
I didn’t leave because i stopped loving you,
I left because the longer i stayed,
The less i loved myself.
- unknown
🌄🌄🌄
Jaman sekarang atau yang sering disebut kaum milenial jaman now, muncul berbagi kata, istilah atau slang. Salah satunya, kata Bucin yang merupakan akronim dari Budak Cinta.
Bucin sering ditujukan kepada orang-orang yang rela berbuat apa saja saat mereka sedang di mabuk cinta atau saat mereka sedang jatuh cinta pada seseorang.
Kalau istilah itu sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu, mungkin Elva bisa masuk dalam kategori Bucin. Menikah di usia 19 tahun membuat Elva dengan mudah jatuh pada pesona Grian yang saat itu berusia 24 tahun.
Katakanlah Elva bodoh karna jatuh cinta pada pria seperti Grian. Selain tampan, pria itu tidak punya pesona lain yang membuatnya patut dicintai.
Tapi, itulah cinta tak bisa disalahkan, bukan? Kita tidak akan pernah tahu kapan dan pada siapa hati kita akan berlabuh? Yang kita tahu hanyalah, kita mencintai orang itu.
Mencintai pria seperti Grian membuat Elva lupa akan diri sendiri. Dia bahkan menjadi kebal dengan semua kekejaman yang pria itu lakukan padanya.
Dia masih mengingat dengan jelas semua perbuatan Grian padanya.
“Kak, kampusku masih 3 km lagi. Kok, berhenti sih?”tanya Elva pada sang suami yang tiba-tiba menepikan mobilnya dekat halte.
Pria itu tak menghiraukan pertanyaan penghuni bangku duduk di sebelahnya, dia masih menaruh atensinya pada handphone “Ada gojek di hp lo,kan? Pesen sekarang, gue bukan supir yang harus anterin lo ke kampus. Turun disini. Lo tunggu gojeknya di depan halte,” ucapnya cuek namun dengan nada mengusir.
__ADS_1
Elva hanya bengong mendengar penuturan pria di sampingnya. Pria itu mengusirnya? Kampusnya masih jauh dan bisa dipastikan dia akan terlambat kalau diturunkan disini.
Grian mengalihkan atensinya dari handphone dan mendapati Elva yang menatapnya heran, seketika membuat dirinya kesal “Ngapaian lihat gue? Lo tuli,hah? Cepetan turun, cewek gue bentar lagi sampe.”
Dengar air mata yang hampir menetes, Elva turun dari mobil. Setelah kakinya menginjak trotoar depan halte, Rover putih milik suaminya langsung melaju meninggalkan dirinya.
Dulu, setiap kali Grian begitu, Elva hanya bisa menyemangati diri sendiri, semoga dia selalu di beri kesabaran menghadapi pria yang terpaksa harus menikahinya itu.
Mengingat mereka menikah karna perjodohan, Gadis itu mengerti bahwa seperti hubungan percintaan lainnya, ia pun harus mengalami ujian yang nantinya akan menguatkan rasa cintanya pada sang suami.
Rasa cinta tak melulu harus di balas, kan?
Saat kamu mencintai orang lain, kamu akan merasa cukup saat melihat mereka tersenyum bahagia walau penyebabnya bukan kalian.
Itu yang selalu Elva rasakan. Melihat suaminya tersenyum bahagia, bagian terdalam hatinya merasa hangat. Dia paham bahwa itu adalah konsekuensi karna mencintai orang yang menaruh rasa pada orang lain.
Kejadian di halte hanya satu dari sekian banyak hal kejam lain yang pernah ia rasakan. Mencoba menyakinkan diri sendiri untuk bertahan, setiap kali disakiti oleh suaminya, lama-kelamaan membuat Elva sadar bahwa dia tak kebal akan luka yang terus diberikan suaminya. Dia sadar bahwa dia tidak boleh lagi membiarkan tubuh dan batinnya disiksa terus- menerus. Dia harus menyudahi semuanya.
Dengan dukungan orang tua dan Nindya, dia belajar untuk mencintai diri sendiri. Dia sadar bahwa dirinya yang harus dia cintai terlebih dahulu.
Namun, lagi-lagi dia diuji. Dalam proses melupakan dan belajar mencintai diri sendiri, dia harus menerima kenyataan bahwa dalam perutnya ada kehidupan lain.
Marah adalah emosi yang ia rasakan saat itu. Muncul berbagai pertanyaan dalam otaknya?
Mengapa Tuhan begitu jahat padanya? Mengapa ia harus hamil saat dia sedang berusaha melupakan Grian? Apakah dia pernah berbuat salah yang besar di masa lalu sampai ia harus menerima hukuman seberat ini?
Kira-kira begitu pertanyaan yang muncul saat ia tahu dirinya hamil. Beruntung Tuhan begitu baik sehingga mengirimkan malaikat penolong yang menyadarkan dia bahwa janin yang kini sudah bertumbuh menjadi anak laki-laki yang pintar dan tampan, anak yang dulu ingin ia bunuh adalah anugrah Tuhan yang luar biasa Indah dan sekarang menjadi alasan dia bertahan hidup.
__ADS_1
Lalu, Pria itu datang lagi. 1 minggu yang lalu menjadi kali kedua putranya bertemu dengan Grian. Elva masih bisa menarik nafas lega karna sejauh ini, pria itu bertingkah seolah Wren bukan siapa-siapanya padahal dia sudah tahu kenyataan yang sebenarnya.
Dia lega karna sikap pria itu yang seakan tidak mengakui Wren sebagai anaknya. Itu berarti putranya akan selalu bersama dengannya.
Namun, tak bisa ia pungkiri bahwa sebagian hatinya merasa kecewa karna putranya harus menghadapi penolakan oleh ayahnya sendiri.
Dia sudah terbiasa mengalami penolakan dan terasa sangat menyakitkan. Elva tak mau putra semata wayangnya itu merasakan hal yang sama. Cukup dia saja.
“Ica, mama panggil daritadi kok diem? Mikirin apa, sih?”
Pertanyaan Line sang mama membuat Elva tersadar dari lamunannya. “Hngg?”
“Wanna share with me?” tanya Line kembali.
Elva menggeleng, “Bukan masalah besar, ma. Biasalah penjualan lagi menurun makanya aku lagi putar otak cari solusi yang tepat. That’s all.”
“Mama udah selesai packingnya?” lanjutnya mencoba mengalihkan pikiran sang mama.
“Udah daritadi. Tadinya mama pengen minta bantuan kamu, tapi kamunya gak tahu kemana. Jadinya mama selesain sendiri. Ayo, siap-siap! Kita harus ke bandara sekarang, kamu tahu kan ibukota macetnya kayak apa.” ujar Line.
Elva menaikan jempolnya, “Okay. Mama tolong bantuiin Ren siap-siap yah, aku ganti baju dulu.”
“Sana ganti baju, Ren gak udah siap daritadi.”balas ibunya.
Elva langsung mencium pipi Line, “Makasih mamaku tersayang. I’ll be back soon.” ucapnya sebelum berlari menuju kamar.
Line hanya menggelengkan kepala. Elva walau sudah memberikannya seorang cucu masih saja bersikap seperti anak kecil.
__ADS_1
“Mama senang dengan tingkahmu yang seperti anak kecil. Itu buat mama merasa lebih baik karna kamu masih mau menunjukan kelemahanmu daripada kamu bersikap dewasa tapi hanya sebagai topeng untuk menutupi kesedihanmu.” ucapnya dalam hati.
🌄🌄🌄