
"Eh dasar bocah, jangan kejar kejaran , lihat tanaman ku rusak , pergi!"
tiba tiba ada seorang bapak marah marah, dan ngomel kepada Asti dan Nadin , karena tanaman milik bp itu rusak.
"Maaf kan kami pak, kami tak sengaja!" ucap Asti
"iya pak , kami kira itu rumput liar, kami minta maaf" sambung Nadin
"Kalian harus ganti semuanya, dan kembali menanam nya , itu baru saja tumbuh , tapi kalian merusak nya"
"tapi kami tak mengerti cara menanamnya" kata Asti
"kalau tidak bisa , ganti rugi pada ibumu, mana ibumu, kan dia tukang kebun" ucap bp itu lalu mereka pergi ke rumah Asti, sedang kan Nadin pulang ke rumah untuk mencari ibunya.
karena setiap ada masalah selalu Asti yang disalahkan, sejak dulu keluarga mereka selalu membuat warga kesal mungkin karena mereka berbeda.
Sesampainya di rumah Asti pun memanggil ibunya
"ibu???"
"iya nak, ada apa" jawab Bu Asih (nama ibu nya Asti adalah Asih) sambil kebingungan ada seorang bapak bapak.
"eh pak pa Dudi , kenapa bapak bisa bersama anak saya??"lanjut Bu Asih
__ADS_1
"Bu asih, anakmu ini sudah membuat kekacauan di kebun saya, tanaman ku rusak , jadi saya minta ganti rugi"
"baik pak Dudi , saya akan bekerja d kebun bp dan memperbaiki nya" jawab Bu asih sambil menunduk.
"Padahal Nadin juga melakukan nya, Tapi kenapa harus aku sendiri" gumam Asti dalam hati.
hingga akhirnya esok hari ibu asih bertanggung jawab memperbaiki kebun itu, ibu asih mencangkul nya dan menanam kembali di kebun itu.
"ibu maafkan aku semua ini salahku, harusnya nya aku yang kerja, tapi aku tak pernah bisa kerja bantu ibu" ucap asti menemani ibu nya di kebun.
"iya nak , gak apa , lain kali kamu jangan main disini, kamu kan sudah besar masa main kejar kejaran di sawah".
"lalu aku harus main dimana, tempat yang aku nyaman hanya disini, di rumah berisik yang ada hanya cibiran tetangga, disini aku bebas , dapat udara segar , pemandangan nya indah, itu membuat ku tenang jika slalu ada masalah, aku senang kesinih" jawab Asti sambil pergi ke saung yang kebetulan tak jauh dari situ, ibunya hanya geleng geleng kepala.
"Akhirnya selesai juga, Asti ayo kita pulang" Panggil Bu asih pada Asti mengajak nya pulang, akhirnya mereka pulang.
Di perjalanan
"Bu apa ibu gak capek , jadi buruh petani, " tanya Asti
"gak terlalu, malahan lebih capek jadi TKW "
jawab Bu asih.
__ADS_1
jadi petani lebih mudah kayaknya dari pada harus pergi merantau, aku harus belajar dari ibu
sesampainya nya di rumah mereka memasak, Asti selalu bantuin ibu memasak, tapi soal beres beres dia agak pemalas.
"Asti setelah makan cuci semua piring nya yah"
"apaa ,, aku yang cuci, hmmmm" walau malas tapi Asti terpaksa mencucinya.
Malam hari!
"Bu besok aku mau ikut ibu ke sawah"
"benarkah, ibu gak salah dengar , anak ibu mau ikut, emang nya gak geli kalau kakimu ke lumpur tempat menanam padi, hhhmmm kamu sering sih ke sawah tapi ibu gak percaya kalau ke Sanah mau bantu ibu nanam padi" goda Bu asih
"ibu ini, aku mau bantuin malah di ledek, ya udah aku gak jadi" jawab Asti cemberut
"yasudah,, ibu percaya, kamu boleh ikut kok hhee"
Asti pun tersenyum, tapi masih ada ragu kalau dia ikut ke sawah, sambil membayangkan bagaimana kalau di lumpur sawah ada cacing, ada lentah dan segala macam, juga bagaimana kalau kakinya seperti ibu pecah pecah kalau terlalu sering, tapi itu resiko, Asti sudah dewasa dan dia harus berani demi membantu ibu.
visual Asti , maaf gambar di dalam novel tidak ada unsur apapun, dan tidak ada maksud apapun bila ada yang mengetahui saya ijin pasang gambar tersebut.
__ADS_1