Sweet Wound

Sweet Wound
Track 11


__ADS_3

Through life people will make you mad, disrespect you and treat you bad. Let God deal with the things they do. Cause hate in your heart will consume you too.


- Will Smith


πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„


Sebulan semenjak kejadian di rumah sakit, Elva betul-betul menjaga Wren dengan ekstra. Ia sendiri yang akan menjemput putranya dan tak pernah ia biarkan Ren menunggu dijemput. Setiap bel pulang berbunyi, Elva sudah datang.


Tentang Grian, ibu anak satu itu memutuskan untuk memaafkan. Walau sulit, dia memutuskan untuk percaya bahwa kejadian yang menimpa putranya murni kecelakaan. Ia benar-benar memutuskan untuk berbaikan dengan mantan suaminya itu, lebih tepatnya ia meminta agar pria itu kembali seperti awalβ€”bertingkah seperti orang asing yang tidak saling mengenal.


Demi ketenangan dan keselamatan putranya, Elva rela melakukan apa saja. Salah satunya melupakan semua yang sudah pria itu buat. Lagi pula, jika ia terus mendendam, yang rugi adalah dirinya sendiri. Sekarang, ia menyerahkan semuanya pada Yang Mahakuasa. Ia ingin hidup bahagia dan penuh ketenangan bersama Wren.


"Mom, uncle G marah sama aku ya?"


Elva meletakan alat makannya kemudian mengangkat kepala menatap pada putranya. "Maksud kamu?"


"When i'm in hospital, he never visit me."jawab Wren pelan. Kesedihan terpatri di wajah tampannya.


"He has life, nak. Banyak hal yang harus dia urus. Lagian dia juga nggak begitu dekat sama kita, beberapa kali bertemu kan bukan berarti sudah akrab." Ucap Elva sembari tangannya mengelus puncak kepala putranya. "Enjoy your meal!"


Wren menganggukan kepala kemudian menuruti perkataan sang ibu. Keduanya makan dengan tenang tanpa tahu sosok yang tadi mereka bicarakan, sedang menatap ibu dan anak itu dari kejauhan.


πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„


Andra kesal bukan main. Lagi dan lagi, pria di hadapannya ini mengganggu me timenya. Grian sepertinya tidak senang melihatnya bahagia.


"Lo kenapa lagi, sih?!"tanya Andra muak. "Lo gak bosen apa recokin hidup orang lain terus?"


Grian yang sedari tadi tertunduk itu langsung mengangkat kepalanya menatap sahabatnya. "You are right, i am a disturber."Pria itu tertawa lirih, "I know really. I've heard about this many times."


"Lo mabok, Grianly. Ayo, gue antar lo balik!"


"No need to." Grian menghentikan Andra yang berniat memapahnya. "Lo pulang aja sekarang. Gue bisa sendiri, kok. Sorry, i am disturbing you. This is the last time, i promise."


"Stop being annoying, you jerk! Man up, please!" Ujar Andra kesal. "Kalo ada masalah ya selesaiin. Bukan lari ke minuman. Mau sampe kapan lo begini?"


"Udah, Ndra. Lo pulang aja sekarang. Take a rest and enjoy your night. Gue minta maaf banget sudah mengganggu."

__ADS_1


"Lo pikir setelah lihat keadaan lo sekarang gue bisa beristirahat dengan baik, hah?"Andra menatap Grian murka. "Tell me whats bothering you now. Go on, I'm all ears!"


"Elva gak mau gue menemui Wren lagi."


"Seriously, Grianly?" tanya Andra keheranan. "Lo kayak begini hanya karena itu? Lo kebentur di mana sih sampe ****** begini?"


Grian tertunduk diam mendengar kalimat Andra. Sepertinya, hari ini Grian tabah saja menjadi bahan cacian Andra.


"Lo sendri yang bilang gak peduli. Lo bilang punya anak bakal repot. Lagi pula, walau dia larang lo sekuat apapun, lo bakal tetap lakuin apa yang lo mau kan? Lah, terus kenapa lo jadi begini sih?"


Grian tidak menjawab membuat Andra kembali bersuara,"Oh, gue tahu. Lo kacau begini karena merasa kalah sama Elva kan? Ego lo kesentil dan merasa terhina karena mantan istri lo itu seolah-olah menegaskan kalo lo gak diperlukan dalam hidupnya dan anaknya. Iya, kan?"


Grian menggelengkan kepalanya pelan, "Yang lo bilang itu gak benar. Awalanya, memang iya gue bilang kalo gue gak peduli sama Wren. Tapi, makin ke sini, gak tahu kenapa, gue gak bisa jauh-jauh dari dia. Waktu ibunya minta gue jauh dari dia, gue benar-benar sedih dan terluka. Padahal, gak ada sama sekali ejekan, makian atau sindiran dari mulutnya. But the way she's begging for me, asserted that i am evil and too bad for Wren, my own child."


"Karma does exist." Andra berujar pelan. "Itulah mengapa gue bilang jangan keras kepala dan sombong. Lihat sendiri kan apa akibatnya?"


"Iya, gue akui gue salah. Tapi, tolong bantuin gue, Ndra. Gue gak bisa jauh-jauh dari Wren. Semenjak ketemu dia, gue seperti menemukan kembali semangat hidup yang selama ini hilang. Gue gak sanggup dipisahin dari dia. Benar-benar gak sanggup."


"Gak lo minta pun, gue pasti bakal bantuiin lo, kok. Cuma yang jadi pertanyaan gue sekarang adalah lo bikin apa sih sampe Elva jadi begitu?"


Grian pun menceritakan semuanya.


Mendengar penuturan Andra, Grian terdiam. Banyak sekali pertanyaan muncul di benaknya.


"Kenapa? Lo gak mau?"


"Gak gitu."


"Lah terus kenapa omongan gue gak direspon?"


"Gue bingung."


"Bingung atau gak mau nurunin ego?"


"Ndra, lo kenapa jadi salty banget sama gue sih? Kayanya di mata lo gue selalu brengsek." Ujar Grian sedikit frustasi.


"Jangan salahin gue, Gi. Kelakuan lo sendiri yang bikin lo susah dipercaya."balas Andra. "Jadi, gimana? Apa keputusan lo?"

__ADS_1


"I am gonna try."


"Ok, problem solved." Ucap Andra. "Sekarang kita pulang. Lo harus istirahat biar besok segar. Kalo lo ketemu Elva dengan muka kuyu macam begini, Yang ada sebelum lo ngomong dia udah telpon dinas sosial duluan karena pikir lo orang gila yang kesasar."


"Lo sama sahabat sendiri kenapa brengsek banget sih?!"


Andra tertawa, β€œHehehehe, biar brengsek begini tapi bisa lo andalin ya!"


"Valid sih kalo itu." balas Grian dengan senyum lebarnya. Untung saja, mereka sedang di Private Room, coba kalo nggak, pasti Grian sudah diincar berbagai gadis sexy haus belaian karena senyumnya yang damagenya begitu luar biasa itu.


"Udah, let' s go home!"


Keduanya meninggalkan tempat penuh bising itu dengan Andra yang duduk di bangku kemudi. Pria itu mengantar Grian ke apartemennya dan memastikan sahabatnya itu sampai di unitnya dengan selamat sebelum pulang.


Biar Grian brengsek begitu, tapi Andra tahu sahabtnya itu benar-benar menyayangi putranya. Dan Andra sangat bahagia karena sedikit demi sedikit, Grian sudah mulai berubah.


πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„


082198XXXXXX


Bisa kita bertemu?


-Grianly


Tanpa menulis nama pun, Elva sudah tahu siapa pengirimnya. Grianly tidak pernah mengganti nomernya. Padahal, ini sudah hampir 1 dekade.


082198XXXX


Tolong, ada hal penting yang ingin saya bicarakan.


Saya mohon.


Pesan sang mantan suami akhirnya ia balas dengan balasan singkat.


date & place?


Belum ada sedetik pesannya sudah dibalas. Pria itu menyebutkan tempat dan waktu di mana mereka akan bertemu nanti. Namun, ada satu hal yang cukup menarik perhatiaanya. Elva bahkan membuka matanya lebar-lebar saking kagetnya. Karena untuk pertama kali, seorang Grianly Theodore Saskara, orang yang ia hafal betul bagaimana perangainya, mengucapkan terima kasih kepadanya. Walau tidak secara langsung, tapi tentu saja lumayan berdampak pada dirinya.

__ADS_1


Lebih tepatnya, pada daya kerja Jantungnya.


πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„


__ADS_2