
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Chiko, kamu tahu, nggak?" Gadis itu bertanya pada seekor anjing berwarna coklat yang berada di depannya. Wajah gadis itu sangat sumringah, pipinya merona merah dengan aura bunga-bunga di sekelilingnya.
Hachiko, anjing gadis itu memiringkan kepalanya, entah karena bingung atau apa. Bagi gadis itu, Chiko sangatlah menggemaskan. Dengan penuh rasa gemas ia mengunyel-unyelkan pipi hewan peliharaannya itu.
"Kamu tahu, nggak? Aku suka sama seseorang, lho!" kata gadis itu dengan senang sambil tertawa beberapa kali.
"Guk?!" Chiko tersentak kaget saat mendengar perkataan majikannya ini. Mungkin, ia dapat mengerti apa yang dikatakan oleh gadis itu.
"Iya, beneran! Aku suka sama seseorang!" Gadis itu berbicara dengan riang dan penuh semangat. Ia bahkan hampir salto jika tak sadar tempat. Rambutnya yang pendek sebahu diikat rendah di bagian belakang kepalanya bergoyang-goyang karena polahnya.
"Guk?" Chiko kembali memiringkan kepalanya, seolah bertanya kronologi kejadian mengapa gadis itu mendadak menyukai seseorang.
"Kamu kepo?" tanya gadis itu. "Kamu penasaran? Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" tanyanya lagi. "Oke, oke, aku bakal ceritain ke kamu. Jangan dipotong, ya!"
"Guk!" Dengan semangat, Chiko duduk tegak, menanti cerita dari sang majikan.
Gadis itu terkekeh geli. Kelakuan Chiko memang selalu membuatnya seakan terbebas dari rasa frustasi. Ia beruntung memiliki teman curhat seperti Chiko.
"Jadi gini...." Ia pun mulai bercerita dengan pipi bersemu sembari menerawang ke masa lalu.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Hari itu, adalah hari yang biasa saja menurutnya. Ia masuk sekolah seperti biasanya. Memakai seragam OSIS SMP dengan rambut dikucir rendah sesuai tata tertib sekolah. Dasinya melambai-lambai diterpa angin kala ia berjalan.
Ruang kelasnya berada di lantai dua. Ia berada di kelas 8B yang terletak di samping lab komputer. Untuk menuju kelasnya, ia harus menaiki tangga dan menyusuri lorong yang sepi. Jarang ada yang melewati lorong itu kecuali murid kelas 8B dan 8C.
Dalam satu baris lorong terdapat 4 ruang kelas, namun 2 ruangan dipakai untuk lab komputer, sehingga hanya menyisakan 2 ruangan lainnya yang digunakan sebagai ruang kelas. Oleh karenanya lorong itu terbilang sepi, namun terkesan damai dan asri.
Daun-daun dari pepohonan yang tumbuh subur di halaman sekolah terbang di udara dan terjatuh di lorong yang tengah dilewatinya. Langit yang cerah namun berawan menjadi pemandangan yang biasa baginya.
Hari ini adalah hari Kamis, pertanda akan datang suatu bencana yang sangat mematikan. Matematika, itu adalah mimpi buruk bagi sebagian besar murid, termasuk dirinya. Guru yang mengajar mata pelajaran itu juga terkenal killer, membuatnya semakin tak bersemangat untuk bersekolah.
Namun, apa daya, ia tak tega melihat teman sebangkunya menjomblo hanya karena dirinya absen tak masuk kelas demi menghindari mata pelajaran mematikan itu. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kelasnya.
Niat hati ingin bolos, namun tak punya teman untuk diajaknya melakukan kesesatan itu. Lagipula, ia terlalu takut pada Baginda Raja serta Baginda Ratu—ayah dan ibunya—yang mengancam tak boleh bertemu Chiko kalau dirinya berani membolos.
Itu tak boleh dibiarkan! Ia tak akan bisa hidup tanpa anjing kesayangannya itu! Chiko adalah teman curhatnya yang sangat berharga! Mereka saling menyayangi!
Untuk itu, ia harus menuruti titah dari Baginda Raja dan Baginda Ratu walau harus mengorbankan jiwa raganya demi menampung ilmu matematika yang pastinya membuat rohnya keluar seketika.
Tak terasa ia sudah berada di depan kelasnya. Suasananya sudah cukup ramai, mengingat sebentar lagi bel akan berbunyi. Dicarinya keberadaan ketiga temannya di ruangan itu.
"Oh! Serin!! Sini!!" panggil salah satu temannya yang tengah duduk di sebuah kursi.
Serin—nama gadis itu—mengangguk kecil dan berjalan menghampiri teman-temannya. "Lagi nggambar kayak biasa, Zin?" tanyanya.
Zin, temannya yang sedang duduk di tengah mengangguk kecil. Di antara mereka berempat, ialah yang paling tinggi. Kulitnya sawo matang dengan alis yang tebal. Mengenakan kerudung yang cukup panjang hingga menutupi sabuknya.
Dan jangan lupakan bros berbentuk pita berwarna biru muda yang berada di dagunya. Konon, bros itu adalah benda keramat yang menjadi ikon tersendiri bagi Zin.
"Tak kira kamu nggak bakal masuk. Salah sendiri datangnya lama" cetus temannya yang lain yang tengah melihat Zin menggambar.
"Ya mau gimana lagi, aku tadi sibuk curhat sama Chiko" balas Serin sambil menaruh tasnya di bangku yang berada di samping Zin yang sudah ditempati temannya.
"Ck ck ck, Chiko melulu yang kau pikirin. Minimal mikirin cowok, lah. Aku prihatin sama kamu, padahal kamu yang paling tua di antara kita, tapi nggak pernah mau kenalan sama cowok. Ck ck ck" komentar Zin sembari terus menggambar.
"Kan aku stay halal, Sister" kata Serin.
__ADS_1
Temannya yang duduk di samping Zin ikut nimbrung menghela napas."Iyain, deh" ucapnya. Namanya adalah Putri, ia yang paling kurus bak skeleton berjalan di antara mereka.
Dengan tinggi yang lebih pendek daripada Serin, ia memiliki tenaga yang tak main-main, walau terkadang letoy nan lunglai. Sama seperti Zin, ia juga memakai kerudung.
"Eh, Zin, coba nggambar husbu-mu" saran temannya yang lain yang sedang berdiri.
Zin mengangkat kepalanya. "Husbu yang mana? Mau dipakai buat apa?" tanyanya penuh kecurigaan. Pasalnya, temannya yang satu ini adalah seorang k-popers, bukan otaku seperti dirinya.
"Mau aku rebut, dong! Anjay!" balas temannya itu.
Zin langsung mengeluarkan aura permusuhannya. "Kalau kau ingin merebut husbu-ku, maka benda ini akan bersarang di kepalamu!" ucapnya sambil menunjukkan gunting legend-nya yang sudah sedikit berkarat.
"Dih, baperan" komentar temannya itu. Namanya Salsa, yang memiliki tahi lalat di atas matanya. Dia yang paling pendek di antara mereka berempat. Dari luar, ia nampak alim dan kalem, namun aslinya, ia seperti satwa liar yang selalu toxic dimana-mana. Namun, ia memiliki otak yang cemerlang dan selalu berada di peringkat 5 besar di kelas.
Putri memutar kedua bola matanya dengan malas. Setelah ini, Zin dan Salsa pasti akan bertengkar seperti biasanya. Ia sudah lelah. Demi menghindari pertengkaran mereka, Putri menghampiri Serin yang hanya menyimak.
"Eh, kamu tahu, nggak?" Putri memulai pembicaraan.
Serin yang merasakan aura pergosipan pun langsung menoleh. "Nggak tahu. Apa? Kenapa?"
"Katanya, kita bakal dipindah tempat duduknya" kata Putri.
Serin mendengus dengan tatapan datar yang ia layangkan ke arah Putri. "Ya elah, kukira apaan. Nggak seru, ih."
"Eits, jangan salah, katanya kita bakal duduk sama cowok!"
"Haah?!" Serin melotot seketika. "Mana mau, njir! Aku aja nggak kenal sama cowok di sini."
"Aku ya sama, makannya aku nggak mau. Tapi, yang lain pada setuju. Ya mau gimana lagi." Putri dengan kesal menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Serin mencebikkan wajahnya. Alisnya menukik tajam. Ia kesal. Dari dulu selalu saja begini, teman sekelasnya tak berunding dulu sebelum melakukan sesuatu. Nyebelin!
"Kalau duduk sama cowok aneh gimana, coba?" gumam Serin yang dapat didengar oleh ketiga temannya yang lain.
Wajar saja kalau ia berpikir seperti itu. Karena sejak kelas 7 SMP mereka menjalani sekolah secara daring karena pandemi. Mereka baru menjalani sekolah secara tatap muka saat akhir semester 1 di kelas 8. Itupun hanya sebagian murid saja yang masuk.
Dulu, setiap kelas dibagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi absen 1-16 dan sesi absen 17-32. Mereka masuk sekolah secara bergantian. Hari Senin, Rabu, dan Jum'at adalah jadwal sesi absen 1-16 masuk sekolah. Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu giliran sesi absen 17-32.
Pada saat itu, Serin yang memiliki absen 29 bertemu dan berkenalan dengan Zin yang memiliki absen 32. Mereka dapat akrab karena sama-sama pernah melihat anime, walau Serin bukanlah seorang otaku, melainkan K-popers.
Setelahnya, pembagian itu diubah menjadi sesi absen ganjil dan absen genap. Pada saat itu, Serin berada di sesi ganjil, dan Zin di sesi genap. Di sanalah Zin hanya berbincang dengan teman laki-laki pertamanya, Rossie. Dan itulah alasan mengapa ia dan Rossie selalu dijodoh-jodohkan.
Lalu, pada awal semester 2, pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara 100%. Itu artinya nomor absen 1 hingga 32 akan berada di ruang kelas secara bersamaan. Dan pada saat itulah Serin dan Zin bertemu dan berkenalan dengan Salsa serta Putri.
Bagaimana cara mereka berkenalan?
Caranya unik. Hal itu bermula ketika Salsa menyuruh Zin untuk mengambil—mencuri—rambutan di halaman sekolahny—
"Jangan dibilangin, anjir!" teriak Salsa dengan kesal. "Itu aibku, nj*ng!"
"Heh! Bahasamu dijaga!" tegur Zin yang kembali menunjukkan gunting keramatnya.
Sementara Zin dan Salsa sibuk berdebat lagi, Serin masih dalam rasa galaunya. Jujur, ia takut dengan laki-laki yang ada di kelas mereka. Ia seperti berada di tengah-tengah para tiang karena tubuhnya yang terbilang pendek.
"Fix, aku pasti bakal trauma.." lirih Serin frustasi.
"Sama..." kata Putri yang juga frustasi.
"Guys, ambil satu-satu, ya! Ini buat undian tempat duduk, berlaku mulai besok Senin minggu depan" seru Byila dari depan kelas. Di tangannya terdapat beberapa kertas kecil berisi angka-angka sebagai undian tempat duduk.
'Ukh, mimpi buruk kami datang' batin Serin dan Putri bersamaan.
Zin mengambilnya dan langsung meletakkannya begitu saja tanpa peduli siapa yang menjadi teman sebangkunya. Serin dan Putri merapal doa sebelum mengambil sebuah kertas. Salsa hanya mengambilnya dengan acuh, tak peduli siapa yang menjadi teman sebangkunya.
"Kok kalian malah santai, sih?" protes Putri pada Zin dan Salsa yang entah mengapa malah kembali berdebat untuk kesekian kalinya.
"Kan semua cowok sama aja" balas Zin. "Yang penting dia nggak nyebut aku wibu."
"Dih, wibu" cibir Salsa.
"Dih, tukang rebut cowok orang. Pelakor" sarkas Zin balik.
Dan lagi-lagi mereka bertengkar karena hal sepele. Memilih untuk tak mempedulikan kedua temannya yang bertengkar, Serin mencari teman sebangkunya dengan gelisah dan gundah.
"Eh! Ada yang dapet nomor 8 nggak?" tanya Serin pada teman-temannya.
"Nomor 8? Kamu dapet nomor 8?" tanya salah seorang teman pada Serin.
Gadis berkucir itu mengangguk. "Ho'o, kamu tahu?"
"Tuh, katanya sih Si Geo" tunjuknya pada seorang siswa bernama Geo.
Serin seketika tersentak dengan keringat dingin. 'Aduh! Kok malah sama dia, sih? Nyeremin banget, anjir!' batinnya di dalam hati.
Geo adalah murid paling tinggi di kelas 8B. Memiliki perawakan besar dan terbilang gemuk serta suara yang menggelegar. Ia juga selalu masuk peringkat 5 besar, seperti Salsa. Karena penampilannya, ia sering ditakuti oleh orang lain, termasuk Serin.
"Eh eh, tuker tempat, dong. Please" bujuk Serin pada Putri.
"Moh! Aku nggak mau! Dia serem!" tolak Putri dengan lantang.
"Sal, tuker tempat, yuk. Please." Kali ini Serin membujuk Salsa.
"Jangan, nanti malah kayak bapak-anak kalau Salsa duduk di samping Geo" cegah Zin dengan seringaian mengejek yang ia layangkan pada temannya yang paling pendek itu.
"Anjir" umpat Salsa dengan sewotnya.
"Ya udah, tuker tempat sama aku, ya, Zin? Please laahh" bujuk Serin.
"Nggak mau."
__ADS_1
"Lah? Kenapa?"
"Males" balas Zin apa adanya. "Lagipula, kita kan nggak bisa tuker tempat duduk seenaknya" imbuhnya lagi.
Serin seketika cemberut. "Emangnya kamu besok Senin duduk sama siapa?" tanyanya pada Zin.
"Entah, gtw." Zin mengendikkan bahunya acuh.
"Ayolah, Zin.. Kamu kan anak yang baik dan rajin menabung.. Mau, ya? Please..." bujuk Serin sekali lagi.
"Aku tahu aku baik, tapi aku nggak bisa nabung. Jadi, aku nggak mau" tolak Zin mentah-mentah.
Serin jatuh terduduk dengan aura suram. Percuma saja, ia tak akan bisa membujuk orang yang keras kepala seperti Zin. Harapannya hanyalah...
"Nggak mau" tolak Putri dan Salsa secara bersamaan. "Aku nggak mau ambil resiko, dia nyeremin."
Dan sekarang, seluruh harapan Serin pupus seketika. Tak ada yang bisa menolongnya dari situasi seperti ini.
"Ibuuukkk...." rengek Serin dengan suara pelan.
"Daripada kau sedih, mending ambil hikmahnya aja" usul Zin.
Serin pun menoleh pada temannya yang lebih tinggi darinya itu. "Apa hikmahnya?"
Zin langsung menyeringai. "Kau bisa menyontek dia! AHAHAHAHA!" ujarnya dengan penuh kesesatan dari ajarannya Salsa.
Salsa langsung mengangguk antusias. "Ho'o! Bener banget! Dia kan pinter! Manfaatin dia aja!!" ujarnya.
"Eh iya, ya. Aku baru inget." Serin menepuk keningnya. "Nice idea!! HAHAHAHA!!"
Putri hanya bisa pasrah menghadapi sifat absurd mereka. "Kenapa aku bisa temenan sama mereka, sih? Lama-lama aku jadi stress..." helanya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Anj*ng" umpat Serin ketika sudah sampai di rumah.
Umpatannya membuat Chiko yang tengah bersantai langsung menoleh padanya. "Guk?"
"Aku nggak manggil kamu" ketus Serin.
Chiko yang menyadari majikannya tengah badmood pun mendekatinya. Ia mendusel-duselkan pipinya ke tangan Serin. "Guk?"
"Gpp, Chiko. Aku gpp" kata Serin dengan lelah. "Aku cuma takut aja..."
"Guk?"
"Soalnya, minggu depan aku bakal duduk sama cowok nyeremin di kelas."
"?!" Chiko melotot seketika. "Guk guk guk!! Guk!!"
"Iya, iya, aku tahu.." Serin mengelus pucuk kepala Chiko dengan lembut. "Aku emang takut, tapi ya mau gimana lagi. Yang penting, aku bisa nyontek dia. Hehehehehe" senyumnya di akhir kalimat.
Chiko terdiam sesaat, kemudian ia juga ikut menyeringai hingga giginya terlihat. "Guk~"
"Ibuuukk!! Chiko nyeremin!!!"
"Guk guuukk!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
__ADS_1