
I wish i could wake up with amnesia and forget about this stupid little things.
- 5 Seconds of Summer
🌄🌄🌄
"Jadi barangnya sudah sampai? Ok, Besok saya langsung kesana."
Lelaki itu mematikan ponselnya. Matanya beralih pada wanita cantik nan seksi yang sedari tadi berada di pangkuannya. "Sayang, besok siang kamu sibuk gak?"
Wanita itu menghentikan aktivitasnya. "Besok aku free. Emangnya kenapa, Yan?"
"Temenin aku mau?"
"Kemana? Kamu mau kunjungan kerja?"
"Pokoknya besok kamu siap-siap aja. Jam 11 aku jemput." Lelaki itu menutup kalimatnya dengan kecupan kecil dibibir lawan bicaranya.
Wanita itu tersenyum. "Baiklah, biarpun aku kepo mau kemana tapi aku gak mungkin nolak kamu. Jadi bapak Grianlyku besok jangan sampai telat jemput princessmu ini. Kalau kamu telat, seujung kukupun gak bakal aku ijianin kamu sentuh. Paham?"
Lelaki itu tertawa. Gemas akan tingkah wanita manis di depannya, kecupan di bibir penuh itu terus menerus ia berikan.
Dimulai dari bibir, kedua sejoli itu terlena hingga malam panjang mereka lewati dengan desahan serta erangan.
🌄🌄🌄
Waktu menunjukan pukul 1 siang. Sudah selesai jam istirahat. Banyak wajah berseri karna kampung tengah mereka telah terisi dan siap kembali menjalani tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Berbeda dengan Elva. Wanita itu bahkan tak sempat mengisi perutnya yang sedari tadi sudah berdemo minta diisi. Hanya segelas air yang mengganjal perutnya.
Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan kembali berhadapan dengan pria yang 9 tahun lalu pernah berstatus sebagai suaminya sekaligus penyebab luka dalam hidupnya.
Seharusnya ini tugas Tati, salah satu staffnya. Dalam divisi yang ia pimpin, setiap staffnya sudah dibagi tugas masing-masing. Tapi karna Tati berhalangan, Elvalah yang harus menghandel semua ini.
__ADS_1
Beberapa jam yang lalu,
"Bu, sebelum makan siang nanti pelanggan Bugatti mau ambil barangnya. Saya minta maaf bu, siang nanti gak bisa layanin soalnya saya harus ke sekolah Letha, ada rapat orangtua murid jelang kelulusan. Saya boleh minta tolong ibu ?"Ucap salah satu staffnya bernama Tati.
Tati lebih tua dari Elva. Namun karna jabatan, Tati memanggilnya dengan embel - embel 'Ibu'. Padahal Elva berulang kali melarangnya dan memintanya memanggil namanya saja, Tapi staffnya itu tetap saja keras kepala.
"Lah, si Richard, Nadia sama Kenan kemana mbak?" Elva bertanya. Ia memang selalu memanggil Tati begitu walau wanita itu sering merasa sungkan.
Bukannya Elva tak ingin membantu Tati. Wanita itu jelas tahu kalau pelanggan siapa yang Tati maksud. Hanya saja Elva masih belum siap bertemu sosok yang menjadi penyebab mimpi buruknya selama beberapa hari terakhir.
"Richard sama Kenan lagi di lokasi cek barang yang sudah sampai. Sedangkan Nadia lagi keluar sama ibu Nindya, gak tahu kemana." Jelas Tati.
Elva buntu. Ketiga staffnya yang lain sedang tak ada. Mau bagaimana lagi? Ia harus profesional bukan?
Wanita itu menarik nafas lalu ia hembuskan pelan "Yaudah, mbak. Aku yang bakal handel."
"Trimakasih banyak, bu. Bapak Saskara hanya tinggal melunasi sisa harganya. Kalau nanti ada yang kurang, telpon saja, bu. Saya one call away."
"Mba kayak Charlie Puth saja, I'm only one cal away..." Ujar Elva sambil menyanyikan lagu yang sempat hits pada masanya itu.
Elva kembali menghembuskan nafasnya seraya menyemangati dirinya sendiri, semoga ia diberi kekuatan agar mampu berhadapan dengan penyebab lukanya itu.
"Bu, pelanggan Buggati sudah datang. Saya suruh tunggu di lobby." Ujar salah seorang receptionist.
Elva mengangguk. You cant do it! Ucapnya dalam hati.
Langkah penuh percaya diri membawanya menuju lobby kantor. Tepat setelah ia sampai, orang itu disana. Masih sama, tampan dan terlihat dewasa dibanding beberapa tahun lalu tampak bahagia bersama seorang wanita.
Elva hanya terdiam. Ragu untuk menginterupsi dua anak manusia yang tampak sedang dipenuhi cinta didepannya.
Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Salah satunya, mengapa jantungnya berdetak begitu kencang?
Ah, tolong ingatkan Elva untuk periksa ke dokter. Mungkin ada yang bermasalah dengan jantungnya.
__ADS_1
And here comes the trouble!
That eyes.
Mata yang sama dengan putranya. Mata yang jadi alasan mengapa pria itu bisa memegang takhta di hatinya, dulu bahkan sampai detik ini.
🌄🌄🌄
Pertemuan itu telah berakhir. Semua berjalan dengan lancar.
Elva ingin berterima kasih pada guru SMAnya yang walau dengan paksaan memaksanya masuk ekskul drama. Impactnya dapat ia rasakan sekarang. Setidaknya aktingnya tidak begitu buruk. Walau kentara canggung namun situasinya masih dapat dikatakan normal.
Tak tahu mengapa, wanita itu masih saja mencoba mencari sebuah kepastian walau ia sendiri paham dan khatam bagaimana sifat dan watak pria itu tapi tak mengurungkan niatnya untuk sekedar mencari tahu apakah ada --meskipun sedikit--kerinduan di mata pria itu?
Sudah dapat dipastikan dan tentu saja jawabannya tidak ada.
Pria itu bahkan dengan santainya memamerkan kemesraan dirinya dengan sang kekasih tanpa memikirkan perasaannya yang langsung di interupsi hatinya, kira-kira begini bunyinya : Hellow, sistur, dari dulu pun begitu.
Jikalau netizen yang tingkat kepedasan mulutnya mengalahkan kolaborasi Samyang level tertinggi dan Bon Cabe tahu, mungkin Elva sudah habis di bully. Kali ini, Elva ingin berterima kasih karna dirinya bukan public figur. Setidaknya, hanya ada otak dan batinnya yang menjadi hakim karena sikap plin-plannya ini.
Namun, satu yang Elva tahu, pria itu masih menjadi pemilik hatinya. Dulu maupun sekarang.
Give a loud applouse to him.
"Hahahahaha." Wanita itu menertawakan diri sendiri.
Grianly Theodore Saskara, memang paling hebat.
Bagaimana mungkin setelah semua luka yang ia torehkan, masih saja ada tempat yang begitu besar baginya dalam hati Elva?
Untuk itu, rasanya Elva ingin Amnesia saja jika itu bisa membantunya menghilangkan semua memori tentang pria itu.
🌄🌄🌄
__ADS_1
This is Wren