Tentang Chiko Dan Kita

Tentang Chiko Dan Kita
"Kalian Berdua Shibal!"—Salsa


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Entah ini adalah sebuah anugrah atau malah masalah, Serin sekarang menjadi dekat dengan Geo, baik di sekolah maupun di luar sekolah.


Tentunya hal itu mengundang banyak pertanyaan di benak mereka yang mengenal Serin dan Geo, karena dari dulu kedua orang itu memang tak pernah nampak seakur ini.


Berbeda dengan beberapa hari yang lalu dimana Serin hanya berani berbincang dengan Geo melalui ponsel, sekarang mereka dengan akrabnya mengobrol bersama. Bahkan mereka mengabaikan teman masing-masing yang tengah memandang dengan jengah dan heran.


"Mereka tumben banget" komentar Rozan pada teman-temannya. Para lelaki pun mengangguk, menyetujui perkatan Rozan.


"Padahal biasanya Geo nggak seakrab ini sama cewek" imbuh Faiz.


"Bahkan Zin, Putri, sama Salsa sampai dicuekin sama Serin." Dani juga ikut nimbrung, membuat para lelaki itu menoleh ke arah ketiga gadis yang sontak memalingkan wajah mereka.


'Hadehh....' hela Putri di dalam hati. Ia benar-benar kesal dengan sikap Serin yang berubah 180° ini.


"Entah kenapa, sejak Serin ketemu sama Geo di taman, mereka jadi makin deket" ucap Salsa memulai pembicaraan.


Putri mengangguk setuju. "Ho'oh, lama-lama aku jadi sebel banget sama mereka" kesalnya.


Zin seketika menunduk dengan sedih. 'Ini salahku...' batinnya.


Putri yang peka akan perasaan temannya pun langsung menepuk pundak Zin dengan lembut dan berkata, "Tenang aja, ini bukan salahmu, kok.."


Salsa tersadar akan ucapannya yang secara tak langsung menyakiti perasaan Zin. Dengan gelagapan ia juga menenangkan temannya itu, "Iya, ini bukan salahmu, kok! Kan niatmu cuma mau bantu Serin biar dia kembali fokus sama pelajaran lagi. Niatmu baik, kok! Cuman, takdir aja yang nggak mendukung."


Zin mengangguk sembari tersenyum kecil. Syukurlah mereka tak menyalahkannya, hatinya menjadi sedikit lebih lega. 'Tapi.....' Diliriknya Serin dan Geo yang masih asik berbincang.


'Sekarang Serin udah nggak ngobrol lagi sama kami... Dia berubah total gara-gara Geo.. Apa cinta emang bikin semuanya jadi kacau kayak gini, ya?' pikir gadis otaku itu dengan sedih.


Ia kemudian menghela napas dan meletakkan kepalanya di atas mejanya. 'Haaahh... Apa yang harus kulakukan? Apa Serin emang nggak punya harapan lagi?'


Putri dan Salsa sama sedihnya dengan Zin. Dengan penuh kesenduan mereka menatap Serin dan Geo yang tak peduli dengan sekitar.


'Serin... Aku kangen sama kamu yang dulu....' batin Putri dengan mata berkaca-kaca. 'Walau kamu dulu selalu bikin ulah sama Salsa, tapi itu lebih baik daripada kamu yang sekarang....'


Salsa menatap mereka dengan raut kesal. 'Serin anj*ng, malah cuekin temen sendiri. Geo anj*ng, ngrebut temen orang lain. Kalian berdua shibal*!! Nyebelin, anjer!' umpatnya di dalam hati.


(*Shibal\= Kepar*t, bajing*n, sial*n; dalam bahasa Korea)


Walau hatinya mengumpat dengan mengeluarkan seluruh nama hewan di kebun binatang, Salsa menyadari bahwa dirinya juga merindukan sosok Serin yang dulu.


Mereka bertiga diliputi keheningan, tak ada yang berbicara sepatah katapun. Zin yang sibuk merenung dengan ekspresi kosong, Putri yang menahan tangisnya, dan Salsa yang masih mengumpat di dalam hati.


Kemudian, sebuah tangan terulur dan memegang senderan kursi yang digunakan Zin. "Zin, tumben Serin kayak gitu?" tanyanya.


Ketiga gadis itu langsung menoleh. Ternyata itu adalah Rehan yang entah mengapa sudah berada di sana.


"Aku juga gak tau" balas Zin sembari memalingkan wajahnya. "Jangan pegang kursiku" imbuhnya lagi.


Rehan mendengus kecil. Yah, beginilah sifat Zin jika bersama lelaki selain Rossie atau Evan—yang notabenenya Zin anggap sebagai shota*, benar-benar dingin dan tak ingin didekati.


(*Shota\= Cowok imut)


"Ho'oh, tumben banget mereka dekat kayak gitu" nimbrung Rozan disertai teman-temannya yang lain. Mereka menatap Serin dan Geo—yang sedang mengobrol di kursi Geo—secara berjamaah.


"Sebenarnya, gimana caranya mereka jadi dekat kayak gitu, sih?" tanya Faiz penasaran sembari menatap ketiga gadis itu.


"Gtw" balas Zin singkat. Ia benar-benar tak ingin membahasnya sekarang.

__ADS_1


"Cih, sok main rahasia-rahasiaan."


"Bacot" umpat Salsa dengan suara pelan. Untungnya tak ada yang mendengarnya kecuali kedua gadis yang duduk di dekatnya.


Para lelaki itu—yang masih berdiri di dekat Zin, Putri, dan Salsa—masih terus memantau Serin serta Geo yang tak bosan-bosan. Keberadaan mereka membuat Putri benar-benar risih, namun ia terlalu takut untuk mengatakannya.


Untungnya Zin juga merasakan hal yang sama seperti Putri. "Pergi dari sini, jangan deket-deket" usirnya pada para lelaki itu.


"Lah ngapa?" tanya Rozan keheranan.


"Pergi sebelum kalian kuanggap sebagai pick me boy. Cepet!" Zin yang berada dalam mood buruk kembali mengusir mereka dengan matanya yang memicing tajam.


Para lelaki itu ciut seketika. Walau tinggi Zin tak ada apa-apanya dibanding mereka, tak dapat dipungkiri jika gadis otaku itu adalah salah satu "sosok penting" di kelas 9B.


Dan sebagai anak yang berbakti pada ibunya, mereka memilih untuk pergi dari sana dengan penuh keheranan.


"Zin ngapain, dah? Mereka sama-sama aneh. Nggak Serin nggak Zin, sama aja" komentar Faiz.


"Mereka kan emang jarang banget deketin cowok, kecuali kalau emang kepepet banget. Wajar aja kalau reaksi mereka kayak gitu" dengus Rehan seolah membela Zin dan teman-temannya.


Para lelaki itu langsung tersenyum simpul. Mereka memikirkan hal yang sama. 'Kayaknya Rehan itu suka sama.......'


.......


.......


.......


.......


.......



.......


.......


.......


.......


.......


Gemercik air yang mengenai tangannya turun melewati wastafel. Tak lupa ia mengusapkan sabun agar kuman-kumannya menghilang. Sesekali ia menghela napas lelah, lalu bercermin pada kaca yang berada di dekatnya.


"Tumben kamu di sini, Zin?" tanya Nia, salah satu teman dekat Byila yang sedang keluar dari toilet.


"Cuma cuci tangan sambil benerin kerudung" balas gadis otaku itu apa adanya.


"Nggak sholat?" tanya Nia lagi sembari membenarkan kerudung di samping Zin.


Gadis otaku itu menggeleng. "Aku baru halangan" balasnya.


Nia mengangguk kecil. "Oalah, pantes aja tadi Putri sama Salsa pergi ke masjid nggak bareng sama kamu.." ucapnya. "Btw, kamu kenapa? Kok kayak sedih gitu?"


Zin tersentak kecil, lalu menoleh ke arah Nia sambil tersenyum simpul. "Nggak, kok" ucapnya berbohong.


"Gpp, bilang aja, Zin." Nia menepuk-nepuk pundak Zin. "Jangan-jangan gara-gara Serin?" tebaknya.


Gadis otaku itu seketika gelagapan. "Bu-bukan! Aku cuma—"


"Nia? Kok lama banget?" Byila yang datang untuk mencari temannya pun berjalan menuju mereka. Saat melihat Zin, matanya seketika memicing. "Eh ada Zin juga, toh. Tumben ke sini, Zin?"


Zin mengangguk kecil. "Cuma bosen aja sambil cuci tangan."


"Hm....." Byila mengangguk sembari berdehem. Ia semakin mendekati mereka berdua. "Eh katamu Serin nggak suka sama Geo, kan?"


Zin mengerutkan alisnya. "Emang kenapa?"


"Kalau Serin emang nggak suka sama Geo, kenapa mereka deket banget? Serin nggak punya maksud buat jadi perempuan murahan, kan?" tanya Byila dengan sindiran.


"Byila!" protes Nia.


Zin tersenyum miring dengan wajah yang menggelap. "Huh, buat apa Serin jadi perempuan murahan? Dia kan nggak kayak orang lain yang suka deketin cowok" balasnya juga sarkas.


Kedua gadis itu saling bertatapan dengan tajam, membuat Nia was was sendiri.

__ADS_1


"Kalau dia emang nggak suka sama Geo, kenapa mereka akrab banget?" tanya Byila.


"Hmph, emangnya apa urusanmu? Kamu suka sama Geo?" tanya Zin balik.


"Kata siapa? Emang aku pernah bilang?" Byila melawan balik.


"Sama denganku, emangnya aku pernah bilang kalau Serin suka sama Geo?" Zin tak mau kalah.


Keheningan melanda, namun atmosfer di sana sangatlah mengerikan. Bahkan beberapa siswi yang ingin ke toilet memilih untuk pergi dari sana agar terhindar dari perang dingin itu.


"Mereka deket gara-gara anjing" hela Zin pada akhirnya.


Nia dan Byila keheranan. "Anjing?"


"Mereka sama-sama punya anjing. Kata Serin, anjing mereka mau dinikahin, kayaknya gara-gara itu mereka jadi akrab" jelas Zin tak yakin.


"Apa itu bener?" Byila masih tak percaya.


"Kamu aja nggak percaya, apalagi aku." Zin mengangkat bahunya acuh. "Dah, ya, aku mau jajan dulu." Ia pun pergi meninggalkan mereka.


Byila menatap kepergian Zin dengan tajam. "Huh, emangnya dia pikir aku percaya gitu aja?" dengusnya.


"Kalau menurutku, Zin nggak peduli kamu percaya atau nggak" kata Nia.


"Hah? Kok bisa?"


Nia menatap punggung Zin yang semakin menjauh. "Karena kurasa dia juga bingung dan ragu dengan apa yang dia omongin tadi. Dia juga nggak tahu kenapa Serin sama Geo jadi deket."


Byila terdiam sesaat. "Kenapa kamu mikir kayak gitu?"


"Soalnya...." Nia mengingat-ingat raut wajah Zin tadi saat gadis otaku itu tengah mencuci tangannya. "...Dia kesepian gara-gara Serin menjauh dari mereka."


Byila tertegun sesaat, menatap temannya dengan tatapan tak percaya.


"Kayaknya Zin berusaha buat bikin kamu percaya kalau Serin bener-bener nggak punya perasaan ke Geo, tapi dia bingung, soalnya kamu tetep nggak percaya sama dia. Kayaknya gara-gara Serin menjauh, dia jadi nggak mau berdebat sama kamu. Seolah-olah dia nggak peduli lagi sama pendapatmu tentang Serin."


"Nggak peduli?" Byila kebingungan.


"Mungkin karena Zin udah frustasi? Aku juga nggak tahu" jawab Nia ala kadarnya.


Byila masih kebingungan. Apa sekarang Zin sudah nggak berada di pihak Serin lagi? Kenapa Zin nampak berbeda? Putri dan Salsa juga nampak berbeda, ada apa dengan mereka?


"Byila" panggil Nia, membuat gadis yang dipanggil menoleh. "Kalau dilihat dari sifat Zin, kayaknya Serin emang bener-bener suka sama Geo, deh."


Kedua bola mata Byila langsung melotot kaget. "Masak?!"


"Zin nggak mau bilang kenyataannya gara-gara dia nggak mau Serin kenapa-napa. Fansnya Geo kan banyak, jadi dia berusaha buat nutupin semua itu biar Serin nggak kena masalah" jelas Nia.


"Berarti, Zin masih berada di pihak Serin?" tanya Byila dengan suara pelan.


Nia mengangguk. "Kemungkinan besar emamg kayak gitu."


Byila yang mendengarnya langsung menghela napas lelah. "Udah, lah, biarin aja. Kalau Serin ngungkapin perasaannya ke Geo, itu bukan urusan kita. Mending jangan ikut campur sama masalah percintaan orang lain."


"...Oke" angguk Nia.


Mereka berdua pun pergi dari sana menuju ruang kelas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2