
Hampa itu seperti langkah tak berjarak, senja tapi tak jingga, cinta tapi tak dianggap.
- Raditya Dika
🌄🌄🌄
“Kamu di mana?” Tanya penelpon di seberang.
Pikirannya langsung menerawang, pasti sesuatu sudah terjadi sampai-sampai maminya yang hampir 9 tahun tak pernah memperdulikan dirinya, tiba-tiba menghubunginya. “Aku di apartemennya Andra,mi.” Jawabnya.
“Kamu gak mampu bayar apartemen sampai harus menginap di apartemen orang? Atau uang kamu sudah habis buat mendandani pacar matremu itu? Awas kalo berimbas pada perusahaan, jabatanmu langsung mami turunkan jadi OB. Sekarang juga, kamu ke rumah!” Perintah sang penelpon yang juga menjabat sebagai ibunya.
Grian langsung mengiyakan. Sedari dulu, dia selalu menuruti perintah maminya. Satu-satunya perintah sang mami yang pernah dia langgar adalah perintah untuk menjaga dan menemani Elva seumur hidupnya.
Karna perintah itu pula, dia harus kehilangan papinya dan menghadapi kemarahan sang mami.
Setelah sekian lama, mungkin maminya sudah bisa memaafkan kesalahannya. Oleh karena itu, dia langsung bergegas sesudah maminya menutup telepon.
Dengan perasaan bahagia, pria itu langsung mengendarai mobilnya menuju rumah yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan. Ah, hampir 9 tahun ia pergi dari tempat di mana ia dibesarkan.
Sampai di sana, Grian pikir ia akan disambut dengan pelukan haru oleh mami seperti yang sering terjadi saat orang tua bertemu dengan anak mereka setelah sekian lama terpisah. Namun, NIHIL. Yang ia temukan adalah Maminya berdiri dengan raut penuh murka, lalu melemparinya dengan sebuah amplop cokelat yang ia tidak tahu apa isinya.
“Kamu sudah tidak menganggap saya sebagai orang tuamu lagi, hah?” Tanya wanita tua itu. Ada raut sedih yang terpancar dari wajahnya.
Grian menatap maminya linglung. Apa maksudnya?
“Hal sebesar ini kamu sembunyikan dari saya? Jawab Grianly, jangan hanya diam!” Tuntut maminya.
__ADS_1
“Aku gak ngerti,mi. Maksud mami apasih?”
Raut wajah wanita tua itu terlihat murka. 9 tahun meninggalkan rumah membuat anaknya jadi bodoh.”Ambil amplop itu, lihat dan jelaskan pada saya.”
Pria itu langsung menuruti perintah maminya. Dia kaget saat menemukan foto dirinya, Elva dan Wren saat mereka makan bersama beberapa minggu lalu. Seketika alarm tanda bahaya langsung muncul di kepalanya.
“Cepat jelaskan! Mulutmu masih ada,kan?” Tukas sang mami.
“E-ung, i-itu memang Elva.” Kata Grian pelan.
“Mami juga tahu itu Elva. Yang ingin mami tahu itu, siapa anak kecil yang bersama Elva dan kenapa kalian bertiga bisa makan bersama? Ayo jawab!” Tuntut sang ibu.
Oh, wanita tua kesayangannya itu sudah tidak menggunakan ‘saya’ lagi untuk kata ganti dirinya. Sebuah perubahan yang luar biasa.
Grian terdiam, mencoba memikirkan jawaban yang tepat. Jika salah berbicara maka akan membawa pengaruh bagi masa depannya.
Oh, wanita tua kesayangannya itu sudah tidak menggunakan ‘saya’ lagi untuk kata ganti dirinya. Sebuah perubahan yang patut dihargai.
“Kalau mami tahu, kenapa harus nanya lagi?”
“Heh, anak bodoh! Tentu mami harus bertanya. Mami ingin memastikan kamu gak ngambil jalan yang salah lagi. Mami bahagia melihat usaha kamu yang ingin kembali bersama dengan Elva dan anakmu. Memang itu seharusnya kamu lakukan.”
Raut muka Grian langsung berubah. “Mami salah paham. Aku makan sama Elva dan anaknya bukan karna mau mengajaknya rujuk. Itu hanya kebetulan.”ujar Grian.
“Anaknya? Itu anak kamu juga, bodoh! Kalo kamu gak nabung ****** di rahim Elva, dia gak bakalan ada. Jadi, berhenti bertingkah seolah-olah kamu gak ada hubungan dengan anak itu. Siapa namanya?”
“Hah?”
__ADS_1
“Hah-ho, hah-ho! Cucu mami, namanya siapa?”
“Oh, namanya Wren.” Jawab Grian.
“Wren? Nama yang indah. Elva memang pintar memberikan nama. Mami gak mau tahu, pokoknya, kamu harus bisa membawa menantu dan cucu mami kembali ke rumah ini. Kalo gak kamu lakukan, sepeserpun harta keluarga kita gak bakalan kamu dapat. Ingat itu!” Peringat sang mami.
Grian yang tidak setuju langsung menyatakan keberatannya. “Gak bisa begitu,mi. Aku satu-satunya pewaris papi, tentunya aku yang akan mewarisi semua harta papi.”
Maminya langsung berdelik, “Kamu pikir papimu sebodoh itu mau menyerahkan semua hasil kerja kerasnya ke kamu,hah? Silahkan kamu tanya ke notaris papimu, apa bunyi surat wasiatnya.”
Melihat keterdiaman anaknya, wanita tua itu langsung melanjutkan kalimatnya, “Oh, biar mami jelaskan. Bunyinya, semua harta akan sepenuhnya menjadi milik kamu kalau kamu sudah punya anak dengan syarat anakmu harus lahir dari rahim Elva, perempuan pilihan papimu. Selama itu, harta warisan papimu akan dikelola oleh mami.”
Grian memandang maminya dengan raut tidak percaya. “Otak kalian berdua udah dicuci wanita licik itu dan orang tuanya.”
“I don’t care! Sekarang, pilihan kamu cuma bawa Elva dan Wren kembali atau bersiap jadi rakyat jelata. Silahkan keluar dari rumah saya, kamu boleh kembali kalau datang bersama menantu dan cucu saya.” Balas maminya tak peduli.
“Ck! Jadi ‘saya’ lagi.” bisik pria itu dalam hati.
Wanita tua itu langsung meninggalkan putranya yang masih berdiri menatapnya tak percaya.
Walau kelihatan tak peduli, tapi wanita itu berdoa dalam hati semoga Tuhan mau membantu menyadarkan putranya kalau Elva adalah pilihan yang tepat sehingga ia bisa segera berkumpul bersama menantu yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri dan cucu semata wayangnya yang sangat menggemaskan itu.
Ia ingin menghabiskan masa tuanya bersama keluarganya agar ketika ia kembali ke pangkuan Bapa dan bertemu dengan suami tercinta, ia bisa menceritakan bagaimana bahagianya dia menjalani peran sebagai seorang cucu, hal yang selalu ia idamkan bersama sang suami.
Kali ini, dia harus bertindak. 9 tahun berada dalam kehampaan membuatnya harus berani mengambil langkah. Kar’na bila hanya menunggu putranya sadar, maka akan semakin lama pula keinginannya tercapai.
🌄🌄🌄
__ADS_1