tidak kesusahan seperti wanita lain yang harus menghadapi kehamilannya sendirian karna ada Dua kakak-beradik yang dengan senang hati ia repotkan.
Entah itu, keluhan sakit pinggang, ngidam, mual bahkan kontraksi palsu yang seringkali ia rasakan. Xander dan Nindya selalu disampingnya mengingat kedua orangtuanya yang saat itu masih di luar kota.
Bahkan saat ia harus berjuang di ruang persalinan, Xander yang jadi tempat pelampiasan. Sungguh, trimakasih mungkin gak bakalan bisa membayar semua yang sudah Xander dan Nindya lakukan.
Tidak sampai disitu, Xander dan Nindya pula yang membantunya mengurus Ren sampai putranya itu sudah berusia 9 tahun.
Sejak Pre-school sampai SD, Xander selalu jadi partner Ren dalam lomba menyongsong Hari Ayah. Menjelang lomba, Xander akan mengosongkan semua jadwalnya dan kali ini jadi kali pertama Pria itu harus absen.
Papanya kecelakaan dan butuh donor darah. Xander harus kesana karna hany golongan darahnya yang sama dengan sang papa.
Pria itu sudah memberitahu Elva dan tak henti-hentinya meminta maaf karna harus absen. Elva mana mungkin marah, Xander sudah terlalu membantu dirinya, bukankah ia harus berterimakasih?
Akhirnya, sebelum menutup ponsel, Elva meminta agar Pria itu fokus saja pada kondisi papanya dan tentu harus kuat agar mamanya dan Nindya tidak sedih lagi.
Sekolah sangat ramai. Elva berjalan menyusuri koridor menuju halaman belakang tempat lomba di adakan. Terlintas di pikirannya untuk menelpon wali kelas Ren yang tadi sudah di hubungi lebih awal agar terus memantau anaknya, jangan sampai putranya kembali mengalami perundungan seperti saat Ren masih di TK, namun netranya menangkap sosok kecil yang ia yakini Ren sedang tertawa girang bersama seorang Pria.
Wanita itu mulai was-was, tapi dia kembali ingat, protokol keamanan sekolah putranya sangat ketat sehingga kecil kemungkinan bahkan sangat tidak mungkin bila terjadi penculikan. Langkah kakinya semakin dekat dan dia tercegang.
What da fucking hell is he doing here?
“Mama?”
“Hah? Jawab wanita itu linglung.
“Kok disini?”
“Eungg, mau temenin kamu. Lomba lain masih ada, kan? Kamu ikut yang lain aja yuk sama mama.” Ujar wanita itu.
__ADS_1
“Hahahhahahaha.”
“Loh kok ketawa? Ada yang lucu?” tanya Elva bingung.
“Mama, ini udah jam 11 lewat. Lombanya udah selesai 1 jam yang lalu. Dan, tim aku menang.” Jawab Ren girang. “Padahal aku udah siap dibully Jef, untung ada uncle G.” Anak itu langsung menggandeng tangan kekar pria yang sedari tadi duduk disampingnya. “Thank You so much, uncle G.” Kata Ren penuh ketulusan.
Pria itu, tidak tahu mengapa merasakan kehangatan di dada saat Ren tersenyum padanya. Ia mengelus rambut bocah kecil itu sembari tersenyum.
Elva langsung terpana. Ini kali kedua ia melihat Grian tersenyum tulus pada orang laing. Yang pertama, tentu saja, ia berikan untuk sang kekasih.
“So, untuk merayakan kemenanganku hari ini sekaligus ucapan terima kasih karna uncle G udah jadi partnerku, aku mau kita makan bersama. Perut aku udah keroncongan dari tadi.” Ucap Ren.
“Gak usah, Ren. Uncle harus balik ke kantor, kamu liat sendiri kan daritadi ponsel uncle bunyi. Sorry, yah.” Grian berdiri, bersiap untuk pergi tapi tangan kecil Ren sudah menahannya.
“Please, Kita gak lama kok, dan bentar lagi jam istirahat, kan? Pokoknya, kita harus Lunch bareng!”Kata Ren final.
“Ren, mama enggak pernah ngajarin kamu bicara kayak begitu. Gak semua keinginan bisa dikabulkan, so, lepasin tangan uncle itu.” Ucap Elva tegas. Mau tak mau Ren langsung menuruti perintahnya.
“Maafin aku, uncle.”
Grian menatap sosok kecil itu. Lalu, tanpa banyak bicara, pria itu langsung menggengam tangan Ren. Mengabaikan ekspresi kaget ibu dan anak, pria itu langsung berbicara. “Boleh uncle yang tentuin tempatnya?”
“Hah? Maksud uncle, kita bisa lunch bareng?” Tanya anak itu, kentara sekali sedang kaget dicampur bahagia.
“Bisa, kalau mama kamu setuju.” Ucap Grian sambil melirik Elva.
Tatapan bocah itu langsung berubah dibuat jadi se-sendu mungkin. Senjata andalannya agar sang mama mau menuruti keinginannya.
Elva menghembuskan nafas kasar. Melihat itu, Ren langsung memeluk ibunya. “Thank you, my beutiful mom.”
🌄🌄🌄
__ADS_1