
Sesàat setelah bubarnya rapat pengurus Osis maka bel sekolah pun berbunyi tanda bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah itu telah selesai.
Hasteen Dona langsung keluar menuju sebuah mobil hitam metalic, mobil mewah bermerk Lamborghini itu telah terparkir di halaman sekolah.
" Duluan , ya, Rev,'
ucap Hasteen Dona kepada Reviana.
" Ya, Teen, silahkan,''. jawab Reviana Putri.
Memang sejak mereka keluar dari kelas, keduanya berjalan beriringan.
Sementara itu para murid yg lain telah keluar dari sekolah itu juga termasuk dengan sang ketua Osis.
Teddy Riansyah dengan scutter maticnya, menghampiri Reviana Putri yg masih menunggu jeputan.
" Rev, butuh tumpangan,?". tanya Teddy
" Nggak , Ted, gue , udah di jeput tuh,". balas Reviana.
Sesaat mobil Fortuner berwarna abu -abu metalic mendekat kearah nya.
" Okelah kalau gitu, gua duluan ya, Rev,". ucap Teddy.
" Silahkan Ted," jawab Reviana Putri.
Tidak terlalu lama, kemudian Reviana masuk ke dalam mobil itu.
Sementara hampir seluruh murid dan guru sekolah itu telah bersiap untuk pulang.
Sedangkan mobil mewah yg di tumpangi oleh Hasteen Dona melaju mengarah selatan menuju bilangan Pondok Pinang tepatnya perumahan Pondok Indah.
Meskipun area kali ini masih agak macet namun ternyata Hasteen Dona cepat juga sampai di rumah nya.
" Siang Mi," ucap Hasteen Dona.
" Siang , Nenk geulis, kumaha sekolah na, baik,?" tanya sang Mami.
" Baik mi, teman - teman nya sangat ramah, dan cukup terbuka,!". balas Hasteen.
" Nenk, sana makan dulu,". kata sang mami lagi.
" Teen, belum lapar, Mi, nanti kalau sudah lapar baru Teen akan makan," jawab Hasteen Dona.
Gadis itu langsung membuka ponsel nya dan menyalakan musik, dengan menggunakan esrphone ia pun terlihat bergoyang dan berjoget.
" Ihh, kumaha, teh, pulang bukan nya langsung makan malah dengar musik koplo, apa perut tidak lapar,". gerutu sang Mami.
Mami Hasteen langsung meninggalkan putri nya itu.
Sedangkan sang putri malah asyik bergoyang, sambil masuk kedalam kamarnya.
Setelah agak sore, selepas azan asar, Hasteen Dona keluar dari kamar nya dan mencari sang mami.
" Hei , bik, lihat mami,?" tanya nya kepada pembantunya itu.
" Bibik kagak lihat non, mungkin lagi keluar, " jawab bibi Inah sang pembantu.
" Kumaha teh, si Mami lagi di butuhkan malah tidak kelihatan,". gerutu Hasteen Dona.
" Emang nya perlu apa non sama nyonya,?". tanya bik Inah
Pembantu rumah Si Hasteen itu masih membersihkan peralatan dapur.
" Ah, enggak bik, Teen cuma mau tanya apakah Papi telah pulang,!" kata Hasteen Dona lagi.
" Tuan non, tuan belum pulang,". jawab Bik Inah.
" Jadi Papi belum pulang,?". tanya nya lagi.
" Belum non, mungkin tuan pulang nya malam,". jawab Bik Inah lagi.
__ADS_1
" Darimana bik Inah tahu, kalau Papi pulang nya malam,?" tanya Hasteen Dona.
" Ehh, anu non, tadi bibik dengar saat tuan nelpon nyonya, ia mengatakan akan lembur,!" jawab bik Inah lagi.
" OOoo,"
Kemudian Hasteen kembali kekamar nya , ia membuka laptop nya dan mulai membuka beberapa file, terlihat gadis cantik asyik dengan laptop nya.
Saat daerah ibukota itu telah di selimuti si dewi malam, selepas waktu isya, terdengarlah sebuah klakson mobil, tidak terlalu lama masuklah mobil dari Papi Hasteen Dona itu ke dalam setelah pintu pagarnya di bukakan oleh mang Karyo.
Hasteen Dona kemudian keluar kamar nya dan langsung menuju pintu, dilihatnya sang Papi baru turun dari mobil menuju teras rumah itu.
Kemudian lelaki berperawakan tinggi besar dan berkulit putih berwajah tampan khas eropa ,masuk ke dalam rumah sementara Hasteen yg menunggu di depan pintu langsung menyapa nya,
" Good night, Pi,". ucap Hasteen Dona.
" Night, my sweety," jawab sang Papi.
Sambil menyalami Papinya itu, Hasteen ikut masuk ke dalam rumah.
" Where's yours mother,?" tanya sang Papi.
" I don't know, Pi,". jawab Hasteen Dona.
" Teen panggil si bik Inah itu,". seru sang Papi.
" Ok , pi,!". balas Hasteen.
Ia langsung menuju ke dapur dan menemui bik Inah.
" Bik, di panggil papi , tuh," ucap Hasteen
" Ada apa ya, Non, kok tuan panggil saya,?" tanya Bik Inah.
" Mana saya tahu,!". jawab Hasteen Dona.
" Sebentar non, bibik mau nyiapkan ini dulu," jawab Bik Inah lagi.
" Apa ge pe el itu, non,?" tanya Bik Inah.
" Gak pake lama, bik," jawab Hasteen Dona lagi.
" Beres, non,"
Kemudian Hasteen Dona meninggalkan bik Inah dan kembali ke ruang tengah , ia langsung duduk di dekat Papinya itu.
" Mana, bik Inah , Teen,?" tanya sang Papi.
" Sebentar lagi kemari, Pi ," jawab Hasteen Dona.
" Oh iya, Pi, pekan depan tepat nya hari sabtu , sekolah Teen mengadakan Pensi, mereka meminta Papi untuk mau jadi sponsor,!" ungkap Hasteen Dona.
" Apa itu , Pensi,?". tanya si Papi.
" Itu, loh , Pi, Pensi singkatan dari Pentas Seni,!". jelas Hasteen Dona kepada Papi nya.
" Berapa mereka membutuhkan dana,?" tanya Si Papi lagi.
Hasteen Dona nampak kebingungan mendengar pertanyaan dari Papi nya itu.
Karena pada rapat Osis tadi besaran biaya nya belum di sebutkan.
" Ehhh, Teen belum tahu, Pi , berapa besar biaya yg di butuhkan, apakah Papi bersedia jadi sponsor,?" tanya Hasteen kepada Papinya itu.
" No problem, jika you tahu berapa biaya yg di butuhkan segera kasih kabar ke Papi,". jawab si Papi.
" Ok, Pi," sahut Hasteen Dona.
Ia langsung kembali ke kamar nya.
Sementara sang Papi segera berganti pakaian dan mandi.
__ADS_1
Hari pun berganti malam. Dan keesokan hari nya seperti biasa Hasteen Dona bersiap berangkat ke sekolah, ia masih melihat sang Mami duduk di ruang tengah tengah menyaksikan siaran televisi yg mengetengahkan acara infotainment.
" Mi, mana bik Inah,?" tanya Hasteen Dona kepada sang Mami.
" Ada di dapur, nenk," jawab si Mami.
" Papi udah berangkat, Mi, ?" tanya Hasteen Dona lagi.
" Udah nenk, apa sih nanya mulu, lekas sarapan dan segera berangkat, nanti ketinggalan lho," kata Mami nya.
Nampak nya sang Mami lagi asyik dengan acara televisi yg menyajikan acara tentang kehidupan rumah tangga seorang artis itu, ia terlihat serius menonton nya.
" Mi, Hasteen berangkat,"
" Hati -hati ya, Nenk, ingat belajar yg rajin,". sahut Mami.
Setelah menyalami dan mencium Maminya Hasteen Dona kemudian keluar rumah dan langsung naik ke dalam mobil nya.
Mobil Lambo Hitam Metalic itu pun keluar dari halaman rumah mengarah ke utara menuju kawasan Cempaka putih.
Kali ini mobil melaju tidak terlalu kencang karena jalanan masih agak sepi.
Tepat pukul tujuh, Hasteen Dona sampai di sekolah nya.
Ia langsung menuju ke kelasnya, Kelas XI IPA 1, sesaat kemudian selesai meletakkan tas nya ia segera di hampiri oleh teman sebangku nya , Reviana Putri.
" Gimana Teen, apakah Papi lo setuju jadi sponsor acara Pensi kali ini,?". tanya nya.
" Papi setuju, Rev, cuma papi nanya berapa besarannya," sahut Hasteen Dona.
" OK, siip kalo begitu, nanti kita tanyakan kepada si Mey dan Siska," kata Reviana Putri.
Sementara satu persatu, murid kelas itu berdatangan sampai bel masuk berbunyi pertanda kegiatan belajar mengajar pun di mulai.
Jam pertama itu, kelas xi ipa 1 itu diisi dengan pelajaran kimia, mengenai unsur dan senyawa.
Meskipun pelajaran itu agak menguras pikiran namun karena guru nya cukup kocak, akhir nya tidak terlalu menjemukan bagi para murid di kelas itu.
Bapak Indra Koto yg menjadi guru nya cukup membuat murid nya senang dengan gaya mendidik nya.
Sampai saat bel istrahat pertama berbunyi, seluruh penghuni kelas itu pun segera keluar , ada yg ke kantin dan ada pula yg ke toilet.
Hasteen Dona dan Reviana langsung menuju kantin, Buk Mirah.
" Buk, pesan bakso nya dua," kata Reviana
" Tunggu sebentar ya, non," sahut Buk Mirah.
" Jadi emang bener papi loh mau jadi sponsor, Teen,?" tanya Reviana.
Hasteen Dona mengangguk sambil meminum es jeruknya karena sewaktu Reviana memesan bakso ia langsung pesan es jeruk dingin dua.
" Iya loh, Rev, ia mau ikut jadi sponsor, " jawab nya.
" Wow, bagus itu , Teen, tentu Pensi kali ini akan lain dsri biasanya," seru Reviana Putri.
" Maksudmu, ?" tanya Hasteen Dona.
" Ya iayalah, karena kali ini, Pensi akan mendapatkan bantuan dari perusahaan Lambo ditambah lagi bakal kedatangan seorang bule, kemari," kata Reviana Putri.
" Memang Papi ku itu seorang bule, tetapi untuk hadir kemari itu tidak mungkin, Rev, lagian apa hebatnya, seorang bule,?" tanya nya.
Sebelum Reviana menjawab , tiba -tiba mereka kedatangan rombongan Ketua Osis yaitu Teddy Riansyah.
" Gimana kabar ,lu, Rev, apakah kegiatan yg akan kita lakukan ini telah mendapat respon,?" tanya nya.
" Beres ketua, Teman kita ini yaitu si Hasteen ini,. orang tua nya bersedia menjadi sponsor, bukan begitu , Teen," sahut nya.
" Benar Papiku bersedia, asal tahu besarannya ," jawab Hasteen Dona
.
__ADS_1