Tentang Chiko Dan Kita

Tentang Chiko Dan Kita
"Aku ke Rumahnya Geo, Cuyy!!"


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ting!!


Ting ting!!!


Ting!


Suara-suara notifikasi ponsel itu terdengar dengan keras di sebuah ruangan yang tertutup. Terkadang suara notifikasi itu diselingi kekehan kecil dari seorang gadis.


SarangGeo~❤❤


Jadi gimana, Rin?


Besok mau nggak ke rumahku?


Serin memekik histeris, kemudian mengambil bantalnya untuk meredam pekikan itu. Untung saja kedua orang tuanya sedang pergi, dan di rumah hanya ada kakaknya dan Chiko.


Saat ini Chiko yang berada di kamar Serin hanya bisa menghela napas. Yah, beginilah nasib hewan yang memiliki majikan bucin.


^^^Anda^^^


^^^Buat ngenalin Chiko sama anjingmu, kan?^^^


^^^Mau, dong!! UwU^^^


Balas Serin disertai emot agar Geo tidak memandangnya sebagai perempuan galak.


Hey, gini-gini Serin dianggap galak di kelas, lho! Bahkan menurut rumor kelas 9B, kegalakan Serin hampir menyamai Zin, dan Serin tahu hal itu. Makannya ia menambahkan emot agar dirinya nampak lebih imut.


'Hehe :v'—Serin.


SarangGeo~❤❤


Oke


Kalau gitu, besok ke rumahku, ya


Jangan lupa bawa Chiko


^^^Anda^^^


^^^Siap, Pak Kepala Rumah Tangga!👍🏻^^^


SarangGeo~❤❤


Hah?


Maksudnya?


Serin gelagapan sendiri. 'Anj*ng! Aku salah nulis, c*k! ' batinnya panik. 'Aku harus ngapain, woy?!'


"Serin, ingatlah, kalau kau sedang melakukan sebuah kesalahan, maka carilah penyelesaiannya dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Ingatlah, kita harus percaya bahwa 'The Power of Kepepet' itu benar-benar ada!"


Suara Zin terngiang di kepala Serin. Ia langsung menemukan penyelesaian pada masalahnya—yang sebenarnya bukanlah masalah.


'Sasuga Zin-sama!!'—Serin.


^^^Anda^^^


^^^Lah, kan bener, to?^^^


^^^Kamu kan bakal jadi kepala rumah tangga^^^


^^^Masak jadi bapak rumah tangga?^^^


^^^Ya kali :v^^^


SarangGeo~❤❤


Lah, iya, ya


Aku baru inget, anjir


^^^Anda^^^


^^^Wkwkwkw^^^


Serin bernafas lega di dalam hati. Untung saja Geo sama sekali tak curiga, mengingat anak itu benar-benar tidak peka.


Gadis itu memeluk ponselnya dengan erat sembari menggerak-gerakkan kakinya dengan brutal. Ia terlalu salting!


"Chikooooo!!! Besok kita pergi ke rumah Geo, yuukkk!!" pekik Serin pada anjingnya yang sedang enak-enak tidur.


Chiko yang diteriaki pun kaget. Dengan marah ia menggonggong pada Serin, "Guk guk!!"


"Hehe, ya maap." Yang dimarahi hanya cengar-cengir. "Btw, besok pergi ke rumah Geo, yuk."


"Guk guk guk?"


"Anjir! Aku lupa, c*k! Besok kan les!" Serin menepuk keningnya. "Biarin aja, lah. Kan bisa bolos, hehe."


Kemudian ia membuka group "4 Sekawan" pada AppsWhat dan mengetik sesuatu di sana.


^^^Anda^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^PPPPPPPP^^^


Salsa × Nopal Gembul


Apa, anjir?


^^^Anda^^^


^^^Besok aku nggak les, yach~^^^

__ADS_1


Putri × Fauzan Pentol


Lah knp?


Zin × Sho-chan Gepenk


Biasalah, pasti mau nge-date ama Geo


^^^Anda^^^


^^^Anjayy^^^


^^^Kok tau, Zin??^^^


Zin × Sho-chan Gepenk


Biasalah


Soalnya kamu pasti bicarain tentang Geo.


Dah biasa aku


Putri × Fauzan Pentol


Ish ish ish..


Geo mulu dah


Kpn belajarny?


Salsa × Nopal Gembul


Kpn²


Anjayy


^^^Anda^^^


^^^Ckup tau^^^


Setelah menyelesaikan pembicaraan absurd yang kosakatanya tak sesuai EYD, obrolan mereka pun selesai.


Putri menghela napas karena kelakuan Serin. Ia kemudian memilih untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda—membaca novel.


Salsa juga sama—walau tak menghela napas. Ia memilih untuk memakai kacamatanya—yang lensanya tidak plus, minus, maupun silinder—dan membaca AU.


Zin sama sekali tak mempermasalahkannya. Toh, itu bukanlah urusan yang harus dipedulikannya. Mau ketemuan, kek, mau ngobrol biasa, kek, terserah Serin. Yang penting sekarang tak ada yang mengganggu dirinya dengan anime yang sedang ditontonnya.


Lain halnya dengan teman-temannya yang tengah santai-santai, Serin kebingungan sendiri di kamarnya. Ia sibuk mencari pakaian yang sesuai dengan dirinya untuk bertemu dengan Geo besok.


"Duh duh duh... Bajuku mana?! Kok ngilang semua, nj*ng?!" paniknya. "Mana bajuku kekecilan semuanya lagi! Yang rok nggak ada?! Buset, ngilang kemana?! Chiko!! Kamu nggak gigitin rokku, kan?!"


"GUK GUK!!" balas Chiko tak terima dirinya difitnah begitu saja.


"Terus bajuku kemana, anjer?!"


"Lu ngapain, dah?!" heran sang kakak sambil menyender di pintu kamar Serin dengan tangan yang ia silangkan di depan dada. "Berisik mulu dari tadi. Diem bisa kagak?"


"Yaelah, orang aku cuma mau cari baju doang. Gitu aja disinisin, cih" sinis Serin sambil melirik sang kakak dengan mata tajamnya.


Sang kakak memutar kedua bola matanya dengan malas. "Kalau nyari baju ya pake tangan, bukan pake mulut. Lagian ngapain, sih, pake nyari baju segala? Udah malem ni."


"Buat nge-date ama Geo besok" balas sang adik tanpa menoleh pada kakaknya karena sibuk dengan pakaiannya.


Sang kakak melotot seketika. "HAH?! NGE-DATE?! ELU?! AMA SI GEO?! YANG BENER?!"


Serin menutup telinganya dengan jengah. "Nah loh, sekarang siapa yang berisik" sindirnya. "Sebenernya aku ama Geo nggak nge-date, cuma mau ketemuan di rumahnya doang."


"Buat apa?"


"Noh, dia mau ketemu Chiko." Serin menunjuk hewan peliharaannya—yang tengah tertidur—dengan menggunakan dagunya, karena tangannya sedang sibuk memilih pakaian.


"Hmm.." Sang kakak mengangguk pelan dengan mata yang memandangi Chiko. 'Kayaknya Chiko kecilku jadi pembawa musim semi buat Serin, deh' batinnya tanpa ekspresi.


Kemudian, ia menghela napas. 'Hadeh.. Dasar bocah, main cinta-cintaan segala. Gue yang udah tua bisa apa? Bisanya cuma ngehalu-in husbu. Hadehh...'


....



...


Putri berdecak kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Salsa sibuk mengirim chat pada Serin lewat ponselnya.


Zin terus melihat jam tangannya.


Gladis berulang kali menghela napas dengan pasrah sambil merebahkan kepalanya pada stang motor.


Mereka tengah menunggu orang yang sama yang sialnya masih belum datang. Hey, mereka udah capek nunggu, tahu!


"Serin kemana, anjer?! Lama banget, c*k!" umpat Gladis sambil bangkit dari rebahan di motornya.


"Nggak tau, tu. Si any*ng!" dengus Salsa dengan umpatannya.


"Jaga omongan, kalian cewek" tegur Zin dengan sangat amat jengah akan umpatan mereka yang tak pernah selesai dikeluarkan walau sudah sering ditegur.


"Jangan-jangan yang dia bilang kemarin bener, lagi?" pikir Putri sambil menatap mereka.


"Ha? Emang dia ngomong apa?" tanya Gladis yang tak tahu apa-apa.


"Dia nge-date ama si Geo" sinis Salsa.


"HEH?!" Gladis memukul stang motornya sendiri dengan keras. "Coc*te!"


"Gladis, omonganmu!"


Putri menghela napas sambil mengangkat bahunya acuh. "Biasalah, orang lagi kesengsem mah emang gitu" cueknya.


"Ya udah, lah, mending masuk dulu aja." Gladis turun dari motornya dan memasuki pintu les yang terbuka.


'Serin any*ng'—Salsa.


'Malah nge-date ama ayang. Lah gue kapan?!'—Gladis.


'Astagfirullah... Jangan mengumpat pada Serin... Dia temanmu.. Biarkan dia bahagia pada dunianya sendiri... Astagfirullah..'—Putri.


'Nanti bikin makanan apa? Aku laper... Apa aku beli jus jeruk aja, biar bisa keinget terus sama Sho-chan? Hm... Leh ugha...'—Zin.


.


.


.


.


.



.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Geo sibuk menatap jam tangannya sambil sesekali menyesap teh hangatnya. Ia tengah berada di teras rumahnya, duduk di sebuah kursi dari anyaman rotan dengan berbagai jenis makanan di atas meja yang berada di depannya.


Di sampingnya terdapat sebuah anjing husky kecil yang tengah duduk sambil memakan makanannya. Husky kecil itu berulang kali menggoyangkan ekornya, pertanda bahwa ia sangat menyukai makanan itu.


Sang ibu yang melihat anaknya berada di luar pun menghampirinya. "Kamu ngapain di sini? Tumben keluar?"


"Oh, nungguin temen" balas Geo menoleh ke arah ibunya.


"Ngapain?"


"Mau main sama anjingnya."


"Cewek apa cowok?"


"Cewek."


Mata sang ibu memicing seketika. "Namanya?"


"Serin."


Matanya yang semula tajam pun menjadi melembut. "Oalah, Serin yang selalu kamu bicarain itu, toh? Ya udah, pokoknya nanti kamu nyuruh dia buat habisin makanannya, oke?"


Geo mengangguk tanpa berkata sepatah pun. Kemudian, sang ibu memasuki rumah mereka, meninggalkan anaknya yang masih menanti kedatangan Serin.


'Serin mana, sih? Kok belum dateng juga?' pikir lelaki itu sambil mengelus-elus kepala anjing husky-nya.


"Geoooo!!!!" Serin dan Chiko berlari memasuki pekarangan rumah Geo. "Ma.. Maap baru.. Hah.. Da.. Dateng... Hah... Hah... Ta... Tadi... Chiko.. Minta... Hah... Makan dulu... Hah..." ucapnya terengah-engah.


Geo berdiri dan menghampiri Serin. "Dah, jelasinnya nanti aja. Duduk dulu, mumpung udah kusiapin makanan" ucapnya lembut.


Hati Serin letoy seketika. Ingin rasanya berteriak, namun harus ditahan karena menjaga image. Apalagi ini adalah rumah Geo, bisa saja orang tuanya ada di rumah dan sedang mengawasi mereka.


"A-ah, ma-makasih.." balas Serin terbata-bata dengan blush di pipinya. 'Geo gentle bangettt!! KYAAA!!!'


Chiko mendengus kasar, sungguh bosan rasanya terus menerus melihat majikannya dimabuk asmara seperti ini. Mana ia tak diajak ngobrol lagi.


"Woff!!" Suara anjing membuat atensi Serin dan Chiko teralihkan. Mereka melihat seekor anjing husky kecil yang menggonggong di dekat Geo.


"Dia siapa? Anjingmu? Lucu bangeettt!!" Serin menutup mulutnya karena tak tahan dengan keimutan anjing husky itu.


"Iya, dia anjingku yang aku bicarain." Geo jongkok dan mengelus kepala anjing itu. "Namanya Chika."


"Hah? Chika?" beo Serin, kemudian melihat ke arah Chiko. "Namanya mirip Chiko, yah."


"Guk!" angguk Chiko.


"Makannya itu, kan kebetulan banget." Geo terkekeh kecil. "Nah, sana main sama Chiko. Jangan sampai keluar ke jalan raya, ya!"


"Woff!!" girang Chika sambil menghampiri hewan peliharaan Serin. "Woff woff!!" Ia memutari Chiko sebanyak beberapa kali.


"Kaing...." Chiko melirik ke arah Serin. Ia bingung harus ngapain.


"Sono, main baik-baik. Jangan gigit dia" usir Serin secara tak langsung.


Kemudian kedua majikan itu duduk di kursi yang sudah disiapkan sebelumnya. Geo memandangi kedua anjing yang sedang bermain itu—walau sebenarnya hanya Chika yang bermain dengan riang.


".....Kayaknya Chika suka sama Chiko, deh" ucap Geo.


"Hah?" Serin mengikuti arah pandang Geo. Ia melihat Chika yang sedang berlarian di sampimg Chiko, semetara anjing jantan itu hanya diam dengan kalemnya. "....Kayaknya iya."


Geo terkekeh kecil. "Kalau Chiko sama Chika dijodohin, kita bakal jadi besan, dong" ucapnya asal.


Serin langsung memerah. 'Ka-kalau mereka dijodohin, be-berarti, aku punya alasan buat datang ke rumahnya Geo terus, dong?!' pikirnya. "Bo-boleh juga."


Balasan Serin membuat Geo menoleh ke arahnya, membuat gadis itu gelagapan seketika.


"Ma-ma-maksudku, Chi-Chiko kan udah agak tu-tua, ka-kalau dia masih jomblo kan kasian. Ma-makannya aku tadi bi-bilang kayak gitu. Bu-bukan berarti aku mau nikahin mereka berdua!! Ja-jangan salah paham!!" elak Serin dengam gugupnya.


"......" Geo melongo sebentar. "Pfftttt—Buahahahahaha!!"


"A-apanya yang lucu?!"


"Nggak... Aku cuma ngetawain sifatmu yang tsundere kayak waifu-ku.. Pfftt—maap, maap..." Geo mati-matian menahan tawanya karena takut diamuk oleh Serin.


Sementara itu, gadis yang sudah memerah sedari tadi tambah memerah. 'Ukh.... Geo kalau ketawa damage-nya nggak ngotak... Sial...'


Chiko menatap mereka dengan tatapan datar, mengabaikan Chika yang terus bermain dengan ekornya. 'Dasar manusia bucin' pikirnya dengan jengah.


"Dah, dah, mending kamu makan dulu" usul Geo sambil menunjuk makanan yang sudah ia persiapkan.


"O-oke, makas—eh? Kok kamu beli makanan-makanan ini?" Gadis itu bertanya dengan penasaran.


"Kenapa? Kamu nggak suka sama makanannya, ya?" Nampak kesedihan tersirat dari balik kata-kata Geo.


"Bukan kayak gitu!! Justru aku sukaa banget sama semua ini!! Suer!"


Geo menghela napas lega. "Gitu, ya.. Untung aja kamu suka... Kemarin Zin ngasih tahu ke aku makanan apa aja yang kamu suka, makannya kubeliin, deh."


Serin dalam hati sudah sujud syukur. 'Ziinnn!! Kamu adalah sohib terbaikku!! Makasih, Mak Comblang kami!!!'


'Sama-sama 👍🏻'—Zin.


Serin pun mengambil sebuah makanan dan memakannya. Hatinya berbunga-bunga seketika. Memakan makanan favoritnya bersama dengan orang yang disuaki benar-benar membuat hatinya menghangat!


'Huwaa... Untung aja ada Chiko yang mempertemukan kami berdua.. Untung aja ada temen-temenku yang selalu mendukungku sama Geo.. Untung aja aku bisa ketemu sama orang yang aku sukai... Kayaknya, hidup ini nggak begitu buruk, deh...'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2