Sweet Wound

Sweet Wound
Track 4


__ADS_3

You got off on the hurtin'


When it wasn't yours.


- Selena Gomez


🌄🌄🌄


"Gue punya anak."


3 kata yang membentuk kalimat singkat ini membuat seorang Alfeandra Hartawan ingin sekali membunuh sahabat gobloknya itu.


Bayangkan saja, setelah sekian lama tak ada kabar, akhirnya ia mendapat telpon dari Grian yang hanya mengucapkan kalimat pendek tersebut lalu sambungannya terputus.


Andra yang masih jetlag memilih untuk tidur dengan keyakinan bahwa Grian hanya iseng mengingat sahabatnya itu sering sekali menelpon di jam-jam krusial hanya untuk mengganggu tidurnya.


Saat pria itu sedang mengambil ancang-ancang, bersiap melemparkan diri ke kasur, bercumbu dengan sang kekasih—guling—ponselnya kembali berbunyi.


Dengan langkah gontai dan penuh emosi, Andra langsung siap mencecar si penelpon. Belum ada 1/4 kalimat, sudah diinterupsi pihak sebrang.


"Pak Andra, maaf ganggu waktunya. Ini Jo, bartender DAN. Pak Grian muntah dan hampir pingsan karna terlalu banyak minum. Tolong segera kemari pak."


Andra ingin murka namun di lain sisi ia khawatir. Bagaimana mungkin Grian hampir pingsan? Ia tahu seberapa besar batas toleransi sahabatnya itu terhadap alkohol.


Lalu, seperti di serial kartun, alarm tanda bahaya muncul dikepalanya. Andra langsung memakai kaos, mengambil acak jaketnya dan menyambar dompet serta kunci mobil. Akhirnya, malam itu berarkhir dengan Andra yang harus berkutat membersihkan muntahan sang sahabat.


Pagi datang begitu cepat, Andra yang baru selesai boker mendapati sang tersangka yang tampaknya sudah bangun dari tidur nyenyaknya hingga berdampak pada jam tidurnya semalam.


"Selamat pagi, tuan Grianly yang terhormat, Tidurnya nyenyak,pak?"


Pertanyaan dengan bumbu sarkasme yang Andra ucapkan itu membuat Grian yang masih langsik se ketika menemukan kesadarannya.


Andra tidak mau repot-repot beramah tamah pada lelaki di depannya setelah semalam, rencananya bermesraan dengan guling batal karna mendadak menjadi bodyguard sekaligus tempat curhatan Grian yang sedang teler.


Pria itu tak habis pikir dengan sifat sahabatnya itu. Mabuk hanya karna tahu dirinya punya anak.


Bukankah itu *****?


Harusnya emosi yang tepat Grian rasakan adalah bahagia.


Tentu saja!


Dia sudah di berikan hadiah dari Tuhan namun mengapa lelaki itu malah bermuram durja? Hufft, Andra makin bingung dengan lelaki berjambang itu.


Sudahlah lagian yang Andra dengar hanya separuh cerita karna sisanya ia direpotkan dengan muntahan sampai lelaki itu tertidur kembali di atas meja bar.


"Mandi, sarapan trus terserah lo mau ngapain. Gue mau lanjut tidur."

__ADS_1


Andra berlalu dari ruang tengah menuju kamarnya. Ia harus segera menebus waktu berharganya bersama ranjang dan guling tercinta membiarkan sahabat gobloknya itu mengurus dirinya sendiri.


Sedangkan, Grian melangkah ke kamar mandi. Ia harus bersiap-siap, banyak hal yang harus dia selesaikan.


🌄🌄🌄


"Antar dia ke ruangan saya."


Setelah sambungan dengan recepcionist terputus, wanita itu menyandarkan kepala di sandaran kursi kemudian memijit pelan keningnya berharap sedikit mengurangi beban pikirannya.


Mau apa pria itu?


Pertanyaan ini seperti tak berhenti terngiang di kepalanya. Matanya yang terpejam sontak terbuka ketika mendengar pintu ruangannya terbuka.


Pria itu disana. Terlihat memposana dengan celana bahan berwarna hitam, kemeja navy, pantofel hitam rambut tertata rapi dan tentu saja aroma White Musk yang bisa Elva tebak -Jo Malone- membuat tubuhya yang kurang belaian itu seperti tersengat aliran listrik.


HEH ELVARETTE RYCCA KAMAGI, SADAR!!!


Terima kasih kepada saraf otaknya yang membawanya kembali pada realita. Wanita itu langsung menunjukan tampang datar andalannya. Dengan gestur sopan ia mempersilahkan pria itu duduk.


"Bagaimana pak, apakah ada keluhan akan kondisi barang kami?" Tanya Elva sopan setelah bokong Grian menempati kursi di hadapannya.


Pria itu hanya menatapnya datar kemudian menggeser amplop coklat seukuran telapak tangan dihadapannya. "Jelaskan semuanya!" Perintah Grian seperti ingin menegaskan bahwa perintahnya tak boleh dibantah.


Elva tak mau membiarkan pria itu menang begitu saja. Ia mendorong kembali amplop itu kehadapan Grian.


"Bapak jelaskan dulu apa isinya. Jikalau berhubungan dengan proses jual-beli yang terjadi antara perusahaan saya dengan bapak baru saya akan memberikan penjelasan yang sesuai. Namun, jika isinya tidak ada hubungannya sama sekali dengan perusahaan kami maka bukan kewajiban saya untuk memberi penjelasan."


Tentu saja, isinya adalah hasil Tes DNA. Memangnya apa lagi? Elva ingin tertawa sekarang.


What do you want from me, Grianly Theodore Saskara?


"Cih, sifatmu yang dulu masih belum berubah ternyata." Balas Grian. Kentara sekali sedang mengejek lawan bicaranya.


Masih dengan senyum mengejeknya, pria itu kembali melanjutkan kalimatnya. "9 tahun lalu kamu pergi meninggalkan saya dan sekarang muncul dengan seorang anak. Kamu pikir saya tidak tahu kalau semua adalah rencana kamu agar seluruh harta saya bisa kamu dan keluargamu nikmati melalui anak itu, bukan? Dasar ****** li—“


Kalimat Grian dipotong dengan tamparan keras di pipinya. Tidak cukup sekali, wanita itu kembali mendaratkan tamparan ke pipi sebelah Grian.


Dan pria itu seperti kehilangan sadarnya hanya berdiri mematung memegang pipinya yang terasa begitu perih.


"How dare y—“ Sekali lagi, Elva menginterupsi ucapan Grian. Wanita itu seperti tak ingin memberikan spasi sama sekali untuk lawan bicaranya.


"Saya bukan lagi gadis 19 tahun yang dulu dengan mudahnya menerima semua hinaan bahkan tindakan kasar anda. Perlu anda ketahui, gadis itu sudah mati 9 tahun yang lalu dan yang ada dihadapan anda bukan lagi orang lemah yang bisa anda tindas sesuka hati. Jikalau saya ingin mengambil semua harta anda, maka sedari 9 tahun lalu anda sudah jatuh miskin. Saya, orang tua bahkan anak saya tidak membutuhkan uang anda sepeserpun. Jadi, selagi saya masih bisa menahan emosi, silahkan angkat kaki dari sini!"


Setelah kalimat yang berujung pengusiran Elva selesai, pria yang terlihat masih sangat terkejut itu pun keluar dari ruangan Elva dengan berbagai macam pertanyaan dalam benaknya.


Sejak kapan perempuan itu menjadi seberani sekarang?

__ADS_1


Dalam perjalanannya menuju kantor, kepalanya berisi dengan emosi yang berapi- api sebab perempuan yang dulu selalu berhasil ia dominasi kini dengan mudah mengusik egonya dan lebih parahnya lagi, tangan perempuan itu bahkan mendarat dua kali di pipinya.


"Silahkan tarik nafas sesuka hatimu, kita lihat sejauh mana kamu bertahan?" Ujar Grian dalam hati. Tekadnya bulat untuk membalas perlakuan tak sopan yang wanita itu lakukan padanya.


Sedangkan, dalam ruangannya, lagi-lagi air mata Elva menetes dan penyebabnya masih orang yang sama.


🌄🌄🌄


“Pader, jangan lupa besok harus datang. Aku udah daftarin diri buat lomba ayah dan anak. Kali ini lawan kita Jef dan papanya. Pokoknya besok kita harus jadi tim paling kompak and must be the winner. So,Are you ready ?”


“Aye aye captain!” Jawab Xander memeragakan intro kartun buatan Stephen Hillenburg - Spongebob Squarepants.


Ren tertawa, “I can’t hear you?” Teriaknya meniru sang kapten yang selalu muncul saat ia menonton si penghuni rumah nanas itu. Rupanya anak lelaki itu tenggelam dalam candaan Xander.


“Aye, aye captain! Hahahha, udah dong boy, entar pader ngompol lagi.”


“Ngapaian suruh Ren berhenti, orang kakak sendiri yang mulai. Terperangkap sendiri kan. Untung Ren gak maksa lanjutin, bisa-bisa aku dan Elva juga ikutan ngompol. Iya gak, va?” Ujar Kanindya, lalu matanya menuju ke Elva.


Yang sedang ditatap langsung gelagapan melihat 6 pasang mata yang menatapnya penuh jawaban. “Hah?” Tanyanya.


“Kak stock aqua kita masih ada gak di kulkas, keknya Elva haus.” Sindir Kanindya halus.


“Gue ngantuk makanya gak fokus . Udah sore, gue dan Ren mesti pulang.”


“You’re right. Udah sore dan perjalanan balik lumayan jauh minus macet. So, kalian harus pulang dan Boy, kamu harus istirahat supaya besok fit dan we’ll be the winner. Ayo siap-siap, pader anterin pulang.” Tutur Xander. Ibu dan anak itu langsung bersiap-siap pulang


Perjalanan menuju apartemen lumayan lancar, mreka tiba sebelum senja muncul. Ren bahkan sudah tertidur di bangku belakang. Xander langsung turun dan menggendong Ren menuju unit Elva.


“Makasih banyak kak, hati-hati baliknya.”


“Iya. Aku balik dulu,bye.”


Setelah mobil Xander hilang dari jangkauan matanya, Elva segera berjalan menuju unitnya. Mendekati unit, ia dikejutkan dengan sosok yang bahkan sampai saat ini terus muncul di pikirannya.


“Pantas bisa seberani itu, di back-up mantan, sih.” Pria itu berdiri di depan pintu, menatap Elva dengan angkuhnya.


“Pergi dari sini sekarang juga atau saya panggil keamanan.” Tegas Elva.


Dirinya tak mau lama-lama berhadapan dengan pria egois di depannya. Sudah cukup air matanya menetes, Elva tak mau lagi diremehkan. Keputusannya sudah bulat, ia harus menunjukan bahwa dirinya bukan lagi gadis yang sama, yang selalu disakiti dan diperlakukan seperti boneka. Sekarang, dia adalah wanita dan ibu yang siap melawan siapa saja yang ingin menyentuh bahkan menyakiti putranya.


Gria menarik langkah mundur. Melihat itu, Elva langsung bergegas menuju pintu namun sebelum menyentuh pintu, cengkaraman erat tangan Grian menahannya.


“Kamu akan membayar mahal semua perbuatanmu. Saya pastikan, kamu akan kembali tunduk kepada saya seperi dulu. Ingat itu baik-baik!”


Elva menyeringai. “Saya dengan senang hati menunggu pembalasan anda, Tuan Saskara.”


Pria itu langsung melepaskan cengkramannya lalu melangkah meninggalkan unit sang mantan istri dengan tekad penuh tuk menuntut balas apa yang sudah wanita masa lalunya itu lakukan.

__ADS_1


Sedangkan, dalam unitnya Elva berdoa kepada Yang Mahakuasa, semoga dia bisa menghadapi semua yang akan dilakukan oleh mantan suaminya itu.


🌄🌄🌄


__ADS_2