
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Chikooooooo!!!!!"
Yang dipanggil tersentak seketika. Dengan gerakan patah-patah ia menoleh ke arah majikan yang sedang memanggilnya dengan suara cetar membahana itu.
"Chiko~" panggil Serin dengan nada yang aneh, membuat anjing itu gemetar dan merinding.
'Fi-firasatku buruk....' batin Chiko dengan panik.
Serin tersenyum ke arah anjingnya itu. "Kamu mau nikah sama Chika, kan?" tanyanya dengan senyum berbahaya.
"GUK?! GUK GUK GUK!!!" Chiko dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ya kali mau nikah ama oran—eh anjing yang baru dikenal. Hey, dia ini juga pilih-pilih cewek, tahu!
Wajah Serin berubah, ekspresinya menjadi datar. "Kau tak mau kunikahkan dengan Chika, hm? Kau mau melawanku?"
"G-guukk....." Dengan lesu Chiko menggeleng sambil menunduk.
Serin langsung sumringah lagi. "Jadi, kamu mau nikah sama Chika, kan? Iya, kan? Oke, aku setuju!!"
Jiwa Chiko seolah-olah tercabut dari raganya. Hilang sudah keinginannya untuk mendapatkan anjing betina yang tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan percintaan majikannya.
'Anj*ng'—Chiko.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Haah?! Kamu nyuruh Chiko buat nikahin Chika?!" kaget Zin, hingga tanpa sadar menjatuhkan pensil yang ia gunakan untuk menggambar.
"Masak, sih?" Putri sama terkejutnya dengan Zin, namun ia cenderung lebih meragukan ucapan Serin barusan.
Gadis berkucir rendah itu mengangguk. "Ya iya, lah! Kalau kayak gitu, aku bisa terus deket sama Geo!" serunya.
Ketiga temannya terdiam, lalu saling memandang satu sama lain. "..Bukannya kamu agak lebay, Rin?" gumam Salsa dengan pelan, namun dapat didengar oleh Serin.
"Huh? Maksudnya?" Serin sedikit tersinggung.
"Kayaknya kamu terlalu tergila-gila sama si Geo, deh. Kalau gini terus, kasihan Chiko" imbuh Putri menyetujui pendapat Salsa.
'Aduh, gawat, nih..' batin Zin dengan was was. Ia memandang ketiga temannya satu-satu secara bergantian.
Serin menyilangkan kedua tangannya dengan raut wajah kesal dan sinis. Ia berdecih, "Ck."
'Idih, emangnya siapa mereka? Suka-suka aku, lah. Seenaknya aja ngasih pendapat kayak gitu. Anj*ng banget' batin Serin dipenuhi kekesalan.
Karena pembicaraan itu, hanya ada keheningan di sekitar mereka. Bahkan Salsa yang biasanya berceloteh kini hanya diam saja. Jujur, ini membuat Zin agak terganggu.
'Suasananya canggung banget... Seseorang, please help me!!' batin gadis otaku itu.
"Eh, Rin" panggil seseorang, membuat atensi keempat gadis itu tertuju padanya.
Serin yang awalnya kesal pun menjadi sumringah. "Geo?" tanyanya antusias. "Kenapa?"
"Chika mau ketemu Chiko. Kayaknya dia suka sama Chiko, deh" ucap Geo pada Serin.
Gadis itu seketika sumringah lagi. "Oke!! Aku nanti bakal langsung ke rumahmu sama Chiko!!"
__ADS_1
"Eh? Bukannya nanti ada les?" tanya Putri.
"Aku nggak masuk dulu" balas Serin singkat tanpa menoleh ke arah Putri. Ia sibuk berbincang dengan Geo tanpa mempedulikan teman-temannya.
Zin menghela napas pasrah. Helaannya ini terdengar cukup keras, namun tak membuat kedua pasangan yang belum menjadi sepasang kekasih itu me-notice-nya.
'Kenapa malah jadi kayak gini?.. Seolah-olah pertemanan kami jadi agak renggang... Apa ini gara-gara rencanaku waktu itu?' pikir gadis otaku itu sambil menumpukan kepalanya pada tangan kanannya.
Ia kembali menghela napas. 'Haaahh... Ini salahku.....'
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
BRAKK
Pintu ruangan les didobrak dengan tidak elitnya oleh si pelaku yang sedang membawa jajanannya.
"GESS!! AIM KAMING!! SIAPA YANG KANGEN AKU??" tanya sang pelaku dengan suara cetar membahana.
"Kamu nanyea?" balas Salsa dengan wajah songongnya.
"Kamu bertanya-tanyea?" timpal Putri dengan wajah yang tak kalah songongnya.
"Cot" ucap sang pelaku—Gladis—sambil duduk di tempatnya. Saat sedang memakan jajanannya, ia melihat Zin yang tengah termenung tak seperti biasanya. "Kamu kenapa, e, Zin? Tumben galau? Jangan-jangan lagi galau gara-gara nyadar kalau Sho-chan-mu itu nggak nyata?"
"Dih, padahal ayangnya situ sendiri juga kagak nyata" sinis Putri.
"Lah, lu juga, anjir!" tunjuk Gladis ke Putri.
"Zin?" tanya Salsa dengan pelan.
Yang ditanyai tak menjawab, ia masih termenung. Selang benerapa detik, Zin pun menjawab, walau hanya deheman kecil saja, "Hm?"
"....Kamu kenapa?" tanya Salsa, membuat Putri dan Gladis menghentikan perdebatan mereka dan memilih untuk mendengarkan pembicaraan kedua gadis pintar itu.
".................Gpp." Hanya itu saja balasan yang Zin berikan setelah beberapa detik terdiam.
Ketiga gadis itu terdiam. Bukan hanya Serin saja yang sifatnya semakin aneh, Zin juga. Ini membuat mereka khawatir.
'Ini salahku.... Kalau aja waktu itu aku nggak merencanakannya sama Chiko, Serin nggak bakal jadi separah ini. Bahkan sekarang Chiko jadi korban obsesinya Serin. Ini salahku... Semuanya salahku....' batin Zin tanpa ekspresi.
Gadis otaku itu menundukkan kepalanya, meletakkannya di atas meja kecil yang menjadi tempat ditaruhnya buku-buku matematika.
Helaan napas keluar negitu saja, bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh. 'Ini salahku.....'
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Ada PR lain lagi, nggak?" tanya Mbak Yeni pada keempat gadis itu. Mereka baru saja menyelesaikan PR yang diberikan Bu Wahyu, guru matematika di kelas 9B.
"Nggak ada, sih. Mending ngerjain buku LKS aja, Mbak" usul Putri sambil membuka bukunya. "Yang evaluasi ini, lho, Mbak. Susah banget!"
"Ho'o, Mbak!! Aku dah nyari jawabannya, tapi masih belum ketemu juga! Anj*ng lah" angguk Salsa menyetujui pendapat Putri.
"Heh! Omonganmu!" tegur Putri, selaku pengganti Zin.
__ADS_1
"Lah, tumben lu yang bales, biasanya Zin" celetuk Gladis.
"Eh iya, ya. Tumben banget Zin diem aja" kata Mbak Yeni baru sadar. "Ngapain diem-diem bae, Zin?"
Zin masih diam, tak peduli dengan orang-orang yang menunggu jawabannya.
".......Mbak." Akhirnya setelah beberapa saat diliputi keheningan, Zin bersuara juga. "Mbak Yeni pernah ketemu orang yang punya obsesi berlebihan, nggak?"
"Haa?" Pertanyaan Zin sontak membuat mereka keheranan. Ada apa dengan anak satu ini?
"Obsesi? Maksudnya kayak rasa suka berlebihan gitu?" tanya Mbak Yeni sambil menulis soal di papan tulis.
Zin mengangguk kecil. "Iya, aku bingung gimana caranya biar bisa menghilangkan rasa obsesi" balasnya dengan pelan, namun dapat didengar oleh mereka.
"Emangnya siapa yang kamu maksud, Dek?" tanya Mbak Yeni dengan penasaran. Ia bahkan mengesampingkan soal matematika yang biasanya selalu menjadi prioritasnya.
"Lu terobsesi sama siapa, anjer?!" tuduh Gladis sambil menunjuk Zin.
Plakk
Putri menampol Gladis karena ketidakpekaannya. "Yang Zin bilang bukan dirinya sendiri, tapi Serin, tau!!"
"Eh? Serin? Mosok?" Mbak Yeni mulai tertarik dengan gosip—maksudku pembicaraan kali ini.
"Ho'o, Mbak! Dia sukanya ngomong tentang Geo melulu!" nimbrung Salsa.
"Iya, lho, Mbak! Sampe-sampe kami tadi hampir musuhan sama Serin gara-gara Geo!" imbuh Putri lagi.
Mbak Yeni menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah. "Wis, wis... Bocah, bocah.... Hadeh...."
"Makannya itu, Mbak... Kami bingung mau berbuat apa..." hela Zin untuk kesekian kalinya.
Mbak Yeni kembali menulis jawaban di papan tulis sambil berkata, "Kalau soal percintaan, sih, aku nggak terlalu tahu, apalagi tentang obsesi."
Ketiga gadis yang merupakan teman dekat Serin pun menghela napas lelah. "Jadi, nggak ada solusinya, ya?..."
"Lha emang Serin kenapa? Perasaan dia nggak terlihat lagi terobsesi sama si Geo, deh" tanya Gladis tak paham.
"Ya gitu, lah." Putri tak ingin menceritakan pada Gladis tentang kegilaan Serin jika itu menyangkut Geo. Gladis itu ratu gosip, bisa saja dia membocorkannya pada teman-temannya yang lain.
Dan jika hal itu terdengar oleh Byila dan menyebar hingga satu sekolah, maka Serin akan terancam karena fans-fans yang fanatik terhadap Geo.
"Tapi kayaknya ada satu cara, deh" kata Mbak Yeni, membuat mereka bertiga langsung sumringah.
"Beneran, Mbak?!"
Mbak Yeni mengangguk dengan ragu. "Tapi, ini belum tentu berhasil, lho..."
Keraguan itu membuat Salsa keheranan. "Emangnya apa?"
"Kalau misalnya si siapa tadi? Geo?"
"Ho'oh" angguk mereka.
"Kalau misalnya si Geo suka sama orang lain, bisa aja Serin nyerah" kata Mbak Yeni.
Keempat gadis itu mengangguk. "Tapi, kalau ternyata Serin masih belum nyerah?" tanya Gladis yang masih ragu-ragu.
"Kan aku bilang kalau ini belum tentu berhasil" ucap Mbak Yeni.
"Tapi, ini masuk akal juga, sih." Zin mengangguk kecil. "Ada kemungkinan Serin bakal nyerah terus ketemu sama yang lebih baik daripada Geo."
Putri mengangguk, menyetujui ucapan Zin. "Kalau itu beneran terjadi, bisa aja si Afgan atau Ilham deketin Serin. Mereka kan suka sama Serin" imbuhnya.
"Hah?! Afgan siapa, anjer?!" tanya Gladis yang tak paham.
"YTTA" kata Salsa dengan meremehkan.
"Anjer babik" umpat Gladis.
Mbak Yeni yang sedari tadi mendengarkan kembali menggelengkan kepalanya sambil menghela napas kecil. 'Anak jaman sekarang ada-ada aja urusan percintaannya....'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
__ADS_1