
Asti dan ibunya melihat seorang peria di dalam lubang, dia kaget peria itu sudah pingsan dan di dekat kakinya ada seekor ular.
"Bu seperti nya dia di gigit ular, lihat ular nya besar" ucap asti.
"benar, eh dia seperti anak Bu Titin yang sakit itu! Asti kamu panggil orang dewasa untuk mengevakuasi dia, karena kita tak bisa membantu nya sendiri, dan ular nya sangat besar." seru Bu asih. Akhirnya nya Asti berlari dan memanggil orang lain yang di temukan nya.
"pak tolong... huh.. huh.. " panggil Asti kepada seorang bp bp, dengan ngos ngosan.
"ada apa nak?" jawab bp itu
"pak anak nya Bu Titin digigit ular di dalam lubang, dia pingsan, saya panggil bp tuk mengusir ular nya, karena saya dan ibu sendirian"
"ya sudah ayo kita kesanah" ucap bp itu panik tanpa mendengar kan semua penjelasan Asti.
Mereka pun berhasil mengevakuasi korban dan membawa kerumahnya .
Namun takdir tak bisa di tebak, anak nya Bu Titin sudah meninggal, dan tak sempat di selamat kan.
"iksaaaaaaannn... kenapa kamu tinggalkan kita semua, hikhs hiiiksss kenapa kamu mendahului ibumu inih, ibu yang sakit tapi kamu yang pergi di umur mu masih 20thn nak kenapa harus secepat ini..." tangis ibu Titin tak menyangka dia yang sakit sakitan tapi anak nya yang mendahului nya.
"Apa yang terjadi, kenapa anaku bisa seperti ini, siapa yang pertama mengetahui Iksan anakku di patuk ular" jawab suami Bu Titin.
__ADS_1
"mereka pa Dullah, saya diberi tahu oleh mereka." jawab bp tadi yang di dipanggil Asti , sembari menunjuk pada Asti dan ibunya.
"Bu Asti , mengapa ibu membiarkan anaku lama tak tertolong" ucap pa Dullah marah "apa kalian sengaja supaya anaku ini meninggal iya iya "
"maaf pak Dulah kami sudah mencari asal suara Iksan tapi tak di temukan, kami baru menemukan nya di dalam lubang , jadi itu yang membuat kami sulit menemukan nya" ucap Bu Asti menunduk ketakutan dengan pak Dulah yang memarahi nya.
"sudah lah, kalian pergi Sanah" usir pak Dulah pada Asti dan ibunya.
Mereka pun pergi dengan terisak, tak menyangka akan di salahkan. Semua yang hadir di rumah duka hanya melihat mereka dan tak ada yang membela.
"sudahlah Bu, mungkin pak Dulah sedang terpukul atas kejadian ini."
Sesampainya di rumah, Asti membuat minuman teh untuk ibunya, dan membersihkan diri, setelah selesai beres beres dia merebahkan tubuh nya di atas kasur tanpa ranjang. Rumah nya memang cukup sederhana, tapi tak terlalu banyak barang perabot menghiasi rumah hasil keringat ibu ya menjadi TKW. setelah ibunya sudah *sepuh* Bu asih tidak lagi bekerja keras dan pemasukan nya hanya bisa di pakai sehari hari untuk makan.
Sedangkan bapa nya asih sudah menikah lagi di luar kota dan tak mengunjungi Asti lagi.
Takdir memang tak bisa di baca, setiap yang hidup pasti akan mati, walau entah berapa lama seseorang untuk hidup, Tua maupun Muda kalau memang digariskan oleh Allah pasti tak bisa di halangi. Ya Allah semoga aku sehat selalu dan walaupun aku harus tua semoga aku tak menyusahkan orang lain.
Esok hari Asti menemui Nadin kerumahnya.
"tumben baru kesinih, kemarin kemarin aku tak menemuimu , kamu kemana saja?? tanya Nadin
__ADS_1
"Aku sekarang bantu bantu ibu di ladang, sekarang aku mau belajar dari ibu, karena aku gak bisa kerja"
"hhhaahaa ha jadi ibu tani deh hhhee"
"eh kamu yah, biarin yang penting aku bantu ibu"
"awas nanti rorombeheun (kaki pecah pecah)"
Asti kaget baru tau kalau sering kesawah nanti rorombeheun, muka nya sekilas pucat dan tak bisa berkata kata. Nadin yang melihat nya hanya tertawa kecil.
"jangan panik, kalau kamu mau kerja kenapa gak ikut bp kamu saja di kota??" tanya Nadin
"aku gak mau, ada ibu tiri hhhiii" jawab Asti sambil merinding
"hahaha iya juga awas nanti kamu di rebus"
Asti melempar bantal kursi ke arah Nadin, yang masih tertawa.
Sore hari saat Asti mau pulang dia melihat ibunya di godain dua orang bp bp
"hey ibu janda, minta no hp nya dong" ucap bp bp itu
__ADS_1