
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Chiko!!"
Yang dipanggil menoleh. "Guk?"
"Hehe, lihat, nih!" Serin mengeluarkan ponselnya dan menampilkan wajah seorang lelaki berbadan besar di hadapan anjing peliharaannya. "Geo ganteng, kan??"
"Guk guk?"
"Iyaa! Ini yang namanya Geo!!"
"Guuk."
"Heh! Dia ganteng, tau!!" sungut Serin penuh kekesalan.
"Guk guk! Guk!!" protes Chiko.
"Hah? Kamu lebih ganteng daripada Geo? Huh, ya nggak, lah! Geo lebih ganteng daripada kamu, tahu!!" sewot Serin sambil berkacak pinggang.
"Guk!!"
"Geo lebih ganteng!!"
"Guk!! (Aku!!)"
"Geo!!"
"Guk!! (Aku!!)"
"Geo!!"
"Guk!! (Aku!!)"
"Ge—"
"Udah, woy, kapan selesainya?💢💢" Kakak Serin memandang mereka dengan datar dan penuh kekesalan. "Mau ke sekolah apa nggak, sih? Daritadi nyolot terus ama si Chiko."
"Salahin Chiko, lah, Mbak! Dia bilang Geo nggak ganteng!" tunjuk Serin ke arah hewan peliharaannya itu.
"Guk?! Guk?? Guk guk!! (Hah?! Aku?? Kagak!! Bukan aku!!)" bela Chiko pada dirinya sendiri.
"Dah, dah. Cepetan ambil tasmu. Bentar lagi kita berangkat." Dengan cueknya, sang kakak pergi meninggalkan Serin dan Chiko yang masih berdebat.
"Awas, lu, Anjing! Gue tandain, lo!" ancam Serin dengan mata tajamnya.
"Guk guk! Guk guk guk!! (Gue ga takut! Terus, gue bukan anjing, tau!)"
"Lu itu anjing, njir! Sadar diri ngapa?"
"Guk... Guk guk.. (Lah, iya juga, ya. Aku kan anjing)" Chiko merenung sebentar.
"Akhirnya lu sadar diri juga" dengus Serin yang sedang keluar dari kamarnya sambil menggendong tas. "Aku pergi dulu, jangan kangen!"
"Guk guk!! (Idiihh! Siapa yang kangen? Mana ada, lah!!)"
Tanpa mempedulikan perkataan (?) hewan peliharaannya itu, Serin berjalan menghampiri kakaknya yang sudah berada di atas motor. Sembari melambaikan tangan, mereka keluar dari rumah untuk pergi ke sekolah.
Chiko mengikuti kepergian mereka hingga ke pagar. Ditatapnya punggung Serin yang semakin menjauh. Entah mengapa ia merasa majikannya itu tak seperti dulu semenjak kedatangan Geo di hati gadis itu.
"Ziiinnnn!!!!" Serin memekik histeris dari pintu kelas 9B yang mereka tempati.
Teriakan yang cetar membahana itu tentunya mengundang perhatian dari teman-teman sekelas mereka. Serin yang sama sekali tak mempedulikannya pun sibuk menghampiri Zin yang sedang menggambar di tempat duduknya.
"Kenapa? Heboh banget" tanya Zin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sketsa yang sedang digambarnya.
"Hehe.." Serin nyengir kuda, lalu meletakkan tasnya di bangku yang berada di samping Zin dan duduk di sana.
"Pst, Serin!" bisik Putri yang duduk di depan bangku Serin. "Si Byila tadi liatin kamu sambil sinis!"
Serin melirik ke arah Byila yang sedang menatapnya sinis sambil bergosip dengan teman satu sirkelnya. Serin tahu kalau mereka sedang membicarakannya.
"Dah, mending lupain aja. Nggak ada gunanya mikirin si pick me girl kayak dia" ucap Zin dengan cuek sambil terus menggambar.
Serin dan Putri mengangguk dalam diam. Sejak mereka berada di kelas 8, Byila memang seperti itu. Bahkan di kelas 9 ini ia masih tetap seperti itu, walau sekarang jauh lebih parah daripada dulu.
"Yah, mau gimana lagi. Semakin kita mengenalnya, semakin kita tahu sifat aslinya, kan? Kalau dulu dia masih bisa menyembunyikannya, tapi sekarang udah nggak lagi" kata Zin dengan bijak.
"Tumben bijak, biasanya nggak" celetuk Salsa yang duduk di depan Zin.
"Tumben peduli, biasanya nggak niat nimbrung" balas Zin lagi, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sketsanya tentunya.
"Ho'oh, bener. Biasanya sampai sekolah langsung tidur" angguk Putri melirik ke arah Salsa.
"Anj*ng" umpat Si Paling Pendiam itu. "Btw, Rin, kamu tadi ngapain teriak-teriak gaje kayak tadi? Suaramu keras banget, tahu, kayak toa masjid."
"Yang penting nggak kayak cicak kejepit" sindir Zin pada Salsa.
"Anj*ng lu, Zin💢💢."
"Eh eh eh, kalian tahu, nggak? Tadi malam aku mimpiin Geo, dong!!" seru Serin dengan antusias.
__ADS_1
"Ssstt! Jangan keras-keras, nanti kalau sirkelnya Byila denger gimana? Bisa mampus kamu" tegur Putri sembari melirik Byila yang untungnya masih mengobrol dengan temannya.
"Mimpiin dia lagi? Nggak salah, nih?" dengus Zin sembari memangku dagunya pada tangan kanannya. "Perasaan setiap hari kamu mimpiin dia terus, dah."
"Makannya itu!!" Serin menunjuk-nunjuk Zin dengan semangat. "Berarti kan itu tandanya kalau kami emang berjodoh!! Kyaa!!"
"Berjodoh sama siapa? Afgan?" goda Salsa sambil menaik turunkan alisnya.
"Huek! Ogah!" sungut Serin dengan pelototan. "Hatiku cuma buat Geo doang, anj*ng!"
"Yah, barangkali mau sama si Afgan, Rin" ucap Zin yang sudah kembali fokus pada buku sketsanya.
"Ogah banget" decak Serin sambil menyilangkan kedua tangannya. Padahal tadi mood-nya sudah bagus, tapi karena mendengar nama Afgan, ia langsung badmood.
Afgan adalah lelaki dari kelas 9F yang selalu mencari kesempatan untuk dapat mengobrol dengan Serin melalui chat. Segala topik akan dibahasnya demi dapat berbincang dengan Serin.
Afgan memiliki tinggi yang tak kalah dengan Geo. Kulitnya kecoklatan dengan tubuh yang besarnya sama dengan Geo. Afgan dan Serin selalu dijodoh-jodohkan oleh Zin, Putri, dan Salsa karena mereka sering berpapasan secara kebetulan.
Kelas 9B dan 9F berlawanan arah. Dari lobby, kelas 9B berada di jalur kanan, sementara 9F di jalur kiri. Kelas 9B dan 9F berseberangan, hanya dibatasi oleh lapangan tengah saja.
Di sekeliling kelas terdapat banyak tanaman, baik pohon maupun tumbuhan berbunga indah.
......(Ilustrasi denah)......
Walau kelas mereka berlawanan arah, mereka sering bertemu satu sama lain di berbagai tempat di sekolah. Dan saat mereka saling bertemu, Afgan pasti melirik Serin dengan malu-malu. Ketiga teman Serin adalah saksinya.
"Daripada Afgan, mending Geo" ujar Serin tak bisa diganggu gugat.
Putri dan Salsa mencibir, "Huuu!! Nggak seru!!"
"Biarin" sahut Serin dengan cueknya. "Lagipula, aku udah sering banget mimpiin Geo, buat apa mikirin Afgan?"
"Nanti kalau kamu disakitin Geo alhamdulillah" ujar Zin tanpa filter.
"Jahat amat, dah!" sewot Serin. "Geo nggak mungkin kayak gitu!!"
"Sssstt!! Ntar ada yang denger!!" peringat Putri dengan was was.
"Iyain, deh, Rin.. Iyain.." Memutuskan untuk diam, Zin kembali fokus pada gambarnya.
Salsa dan Putri duduk di bangku mereka masing-masing. Serin juga duduk sambil memandangi Geo yang sedang bercengkerama dengan teman-teman lelakinya.
Senyum simpul terbit di bibir Serin. 'Geo ganteng banget.... Kapan aku bisa deket sama dia kayak dulu, ya?....'
Zin mengerutkan alisnya sembari menatap Serin yang tak henti-hentinya memandang Geo. Gadis berambut diikat rendah itu tersenyum simpul melihat pujaan hatinya yang sedang bersenda gurau dengan teman semejanya.
Zin menjadi risau, pasalnya Serin sama sekali belum mengerjakan tugas yang guru berikan dan malah menghabiskan waktu untuk memandang Geo.
"Rin, udahlah, cepet dikerjain tugasnya" tegur Zin sambil menggoyang-goyangan tubuh Serin, agar yang dipanggil mendengarnya.
"Geo.... Ganteng banget..." gumam Serin dengan penuh rasa suka.
"Riin, cepetan kerjain.. Nanti Bu Guru malah marah sama kamuu" tegur Zin sekali lagi.
"Hehe... Ganteng banget...." Serin masih tak mendengarkan perkataan Zin.
"Ri-Rin!! Cepetan kerjain! Bu Guru lagi jalan ke sini!! Rinn!!" Dengan panik Zin menggoyang-goyangkan tubuh Serin yang masih tak sadar. 'Waduh, Bu Guru makin deket, nih. Matilah kami....'
"Serin ngapain bengong?" tanya Bu Guru sambil memandang Zin dan Serin. Pertanyaannya mengundang perhatian seluruh teman sekelas.
"A-ahaha.. Se-Serin sakit, Bu... Makannya dia kayak gini.. Ahahaha..." balas Zin sambil tertawa hambar. Ia terpaksa berbohong untuk saat ini.
'Serin sakit?' Putri dan Salsa yang mendengarnya mengangkat sebelah alis mereka dengan heran, tatapan mereka seolah meminta penjelasan pada Zin.
'Nanti aja aku jelasin' kata Zin di dalam hati seolah menyadari rasa heran dari kedua temannya.
"Kalau sakit kenapa dia nggak di UKS aja?" tanya guru itu.
Zin meneguk ludahnya dengan kasar. "Soalnya..... Dia..... Masih mau di sini, Bu, haha..."
Putri dan Salsa menepuk kening mereka saat mendengar jawaban itu. 'Kenapa jawabannga nggak ngotak gitu?!' protes mereka.
'Aku nggak kepikiran alasan lain, woy!!' sungut Zin.
"Hmmm...." Guru itu menatap Zin lekat-lekat, membuat yang ditatap ketakutan setengah mati. "Kamu udah selesaiin tugasnya?"
"Su-sudah, Bu." Zin menyodorkan buku tulisnya yang penuh dengan jawaban dari tugas yang diberikan Bu Guru tadi.
"Oke, bagus" angguk Bu Guru, membuat Zin menghela napas lega.
Dong deng donggg!!
Saatnya jam kelima dimulai.
It's time to begin the fifth lesson.
Dong deng donggg!!
Bel telah berbunyi, menandakan bahwa jam Bu Guru di kelas itu sudah berakhir.
"Nanti tolong bawa Serin ke UKS, takutnya dia tambah parah kalau ikut pelajaran" kata Bu Guru pada Zin.
"Baik, Bu."
Setelah Bu Guru keluar dari kelas, Putri dan Salsa langsung bertanya pada Zin, "Tadi itu kenapa, sih?"
"Nanti aja aku ceritain, ada banyak orang yang liatin" balas Zin melirik sekelilingnya.
Putri dan Salsa menelisik sekitar. Benar saja, teman sekelas mereka sedang memantau.
"Dah, cepetan bantuin aku gotong Serin. Dia beneran berat" kata Zin yang entah sejak kapan sudah meletakkan lengan Serin di pundaknya.
"Mau dibawa ke UKS beneran?"
"Iya, lah. Entar kalau Serin ditegur lagi, aku yang susah" balas Zin ala kadarnya.
Zin mengangkat lengan kiri Serin, Putri lengan kanannya, sementara Salsa berada di belakang untuk berjaga-jaga agar Serin tak jatuh.
__ADS_1
"Euy, Sasageyo! Aku mau anter Serin ke UKS!" seru Zin dari pintu kelas mereka.
"Satu orang aja yang nganter!" balas Geo.
"Nggak kuat!!"
"Yo dah, terserah" kata sang Ketua Kelas itu.
Dengan susah payah, ketiga perempuan itu saling bahu membahu untuk membopong Serin ke UKS.
"Dia beneran dibawa ke UKS? Tampangnya aja nggak kayak orang sakit" tanya Salsa sambil menatap Serin yang masih bengong.
Zin menghela napas. "Mau gimana lagi, Sal. Udah nasib.."
Untungnya jarak antara kelas mereka dengan UKS terbilang dekat, karena UKS berada di Gedung BK, sehingga mereka tak perlu bersusah payah menggotong Serin yang entah mengapa tak bisa berdiri.
"Tolong ada yang nemenin, ya. Soalnya Bu Guru mau pergi sebentar" kata Guru BK sekaligus penjaga UKS saat mereka membawa Serin.
"Zin, temenin Serin, ya. Aku sama Salsa mau ke kelas dulu" kata Putri, dibalas anggukan oleh perempuan wib—otaku itu.
"Perlu dibawain buku sketsamu nggak?" tanya Putri dari pintu UKS.
"Iya, dong!" Zin mengangkat jempolnya dengan antusias.
"Oke." Kedua perempuan pendek—kurang tinggi itu pun meninggalkan Zin dan Serin di sana.
"Haaahhhh....." hela Zin dengan panjang. Ditatapnya wajah Serin yang masih bengong. Perasaannya menjadi sedih. 'Sejak Serin suka sama Geo, dia jadi berubah sampai kayak gini. Aku kangen Serin yang dulu... Apa dia nggak bisa kembali ke sifatnya yang dulu?' pikir Zin dengan sedih.
"Zin, nih buku sketsamu. Tangkap!" Dari luar pintu UKS, Salsa melempar buku sketsa Zin beserta tempat pensilnya.
Hup!
Untung saja Zin memiliki reflek yang cukup hebat, sehingga ia dapat menangkapnya sebelum buku itu jatuh mengenai Serin.
"Hey, Salsa!! Jangan sembarangan kalau melempar!! Ini UKS!" tegur Zin sambil berteriak.
"Maap!! Pak Suneo udah datang soalnya!! Duluan, yaaaa!!!" teriak Salsa sambil berlalu pergi.
Zin kembali menghela napas. Pantas aja Salsa agak buru-buru, ternyata Pak Suneo udah datang, toh.
Pak Suneo adalah guru IPA yang mengajar di kelas mereka. Disebut Pak Suneo karena..... Bibirnya mirip Suneo. Tapi untungnya Pak Suneo adalah orang yang baik dan sering mentolerir jika ada murid yang menunggu di UKS saat tak ada guru yang menjaga.
Sembari menunggu Serin sadar dari bengongnya, Zin menorehkan grafit pensilnya ke atas kertas buku sketsanya.
Sret... Sret sret....
Ruangan yang sunyi itu membuat suara grafit pensil yang bergesekan dengan buku sketsa menjadi terdengar jelas.
Hampir 10 menit Zin duduk sambil menggambar. Terkadang ia jengah karena Serin tak kunjung sadar. Untungnya mood-nya kembali naik karena aktivitas menggambarnya.
"Oke, bentar lagi selesai!" ucap Zin dengan senangnya. Gambar tokoh komiknya hampir selesai, hanya tinggal menambahkan arsiran kecil saja pada bagian matanya.
"Tinggal nambahin garis, terus—"
"ZIN!! GEO LIATIN AKU!!"
"ASTAGFIRULLAH!!" Zin melatah kaget, hingga berdiri dari tempat duduknya.
Serin juga kaget. "Lah? Aku dimana?"
Pakk
"Gara-gara kamu gambaranku jadi kecoret, kan!! Serin nyebelin!!" amuk Zin sambil menepuk kepala temannya itu dengan buku sketsanya.
"Lihat, nih!! Garisnya sampai keluar dari panel, tahu!" imbuhnya sambil menunjukkan sebuah panel komik yang tak rapi karena coretannya itu.
"Terus, kenapa kamu baru sadar sekarang, sih?! Kamu tadi nggak denger aku bilang apa? Kamu hampir diamuk sama Bu BS, tahu! Untung aku nyari alasan, kalau nggak, kamu bakal mati hari ini!" oceh Zin lagi. Ia sedang cosplay menjadi emak-emak.
"Hah?! Aku tadi mau diamuk Bu BS?! Beneran?!" kaget Serin. "Ngeri banget, anjir!!"
"Makannya ituuu..." Zin menepuk kepalanya sendiri. "Gini, ya, kalau lagi jatuh cinta, tolong dikondisikan. Jangan sampai kayak tadi. Paham?"
"Hehehe..." Serin nyengir kuda, membuat Zin kembali menghela napas.
"Gini amat punya temen yang usianya lebih tua, tapi kelakuannya malah kayak bocah" gerutu gadis otaku itu.
"Tapi seriusan! Tadi Geo liatin aku!! AAAAA!!!" Serin kembali menggila.
"Emang."
"Eh?! Beneran?! Kukira cuma mimpi!!" Serin langsung berbinar.
"Iya, dia liatin kamu waktu Bu BS nyamperin kita tadi. Nggak cuma dia, temen sekelas tadi juga liatin kita berdua. Mana mukamu kayak orang gila lagi korsleting otak lagi. Hadehhh...."
"Hah?! Masak?!" tanya Serin tak percaya.
"Nggak percaya ya udah." Zin mengangkat bahunya dengan acuh, kemudian memandang komiknya yang tercoret itu. 'Hiks.. Komikku....'
Haha, poor Zin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
__ADS_1