
Point of no return and now
It's just to late to turn around.
- One Direction
🌄🌄🌄
From : Kak Xander
Va, aku mau ijin ngajak Wren lunch bareng sekaligus beli Jersey baru. Boleh kan?
To : Kak Xander
Ya, boleh lah kak. Tapi, pastiin Wren nggak jajan sembarangan.
From : Kak Xander
Thank you. I'll take care of him.
To : Kak Xander
Okay, Have a good time!
Setelah membalas pesan dari Xander, Elva langsung menyetujui ajakan makan siang bersama staffnya. 4 orang rekan se-divisinya itu bahkan sangat senang—walau masih tidak percaya— Elva mau makan siang bersama mereka.
Ya, Elva memang selalu membawa bekal dari rumah. Alasannya karena lebih terjamin kebersihannya, enak serta praktis. Kira-kira begitulah yang staffnya tahu. Namun, alasan sebenarnya karena wanita itu ingin berhemat. Sebagian penghasilan ia tabung untuk masa depan putranya. Elva hanya ingin memastikan Wren dapat hidup berkecukupan sehingga putranya itu tidak merasa berkekurangan walau hidup dalam keluarga yang pincang.
Semenjak Wren lahir, Elva selalu mengusahakan yang terbaik untuk putranya. Tak jarang, kebutuhan dirinya sendiri ia abaikan. Hasratnya untuk berbelanja selalu berhasil ia tahan. Dirinya yang terlihat fashionable pun tidak terlepas dari campur tangan dua bersaudara—Xander dan Nindya—yang hampir setiap bulan membelikan pakaian untuknya. Kedua saudara itu tahu kalau Elva lebih tertarik menabung uang untuk masa depan putranya dibanding mempercantik penampilannya. Otak wanita itu seperti sudah diprogram untuk selalu mengutamakan kebutuhan Wren.
Selain kebutuhan finansial dll, Elva selalu ketat dalam menjaga kesehatan dan pola makan anaknya. Berkat kemampuan memasaknya, ia selalu menyiapkan makanan untuk Wren sembari memastikan kebutuhan gizi anaknya terpenuhi. Bila putranya ingin menikmati jajanan seperti : penthol, cilok, dawet,dsb, tangan Elva sendiri yang akan membuatkan. Wanita itu bahkan pernah membayar tukang cilok demi mendapatkan resepnya. Semua itu dia lakukan demi menjaga kesehatan putranya.
Maka ketika dihubungi bahwa putranya kini berada di rumah sakit, dunia Elva tiba-tiba terasa berhenti. Panik, sedih, takut benar-benar menyergapi dirinya.
"Maaf. Saya tidak tahu dia alergi kacang." Ucap pria yang sedari tadi berdiri di samping bankar. Ada nada penyeselan yang kentara dari kalimatnya barusan.
Elva menyugar rambutnya yang sudah berantakan itu dengan kasar kemudian menggenggam jemari kecil putranya sembari berkata lirih, "Just leave us alone, Please!"
__ADS_1
Kalimatnya permintaan yang ia ucapkan benar-benar diabaikan. Pria itu masih saja berada di dalam kamar bahkan dengan antengnya menduduki sofa yang terletak di sebelah kanan brankar. Posisinya sekarang menjadi berhadapan dengan Elva.
"Apa yang anda inginkan dari saya?" Pertanyaan dengan nada bergetar itu keluar dari mulut Elva. Muka kuyu dan mata yang memerah itu membuat dia terlihat pathetic.
"Hah?"
"Kalau anda mau balas dendam karena saya pernah menampar anda, maka sekarang anda boleh menampar saya sebanyak yang anda mau. Saya bahkan rela kalau anda ingin saya berlutut sambil mencium kaki anda. Saya benar-benar tidak mengapa. Tapi, tolong jangan anak saya. Jangan pakai anak saya untuk membalas dendam. Dia tidak bersalah. He has nothing with this shit!"
Kata per kata yang keluar dari mulut wanita di depannya tanpa sadar menusuk sebagian hatinya. Pria itu —Grianly— memang ingin membalas dendam pada Elva. Ia juga sempat kepikiran menggunakan Wren sebagai media pembalasan. Tapi, kejadian ini bukanlah bagian dari rencana seperti yang Elva tuduhkan melainkan benar-benar murni kecelakaan.
Grian dari semalam tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Wren kembali berputar-putar di pikirannya. Sebagian kar'na sang mama yang tiba-tiba mengetahui kehadiran bocah kecil itu dan sebagian lagi akibat pembuntutan yang ia lakukan. Apalagi, sewaktu mengetahui bahwa anak itu menyukai olahraga bahkan club yang sama dengannya. Pria itu benar-benar tidak bisa menghilangkan bayangan Wren yang tersenyum bahagia. Ia seperti ingin selalu melihat senyum itu terus-menerus.
Karenanya, setelah fajar menyinsing, ia langsung menghubungi sekertarisnya menyuruh untuk menghandle semua pekerjaan sampai ia kembali tanpa memedulikan pertanyaan penuh kebingungan Richard, sang sekertaris.
Pria itu kembali membuntuti Wren. Mulai dari menunggu bus sekolah—yang ditemani ibunya—sampai anak itu masuk ke dalam kelas. Dan, ketika jam pulang sekolah tiba, melihat Wren duduk di pos satpam, ia merasa begitu senang karena punya sedikit kesempatan untuk berbicang dengan Wren setidaknya sampai ibu anak itu menjemput.
"Uncle G? Kok di sini?"
Pria itu tersenyum kemudian melangkah lebih dekat pada Wren. "Uncle ada urusan sedikit di sini, boy."
"Just like the old times?"
Lagi-lagi kalimatnya terpotong, namun kali ini Wren pelakunya. "Kenal lah, pak Kus. Uncle G ini yang nemenin aku ikut perlombaan di hari Ayah."
"Wah, berarti kalian sangat akrab." Ucap pak Kus. Wren menanggukan kepalanya cepat guna merespons pernyataan pak Kus.
"Kamu kenapa masih di sini? Ketinggalan bus sekolah?" Tanya Grian, pura-pura tidak tahu.
"Tadi waktu istirahat, wali kelasku bilang kalau Pader yang akan jemput. Jadi, sama beliau aku disuruh tunggu di ruang guru tapi aku milih nunggu bareng pak Kus aja soalnya mau ngobrolin bola."
Senyum manis itu kembali membawa kenyamanan di hati Grian. "Oh begitu."
Pak Kusnaedi kembali menimbrung, "Iya,pak. Kami sama-sama pecinta sepak bola. Dek Wren suka Barcelona sedangkan saya suka rival terbesarnya, Real Madrid. Kita berdua bahkan sering taruhan kalau laga El Clasico atau laga lain kedua tim."
Dahi pria itu berkerut, "Taruhan?"
"Iya, uncle. Kalo Barca menang, pak Kus harus gendong aku di punggungnya selama 1 jam sedangkan kalo Madrid yang menang, aku harus pijat punggung pak Kus selama 1 jam." Jelas Wren penuh semangat.
__ADS_1
"Hehehe, saya gak mungkin ngajak anak kecil taruhan uang ataupun barang. Itu kan judi, dan dosa juga." Ujar pak Kusnaedi.
Mata Wren terarah ke depan pagar sekolah, "Kok pader lama banget,sih? Perutku udah keroncongan."
"Iya, tumben pak Xander telat. Biasanya selalu datang sebelum bel pulang bunyi."Pak Kus berucap kemudian masuk ke dalam pos kecilnya dan kembali dengan satu plastik roti serta cup kecil berisi air. "Dek Wren ganjal pake ini dulu. Jangan telat makan, nanti kamu sakit."
Tangan kecil itu meraih pemberian pak Kus, lalu berucap. "Makasih, pak Kus." Yang hanya dibalas senyum oleh Pria berusia sekitar pertengahan 40-an itu.
"Begini, mending kamu pulang bareng uncle saja. Nanti uncle beri tahu mamamu lewat telepon. Mau?"
Wren terdiam sejenak kemudian bersuara,"Pak Kus punya nomor hpnya Pader. Gimana kalo uncle hubungin langsung? Aku takut pader nanti kebingungan nyari aku."
"Kan nanti pak Kus kasih tahu kalo pak Xander datang,dek." Ujar pak Kus memberitahu.
"Tapi, pader nggak kenal uncle G. Takutnya pader ngira aku diculik. Pader itu dari luarnya kelihatan tenang tapi kalo sudah panik, dia bisa berubah jadi orang gila. Bisa-bisa dia hubungin intel buatp nyariin aku."
Grian menatap anak lelaki itu penuh takjub. Intel? Untuk usia anak 9 tahun, diksi Wren cukup mengagumkan.
Pak Kus tertawa keras, "Hahahaha, pak Xander bisa aneh juga ternyata. Saya pikir orangnya tenang dan berwibawa. Tapi, itu artinya beliau sayang banget sama dek Wren."
"Kalo itu, sih, aku sangat tahu."
Ada sedikit kekesalan yang muncul melihat Wren begitu menyanjungi dan terlihat sangat menyayangi Xander. Ah, tapi sudahlah.
Grian segera menghubungi Xander setelah pak Kus memberikan kontaknya. Namun, ponsel bos Elva itu tidak aktif. Grian pun meninggalkan pesan suara pada Xander yang berisi lokasi mereka makan siang agat pria itu tidak panik dan bisa segera menyusul mereka. Ia tidak perlu menyebut dia siapa, pria itu pasti sudah tahu identitasnya.
"Kamu mau makan apa?" Grian bertanya sesudah mereka tiba di sebuah mall yang tak jauh dari sekolah Wren.
"Terserah uncle saja. Kata mama kalau sudah ditraktir, kita harus bersyukur. Jangan banyak mau, itu sama saja merepotkan." Grian tersenyum mendengar perkataan anak kecil yang sedang menggenggam erat tangannya itu. "Kamu nggak merepotkan,kok. Uncle malah senang ada yang nemenin makan."
Wren membalas dengan senyum lebar yang membuat Grian kontan mengusap kepalanya saking gemas dengan tingkah anak itu. Kemudian, mereka berjalan menuju restoran yang pria itu pilih.
Makanan yang mereka pesan sampai beberapa menit berselang. Mereka makan penuh lahap sampai Grian menyadari perubahan pada tubuh Wren. Muncul ruam pada kulitnya sehingga anak itu berhenti dari aktivitasnya dan mulai menggaruk-garuk tangannya. Grian yang panik segera memanggil pelayan lalu membayar billnya kemudian berlari keluar mencari taksi dengan Wren di punggungnya.
Dalam perjalanan, Wren mulai kehilangan kesadaran dan pingsan sewaktu tiba di rumah sakit. Dokter bilang, anak itu mengalami alergi. Dari situ, ia tahu bahwa anak laki-laki itu alergi kacang. Grian betul-betul merasa bersalah melihat Wren terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Tak peduli dengan resiko yang akan ia terima, Grian memberanikan diri memberitahukan keadaan Wren pada Elva. Namun, tidak seperti yang ia bayangkan, bukannya tamparan atau pukulan yang ia terima melainkan tuduhan yang sangat menusuk hatinya. Menciptakan perih yang merasuk dada. Memang benar kata pepatah, "Words can stab you than a blade."
__ADS_1
🌄🌄🌄