Tentang Chiko Dan Kita

Tentang Chiko Dan Kita
"Gitu Ceritanya..."


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Seninnya.....


DOK DOK DOKK!!


DOK DOK DOK!!


"Serin! Cepetan bangun! Udah jam setengah tujuh, woy!!" seru sang ibu dari luar kamar Serin sambil menggedor-gedor pintu.


"Serin!! Cepetan keluar!!"


Yang sedari tadi dipanggil merengut di kasurnya. Ia masih rebahan sambil menyembulkan pucuk kepalanya dari balik selimut. Dirematnya selimut itu dengan kesal.


"Aku nggak sekolah!!" balas Serin dengan teriakan.


"Kenapa!?" tanya sang ibu dengan teriakan juga.


"Aku sakit!!" balas Serin berbohong. Ia sebenarnya tak sakit, karena dirinya ingin menghindari perpindahan tempat duduk itu.


BRAKK


"Anj*ng!" Serin tersentak dari kasurnya kala sang ibu menendang pintu kamarnya hingga terbuka.


"Sakit, sakit, kau mau sakit beneran, ha?!" sentak sang ibu sambil berkacak pinggang. "Lagipula, nggak ada orang yang toxic waktu sakit. Cepet mandi sana! Udah mau telat!"


"Aku sakit, Buukk..." Serin memasukkan tubuhnya ke dalam selimut sambil menetralkan detak jantungnya yang mendadak disko.


Sang ibu mengangkat sebelah alisnya. "Boong" ujarnya dengan kesal. "Dah, keluar sana!!"


Dengan kekuatan dari tenaga dalam, sang ibu dapat melempar Serin keluar dari kamarnya.


"Anj*ng!" umpat Serin ketika pantatnya menapak di tanah setelah dilempar oleh sang ibu. "Halus dikit ngapa" gerutunya sambil mengelus-elus pantatnya yang sakit.


"Guk?" Chiko menghampiri Serin dengan kebingungan.


"Aku nggak pernah manggil kamu."


"Guk!"


"Aku tahu kamu itu anjing, tapi yang kupanggil tadi bukan kamu" dengus Serin.


"Guk?"


"Anjing lain."


"!?" Chiko terkejut. "GUK?! GUK GUK?!"


"Ya, aku punya anjing lain. Sekarang, diem." Dengan tidak berperikeanjingan, Serin meninggalkan Chiko yang kini sedang pundung karena ucapannya.


"Guuukk....." lirih Chiko yang sedih karena mempercayai bahwa Serin memiliki anjing peliharaan lain.


.......


.......


.......


.......


....



...


.......


.......


.......


.......


.......


"Haaahhhh...."


"Haaaaahhhhh....."


"Haaaaaaaaahhhhhhhh....."


"Dari tadi ngapain, sih? Lesu amat" tanya sang ibu pada Serin yang sedari tadi terus menerus menghela napas.


"Aku sakit."


"Boong" balas sang ibu dengan datar. Pandangannya lurus pada jalanan agar motornya tak oleng kemana-mana.


"Wah, cenayang."


"Ya."


Pembicaraan singkat itu pun berhenti di situ, membuat Serin berkedut kesal. "Ish! Seharusnya Ibuk peka, dong!" dengusnya.


"Ya, cepet bilang" balas sang ibu dengan singkat.


Serin menghela napas. Ia harus menahan amarahnya saat sang ibu hanya membalas perkataannya dengan singkat. 'Sabar, Serin.. Sabar... Ibuk kan emang kayak gitu dari dulu... Sabar...'


"Nanti aku mau pindah tempat duduk" kata Serin memulai pembicaraan.


"Terus?"


"Aku duduk bareng cowok."


"Terus?"


"Dia pinter."


"Terus, apa masalahnya?"


"Dia nyeremin."


"Oh."


Lagi-lagi Serin harus menahan umpatannya. "Buk, kalau nggak niat dengerin ya nggak usah bales💢💢."


"Katanya nyuruh Ibu peka, gimana, sih? Gaje amat" balas sang ibu.

__ADS_1


Serin menghela napas. Iyain aja, deh, daripada terus-terusan debat.


Setelahnya, mereka tak mengatakan apapun lagi. Perjalanan menuju sekolah itu ditemani semilir angin yang menerpa dalam sunyi. Tidak ada suara kendaraan yang menggang—


TIN TIIINNNN!!


'Ternyata nggak jadi sunyi...'


.......


.......


.......


.......


.......



.......


.......


.......


.......


.......


Serin memandang plang nama itu dengan tatapan malas. Ia sudah berada di depan gedung SMP-nya. Motor-motor serta mobil dari orang tua murid berlalu lalang untuk mengantar anak-anak mereka.


Serin memandang plang bertiliskan nama SMP-nya yang dipasang di dinding bagian luar sekolah sembari berpikir. 'Aku harus bolos apa masuk aja, ya?' pikirnya penuh perhitungan.


'Oke, bolos aja!' putusnya. Ia kemudian menoleh ke belakang. "Buk, aku sa—"


"—Kit.." Dan ternyata sang ibu sudah pergi dari tadi.


Serin membatu seketika. Angin yang berhembus disertai daun-daun yang berguguran menambah kesan dramatisnya.


'Anj*ng...'


Apa boleh buat, ia tak bisa pulang lagi. Terlebih lagi ada beberapa guru yang sedari tadi menatapnya layaknya predator yang siap menerkam jika ia memutuskan untuk pulang ke rumah.


'Ibuk kejam banget...' lirih Serin dengan air mata buaya.


Dan di sinilah ia berada, di depan pintu kelas 8B tercinta. Lihatlah wajah Serin yang sangat berbunga-bunga ini!


'Berbunga-bunga your head, anj*ng💢💢'


Sembari menghela napas lelah, Serin melangkahkan kakinya memasuki ruang kelasnya. Ia mencari keberadaan ketiga temannya.


'Lah mereka mana?' herannya sambil celingukan kesana kemari.


"Euy, kami di sini" ucap Zin dengan datar. Pasalnya, Serin tak melihat mereka bertiga dari tadi, padahal mereka berada di samping gadis itu.


"Any*ng!" latah Serin dengan suara keras, membuat teman sekelas melihat ke arah mereka.


'Bukan temenku..' batin Zin dan Putri sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Nice." Tak merasa malu, Salsa mengacungkan jempolnya pada Serin, mengapresiasi umpatan teman seper-toxic-annya itu.


Serin menghampiri mereka bertiga. "Tumben kamu duduk di depan, Zin" komentarnya pada Zin yang sedang menggambar di buku sketsanya seperti biasa.


"Disuruh si Rossie, noh." Zin menunjuk lelaki bernama Rossie itu dengan menggunakan dagunya, karena tangannya sedang sibuk menggambar. "Dia nyuruh di depan, padahal aku maunya di belakang."


"Lah, ngapa?" beo mereka.


"Biar bisa nggambar, lah! Apa lagi!" ujar perempuan yang tengah menggambar itu dengan riangnya.


'Iyain aja, deh, kasihan'—Serin, Putri, dan Salsa.


"Eh btw, kenapa kamu nggak duduk?" tanya Zin yang tak lagi pundung.


"Ho'oh. Tuh, si Geo dah nungguin kamu" tunjuk Putri ke arah Geo yang sedari tadi melihat mereka.


"Anj*ng, serem, c*k..." gumam Serin dengan keringat dingin.


"Mangat, Serin." Putri mengepalkan tangannya guna menyemangati teman dekatnya itu.


"Ganbatte, nee!!*" Zin pun juga.


(*Semangat, ya!!)


Salsa menepuk pundak Serin. "Kalau nggak kuat, cukup resign aja dari dunia, oke?" sarannya dengan wajah serius.


Serin menatap ketiga temannya dengan datar. "Kalian semua bener-bener nggak membantu..." dengusnya.


"Idih! Dah disemangatin malah diginiin!" sinis Putri.


"Aku tuh nggak bisa diginiin, Dek..." Salsa mulai menggila.


"Dah, dah, pergi sono. Syuh, syuh!!" Zin mengusir mereka bertiga dari tempat duduknya. "Bentar lagi guru dateng, jangan ngumpul di tempatku. Noh, si Rossie juga udah nungguin kalian dari tadi."


Rossie hanya menanggapi dengan tersenyum jengah. Setelah menunggu selama beberapa menit di sini, akhirnya dia di-notice oleh mereka berempat.


"Ya, ya, serah lu." Mereka bertiga mulai berjalan meninggalkan Zin. "Met duduk bareng Rossie!!"


"Nggak, aku maunya sama Sho-chan" tolak Zin.


Rossie kembali memasang senyum lelah sambil duduk di kursinya yang tadi dipakai Putri untuk duduk. 'Gini amat punya temen...' mirisnya di dalam hati.


.......


.......


.......


.......


.......



.......


.......


.......


.......


.......


Sepanjang pelajaran berlangsung, Rossie selalu mengajak Zin untuk mengobrol, dan tentunya membuat teman sekelas mereka langsung beranggapan bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, padahal bukan.


'Aku maunya sama Sho-chan, bukan sama orang ini'— Zin, si Otaku Akut yang selalu disangga wibu.


'Aku dah punya pacar, maap'— Rossie, seorang anak yang namanya mirip pembalap Motor GP.


Oke, kembali lagi pada topik.


Zin dan Rossie yang tengah diperbincangkan sama sekali tak mempedulikannya. Rossie yang sibuk mengoceh, dan Zin yang tengah memandangi Serin dan Geo yang tersenyum ke arahnya.


'Sejak kapan mereka jadi akrab gitu?' heran Zin sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Tentunya ini adalah hal yang aneh bagi Zin. Serin kan orangnya nole—maksudnya introvert. Dia juga tak pernah berbicara dengan lelaki selain Rossie. Lantas, kenapa Serin dan Geo seakrab itu?


'Hmm... Ini mencurigakan...' batin Zin sambil berpose seperti berpikir layaknya bocah detektif yang sering ia tonton di sebuah anime. 'Dan juga, kenapa mereka senyum-senyum ke arahku?!'


Zin semakin merasa aneh. Diliriknya teman sekelasnya, dan benar saja, mereka juga tersenyum melihatnya, sama seperti Serin dan Geo.


'Mereka ngapain senyam-senyum kayak orang gila gitu, dah?' Zin masih tak paham.


"Ekhem.." Byila berdehem, membuat Zin dan Rossie menoleh ke belakang mereka. "Kalau pacaran jangan di sini, dong."


Zin speechless seketika. 'Oalah, jadi alasan kenapa mereka senyam-senyum itu gara-gara aku ama Rossie?' Akhirnya ia paham juga.


'Aku kan nggak suka sama Rossie, ngapain dijodoh-jodohin terus, sih?' Zin menghela napas, mengabaikan Rossie yang kembali mengoceh padanya.


'Eh bentar, ini tokoh utamanya siapa, sih?!'—Zin.


.......


.......


.......


.......


.......



.......


.......


.......


.......


.......


"Cieeeeee!!!!" Serin memekik penuh rona. "Ada yang pacaran ni, yeee!!"


Zin menghela napas untuk ke sekian kalinya. "Aku nggak pacaran sama yang nyata, Serin. Aku cuma tertarik sama 2 dimensi."


"Affah iyah?"


"Iya, soalnya..." Zin menatap Serin dengan serius, membuat perempuan berkucir rendah itu meneguk ludahnya kasar.


"So-soalnya?"


"Dua dimensi lebih menggoda daripada tiga dimensi 👍🏻!!" ujar Zin dengan aura 'cling-cling' yang menguar.


".....Gak waras" komentar Serin.


"Diem, lu. Kalau kamu nggak menghargai perasaanku yang gila ini, mending ikut Putri sama Salsa ke kantin sono" sungut Zin yang kesal karena Serin meremehkan perasaannya pada para husbunya.


"Dih, baperan."


"Diem, lu, Jomblo."


"Lu juga!"


"Eh btw.." Zin mengalihkan pembicaraan. "Kok kamu malah deket sama Geo, sih?" bisiknya.


"Eh?" Serin terkejut.


"Dari tadi aku lihat, kalian sampai ngobrol bareng, bercanda bareng, sampai ngerjain soal bareng. Kok bisa?" tanya Zin penuh rasa penasaran.


Serin loading sejenak, lalu tersadar. "Lah, iya, ya. Kok bisa, sih? Kan sebelumnya aku takut sama dia. Kok aku malah akrab sama dia, sih?"


"Nah loh, Serin... Hayoloh~ Nanti malah suka sama dia, loh~ Hayoloh~" goda Zin sambil menaik turunkan alisnya yang tebal itu.


Serin tersenyum remeh. "Huh, mana mungkin, lah. Aku dah punya bias, tahu!"


"Susah digapai, skip."


"Anj*ng, lu! Ngapain harus diingetin, coba?!" umpat Serin. "Pokoknya, hatiku cuma buat biasku doang! Titik!"


Kali ini giliran Zin yang tersenyum remeh. "Yang bener? Entar malah kayak Salsa, lho.. Habis kita jodohin dia sama si Nopal, dia malah akrab sama cowok itu. Hati-hati, lho, Rin~"


"Dia kan bocil, nggak kayak aku yang paling tua. Aku nggak bakal suka sama orang nyeremin kayak dia! Nggak bakal!!" Serin menyilangkan tangannya membentuk tanda silang yang besar.


"Hati-hati, kau pasti akan menelan ludahmu sendiri." Zin mengingatkan teman dekatnya itu dengan wajah serius yang jarang ditunjukkannya. Ia kemudian memilih untuk tak membicarakan hal itu lagi.


.......


.......


.......


.......


.......



.......


.......


.......


.......


.......


"Gitu ceritanya, Chiko" jelas Serin pada anjing peliharaannya itu.


"Sejak itu aku terus mikirin wajah Zin yang tumben serius banget waktu dia bilang ke aku terakhir kali itu. Dia orangnya jarang serius. Sekalinya serius, pasti apa yang dia ucapin bakal jadi kenyataan. Dan sekarang malah beneran, dong!! Aku malah suka sama Geo!!"


"Gimana, nih, Chiko?!" Serin memeluk anjingnya itu dengan panik.


"Guk guk!!" balas Chiko dengan bahasa yang sulit dimengerti.


"Oke, aku paham. Aku harus nyembunyiin perasaanku, ya? Oke, oke." Dan anehnya Serin malah memahaminya.


Gadis itu mengangguk pelan. Ia benar-benar sadar bahwa mereka hanyalah teman semata, tak memiliki hubungan yang lebih dekat dari itu. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memendam merasaannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2