Tentang Chiko Dan Kita

Tentang Chiko Dan Kita
"Cool, kayak Thomas Slebew~"—Gladis


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


KRIIIINGGGG


Bel sekolah berbunyi dengan kerasnya, menandakan bahwa pelajaran hari ini telah selesai. Murid-murid 9B dengan semangat 45 langsung memasukkan barang bawaan mereka ke tas masing-masing.


Guru yang mengajar pun seketika speechless. Padahal saat ia menerangkan pelajaran, sebagian murid tidur. Ada yang masih mendengarkan, ada yang setengah mendengar, ada yang sibuk menghalu, sibuk memandang pujaan hati. Ada juga yang sibuk menggambar karakter fiksi.


Mereka seolah tak memiliki semangat untuk mendengarkan guru yang mengajar. Tapi, setelah bel pulang berbunyi, murid-murid yang tidur seketika terbangun dari tidur panjang mereka.


'Inilah kekuatan maha dahsyat dari bel pulang sekolah'—Guru.


Setelah semuanya memasukkan barang bawaan mereka ke dalam tas, Geo selaku ketua kelas membimbing jalannya doa.


"Berdoa selesai! Siap, gerak!"


Seluruh murid 9B termasuk Geo berdiri, begitu pula dengan guru yang mengajar.


"Kepada Pak Guru, hormat, gerak!"


Mereka sedikit membungkuk.


"Tegap, gerak! Beri salam!"


"Selamat siang, Paaakk~" ucap mereka bersamaan.


Setelah Pak Guru keluar, mereka berbondong-bondong keluar dari kelas. Serin yang hari ini ada jadwal piket pun menaruh tasnya di atas kursi yang telah di angkat ke atas meja.


Serin mengambil sapu dan Zin—yang juga piket—menaikkan kursi-kursi ke atas meja. Putri dan Salsa yang jadwal piketnya berbeda dengan mereka memilih untuk membantu menyapu.


"Inilah indahnya pertemanan."—Serin.


"Emang kamu temenku?"—Salsa.


"Bukan, dia ibumu."—Putri.


"Ingat, ya, Adik-Adik, kita harus melestarikan sikap setia kewan."—Zin.


Belum sempat mengambil sapu, ucapan Geo menginterupsi Serin dan ketiga temannya.


"Eh, Rin, nanti jangan pulang dulu. Ada yang mau aku bicarain" kata Geo tak kenal tempat.


"E-EH?!" Serin menoleh dengan wajah memerah.


Di sampingnya terdapat Salsa yang kaget. "ANJER?!"


"B-beneran, nih? (0////0)" kaget Putri dengan tangan yang ia letakkan di depan mulutnya.


"Oya? Oya oya?" Zin juga melakukan hal yang sama seperti Putri.


"Oya oya oya~" sambung Gladis yang entah mengapa malah balik lagi ke kelas, padahal seharusnya ia sudah berada di parkiran sepeda.


Perkataan Geo tentu saja membuat sekelas ricuh. Kelas yang tadinya sepi karena yang lain sudah pada pulang, sekarang kembali lagi. Seolah ucapan Geo membuat murid 9B terpanggil untuk balik lagi ke kelas.


Teman-teman Geo melongo kaget, sama sekali tak menyangkanya. Sirkelnya Byila juga sama. Teman-teman sekelas shock, mereka melongo.


"Ngapa? Ada yang salah?" tanya Geo tak peka.


Serin semakin memerah dibuatnya. 'Haduh haduh haduhhhh... Gimana kalau yang lainnya tau kalau aku sebenarnya suka sama Geo?! Gimana kalau aku ternyata malah dilabrak lagi kayak dulu? Haduh haduh haduhhh......' Ia panik sendiri.


Putri dan Salsa sibuk menenangkan Serin yang mendadak panik, sementara Gladis menertawai mereka.


Zin tersadar akan sesuatu dan kemudian menepuk keningnya. 'Aduh! Aku lupa! Pasti kelompoknya Byila bakal gosipin kami lagi! Atau kalau nggak.. Mereka bakal menginterogasiku! Hadeeehhh.... Geo nyebelin!' batinnya frustasi.


"Geo, kamu serius mau ngobrol bareng Serin habis ini?" tanya Byila dengan penasaran.


"Ho'oh" angguk Geo. "Emang kenapa?"


"Ya nggak papa, sih...." Byila melirik ke arah Serin yang masih memerah, membuat Zin yang berada di dekat Serin memicingkan matanya.


"Aku cuma takut kalau ada guru BK yang lewat, terus malah jadi salah paham" imbuh Byila sambil memalingkan wajahnya ke arah lain karena ia ditatap oleh Zin.


"Tenang aja, cuma bentar doang, kok" ucap Geo yang masih tak paham akan situasinya.


Zin kembali menepuk keningnya. 'Kenapa dia malah nggak peka, sih?! Geo kan pinter, kok malah kayak gini?!' batinnya penuh kekesalan.


Putri memberanikan diri untuk bertanya, "Emang mau ngapain?"


Ucapan Putri tentunya mengundang atensi dari teman sekelas, membuat gadis itu terlonjak kecil.


'Me-mereka seremm!!!' Karena takut melihat tatapan mereka, Putri mundur dan berdiri di belakang Zin yang notabenenya adalah orang yang 'paling tangguh' di antara mereka.


'Kok malah sembunyi di belakangku, sih?!' protes Zin.


'Ya maap, hehe. Kan kamu yang berani.'


Geo yang mendengar pertanyaan Putri mengangkat sebelah alisnya. "Ngapain tanya? Itu bukan urusanmu" ucapnya dingin.


Serin langsung deg deg serr. 'Geo cool abis, gilakk!!'


Zin menghela napas lelah. "Putri tanya kayak gitu gara-gara takut kalau ada salah paham. Masak cewek sama cowok berduaan di satu tempat yang sama, nggak ada orang lain lagi. Mesti bakal bikin orang yang liat jadi salah paham, kan?" jelasnya.

__ADS_1


Putri dan Salsa mengangguk setuju. Mereka tak berani berkomentar karena terlalu takut berdebat dengan Geo.


"Nggak bakal ada yang salah paham" dengus Geo.


"Oh ya?" Zin menaikkan alisnya, menunjukkan keraguannya. "Apa kau yakin?"


Gladis langsung merasa tertarik. 'Asik, debat langka, cuyy!! Si "Mamah 9B" melawan "Om-Om 9B"!! Harus diabadikan!!' hebohnya.


"Kelas kita ini deket sama kantor guru. Apalagi guru BK sering mondar-mandir lewat depan kelas kita. Kau yakin nggak ada yang liat? Kalau murid sih, emang jarang yang lewat sini. Tapi kalau guru sering" kata Zin sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Dan bahkan, saat ini pun kau telah membuat kami semua salah paham. Lihatlah sekelilingmu!" Zin menunjuk ke arah teman-teman mereka.


Geo melihat sekeliling dan sontak tersadar. Bagaimana ia lupa kalau ini adalah sekolah?! Apalagi teman-temannya tengah menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.


"Kalau kau ingin menciptakan kesalahpahaman, bukan di sini tempatnya. Serin bukanlah orang yang dapat digunakan sebagai kambing hitam dalam suatu kesalahpahaman" tutur Zin lagi dengan dagu yang ia naikkan serta tatapan dingin.


'Like a boss, yeah!' kagum Salsa sambil mengangkat jempolnya.


Putri bertepuk tangan. 'Ibuk keren banget!! Ibuuukk!!'


'Cool kayak Thomas Slebew~' angguk Gladis.


Serin tertegun. 'Geo emang cool... TAPI ZIN LEBIH COOL, ANJAY!! ADEK GUA COOL BEUD, GILA!!'


"Wuish, Zin GG abis, cuy! Berani lawan Geo!" seru Rehan dengan kerasnya.


"Namanya juga emak-emak" sahut Zaki.


"Kayaknya bapak kita yang satu ini tengah bangga pada anak perempuannya yang berhasil memukul mundur om-om yang satu itu" komentar Rozan sambil menunjuk Zaki.


"Kagak, anjir!" protes Zaki yang tak mau disebut sebagai bapak dari Zin.


Sementara itu, Geo termenung memikirkan perkataan Zin. Apa yang gadis itu katakan memang benar. Bisa dibilang Geo adalah orang yang populer di sekolah. Jika ia ketahuan sedang berduaan dengan Serin, bisa saja gadis itu terkena imbasnya.


Namun, bukan itu saja masalahnya. Jika Serin sampai terkena imbasnya, maka Zin dan yang lainnya pasti akan bergerak. Zin, Putri, dan Salsa memanglah orang-orang yang pasif. Tapi, sekalinya mereka bertindak, tak ada yang dapat menghentikannya.


Semua orang tak dapat berkutik saat terkena "ulti" dari mereka bertiga. Terlebih lagi, guru-guru mengenal mereka sebagai anak yang "baik", dan pastinya akan mendapat dukungan penuh dari para guru.


Mereka berempat selalu menjaga satu sama lain. Jika ada salah seorang di antara mereka terkena suatu masalah, maka yang lainnya akan menolong.


'Karena kami setia kewan' batin Zin sambil mengangguk bangga. 'Tapi bentar, kenapa... Kenapa mereka semua liatin aku kayak gini?!'


Gadis dengan bros di kerudungnya itu panik setengah mati. Pasalnya teman-teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ada yang melongo, ada yang kagum, ada juga yang memandangnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


"Untuk kali ini, aku setuju sama ucapan Zin" ucap Byila, membuat atensi mereka tertuju padanya. "Kelas kita juga akan dipandang buruk kalau kamu ngelakuin hal itu, Geo. Kamu ketua kelas, jadi harus tahu apa yang harus dilakukan, kan?"


Zin sweatdrop. 'Tadi dia bilang apa? "Untuk kali ini"? Berarti, biasanya dia nggak setuju sama aku? Buset' batinnya.


"Mending kalau mau ngomong sesuatu, chat aja lewat AppsWhat, kan lebih gampang" usul Putri dengan takut-takut sambil meremat baju Zin dari belakang.


'Anak ini agak-agak...' Zin kembali sweatdrop. 'Sesekali jangan takut, lah.'


'Kayak ibu anak, cuy' batin Rehan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya saat melihat Zin dan Putri.


Kemudian, suasana pun menjadi sunyi. Mereka semua diam, termasuk Serin dan kawan-kawan. Mereka saling berbicara di dalam hati masing-masing.


'Lewat ApssWhat kan bisa (¬_¬)' dengus Salsa.


'Lah?! Kok lu denger?!'


'Kita punya ikatan batin.' Salsa menepuk pundak Serin. 'Kita kan ibu anak..'


Tak tahan dengan kesunyian ini, Zin pun menjadi kesal. "Heh! Kalau nggak ada kerjaan, mending pulang sono! Kami mau piket! Pergi!! Syuh!" sentaknya.


Teman sekelas mereka berdecak kesal. Padahal mereka ingin mendengar debat antara Zin dan Geo yang amat epic itu, tapi malah diusir.


Yah, mau gimana lagi. Melawan emak kan dosa.


Kemudian, mereka pun pulang ke rumah masing-masing, menyisakan regu piket hari Sabtu serta Putri dan Salsa.


"Hadeh... Dasar bocah" hela Zin sambil memegangi kepalanya.


"Kau cool banget, Zin!" seru Rossie dari ujung kelas. "Tadi itu kayak bukan kamu aja!"


"Ho'oh bener!" Salsa mengangguk setuju. "Kayak lagi liat macan buas!"


"Heh, sembarangan💢" kesal Zin.


"Lha tapi bener, anjir. Aku ampe takut" nimbrung Zaki sambil mengangkat kursi-kursi.


"Like a boss, yeah" timpal Serin sambil bergaya.


"Ya ya ya, terserah." Zin memilih untuk diam saja. Tak ada gunanya menasehati anak-anak bandel seperti mereka.


"Yang sabar, ya, Buk" kata Putri sambil menepuk pundak Zin.


"Emang, ya, yang waras di sini cuma Putri" gumam Zin yang dapat didengar oleh Serin dan Salsa.


"Aku juga waras, kok" ucap Salsa cengengesan.


"Iya, kamu waras. kalau di depan orang tuamu" ulti Zin sambil tersenyum remeh.


"Anj*ng."


"Heh! Bahasamu!"


.......


.......


.......


.......


.......



.......

__ADS_1


.......


.......


.......


.......


Hari sudah semakin siang. Sekarang sudah hampir jam 2, tapi Zin belum juga dijemput. Ketiga bocah—Serin, Putri, dan Salsa—sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya ia yang belum.


'Bapak mana, dah? Tumben belum jemput. Lagi tidur di lampu merah, kah?' herannya sambil melihat sekeliling.


'Padahal Bapak biasanya udah duduk sambil bertapa di sana, tapi sekarang nggak ada' batinnya lagi sambil melihat batu besar yang ada di belakang lapangan basket.


'Haahh... Ya udah, lah. Mending duduk sambil mikirin doi aja' finalnya, lalu kemudian ia duduk lesehan di atas lantai di depan lobby sekolah.


Semilir angin yang menerpanya membuat Zin menutup kedua matanya sembari menikmati. Suasana ini mengingatkannya pada masa-masa SD dulu, dimana ia menemukan orang yang masih ia cintai sampai saat ini.


Zin membuka matanya lagi sambil bermonolog, 'Dia sekarang dimana, ya? Lagi apa? Apa dia sehat? Dia masih inget aku nggak, ya?'


Pikirannya penuh dengan sosok 'itu' yang berhasil mencuri hatinya hingga sekarang dan belum pernah dikembalikan.


Sayangnya, saat ia mengingat tentang pujaan hati, ada empat orang perempuan yang mendekatinya.


"Zin, bisa bicara sebentar?" tanya salah satu dari mereka.


Zin tersentak dengan wajah memucat. 'Aduh, mati akuu...'


.


.


.


.


.


Di dekat kamar mandi kelas 9.....


"Jadi..... Kalian mau bicara apa?" tanya Zin dengan was was. Jangan lupakan keringat yang menetes dari pelipisnya.


"Serin... Suka Geo, ya?" tanya orang itu dengan senyuman.


"Haha... Kamu bilang apa, sih...." Zin tertawa hambar pada orang yang ada di depannya. "...Byila?"


Orang itu, Byila masih tersenyum ke arahnya. "Cukup katakan yang sejujurnya, Zin."


"Haahhh... Serin nggak suka sama Geo, tahu" hela gadis berkerudung itu. 'Bukan suka, tapi dah bucin.'


"...." Byila sepertinya tak mempercayai ucapan Zin. "Nggak papa, bilang aja. Aku tahu kamu itu orang yang jujur."


Zin kembali menghela napas. "Kan aku dah bilang, Serin nggak suka sama Geo. Dia sukanya sama idol Korea. Emangnya Geo mirip sama idol Korea? Nggak, kan?" ucapnya jengah.


Byila dan sirkelnya masih meragukan ucapan Zin, membuat gadis itu kembali menghela napas. "Lagipula, emangnya Serin pernah nunjukin rasa sukanya ke Geo? Dari dulu kan dia nggak pernah deketin Geo" imbuhnya lagi.


".....Serin emang nggak pernah deketin Geo, tapi kenapa tadi waktu piket, dia nge-blush waktu Geo bilang mau ngobrol sama dia?" tanya Byila dengan curiga.


'Ah.. Sudah kuduga..' batin Zin. "Yah, aku nggak mau bicarain ini, sih. Tapi, mau gimana lagi." Ia menggaruk bagian belakang kepalanya. "Serin itu nggak pernah digituin sama cowok, makannya dia agak salting. Tamat."


Byila tertegun. "Huh?"


"Iya, aku jujur" angguk Zin meyakinkan Byila. Ia benar-benar jujur, walau rasanya ia seperti sedang membicarakan aib teman dekatnya.


'Jangan salahin aku, Rin. Aku kan emang selalu keceplosan, hehe...'


Walau masih meragukan kebenaran dari perkataan Zin, Byila tetap mengangguk. "..Oke."


"Udah, kan? Aku mau pulang dulu. Takutnya bapakku udah nungguin, kasihan dia" ucap Zin sambil berlalu pergi. "Oh iya." Ia menghentikan langkahnya. "Kami nggak ada motif untuk berperang dengan kalian. Jangan ganggu teritorial kami. Lagipula, kalau kami menyukai seseorang, kami hanya akan mengaguminya dalam diam."


Setelah mengatakan itu, Zin pergi menjauhi mereka berempat tanpa menoleh sedikitpun.


"....Dia itu apa-apaan, sih?" dengus salah satu sirkel Byila.


"Kesannya kayak sombong nggak, sih?" imbuh yang lain.


"...Menurutku sih nggak." Nia, salah satu murid dengan ranking 5 besar di kelas menunjukkan ketidaksetujuannya. "Dia cuma mau meluruskan kesalahpahaman kita dan membela Serin. Itu aja. Lagipula, kalau dia emang sombong, ngapain dia ngobrol tentang hal random sama aku dan Via?"


Mereka tertegun. "...Iya, ya. Aku nggak pernah lihat Zin nggak berkomunikasi sama yang lain, sih.."


"Menurutmu gimana, Byila?" Nia bertanya pada temannya.


"...Kurasa dia ngomong apa adanya" balas Byila. "Dan kita juga tak memiliki motif untuk berperang dengannya, karena kita dan mereka sama-sama melakukan simbiosis mutualisme. Mending kita nggak mengusik mereka."


Ketiga temannya pun mengangguk pelan. "Oke.."


Byila menengadah, menghadap hamparan langit berwarna biru yang cerah. 'Zin dan teman-temannya... Aku tak pernah bisa menebak isi hati mereka... Akan lebih baik kalau kami tak mengusik mereka..'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2