
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Chiko, kamu nyadar nggak, sih, kalau Serin belakangan ini sifatnya aneh gara-gara Geo?" tanya Zin pada anjing peliharaan temannya itu.
Chiko mengangguk cepat. "Guk guk!!"
"Berarti, dia sering curhat ke kamu tentang Geo?" tanya Zin.
"Guk guk!!" Chiko kembali mengangguk.
"Hmm... Gitu, ya...." angguk Zin dengan pelan.
Chiko yang mendengarnya pun ikut mengangguk.
Saat ini Zin dan Chiko sedang melakukan video call. Kenapa? Soalnya ayangnya Zin itu fiksi, gepeng, dan tidak nyata! HAHAHAHA!!
PLAKK/ditampol Zin.
Bukan, kok, bukan karena itu. Zin dan Chiko sedang video call karena mereka hendak membicarakan sikap Serin yang belakangan ini semakin parah.
Tunggu sebentar, bagaimana caranya mereka video call?
Pakai ponsel Serin, lah.
Terus, Serin-nya kemana?
Dia di kamarnya, lagi sama Chiko.
Lah kok—
Biasalah, Serin lagi duduk mikirin Geo sambil bengong.
Ya, dengan kata lain, Zin dan Chiko sedang membicarakan orang lain di depannya. Sangat pantas untuk dicontoh.
"Chiko, kamu punya cara biar sifat Serin kembali kayak dulu, nggak?" tanya Zin.
Chiko menggeleng sedih, membuat Zin menunduk pasrah.
"Guk guk guk?"
"Hm? Kenapa Serin berubah? Emmm.... Kayaknya gara-gara dia nggak ngobrol lagi sama Geo, deh" balas Zin atas pertanyaan Chiko.
"Guk guk guk? Guk Guk!!"
"Eh? Kamu pengen aku buat skenario biar Serin bisa ngobrol sama Geo? Gimana caranya?"
Mereka berdua berpikir, mengabaikan Serin yang bergumam sambil membayangkan Geo.
'Kira-kira, apa yang harus kulakukan? Gimana caranya aku bisa bikin mereka ngobrol lagi kayak dulu? Nggak mungkin, kan, kalau aku nyuruh mereka ngobrol di kelas. Nanti malah digosipin sama sirkelnya Byila. Hmmm... Kenapa cinta itu begitu rumit?'
Setelah beberapa menit berpikir dengan suasana hening yang amat sangat kentara, Zin teringat sesuatu.
"Chiko!!"
"Guk?!" Yang dipanggil kaget tentunya.
"Aku punya rencana, tapi ini benar-benar membutuhkan support darimu. Kamulah yang akan membantu mereka untuk lebih dekat. Gimana? Sanggup nggak?" tanya Zin memastikan.
Chiko mengangguk antusias. "Guk guk!! (Kalau itu demi majikanku, aku sanggup!!)"
"Chiko baik banget, deh... Kayaknya kamu sayang banget sama Serin.."
"Guk, guk guk!! (Oh, ya jelas!!)" Chiko membusungkan dadanya dengan bangga.
Zin speechless. 'Aku baru tahu kalau ada anjing yang bisa overproud pada dirinya sendiri' batinnya. "Oke, dengerin baik-baik apa yang aku bilang, ya?"
"Guk!!"
"Jadi gini..."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Heh? Kamu nyuruh kami bilang kalau besok Minggu nggak ada les?" tanya Putri, Salsa, dan Gladis bersamaan.
"Ho'oh" angguk Zin.
"Emangnya kenapa?" tanya Putri penasaran.
"Kemarin aku udah janjian sama Chiko buat—"
"KAMU JADIAN SAMA CHIKO?!" pekik Salsa dengan horornya.
"NGGAK, LAH!! ENAK AJA!! AKU MASIH NORMAL!! MASIH SUKA SAMA SHO-CHAN!!" Zin menampol Salsa main-main sambil memekik keras.
"Terus kenapa?"
"Jadi gini, kemarin aku ngobrol sama Chiko—"
"Gimana caranya?" Salsa memotong pembicaraan lagi.
"Diem, anje*g!" Gladis membekap mulut Salsa agar perempuan itu tak bisa memotong pembicaraan lagi.
"Gimana gimana? Lanjutin, lahh."
"Jadi gini, kemarin waktu di sekolah, aku denger kalau Geo mau jogging di taman kota. Makannya aku minta tolong sama Chiko biar ngajak Serin jalan-jalan di sana" jelas Zin.
"Ooh! Aku paham!! Kamu nyuruh Chiko buat nyari Geo di sana, terus Serin sama Geo bisa ketemu, kan?" tebak Gladis.
"Pinter!" Zin mengangkat jempolnya. "Makannya, kemarin aku diskusi sama Chiko dan dia setuju. Masa depan Serin ada di tangan anjing kecil yang sama sekali nggak kecil itu!"
"Terus? Kita mau nonton mereka buat mastiin segalanya bakal sesuai rencana, gitu?" tanya Salsa.
"....." Zin, Putri dan Gladis terdiam. "Bagus juga idemu. Besok Minggu kita nggak usah les dulu aja."
"Lah? Beneran?" beo Salsa.
"Yep" angguk Zin, kemudian ia mengambil ponselnya dari tasnya. Kebetulan hari ini boleh membawa ponsel untuk ulangan harian di form, jadi Zin bisa mengabari Mbak Yeni kalau besok Minggu mereka tidak masuk les.
...Mbk Yeni (Les)...
^^^Anda^^^
^^^Mbk, les buat bsk Minggu diganti bs, nggk?^^^
Mbk Yeni (Les)
Bisa, Dek
Emangnya kenapa?
__ADS_1
^^^Anda^^^
^^^Mau liatin org di taman kota, Mbk^^^
^^^Mau jadi mak comblang^^^
^^^Mau jd nyamuk berjamaah^^^
Mbk Yeni (Les)
Hah?
^^^Anda^^^
^^^Lesnya diganti hari apa, Mbk?^^^
Mbk Yeni (Les)
Hari Senin bisa?
^^^Anda^^^
^^^Bs, Mbk^^^
Mbk Yeni (Les)
Tp Dek, yang ini mksdnya apa, ya?
→Mau jadi mak comblang
Yg itu mksudnya apa, ya?
Dek? Kok cuma diread?
Dek?
Tanpa berperikemanusiaan, Zin hanya membaca chat dari tentor matematikanya itu. Jangan lupakan juga ketikannya yang tidak sesuai EYD dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
"Diem, lu. Lu itu cuma narator, mending diem, deh"—Zin mode galak.
"Gimana, Zin?" tanya Gladis.
"Beres." Zin mengangkat telunjuknya.
"Yess!!" Salsa bersorak gembira. "Akhirnya ada weekend yang bener-bener weekend!! Liburan, cuy!!"
"Kasihan banget, kayaknya nggak pernah dapet hari libur" komentar Gladis pada Salsa yang masih heboh.
"Tau, tuh" tambah Putri.
Zin menoleh ke arah Serin yang saat ini masih bengong di tempatnya. Sedang apa? Tentunya memikirkan Geo.
'Serin, semoga aja rencana kami bisa membuat sifatmu yang dulu balik lagi' batin Zin dengan penuh harapan.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Tanpa terasa sekarang sudah hari Minggu, hari dimana Chiko akan berperan penting dalam masa depan Serin.
Sejak pagi, Chiko sangat bersemangat untuk mengajak majikannya jalan-jalan. Ia bahkan menggonggong dengan kerasnya, agar Serin dapat beranjak dari singgasananya—kasur.
Serin yang notabenenya anak nolep penggemar rebahan hanya bisa menyanggupi keinginan hewan peliharaannya itu. Jarang-jarang ia dapat kesempatan untuk jalan-jalan dengan Chiko, karena biasanya setiap hari Minggu ia akan les matematika.
Chiko sangat bersemangat saat ia dan Serin keluar dari rumah. Udara di hari Minggu pagi yang jarang Serin rasakan menerpanya dengan lembut.
'Ternyata bangun pagi di hari Minggu kayak gini rasanya' batin Serin yang selalu molor jika disuruh bangun pagi.
Mereka berdua pun berjalan santai menuju taman kota sambil menikmati pemandangan yang indah nan asri dari kota mereka.
Tak jauh berbeda dengan Serin dan Chiko, saat ini Putri tengah menyiapkan dirinya. Ia mengenakan kerudung segi empat berwarna abu-abu muda dan merapikan pakaiannya di depan cermin.
Sudah 10 menit berlalu sejak Zin dan Salsa otw dari rumah mereka menuju rumahnya. Putri yang sudah selesai bersiap pun menunggu mereka di teras rumahnya sambil mengeluarkan sepedanya.
Rumah Zin, Putri, dan Salsa berada pada satu arah yang sama. Jika dihitung jaraknya dari sekolah, rumah Putri yang paling dekat dan rumah Salsa yang paling jauh.
Walau mereka berada pada satu arah yang sama, rumah Zin dan Salsa berlawanan arah. Loh, kok bisa?
Begini, jika kita pergi dari sekolah menuju rumah Zin maupun Salsa, maka akan melewati rumah Putri. Setelah melewati rumah Putri, jalur menuju rumah Zin dan Salsa berbeda. Zin di jalur kanan sementara Salsa di jalur kiri.
Oleh karenanya, jika mereka sepakat untuk bertemu, rumah Putri-lah yang menjadi sasaran empuk.
'Tapi, seharusnya mereka udah samp—'
Ting!!
Putri seketika menoleh. Dari jalan yang berada di samping rumahnya muncul Zin dengan sepeda gunungnya yang berwarna hitam dengan garis biru.
"Tumben udah siap, Put? Biasanya belum" tanya Zin apa adanya.
"Kalau belum siap, aku malah dimarahin ibukku" dengus Putri sambil melirik ke dalam rumah, berjaga-jaga jika ibunya mendengar perkataannya. "Btw, Salsa mana?"
"Bentar lagi sampe, paling" balas Zin.
Dan benar saja, Salsa langsung sampai setelah Zin mengatakannya.
"Oke, kuy berangkat!"
Putri menaiki sepedanya, mengikuti Zin yang memimpin jalan di depan. Di belakang Putri terdapat Salsa dengan sepeda gunungnya yang berwarna putih.
"Gladis gimana?"
"Katanya dia bakal nunggu kita di rel kereta api deket Polres."
"Oalah, oke."
Mereka menaiki sepeda dengan santai. Sekarang masih jam 6 pagi, dan mereka akan sampai di taman kota sekitar pukul 06.15. Menurut pemikiran Zin, Serin akan tiba di taman kota pada pukul 06.30, karena gadis berambut gelombang itu pastinya akan jajan dulu di jalan menuju taman.
Singkat cerita, ketiga perempuan itu sudah sampai di rel kereta api di dekat Polres. Gladis sudah menunggu mereka di sana sambil berselfie ria untuk diabadikan di status AppsWhat maupun Instakilogram.
"Euy, cepetan, ntar malah telat" tegur Zin dengan wajah datar.
"Ya sabar, lah" sungut Gladis, lalu memasukkan ponselnya ke dalam totebag miliknya.
"Yo dah, cepet."
"Ya, ya, ya. Bawel."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
Sesuai dengan perkiraan Zin, saat ini Serin sedang memakan ceker bakar di sebuah stan kaki lima yang jaraknya tak jauh dari taman kota. Rasa ceker yang begitu sedap membuatnya terlena. Tulang ceker itu ia berikan pada Chiko.
'Daripada dibuang, mending disedekahin aja'—Serin.
Sementara Serin sedang asik makan, keempat temannya yang lain sibuk memantau keadaan. Bahkan Gladis sampai naik ke atas pohon untuk mencari keberadaan Geo.
Mereka berempat berpencar ke arah mata angin. Jika ada salah satu dari mereka menemukan Geo, maka diwajibkan untuk menelpon.
Rencananya, mereka memang akan mencari Geo, tapi sayangnya Zin telah tergoda oleh makanan yang dijual di dekatnya.
'Alah, paling Geo datangnya agak siang. Mending makan dulu aja' batinnya sambil mendekati stan makanan itu. "Bu, bola mie-nya lima ribu, ya. Sama es teh satu."
"Siap, Dek."
Sama seperti Zin yang lalai pada tugasnya, Putri juga. Bedanya, ia lalai karena tengah terpukau oleh keimutan kucing gemuk yang baru saja lewat di depannya.
'Geo datangnya agak nanti, kan? Mending aku main sama kucing ini dulu. Toh, mereka pastinya bisa nemuin Geo' batin Putri sambil mengikuti arah perginya kucing itu.
"Pus, sini, Pus~"
Tak hanya Zin dan Putri saja yang lalai, Salsa juga sama. Ia sibuk memotret hamparan awan di pagi hari yang sangat aesthetic.
'Temen aja nomor sekian, apalagi ayangnya temen. Anjay, aku keren, cuy. Awkwkwkwkwk' batin Salsa tersenyum nista. 'Eh, yang di sana juga bagus. Foto aah..' batinnya sambil berjalan ke arah lain.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Pus~ Sini, Pus~" Putri masih mengikuti arah perginya kucing gemuk itu. "Ayolah, Pus~ Jangan pergi, laahh... Puus~"
Tanpa jengah ia mengikuti kemana arah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia tak dapat menemukan keberadaan si unyu gemuk itu lagi.
"Puus? Antum dimana? Jangan per—" Kemudian, ia melihat seseorang yang sangat familiar.
Dengan cepat ia menelpon teman-temannya. "GES GES!! DARURAT!! GESSS!!!!"
.
.
.
.
.
"Fuaahhh... Makanannya lumayan juga~" Zin mengelus perutnya yang tidak buncit. "Tapi aku masih laper~ Cari makanan lain, ah~"
Dengan semangat 45 yang bergelora demi memuaskan perutnya, Zin berjalan mengarungi luasnya taman kota hanya untuk sebungkus makanan. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Zin menemukannya.
"Oh pujaan hatiku yang kedua setelah Sho-chan! Akhirnya kau kutemukan juga!! Aku datang, Sayang!!" Bak kelinci, ia berjalan sambil melompat-lompat menuju stan makanan.
"Mbak, sosisnya lima, ya. Makaroninya dua, sama kentangnya tiga" kata Zin begitu ia sampai di stan makanan.
Sembari menunggu makanannya selesai dimasak, Zin duduk dengan mulut yang terus menyeruput es tehnya. Kemudian, matanya menemukan sesosok yang begitu mencolok di matanya.
"Hah! Dia udah di sini! Selagi Serin dan Geo belum terhubung, tak ada waktu untuk mematung! Aku harus menelpon mereka sebelum janur kuning melengkung karena Serin ditikung! Jadilah orang yang membawa untung, Zin!!"
Tangan gadis itu bergerak cepat untuk membuka ponselnya dan menelpon teman-temannya.
"Mayday!! Mayday!! Copy.satu*!! Apa kalian dengar?! Mayday!! Copy.satu!!"
(Copy.satu: Dia udah di sini)
.
.
.
.
.
Ckrekk!!
Ckrek ckrek!!
Beberapa jepretan kamera berhasil Salsa abadikan di ponselnya yang ruang penyimpanannya hampir penuh itu. Sambil tersenyum puas, ia memandangi foto-foto yang berhasil dijepretnya.
'Anj*ng, kenapa malah ada banyak foto orang pacaran?! Aku cuma mau foto pemandangan, malah dikasih penampakan orang pacaran. Anj—astagfirullah... Salsa nggak boleh toxic, nggak boleh..'
Ia kembali melihat-lihat jepretan kamera ponselnya.
'Eh bentar, kok aku kayak pernah liat orang ini?' batin Salsa, namun ia mengbaikannya. 'Eh tapi bentar deh, dia kayak....'
Sesaat kemudian, matanya melotot sempurna.
"ANJIR!! KENAPA AKU BARU SADAR, C*K?! ANJ*NG!!" Ponselnya langsung ia gunakan untuk menelpon teman-temannya. "WOY!! DIA UDAH DI SINI, WOY!! Anjir, lah. WOY!! ANJ*NG, WOY!! ANJ—astagfirullah... DIA UDAH DI SINI, WOY!! WOYY!!"
.
.
.
.
.
"Haaaahhhh...." Helaan napas penuh keluh kesah Gladis keluarkan. Ia 5L di atas pohon itu. "Anjir, lah. Udah nunggu lama, tapi Geo sama Serin belum datang juga. Lama-lama aku jadi nenek-nenek di sini" sungutnya.
Walau ia ingin turun dari pohon dan pulang untuk tidur di rumahnya, ia tetap berpegang teguh pada tekadnya yang ingin mendapatkan bahan gosip yang sesuai.
'Demi gosip, aku rela cosplay jadi makhluk pohon!' batinnya di dalam hati dengan tangan yang ia kepalkan kuat-kuat.
"Tapi bosen, anjir!!" keluhnya lagi.
Sembari berdecak kesal, ia kembali memeriksa sekeliling dengan teropong milik adik sepupunya yang ia pinjam tanpa izin.
"Mana orangnya? Kagak ad—eh bentar. Itu siapa?" Gladis menajamkan matanya dan seketika mulutnya terbuka lebar.
Diambilnya ponsel dari tasnya yang hampir jatuh ke tanah. Ia menekan layar ponselnya untuk membuka kunci kata sandi dan langsung menelpon teman-temannya.
"WOYY!! COPY.SATU!! AKU NEMUIN DIA!! WOYY!! DIA LIAT SINI, ANJIR!! COPY.SATU, WOY!! WOYY!!"
Dan apa kalian tahu apa yang menarik di sini?
Mereka berteriak melalui ponsel di saat yang bersamaan.
Wow, impresif.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.