
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Serin's POV.
Namanya Geo. Dia adalah anak laki-laki dari keluarga berada yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya.
Dia memiliki tubuh yang tinggi dan terbilang gemuk. Dibandingkan aku yang hanya 153 cm, dia seperti tiang listrik yang menjulang tinggi.
Suaranya besar dan berat. Bahkan dia sudah memiliki kumis di wajahnya, padahal masih SMP. Dan juga, dia bahkan terlihat lebih tua daripada kedua kakak laki-lakinya.
Darimana aku tahu?
Aku stalking Instakilogram mereka, lah :v
Menurutku, dari wajahnya dia tampak biasa saja. Tapi, saat aku pertama kali melihatnya saat PTS kelas 7 dulu, aku langsung tahu jika dia akan menjadi orang yang populer di sekolah kami selama beberapa tahun kedepan.
Dan benar saja, dia menjadi salah satu orang yang menonjol. Tak hanya tinggi, Geo juga sangat pintar. Dia selalu menempati 5 besar di kelas, kayak Salsa.
Kemampuannya tentang pelajaran nggak perlu diragukan lagi, walau olahraganya minus banget, sih...
Saat pertama kali kami bertemu, aku langsung beranggapan bahwa dia adalah orang yang sangat amat menyeramkan. Entah mengapa auranya sama seperti saat aku pertama kali lihat Zin.
Sama-sama nyeremin!!
Sama seperti Zin, awalnya aku nggak berniat untuk berteman dengan Geo. Soalnya mereka berdua sama-sama sulit didekati, seolah punya dinding penghalang tersendiri.
Tapi ternyata ngobrol bareng Zin itu enak banget! Apalagi kami bener-bener satu server kalau ngomongin hal-hal random! Padahal aku dulu takut banget sama dia :v
Dan Geo juga sama, ternyata dia nggak semenakutkan yang aku bayangin. Dia ternyata orang baik-baik, nggak sejahat kakak kelasku SD yang suka sama crush-ku.
Aku jadi merasa bersalah gara-gara udah takut sama dia duluan...
Terus, entah kenapa senyumnya Geo itu bikin aku nyaman gitu. Dia juga se-frekuensi sama aku waktu kami sebangku. Dan yang paling bikin aku ngerasa nyaman itu gara-gara.....
Dia nggak ngejek aku yang suka sama idol Korea!!
Langka banget sumpah!!
Baru pertama kali ada cowok yang kayak gitu sama aku!!
AAAAA!!!
Terus, terus, dia itu pinter banget!! Waktu aku nggak paham pelajarannya, dia ngajarin aku. Ngajarinnya lembut banget... Hatiku meleleeeehhhh....
Tapi masalahnya, dia kan nggak terlalu merhatiin papan tulis, tapi kok bisa paham, sih? Keren banget!!
Tapi sayangnya, dia agak ngelag. Waktu aku duduk sebangku sama dia dulu, aku sama sekali nggak ngajak dia ngobrol. Terus, Bu Guru nyuruh buat menilai tugas evaluasi IPA di buku.
Dia ngasih nilainya lama banget, padahal bentar lagi aku dipanggil. Waktu itu, aku beraniin diri buat negur dia biar dia nggak bikin aku deg-degan lagi gara-gara nilaiku belum siap.
Yah, itulah pertama kali aku ngajak ngobrol dia :v
Habis itu, kami langsung akrab. Apalagi waktu liat Zin sama Rossie saling ngobrol bareng, seolah dunia cuma milik mereka berdua.
__ADS_1
Aku melirik Geo, Geo melirik aku. Kami langsung senyum. Ternyata dia paham apa yang aku pikirkan.
Dia sama aku itu sama-sama penumpang kapal Rossie × Zin!!
Se-frekuensi banget ga, sih??
Dia cowok paling se-frekuensi sama aku!
Tapi tetep aja, kami cuma sebatas teman. Lagipula, mana ada orang yang langsung suka waktu pertama kali ketemu, kan?
Mana ada orang kayak gitu. Malahan, aku masih agak bingung, kenapa aku langsung nyaman sama dia. Bahkan Zin juga bingung.
"Kok kamu malah deket sama Geo, sih?" bisik Zin padaku waktu istirahat dulu.
"Eh?" Waktu itu aku kaget. Iya, ya. Aku juga bingung.
"Dari tadi aku lihat, kalian sampai ngobrol bareng, bercanda bareng, sampai ngerjain soal bareng. Kok bisa?" tanya Zin penuh rasa penasaran.
Aku loading sebentar, terus nyadar. "Lah, iya, ya. Kok bisa, sih? Kan sebelumnya aku takut sama dia. Kok aku malah akrab sama dia, sih?"
Seharusnya kan kalau baru kenal nggak bisa langsung akrab. Kok aku malah langsung akrab, sih?
"Nah loh, Serin... Hayoloh~ Nanti malah suka sama dia, loh~ Hayoloh~" goda Zin sambil menaik turunkan alisnya yang tebal itu. Dih, kayak jamet.
Aku tersenyum miring ke arahnya. "Huh, mana mungkin, lah. Aku dah punya bias, tahu!"
Hey!! Biasku ratusan kali lebih hebat daripada Geo, tahu!!
Inget itu!!
"Susah digapai, skip."
"Anj*ng, lu! Ngapain harus diingetin, coba?!" umpatku.
Udah tahu kata-kata itu bakal bikin aku sakit hati, dia malah ngomong kayak gitu. Anj*ng banget, dah.
"Pokoknya, hatiku cuma buat biasku doang! Titik!" seruku tajam.
Kali ini giliran Zin yang tersenyum remeh. "Yang bener? Entar malah kayak Salsa, lho.. Habis kita jodohin dia sama si Nopal, dia malah akrab sama cowok itu. Hati-hati, lho, Rin~"
"Dia kan bocil, nggak kayak aku yang paling tua. Aku nggak bakal suka sama orang nyeremin kayak dia! Nggak bakal!!" Aku menyilangkan tanganku membentuk tanda silang yang besar.
Geo itu lebih muda dari kita, Zin. Dia bukan tipeku. Aku lebih suka oppa-oppa Korea atau kalau nggak sugar daddy berduit di luar sana daripada orang yang lebih muda dariku.
"Hati-hati, kau pasti akan menelan ludahmu sendiri" kata Zin padaku.
Alah, itu nggak bakal terjad—
Njir... Wajahnya Zin serem banget, cuy...
Kenapa wajahnya serem gitu, dah? Padahal dia jarang banget masang wajah kayak gitu. Kok rasanya agak creepy, yah?
Dia kayak hantu di film horor, ih..
Tapi, omongan sama wajahnya Zin bikin aku terngiang-ngiang. Zin itu orangnya absurd, suka ngeluarin kata-kata humor yang sialnya nge-jleb sampai hati.
Walau begitu, sekalinya Zin serius, dia nggak akan main-main. Apalagi kalau Zin mengatakan sesuatu dengan wajah seriusnya itu. Pasti ucapannya bakal jadi kenyataan.
Aku jadi agak ragu sama perasaanku sendiri.
Masak, sih, aku beneran mulai suka sama bocil itu?
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
.......
.......
.......
.......
.......
Dulu, aku masih ragu sama perasaanku. Aku selalu mikir kalau ini cuma rasa nyaman antar teman aja. Sama kayak aku waktu ngomong sama Zin, Putri, dan Salsa.
Aku selalu menanamkan suatu fakta bahwa aku dan Geo cuma temen. Itu aja.
Tapi masalahnya, aku sama dia semakin akrab, anj*ng! Chiko*! Kok malah makin akrab, sih?! Anj*ng!!
(*"Chiko" di sini adalah sebuah umpatan, kata ganti dari "Anjing")
Waktu kami udah nggak sebangku lagi, aku jadi sedih. Bener-bener sedih. Apalagi waktu liat dia duduk sama perempuan lain gara-gara rolling tempat duduk.
Dadaku sakit, anjir!
Dan waktu itu, aku baru sadar kalau apa yang dibilang Zin emang bener.
Sasuga Zin-sama!!
Dih, wibu.
Seharusnya aku tahu perasaanku ini dari dulu. Sekarang, aku nyesel banget, soalnya dia jadi orang populer yang selalu didekati cewek-cewek.
Padahal kami pertama kali ketemu waktu akhir Desember, habis PAS—Penilaian Akhir Semester, tapi aku baru sadar kalau aku suka sama dia di bulan April, waktu kami mau naik kelas 9.
Ini aku yang rada-rada kurang paham atau perasaan ini yang emang datang tiba-tiba?
Tapi ya tetep aja, aku nyesel banget. Tau gitu dari dulu aku deketin dia, biar dia nggak didekati sama cewek-cewek lain, apalagi si Byila sama geng-nya.
Cih, si Byila sama geng-nya emang nyebelin banget. Padahak Byila udah punya pacar sejak kelas 8, tapi malah deketin yang lain. Nyebelin.
Padahal udah 1 tahun berlalu, tapi mereka tetep deketin cowok-cowok lain. Dari kelas 8, lho mereka ngelakuin kayak gitu!!
Apalagi mereka deketin Geo!! Aku nggak sukaa!!
Temen-temenku yang lain—Zin, Putri, sama Salsa—juga nggak suka sama mereka gara-gara menghalangi rencana PDKT ku ke Geo.
Haahhh.... Mau gimana lagi, mereka emang tipe cewek cabe-cabean, sih...
Yang bisa aku lakuin sekarang cuman.....
"Chikooo!! Aku mau curhat, donggg!!"
.....Curhat ke Chiko.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.