Tentang Chiko Dan Kita

Tentang Chiko Dan Kita
"Hadeh... Malah Makin Parah"—Zin


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"CHIKOOOOO!!!!! MAKASIH BANYAKKKK!!!!" Serin dengan gilanya memeluk dan mendusel-duselkan kepalanya ke leher anjing peliharaannya itu.


"BERKATMU AKU BISA NGOBROL SAMA GEO LAGI!! HUWAAA!! RASANYA KAYAK MIMPI!!! CHIKOOOO!!! KAMU TEMAN TERBAIKKUUUU!!!"


Sementara Serin sibuk mendusel-duselkan kepalanya ke leher hewan peliharaannya, Chiko tak menggubrisnya sama sekali. Ia lebih memilih untuk memakan Whisk*s yang diberikan Zin.


Eh bentar, sejak kapan anjing suka makan Whisk*s?


Kakak Serin dan ibunya melongo melihat banyaknya Whisk*s yang berada di lantai.


"Rin, ini semua yang beli siapa?" tanya Ibu.


"Lu nyolong?!" tuduh Kakak Serin dengan pelototan tajam.


"Kagak, lah!! Ini tu aku beli pake uangku sendiri!" sergah Serin dengan sinis. "Zin juga ngasih ke Chiko, jadinya kita punya banyak Whisk*s di rumah."


Ibu menaikkan sebelah alisnya. "Zin ngasih Chiko? Kenapa?"


"Nggak tahu." Serin mengangkat bahunya dengan acuh. "Katanya sih buat balas budi."


"Balas budi buat apa?" tanya Kakak Serin sambil menyomot sedikit Whisk*s itu. "Wuih, enak juga."


"YNTKTS, lah" sungut Serin dengan jijik melihat kelakuan kakaknya yang di luar nalar. 'Kok bisa, sih, ada orang yang suka makan Whisk*s?'


"Terus, kamu beli banyak buat apa?"


"Buat balas budi ke Chiko. Soalnya Chiko buat aku sama Geo bisa ngobrol lagi kayak dulu!! KYAAKK!!" Serin kembali memeluk Chiko dengan ganasnya.


"Hadehh..." Ibu menggelengkan kepalanya dengan pasrah. "Dasar anak muda, kerjaannya cinta monyet melulu.."


"Terus, kamu beli berapa?" tanya sang kakak yang dipelototi oleh Chiko karena memakan makanan kesukaannya.


"Nggak banyak, cuma beli 5 bungkus yang 1 kilo."


"NGGAK BANYAK APANYA, WOY!! ITU BANYAK, EGE!!" sentak sang kakak. "Tapi ya ga masalah juga, sih. Aku juga suka rasanya."


"Grrrhhh.... GUK!!" gonggong Chiko dengan kerasnya disertai rasa kekesalan yang kentara.


"Hah? Kamu dapet uang dari mana?" kaget Ibu.


"Uang mingguan yang dikasih Bapak, lah" balas Serin apa adanya.


"Itu kan buat kamu jajan sama beli kuota."


"Nggak masalah. Kalau masalah jajan, aku nggak usah beli, tinggal bawa dari rumah. Kalau masalah kuota, aku bisa tethering Mbak sama Zin waktu di les. Yang penting balas budi nomor satu!"


Ibu kembali menghela napas. "Nggak gini juga konsepnya...." gumamnya sambil menepuk keningnya sendiri.


Sementara itu, Zin yang sedang membaca manga detektif yang jadi anak kecil pun bersin-bersin sendiri. "Siapa yang ngomongin aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Pasti Sho-chan yang ngomongin aku!! Ehehe~ Sho-chan~" halunya sembari melirik poster husbu-nya yang dipajang di dinding kamarnya.


"Sho-chan wa hontouni kawaii, nee~ Totemo kawaii, nee~ Ahahaha~ Aishiteru, yo, Sho-chan~ Daisuki da yo~ Ehehe~*"


(Translate: Sho-chan bener-bener imut, ya~ Imut banget, ya~ Ahahaha~ Aku cinta kamu, Sho-chan~ Aku suka kamu~ Ehehe~)


Tuh, kan. Si wib—otaku ini semakin menggila.



"ZIIIIINNNNN!!!! PUTRIIIIII!!! SALSAAAAA!!!!" Serin memanggil dengan suara yang sangat amat cetar membahana dari luar kelas hingga masuk dan duduk di samping Zin.


Putri dan Salsa membalikkan kursi mereka agar dapat mengobrol dengan kedua teman mereka.


"Kenapa?" tanya Putri sambil memain-mainkan kursinya.


"Ke-kemarin.. Hah.. Hah.. A.. Aku... Hah.. Be.. Bentar.. Ca.. Capek... Hah.. Hah..." Serin mencoba untuk menetralkan detak jantung dan napasnya yang masih ngos-ngosan.


Zin mendengus dengan jengah. "Makannya jangan lari-lari sambil teriak. Ngos-ngosan kan jadinya" tegurnya.


"Mau minum?" tawar Salsa dengan anehnya.


"Mana?"


"Nih." Salsa menyodorkan sebuah botol berwarna hijau dengan tutup berwarna hitam.


Serin menatap Salsa dengan wajah datar, sementara Zin dan Putri tertawa terbahak-bahak.


"Ini obat nyamuk, anjir!!" umpat Serin sambil melemparkan botol obat nyamuk itu hingga mengenai Rossie yang tak bersalah.


"Ya nggak papa, kan kamu nyamuk" balas Salsa dengan senyum mengejek.


"Kita yang nyamuk, woyy" ucap Zin tanpa sadar membocorkan kegiatan memata-matai kemarin.


"Hah? Nyamuk?"


"Eh, kenapa kok obat nyamuk malah bikin nyamuk mati? Seharusnya kan obat nyamuk bisa bikin nyamuk jadi sehat." Zin yang sadar bahwa ia keceplosan pun langsung mengganti topik.

__ADS_1


"Entah, aku kan bukan nyamuk" balas Putri yang juga sadar akan kesalahan Zin.


"Karena kamu maniez~" Salsa menaik turunkan alisnya layaknya jamet.


"Bismillah headshot!" Zin melayangkan tampolan ringan pada pipi Salsa, tapi sayangnya tak kena.


"Nggak kena, wleee!!" Salsa menjulurkan lidahnya dengan maksud mengejek.


Plakk


"Alhamdulillah kena.." Putri tersenyum puas melihat raut penuh keterkejutan dari Salsa.


"Bagus, Anakku. Teruskan bakatmu👍🏻" ucap Zin sambil menahan tawa.


"Anj*ng.." umpat Salsa dengan pelototan tajam.


"Olololo~ Budak ni merajuk rupanya~" goda Serin dengan logat Melayu.


"Ara? Maji de? Ara ara~ Sarusa-chan wa kawaii, ne~ Kufufufu~" Zin juga ikut menggoda Salsa.


"Ara ara~" Putri juga ikutan.


Salsa memandang mereka penuh kekesalan. "Anj*ng."


Kemudian, Serin teringat akan hal yang hendak ia katakan. "Eh eh, tau nggak?"


Pertanyaan yang Serin lontarkan sontak membuat ketiga temannya mendekat ke arahnya. "Apa? Apa?"


"Kemarin aku ketemu Doi!" seru Serin penuh kebanggaan sambil memukul meja.


"Oalah, yang itu, toh.." Lagi-lagi Zin keceplosan, membuat Putri dan Salsa melotot ke arahnya.


"Hah? Kok kamu tahu?" Serin langsung curiga.


"Iya, lah. Kalau kamu mau ngomong sesuatu, mesti bahas tentang Geo. Lagipula, Chiko ngasih tahu aku" bohong Zin dengan mulusnya.


"Kok bisa?"


"Aku sama Chiko kan sering video call."


"Hah?! Affah?! Kalian punya hubungan?!" tanya Salsa dengan dramatis. "Ini adalah hubungan terlarang antar manusia dan hewan!!"


"Sembarangan" sinis Zin dengan tajamnya.


"Ya nggak mungkin, lah. Kamu gimana, dah? Aneh-aneh aja pikiranmu" dengus Putri dengan wajah datar.


"Ya barangkali Zin punya selera yang unik."


"Ya, seleraku emang unik, soalnya suka karakter 2D yang fiksi" angguk Zin mengakuinya.


"Kita sama, Buk..." Putri menepuk pundak Zin dengan susah payah karena jarak mereka cukup jauh.


"Dih, ibu anak wibu" celetuk Serin.


"Dih, ibu anak suka yang gempal-gempal" balas Putri.


"Body shaming, anjir!" Salsa berdiri karena tak terima.


"Eakk!! Belain ayang ni yee~" goda Zin.


"Cieeeee~" goda Serin dan Putri bersamaan.


"Anj*ng lah." Salsa pun memilih untuk diam karena tak ingin di-bully lagi oleh teman-teman akhlakless-nya.



'Ternyata rencana kemarin adalah sebuah kesalahan yang fatal.....' Zin dengan frustasi memegangi kepalanya yang mendadak pening, dengan siku yang ia taruh di atas mejanya.


'Bukannya fokus belajar, SERIN MALAH SEMAKIN MENJADI-JADI!! YA ALLAH, APA SALAHKU?!'


Nampak Serin sedang memandang Geo dengan senyuman yang sangat menyilaukan. Ia memang tak bengong lagi seperti dulu, tapi Zin mengakui kalau ini lebih parah dibanding dulu.


Apalagi senyum Serin semakin merekah saat Geo me-notice dirinya dan berbalik tersenyum ke arahnya. Zin harus merelakan dirinya di goyang-goyangkan oleh Serin sebagai wujud kebaperan serta salah tingkahnya.


"Ya Tuhan.... Geo ganteng banget.... Senyumannya itu, loh... Bikin aku meleleh... Tuhan.. Aku pengen punya suami kayak Geo...." gumam Serin dengan kebucinan tingkat dewa.


"Zin, Geo ganteng, ya?"


"Nggak, lebih ganteng Sho-chan."


"Lah, katamu Sho-chan imut?"


"Emang."


".....Geo ganteng, ya?"


"Nggak, gantengan bapakku."


".......Pffttt—anjir, wkwkwkwk, Zin parah, sihhh.. Wkwkwkwkw" Serin mati-matian menahan tawanya agar tidak didengar oleh guru yang sedang mengajar.


"Kan semua cowok emang ganteng" balas Zin apa adanya sambil menggambar karakter komiknya.


"Berarti Rossie ganteng?"


"Gak."


"Berarti Rehan ganteng?"


"Gak."


Serin tersenyum penuh makna. "Yakin, nih??"


"Ya."


"......Btw, Geo ganteng, ya." Serin kembali memandang Geo dengan tatapan penuh memuja. "Kapan aku bisa menggapainya lagi? Aku mau ngobrol bareng dia lagi kayak kemarin.... Aku pengen banget ada di sisinya..... Geo...."


Zin menghela napas dengan super duper jengah. Ya gini, nih, kalau punya temen bucinnya minta ampun.

__ADS_1


'Dih, nggak ngaca. Padahal dirinya sendiri juga bucin sama Sho-chan yang nggak nyata'—Serin.


Tak hanya sampai di situ saja, kebucinan Serin semakin lama semakin meningkat. Setiap ada waktu, Serin pasti membicarakan tentang Geo, membuat Zin frustasi setengah mati.


"Zin, bisa gambarin wajahnya Geo, nggak?" tanya Serin penuh harap.


"Gak."


"Eehh? Kenapaaa?"


"Aku nggak bisa gambar orang" balas Zin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sketsa keramatnya.


"Tapi, kamu kan bisa gambar Sho-chan."


"Soalnya dia karakter fiksi."


"Eh? Tapi, kan, kita juga karakter fiksi."


"...." 'Iya juga, ya..' Zin auto kicep.


"Ayolah, Zin... Gambarin dia, ya? Pleaseeee...." bujuk Serin dengan wajah memelas.


"Gak."


"Ayolah~ Kamu kan anak baik~"


"Aku anak jahat."


"Nanti aku beliin chicken pop sambal geprek, deh.. Mau, ya??" Serin masih tak ingin menyerah.


"Nggak."


"Aku tambahin keripik kentang rasa madu mentega, deh...."


"......Sama eskrim cookies satu."


"...Lah?" Serin speechless sendiri.


"Nggak mau? Ya udah." Zin pura-pura merajuk sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Oke, oke, oke... Cuma tambah eskrim cookies, kan? Nggak nambah yang lain, kan?"


"Boleh nambah?"


"Nggak."


"Oke, itu aja. Jangan sampai lupa sama chicken pop sambal geprek, keripik kentang, sama eskrimnya, ya?" Zin tersenyum miring. 'Kufufu~ Akhirnya aku bisa malak Serin. Ini adalah balasan dari sikapmu yang barusan, jangan salahin aku, oke?'


"O-oke.." Serin menangis dalam diam. 'Hiks.... Uangku.... Hiks.... Ng-nggak papa, tenang aja, Serin. Demi punya gambar wajah ayang, kau harus melakukannya! Hiks.... Uangkuuu......'



Sesuai dengan kesepakatan, Zin menggambar wajah Geo di atas kertas buku sketsanya. Gambar Zin sangat mirip dengan Geo. Tentu saja, karena Zin sangat mahir menggambar karakter 2 dimensi.


Iya, mereka kan memang cuma 2 dimensi. Fiksi lagi.


Eh, 2 dimensi atau 1 dimensi, sih?


Sudahlah, balik ke topik.


Saking bagusnya, sampai-sampai Serin menangis di tengah pelajaran, membuat Zin harus diinterogasi oleh guru yang mengajar, karena mengira bahwa Zin adalah pelaku yang membuat Serin menangis.


"Jangan nangis lagi! Ntar aku yang malah dapet hukuman!" tuntut Zin pada Serin yang malah cengengesan.


"Ya maap. Hehe... Habis, gambarmu bagus banget, sih.. Mirip banget sama dia.. Hehe.." ujar Serin dengan watadosnya.


"Hmph" dengus Zin. "Kalau kau bukan sohibku, sudah ku unfriend dari dulu!"


"Eh jangan, dong! Jangan.."


"Zin, temenin aku ke kamar mandi, dong" ajak Putri dengan berbisik.


"Huh? Tumben ngajak aku? Biasanya ngajak Serin?" tanya Zin.


"Noh, liat sendiri." Putri menunjuk Serin yang sibuk dengan kegiatannya, memandangi gambar Geo dengan senandung tipis.


"Ah.. ( ̄ヮ ̄ ;)" Zin speechless. 'Iya, ya... Ini kan salahku... Tapi gak papa, demi makanan plus eskrim, aku rela menjual Geo!'


"HUATSYII!!" Geo bersin dengan suara menggelegar bagaikan bapak-bapak. "Anjir, sapa yang bicarain gue, seh?!"


"Hahaha!! Geo bersinnya kayak bapak-bapak!!" Teman-teman Geo tertawa terbahak-bahak melihatnya, sementara Serin terkekeh geli.


'Geo kalau bersin lucu banget....' batin gadis itu sambil tersenyum.


Lucu darimana, coba?!


Serin masih menatap Geo dengan senyuman. Bahkan saat Ilham dari kelas sebelah memanggil Geo, Serin masih menatapnya penuh puja, tanpa menyadari bahwa ada sebuah hati yang terluka karenanya.


'Serin... Jadi kamu suka sama Geo?..'


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2