
I haven't been by your side,
in minute but i think about sometimes,
even though i know it's not so distance,
oh no, i still wanna reminisced it.
- Julia Michaels
🌄🌄🌄
"Bagaimana keadaan cucu saya, dia baik-baik saja kan?"
"....."
"Baik, terimakasih banyak. Hubungi saya kalau ada masalah. Saya tutup."
"..."
Wanita tua itu meletakan ponsel berlogo apel digigit setengah di meja tepat disamping tempat tidurnya. Netranya menatap tepat pada bingkai foto besar dimana sang suami terlihat gagah dengan senyum manisnya.
"Cucu kita baik-baik saja, mas. Aku yakin kamu pasti bahagia dengar kabar tentang cucu kita. Sebentar lagi usianya genap 9 tahun. Kalau kamu masih hidup pasti kita akan merayakan pestanya bersama-sama. Gak cuman sekedar tiup lilin bersama mamanya. Aku sedih mas, selama hampir 9 tahun cuman bisa mantau cucuku sendiri dari kejauhan. Aku gak tahu sejauh mana bisa bertahan menahan keinginanku ini mas. Tapi, aku punya keyakinan yang kuat kalau gak bakal lama lagi, aku akan memeluk cucuku dengan kedua tanganku, menjaganya tanpa harus sembunyi-sembunyi, dan mencurahkan seluruh kasih sayangku untuknya sampai aku dipanggil Tuhan dan bertemu kamu di sana."
Wanita tua itu menghapus airmata yang terus menetes dari kelopaknya. Berbicara bersama sang suami walau hanya lewat foto selalu membuatnya sedih.
Wanita tua itu bernama Sekar Saskara, istri Richard Saskara, ibunda Grianly Theodore Saskara. Seseorang yang selama hampir 9 tahun selalu hidup dalam perasaan bersalah pada sang menantu—dia selalu menyebut Elva menantunya tidak peduli seperti apa fakta hukum— dan memendam rasa rindu pada cucu semata wayangnya yang harus menjadi korban keegoisan orang tuanya sendiri.
Sekar mengambil ponselnya yang berbunyi tanda pesan masuk berisi foto terbaru sang cucu yang sedang tertawa bahagia.
"Oma akan segera memelukmu, sayang."
🌄🌄🌄
“Anjir, Wren benar-benar 100% fotokopian lo. Gue auto inget masa kecil waktu lihat wajahnya.” Andra berujar takjub setelah matanya menangkap sosok bocah laki-laki yang sedang duduk menikmati ice cream bersama seorang pria yang ia kenali sebagai Xander di taman kota.
__ADS_1
Hari ini, setelah jadwal prakteknya kosong, Andra mengiyakan ajakan Grian untuk membuntuti Wren. Andra yang dipenuhi rasa penasaran akan wajah sang ponakan tidak repot-repot menolak.
“Ya iyalah, kan benih gue.”Ujar Grian penuh bangga.
”Kalo gue jadi Wren, gak bakalan gue akuin manusia sebrengsek lo sebagai ayah gue. Dan dari pandangan gue, Wren kelihatan bahagia. Gue yakin Xander benar-benar limpahin dia dengan kasih sayang dan tentunya TULUS.” Pria itu menenkankan kata terakhir sebelum menutup kalimatnya.
Grian langsung mendelik tajam, “maksud lo nekanin kata tulus itu apa?”
Andra berdecak,”Ck! Susah kalo ngomong sama manusia brengsek dan gak punya hati kek lo.” Tangannya bergerak meraih briefcase di jok belakang mobil, “Gue turun di sini.”
Grian menatap heran sahabatnya yang sudah berjalan menuju halte dekat taman. Mengapa Andra mendadak marah? Ah, sudahlah. Dia punya banyak kegiatan yang harus dilakukan. Lagi pula, manusia semacam Andra mana bisa berlama-lama marah padanya?
Grian segera menjalankan mobilnya mengikuti Audi hitam di depannya. Rencana membuntuti Wren dan Xander masih terus berlanjut.
Setelah hampir setengah jam membuntuti mobil Xander, Grian langsung cengo ketika sadar di mana mereka berada sekarang. Pasalnya, mereka kini berada di tempatnya berlatih sepak bola dulu. Tempat yang sudah ia tinggalkan 20 tahun lalu bersama dengan seluruh impiannya.
“Wah, kak Ian keren banget.”
“Kak Ian, kalo nanti udah banyak penggemarnya nggak boleh lupain aku, yah? Pokoknya, aku harus jadi penggemar no.1 kakak, janji?”
Penggalan kalimat gadis kecil yang dulu selalu bersama dengannya itu kembali muncul. Grian menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha keras menghilangkan wajah gadis itu dari ingatannya.
“Everything is over, G. Past is only past, Live your life!” Bisik pria itu pada dirinya sendiri.
Wren dan Xander sudah menghilang dari pandangannya. Tandanya mereka sudah masuk ke dalam. Grian langsung menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu serta mengabaikan rencana yang sudah ia susun semalam.
“Kenapa harus ke situ, sih?”
Pria itu kesal dengan Xander. Akibat pilihan tempat, rencananya membuntuti Wren harus ia urungkan. Grian tidak bisa menginjakan kaki di tempat itu lagi. Ia sudah berusaha keras untuk melupakan semuanya. Tapi, hari ini, kenangan itu kembali datang.
What a shit day!
Ah, nggak sepenuhnya buruk sebab ia jadi tahu satu hal. Selain wajah, ada satu lagi kesamaan mereka berdua.
Sepak bola.
__ADS_1
🌄🌄🌄
“Va, tadi gue dikabarin kakak. Katanya dia lagi nemenin Wren latihan football. Memangnya hp lo kenapa? mati? Kok nggak bisa dihubungi?”
Elva merespon pertanyaan sahabatnya dengan mengangkat hp yang berlayar hitam, mengiyakan prediksi wanita di depannya.
Nindya berdecak, “ck, padahal colokan cuman sejengkal dari tempat lo duduk. Dasar, manusia mager!” Wanita itu bergerak mendekati tempat Elva duduk lalu menadahkan tangannya, “Siniin hp lo, biar gue isi dayanya. Gimana kalo ada telpon penting? Sini!”
Elva menangsurkan hpnya kepada Nindya diiringi senyum penuh kemudian berujar, “Thanks, Manin sayang.”
Wanita dengan rambut Ash grey itu hanya berdecak malas sembari tangannya menyolok charger pada colokan kemudian ia kembali ke sofa di depan Elva.
Mengamati wajah sang sahabat yang tampak serius dengan komputer, tiba-tiba wanita itu menjadi penasaran akan satu hal.
“Va, gue boleh nanya nggak?”
“Tumben nanya dulu, biasanya langsung borong macam emak-emak sewaktu liat promo.”
“Ck! Jadi, gue boleh nanya dong? Tapi, kalo lo nggak mau jawab, nggak papa kok.”
“Tentang apa?”
“Wren. Dia gemar football murni karena dia mau atau karena nurun dari si you-know-who?”
Elva segera menghentikan aktivitasnya. Matanya langsung memaku tatapan wanita di depannya.
Melihat ekspresi sahabatnya yang sulit dijelaskan, Nindya langsung berkata, “Nggak perlu jawab,kok. Pertanyaan gue memang ngawur.”
Wanita itu hendak keluar sewaktu Elva berbicara. “Tadinya gue pikir Wren gemar sepak bola karena murni dia tertarik seperti anak-anak laki-laki pada umumnya. Cuman sewaktu gue ke sekolahnya pas hari ayah beberapa minggu lalu, gue tahu gemar sepak bola nurun dari pria itu.”
Elva menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “Gue langsung tahu waktu lihat dia dengan girangnya ngobrol tentang sepak bola bareng pria itu. Bahkan mereka berdua menyukai klub yang sama. Gue gak mungkin nyuruh Wren berhenti suka bola hanya karena dia,kan? Jadi, yang gue lakuin sekarang hanya berusaha sebisa mungkin jauhin Wren dari jangkauan pria itu. Gue bisa kehilangan semua yang gue punya sekarang, tapi nggak bisa kehilangan anak gue,Nin. Nggak bisa, gue nggak bakalan sanggup.”
Nindya merutuki dirinya sendiri. Mengapa dia sangat ceroboh? Lihat kan, sahabatnya kembali menangis. Elva akan selalu sedih bila dihadapakan dengan sesuatu yang berhubungan dengan si brengsek mantan suaminya itu. Ah, Nindya jadi merasa bersalah.
Wanita itu berjalan mendekati Elva kemudian memeluk sahabatnya erat sembari berharap pelukannya dapat mengurangi kesedihan Elva.
__ADS_1
🌄🌄🌄