Takut Dewasa

Takut Dewasa
eps 12


__ADS_3

"Oh ya, karena kamu sendiri disini, aku antar kamu pulang yah"


"Tapi, apa tangan pak Irgi gak sakit kalau nyetir??"


"Ya pake sebelah saja kan bisa"


"Tapi aku merasa gak enak diantar bapak , aku gak mau merepotkan"


"Udah gak ada tapi tapian, kalau pereman itu ganggu kamu lagi bagaimana, satu lagi , jangan panggil aku bapak terus , aku masih muda umurku masih 20 tahun"


"Tapi itu panggilan seorang pegawai pada atasannya, kalau gak boleh panggil bapak harus panggil apa dong" tanya Asti yang masih di dalam mobilnya Irgi .


"Mereka selalu memanggil ku kak Irgi , Ah sudah terserah kamu, yang penting aku nganterin kamu" ucap Irgi lalu menyalakan mobilnya, dan melaju cepat, Asti hanya pasrah dia juga takut kalau pulang sendiri an.


Irgi saat bicara sama orang yang ia kenal, selalu bilang 'aku' 'kamu' tapi saat bicara sama orang yang baru ia kenal atau lagi marah, dia selalu mengucapkan 'Lo' 'Gue'.


Di rumah...


Bu Ranti dan Dona sudah tertidur lelap, mereka tak merasa bersalah Asti di tinggal di luar sana, sedang kan mereka bisa tidur dengan tenang.

__ADS_1


Asti dan Irgi pun tiba di rumah, mendengar suara mobil Dona terbangun dan melihat Asti di antar oleh orang yang dia suka.


"Apa..... Asti bisa pulang, dan dia diantar oleh pujaan hati ku, kenapa bisa begitu ini gak bisa dibiarkan. Masa Asti anak baru sudah akrab sama Irgi sedang kan aku belum pernah bersama nya, ngobrol juga jarang" celoteh Dona


Asti berpamitan pada Irgi.


"Terimakasih pak sudah membantu saya, dan mengantar saya pulang"


"Iya sama sama, kalau gitu aku pulang" jawab Irgi kemudian berlalu dari hadapan Asti dan melajukan mobilnya. Saat Asti mau masuk dia mendapati Dona yang sudah berdiri entah sejak kapan.


"Kak Dona belum tidur?" Tanya Asti


"Kamu hebat yah, bisa bisanya diantar naik mobil sama atasan, kamu tuh orang kampung harus tau diri dong" celoteh Dona


"Ehh ehh lebih bagus kamu mati yah, dari pada selamat tapi di tolong orang yang aku suka, kamu ngerti kan kalau aku suka sama Kak Irgi dari dulu, jadi jangan berani menghalangi ku"


"Aku gak peduli" kemudian Asti berlalu meninggalkan Dona yang masih ngomel dan masuk kedalam kamarnya.


"Heeeehh aku belum selesai ngomong, dasar kamu sudah berani nya ngelawan"

__ADS_1


***


Pagi hari yang cerah matahari tak malu menampakkan dirinya di balik awan yang putih bak permen kapas super besar, di sela sela rerimbunan pohon di balik kamar Asti , sinar matahari itu menelusuk tembus kedalam jendela kamar membuat Asti mengernyitkan dahi dan merasa kesilauan oleh nya.


"Duh enak banget anak ini, udah siang belum bangun" tiba tiba pintu terbuka dengan sangat keras. "Heh Asti... Asti bangun emang orang kampung yah pantes temennya kebo tidur nya aja kaya kebo" tiba tiba Bu Ranti ngomel dan membuka jendela kamar Asti.


"Duh silau banget, Bu jangan di buka semua tirai nya yang tebal nya aja" jawab Asti masih berbaring dan menutup matanya


"Enak saja sini kamu bangun , cepat setrika semua baju yang ada di kamar Dona jangan malas malasan"


"Tapi aku gak enak badan Bu aku merasa sakit ".


"Jangan ngeles, kalau kamu membantah kamu pergi dari sini". Bu Asti teriak dan marah pada Asti karena Dona menceritakan Asti yang berani melawan nya, Asti menurut walau badan nya terasa sakit.


"Duh kamu bisa kerja gak sih, lelet banget bikin muak melihat nya, itu baju mau dipake dona heeeehh cepet" Bu Ranti marah lalu mengambil setrika yang panas itu, dan menindih nya di atas tangan Asti.


"Aaaaaaaaaaaa" teriak Asti kesakitan.


"Dasar manja, pemalas, lelet rasain itu memang nya gak capek setiap hari aku yang nyetrika, itu akibat nya karena kamu berani melawan anak saya" Bu Ranti berlalu , Dona mengintip kejadian itu merasa puas melihat Asti kesakitan.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaaa ibu kenapa aaawww sakit tangan ku huh huuuhh" Asti meringis kesakitan tak menyangka ibu tirinya itu bisa tega melakukan hal ini.


Asti mengoles tangan nya yang merah matang seperti daging panggang dengan pasta gigi. Asti menatap tangan nya, matanya berkaca kaca menahan tangis, namun tangis itu tak bisa di bendung lagi akhirnya Asti menangis.... Menangis bukan karena tangan nya sakit tapi hati nya yang sakit, kenapa dia di perlakukan seperti itu, apa dia pernah berbuat salah, apa memang kehadiran nya tak berarti di keluarga sambung nya, apa seorang ibu tiri seperti itu... Sejenak Asti teringatkan pada ibunya di kampung, dia merindukan Bu asih sudah lama tidak memberi kabar.


__ADS_2