Tentang Chiko Dan Kita

Tentang Chiko Dan Kita
"Ilham"


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Zin duduk di depan perpustakaan sembari merenung. Sesekali ia mengunyah jajanan yang dibelinya di kantin.


Ia tengah menunggu Putri dan Salsa yang sedang melaksanakan sholat dzuhur di istirahat ke-2. Zin tak ingin ke kelas karena ia tahu apa yang tengah terjadi di sana.


Zin tak ingin mengakuinya, tapi ia kesepian jika saat ini ia memilih untuk menetap di kelas. Biasanya di sana ada Serin yang menunggu datangnya mereka setelah sholat dzuhur, tapi sekarang tak lagi.


Serin yang sekarang selalu bersama Geo setiap waktu, membuat Zin dan kedua temannya selalu menjadi narasumber dari pertanyaan orang banyak.


Kabar bahwa Serin dekat dengan Geo tersebar dengan cepatnya. Orang-orang mengira mereka berdua pacaran karena selalu nampak dekat. Bahkan Zin, Putri, dan Salsa sampai diintrogasi oleh Guru BK karena masalah itu.


Kini, Serin tak lagi dekat dengan mereka. Gadis k-popers itu lebih memilih mengobrol dengan Geo daripada bersama dengan teman-teman perempuannya.


Hal itu membuat Zin, Putri, dan Salsa menjadi khawatir jika ada rumor buruk tentang Serin. Bisa-bisa rumor itu menjelekkan nama 9B dan orang tua Serin.


Yah, walau rumornya memang sudah menyebar, sih...


Gadis otaku itu menghela napas lelah. Tak kuasa memikirkannya lagi. Sudahlah, ini kan kehidupannya Serin, untuk apa dia ikut campur?


Walau ia mencoba tuk menyangkalnya, tak dapat dipungkiri jika perubahan sikap Serin benar-benar membebaninya. Ia bahkan sering mendapat nilai buruk karena tak fokus pada pelajaran.


Zin masih menyalahkan dirinya sendiri, merasa terbebani dengan kenyataan bahwa dirinya lah yang membuat sikap Serin berubah seperti itu.


Sembari menghela napas untuk kesekian kalinya, Zin bermonolog, "Kapan Serin bisa kembali ke sifatnya yang dulu?"


Ditatapnya langit biru nan cerah di atas kepalanya. Ditemani terpaan angin sepoi-sepoi ia duduk termenung, hanya diam layaknya patung.


"......Zin." Sebuah suara memanggil gadis otaku itu, membuat yang dipanggil seketika menoleh.


"....Kenapa?" tanya Zin dengan heran.


"Aku cuma mau tanya sesuatu, ini tentang Serin" balasnya.


Zin terdiam sesaat, lalu kemudian mengangguk. "Tanya apa, Ham?"


Orang itu—Ilham dari kelas sebelah—menggaruk bagian belakang kepalanya dengan ragu. "Apa bener Serin deket sama Geo?" tanyanya pelan.


Gadis otaku itu pun mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa nanya? Itu kan bukan urusanmu" balasnya sedikit menyindir.


"A-aku kan cuma nanya" sahut Ilham sedikit mengeraskan suaranya.


Zin memalingkan wajahnya. "Mau dekat atau nggak, itu bukan urusanmu. Emangnya kamu siapanya Serin?"


"Aku temennya!"


"Huh, temen?" Zin menyunggingkan senyum miring. "Padahal dulu kalau Serin nyapa kamu, kamu malah sok seleb. Sekarang malah ngaku-ngaku sebagai temennya. Hmph, lucu banget."


Ilham terdiam membisu dengan kepala menunduk. Ia menggertakkan giginya kuat-kuat. Walau menyakitkan, ucapan Zin memang benar, karena dari dulu Ilham selalu mengabaikan sapaan Serin seolah tak mengenalnya.


".....Kenapa diem?" tanya Zin dengan heran. "Pasti yang mau kamu bicarain bukan cuma ini, kan?"

__ADS_1


Ilham yang mendengarnya kemudian mengangkat kepalanya. "Zin, apa aku pantas untuk Serin?"


Kedua bola mata Zin membola sebelum pada akhirnya kembali memicing. "Berarti bener, kamu suka Serin."


Ilham mengangguk kecil, membuat Zin menjadi paham. 'Pantas aja dia kelihatan terluka banget waktu lewat di depan kelas kami. Apalagi waktu itu Serin sama Geo lagi ngobrol bareng. Pasti dia liat kejadian itu' pikir Zin.


"Zin, semenjak Serin deket sama Geo, hubungan pertemanan kalian mulai retak, kan?"


"Hah? Bilang apa tadi?!" tanya Zin dengan mata menyolot tajam.


Ilham mendengus kecil, "Nggak usah disembunyiin, aku tahu tentang itu. Makannya kamu ke sini nungguin kedua temanmu yang lagi sholat, kan? Pasti di kelas Serin nggak merhatiin kamu."


Zin tak menjawab, hanya menatap Ilham dengan tajam.


"Dan jujur, aku juga terganggu dengan itu" hela lelaki dari kelas sebelah itu. "Makannya, aku butuh bantuan kamu dan kedua temanmu."


Zin tersentak kecil. Yang bener?! Ilham yang menjadi salah satu "Most Wanted Sekolah" membutuhkan bantuannya. Gadis otaku itu menjadi ragu, pasalnya Ilham adalah orang yang cukup sombong dan arogan.


"....Apa bantuan kami begitu dibutuhkan olehmu? Wah wah, Tuan Arogan tak lagi sombong rupanya" sindir Zin sambil tersenyum miring.


"Tch." Ilham berdecih kecil. "Ini adalah simbiosis mutualisme, tahu. Bukan berarti aku benar-benar butuh bantuanmu!"


"Oke, oke, tenang, dong. Jangan ngegas" balas Zin dengan santai. "Apa yang kau butuhkan dan apa yang kami dapatkan dengan itu?"


"Aku membutuhkan bantuan kalian untuk memisahkan Serin dan Geo" kata Ilham dengan serius.


Zin tersentak kaget. Ia tak bisa berkomentar lagi. Matanya benar-benar membola.


"Jika kita berhasil memisahkan Serin dan Geo, kita sama-sama diuntungkan, bukan? Kalian akan mendapatkan kembali teman kalian, aku akan memiliki kesempatan untuk mendekatinya, dan Serin tak akan menjadi bulan-bulanan fans Geo lagi. Kita semua sama-sama diuntungkan."


Zin masih terdiam dengan kepala tertunduk. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan.


'Aku ingin melakukannya, tapi..... Serin pasti sakit hati karena aku memisahkannya dengan orang yang dia sukai....' batin Zin.


Mengetahui apa yang Zin pikirkan, Ilham berkata, "Beberapa hari lagi akan datang seseorang di sini."


Ucapan Ilham membuat atensi Zin tertuju padanya.


Zin masih belum menjawab, masih berpikir. Pada saat itu juga, Ilham berbalik dan menjauhi Zin. "Kalau kamu tak mau membantuku, itu tak masalah. Karena peluangku cukup besar untuk mengancurkan keakraban mereka."


Gadis otaku itu menghela nafas. Apa yang dimaksud Ilham tadi?


Akan datang seseorang?


Apa itu murid baru?


Dan kenapa Ilham mengatakan kalau Geo akan memilih antara orang itu dan Serin?


Siapa orang itu?


Dan kenapa Ilham mengatakan bahwa peluang keberhasilannya adalah 80%?


Kenapa dia begitu yakin?


Bagaimana dia bisa tahu kalau ada orang yang akan masuk ke sekolah?


'Ah iya, Ilham kan orang penting di OSIS...' Zin dapat menyimpulkan sebagian dari perkataan Ilham.


Tapi, siapa orang yang dapat membuat keakraban Serin dan Geo menjadi hancur?


Siapa orang itu?


"Zin? Ngapain bengong?" tanya Putri yang entah sejak kapan berdiri di depan gadis otaku itu.


"BUSET!!" Tanpa sadar Zin terlonjak kaget, membuat perhatian adik kelas yang ada di dekat perpustakaan menjadi tertuju padanya. "Mattaku*, kau mengagetkanku, gaki*! Lain kali jangan gitu, lah!" protesnya.


(*Mattaku\= Dasar)


(*Gaki\= Bocah)

__ADS_1


"Nah loh, mulai lagi bahasa wibunya" komentar Salsa yang berada di belakang Putri.


"Wibu berkedok k-popers diem aja" sungut Zin pada gadis yang paling pendek di antara mereka.


"Tadi kamu ngapain diem aja kayak pengangguran?" tanya Putri kembali ke topik utama.


"Nggak papa, cuma mikirin beberapa hal" balas Zin sambil berdiri dari duduknya. "Kuy, balik ke kelas."


Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju kelas. Jarak antara masjid dan kelas memang cukup jauh. Untungnya jalanan yang mereka lalui terdapat banyak pohon yang mampu menyejukkan udara, sehingga mereka tak kepanasan.


Mereka membicarakan hal-hal random, mulai dari cowok yang selalu melihat ke arah Putri yang sedang sholat, Pak Guru IPA yang selalu dijodoh-jodohkan dengan Salsa, dan masih banyak lagi.


Dan tak terasa mereka sudah sampai di kelas. Ketiga orang gadis itu berhenti sejenak di sana. Mereka ditatap oleh teman sekelas mereka yang duduk di serambi kelas.


Walau Salsa bukanlah orang yang peka-peka amat, ia dapat menyadari bahwa suasana kelas menjadi berbeda setelah Geo dekat dengan Serin.


'Anj*ng, mereka liatin sini. Gaje banget, anjir' batin Salsa dengan segala umpatannya.


Putri memasuki kelas terlebih dahulu. Ia juga menyadari tatapan teman-temannya yang berada di luar kelas. Ia benar-benar risih, oleh karenanya dirinya segera memasuki kelas.


Pemandangan yang sudah mereka duga menjadi hal yang mereka lihat saat ini. Seluruh teman sekelas menatap mereka dengan mata yang seolah "menyala".


Memilih tuk mengabaikannya, mereka bertiga duduk di bangku masing-masing. Salsa memilih untuk tidur, Putri menyenderkan kepalanya di atas meja, dan Zin melanjutkan gambarnya.


Segala jenis tatapan mereka bertiga dapatkan. Ada yang menatap kasihan, dingin, sinis, dan ada juga yang tak peduli.


Semua ini bermula sejak Serin dekat dengan Geo. Zin, Putri, dan Salsa yang notabenenya adalah teman dekat Serin pun ikut terkena dampaknya.


"Padahal temennya lagi cosplay jadi pick me di sana, tapi kok mereka malah kayak nggak peduli, sih?" bisik Byila secara terang-terangan.


"Alah, palingan mereka juga pengen jadi pick me" balas temannya dengan sinis.


Putri berdecak kesal. Untung wajahnya tak terlihat, sehingga tak ada yang tahu bagaimana ekspresinya saat ini. 'Justru kalian yang pick me!'


Zin diam-diam melirik ke arah Serin yang sedang mengobrol ria dengan Geo. Seketika perkataan Ilham kembali terlintas di benaknya.


"Jika kita berhasil memisahkan Serin dan Geo, kita sama-sama diuntungkan, bukan? Kalian akan mendapatkan kembali teman kalian, aku akan memiliki kesempatan untuk mendekatinya, dan Serin tak akan menjadi bulan-bulanan fans Geo lagi. Kita semua sama-sama diuntungkan."


Zin agak ragu, apa yang harus ia lakukan?


Ia tak ingin membuat Serin sakit hati, tapi ia juga ingin Serin dapat kembali ke sifatnya yang dulu. Ia bingung, benar-benar bingung.



Ilham tersenyum saat tangannya memegang sebuah kertas. Di sana tertera sebuah nama beserta foto dan identitas seseorang.


Senyumnya kembali mengembang saat melihat nama dan asal dari pemilik foto itu.


"Geo.... Akan kubuat kau tak lagi dekat dengan Serin! Dengan begitu, Serin akan kudapatkan! Ahahahahaha!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2