
"Hey kamu sinih" panggil Irgi pada Asti.
"Ada apa pak?" Jawab Asti
"Kamu harus cuci baju saya, karena tadi pagi kamu yang membuat baju ku seperti ini!" Irgi menyerahkan kameja yang kotor tadi pada Asti
"Hmm ya sudah saya akan membersihkan nya" Asti merasa malas tapi orang yang menyuruhnya itu atasan nya jadi dia tak bisa menolak.
"Hhhaahaa rasain tuh gue kerjain" Gumam Irgi dalam hati.
**
"Katanya kerja cuma melayani pelanggan tapi malah di suruh nyuci" celoteh Asti sambil memasukkan kemeja Irgi pada kantong plastik.
Pertama kali Asti bekerja dia sudah merasa terbiasa, walau gugup tapi ia tak pernah mengecewakan pelanggan.
Sampai beberapa hari kemudian dia biasa pulang pergi bersama Dona , tapi suatu hari Dona meninggal kan Asti di tengah jalan, Dona merasa iri karena Irgi dan Asti selalu bertengkar, tapi walau bertengkar itu maksudnya ada keakraban dari mereka, sampai sampai Dona tega meninggalkan Asti di pertengahan jalan saat pulang, mana udah malam.
"Kak ... Kak Dona ko aku di tinggal sih, nanti aku naik apa aku gak tau jalan pulang, kaaa" teriak Asti memanggil Dona yang meninggal kan nya sendirian di jalanan sepi. Asti mengerti Kaka tirinya itu tak menyukainya tapi dia tak menyangka kalau Dona tega melakukan hal ini.
"Ini dimana dingin banget, aku takut aku gak tau jalan pulang, seperti nya rumah masih sangat jauh" gumam Asti sembari berjalan sendiri di trotoar dan memeluk tubuhnya kedinginan.
Tiba tiba datang dua orang laki-laki menghampiri Asti.
"Hay cewe mau kemana, sendiri aja malam malam" goda laki-laki itu yang berambut gondrong.
"Saya mau pulang paman" jawab Asti menjauh dari mereka, seperti nya mereka terlihat mabuk, dan penampilan nya menyeramkan membuat Asti takut.
"Ya sudah, kita anterin yah cantik" lanjut lelaki yang satunya.
"Tidak usah paman, saya bisa sendiri, terima kasih" Asti berlalu namun kedua lelaki itu memegang tangan Asti.
"Mau kemana, sini ikut sajah sama kita senang senang, Hahahaha"
"Tidak, saya mau pulang, le lepaskan" Asti berusaha menarik tangan nya, tapi cengkraman mereka terlalu kuat. "TOLOOOONGG"
__ADS_1
"Diam kamu, sini ikut kita senang senang"
"Tidak, tidak mau lepaskan tanganku"
PLAAAKKK
Sebuah tangan menampar pipi Asti "Aawww"
"Hey kalian, berani nya sama perempuan, lepaskan dia" Tiba tiba seseorang menghampiri mereka, Asti menoleh ternyata Irgi .
"Haha ada yang mau jadi pahlawan" ucap lelaki gondrong, tiba tiba memukul Irgi sampai terjatuh. Tapi Irgi bangkit lagi dan membalasnya sampai akhirnya mereka berkelahi. BRUUKKK DUG BRAAAKKK JEGET
"Pak hati hati" teriak Asti yang menepi
Irgi terjatuh sampai kepala nya membentur aspal, siku nya berdarah dan tiba tiba ia tak sadarkan diri.
Melihat Irgi pingsan, kedua lelaki berandalan itu pergi kabur.
Asti yang menepi di pinggir jalan, melihat Irgi pingsan.
Tak ada yang membatu mereka, sekuat tenaga Asti membawa Irgi, namun badan nya yang kecil tak mampu membawa tubuh sebesar Irgi. Tiba tiba tubuhnya bergetar akhirnya Irgi tersadar.
"Syukurlah kalau pak Irgi sudah sadar, aku khawatir tau"
"Awww sakit" Irgi memegang kepala nya meringis kesakitan dan pusing.
"Sini saya bantu"
"Ya sudah, bantu aku masuk kedalam mobil yah"
Asti pun membantu Irgi masuk kedalam mobil.
"Duh siku pak Irgi terluka, biar saya obati yah, apa ada obat merah"
"Di dalam tas" Irgi masih meringis.
__ADS_1
Lalu Asti mengobati nya, dengan obat merah itu, dan memasang perban , ia merasa bersalah karena selalu menyusahkan Irgi.
"Kenapa pak Irgi bisa kebetulan ada disini?"
"Aku kan baru pulang dari kafe, kamu sendiri ngapain bisa di ganggu berandal itu, kenapa kamu bisa sendiri kakakmu kemana?"
"Ak... Aku di tinggal sama kak Dona, aku pulang sendiri dan tiba tiba ada mereka"
"Di Jakarta memang begini, jalan sendirian itu bahaya, banyak pereman, banyak Jambret, kamu harus hati-hati"
"Iya, aku minta maaf, semua salah aku sampai pak Irgi jadi terluka"
"Ya Iyah, emang salah kamu , nih tanganku jadi sakit"
"Hmmmm maaf"
"Bercanda, kamu terlihat sedih aja hhhaahaa"
"Tapi bener , semua salah aku"
"Gak papa, aku memang seharusnya nolong orang yang sedang dalam bahaya, apalagi di ganggu pereman itu"
"Ya sudah, aku hanya bisa berterima kasih, gak bisa berbuat apa-apa"
"Enak saja gratis, kamu harus perban juga dong kepala ku" Irgi tersenyum nakal Asti pun menuruti, saat Asti mengobati kepala Irgi yang terluka, wajah mereka berdekatan, tiba tiba jantung Irgi berdetak lebih kencang, entah mengapa dia merasakan hal yang aneh.
Asti itu sebenarnya cantik juga kalau dari dekat, hitam tapi manis, baik lagi, eh apa apaan aku, malah memuji nya, ingat dia hanya karyawan ku, dia juga cewe yang slalu bikin aku kesal. Hmmmm sudah lah aku buang pikiran aneh aneh itu.
Asti yang melihat Irgi menatap nya, hanya mengerutkan keningnya, karena polos dia tak mengerti kalau Irgi deg degan melihat nya dari dekat.
"Sudah pak"
"Oh, ya" Irgi meraba kepala bagian kanan nya, ada perban yang dipasang Asti .
"Terima kasih" lanjutnya.
__ADS_1