Tentang Chiko Dan Kita

Tentang Chiko Dan Kita
"Ghibah Yuk, Jeng"—Putri


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Chikooo.... Gimana, nihh???" Serin merengek pada anjing peliharaannya itu.


"Guk?! Guk?!" Dengan rasa khawatir yang sangat kentara, Chiko berlari menghampiri majikannya itu, seolah bertanya "Ada apa?"


"Hiks... Chiko... Hiks.."


Mata Chiko membola. Siapa yang membuat majikannya menangis seperti ini?!


"Chiko... Hiks... Geo... Hiks... Dia... Dia..."


"Grrrhhh..." Chiko menggeram kesal. Giginya ia gertakkan kuat-kuat. Ternyata orang itu yang telah membuat majikannya menangis. Chiko tak akan memaafkannya!! Tak akan!!


"Geo... Hiks... Dia... Hiks... Dia... GANTENG BANGET!! UWAAA!!!" Dan ternyata Serin tidak menangis, hanya mencoba berlatih drama saja.


"Guk?" Chiko speechless sendiri. Sebenarnya, Serin itu sedih atau senang, sih?


"Dia ganteng banget, Chiko!! Aku semalam mimpiin dia!! Ganteng beud, gila!!! AAAA!!!" Serin mendadak menjadi fangirl.


Lalu gadis itu memasang wajah datar. "Tapi sayangnya ada Byilanj*ng di sana. Mana dia deketin Geo, lagi. Ck."


"TAPI GEO GANTENG BANGET, GILA!! BAJUNYA KEREN, CUY!! PAKE JAS LENGKAP SAMA DASINYA!! KAYAK MISTER-MISTER MAPIA GITU!! AAAA!! DADDY!!! WOFF WOFF!! BARK!! AING MAUNG!! SIWMDLAJWLAKDHWKAJDHEJA!!!"


Chiko yang semula sudah speechless semakin speechless. Oalah, ia kira kenapa, ternyata cuma masalah cinta monyet. Percuma aja dia lari-lari demi mendengarkan perkataan majikannya.


'Tau gini nggak usah dipeduliin'—Chiko.


.......


.......


.......


.......


.......



.......


.......


.......


.......


.......


Hari ini adalah hari Minggu, dimana Serin dan teman-temannya les matematika. Mereka berada pada satu tempat les yang sama, karena promosi luar biasa yang Zin berikan pada mereka.


Tak hanya mereka berempat saja, ada satu orang lagi yang juga berada dalam kelompok les mereka. Kata Zin, orang itu salah masuk server. Salah sirkel.


Namanya adalah Gladis, perempuan yang sedikit lebih tinggi dari Zin. Ia dengan Zin terpaut tinggi sekitar 2 cm. Tubuhnya jenjang dan langsing. Dengan bobotnya yang mencapai 60 kg, ia tak terlihat gendut karena tinggi badannya itu.


Gladis adalah perempuan yang aktif. Ia sangat hebat dalam olahraga, seolah tubuhnya memang didesain untuk dapat melakukan olahraga apapun.


Ia, Zin, dan Putri memiliki persamaan, sama-sama wibu.


"Aku otaku, woy!! Bukan wibu!!"—Zin.


Ya, terserah.


Oke, kembali lagi ke topik.


Karena hari ini mereka akan mengikuti les matematika pada jam 10 pagi, mereka sekarang tengah melakukan sebuah ritual khusus yang selalu mereka lakukan sebelum les.


Jajan.

__ADS_1


Karena guru lesnya masih belum datang, mereka berlima memutuskan untuk jajan terlebih dahulu. Setidaknya, mereka dapat menangkap ilmu matematika yang diajarkan—walau hanya 5% saja—dengan cara mengisi perut dengan jajanan yang mereka beli itu.


Setelah melakukan ritual itu, mereka pun kembali memasuki tempat les. Tempat les mereka adalah bekas rumah sederhana dengan 3 kamar berukuran 3×3 m. Setiap kelompok bebas memilih ruangan yang akan mereka tempati.


Dalam satu kelompok, paling banyak terdapat 6 orang. 7 juga boleh, kalau masih ada ruang buat duduk.


Mereka berlima memasuki kamar yang paling dekat. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk berada di ruangan itu. Ruangan dengan nuansa biru itu tak memiliki banyak barang, hanya sebuah lampu, sebuah kipas angin dinding, dan 6 buah meja kecil seperti yang biasa digunakan anak-anak untuk mengaji di masjid.


Mereka duduk di lantai, lesehan. Tentu saja, karena jika di sana diletakkan meja dan kursi biasa, pasti tak akan muat.


"Mbak Yeni kemana? Kok belum dateng?" tanya Serin sambil menyeruput es teh yang dibelinya di angkringan sebelah.


"Mbak Yeni bilang dia agak telat" balas Zin yang baru saja menerima pesan dari tentor les matematika mereka itu.


Zin, sebagai "ketua" dalam kelompok les mereka memang sering melakukan kontak dengan para tentor les, karena ia sudah berada di les itu 1 tahun sebelum kedatangan Serin dan yang lainnya.


"Ya udah, ayo, mending kita ghibah aja." Dengan tak ada rasa bersalah, Putri mengatakannya.


"Ayo!" Gladis langsung bersemangat. Orang yang Putri juluki sebagai "Informan Rahasia" itu mulai bercerita tentang orang-orang di kelas mereka.


"Sebenarnya, to, dia itu cuma pura-pura pacaran doang sama pacarnya!" seru Gladis memulai pembicaraan.


"Hah?! Beneran?!" Mereka antusias mendengarnya.


"Nama pacarnya siapa?" tanya Putri dengan penasaran. Kalau soal gosip, mah, Putri memang sangat menyukainya.


"Nah, itu masalahnya, dia sama sekali nggak bilang!" Gladis menggebrak meja, melampiaskan amarahnya.


"Eh bentar, bukannya dia baru aja putus sama si Dani? Kok udah pacaran lagi?" Salsa, si "Paling Pendiam" di kelas menurut 9B Awards mengutarakan rasa penasarannya.


"Lha, makannya ituu." Gladis menghela napas dengan heran.


Putri memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Ya elah, dia kan emang kayak gitu dari dulu. Suka main cowok. Suka gonta-ganti cowok. Nyebelin banget" desisnya.


Zin mengangguk setuju. "Aku kasihan banget sama si Dani, padahal kelihatannya dia udah suka banget sama si Byila. Bahkan si Dani selalu jagain Byila, tapi kok Byila-nya malah gituin Dani?..."


Putri menggebrak meja, mengikuti jejak Gladis sebelumnya. "Kalau aku jadi Byila, aku nggak bakal ngelakuin kayak gitu ke Dani! Dia tu cowok langka banget!!"


"Bener!! Bener banget!!" Gladis berseru setuju. "Masak mereka putus cuma gara-gara si Byila bosen?! Padahal Dani sabar banget kalau lihat Byila deket sama cowok lain! Padahal Dani bener-bener menjaga hatinya dari cewek lain! Tapi kok si Byila malah.... Anj*ng lah!"


Ya, mereka sedang membicarakan kedua orang yang pernah menjadi trending topik di kelas, Byila dan Dani. Kedua orang itu sudah pacaran sejak kelas 8. Sekarang mereka—termasuk kami—sudah kelas 9, dan baru putus beberapa hari yang lalu.


Awalnya, Serin dan yang lainnya tak begitu peduli. Toh, mereka dan Byila berbeda sirkel. Tapi, saat tahu kalau ternyata Byila mendekati cowok lain padahal ia masih berpacaran dengan Dani, mereka langsung mengghibah.


"Bukan mengghibah, tapi kami sedang mendiskusikan tingkah dan perilaku manusia, lalu kami akan mengkritik apa yang dia perbuat disertai argumen-argumen yang ada"—Putri.


"Tau, tuh. Padahal Geo sama Dani kan temen deket. Si Byila gimana, sih?" dengus Zin sambil memakan jajanannya.


"Kayak pig me girl nggak, sih?" komentar Salsa.


"Pick me, woy. Bukan pig me(¬_¬)." Putri menatap Salsa dengan wajah datarnya.


"Tapi, masak si Byila berani deketin cowok lain di depan temen-temen sekelas, sih? Aku gitu mah nggak berani" ucap Zin sambil membayangkannya. 'Apalagi waktu itu Serin langsung sedih...'


Zin melirik ke arah Serin yang sedari tadi hanya diam. Ia mungkin bukanlah orang yang peka pada keadaan, namun ia tahu bagaimana rasanya melihat crush didekati oleh perempuan anj*ng yang tak tahu malu.


Menyadari arah lirikan Zin, yang lainnya pun menatap Serin dengan wajah sedih. Malang sekali nasib Serin, punya crush yang populer dan selalu didekati pick me girl.


"Rin, kamu kenapa?" Menyadari ada yang salah, Salsa pun bertanya.


"Kamu marah? Kok diem aja?" Putri juga bertanya. "Rin? Rin? Riiinn!!" Ia menggoyang-goyangkan tubuh Serin yang masih terdiam.


"Kenapa kenapa?" Zin dan Gladis yang duduk cukup jauh dari Serin pun lantas mendekati gadis itu.


"......O..." gumam Serin tak jelas.


"Ha?"


"Geo......" gumam Serin sekali lagi.


Mereka yang ada di sana sontak berpandangan. Apa Serin sedang meratapi keadaannya?


"Geo....."


"Geo.... AKU KANGEN BANGET!!! AAAAAA!!!" Tiba-tiba saja Serin berteriak, membuat mereka semua terkejut. Bahkan makanan keramat milik Zin dan Salsa sampai jatuh.


"AKU KANGEN!! DIA LAGI NGAPAIN, YAA? KALAU AKU TELPON DIA, DIA BAKAL ANGKAT NGGAK, YA? JANGAN, AH, NTAR MALAH DIKIRA SOK ASIK, TERUS DIGHIBAHIN SAMA GENGNYA SI BYILANJ*NG.. TAPI AKU KANGEEEENNN!!! HUWAAAA!! GEOOO!!!"


Keempat orang itu pun langsung menatap Serin yang sedang menggila dengan tatapan datar. Ternyata dari tadi Serin tak mendengar pembicaraan mereka.


Mereka pun jadi bingung, harus senang karena Serin tak mengingat kenangan anj*ng itu, atau kesal karena tak didengarkan.


Zin sedari tadi diam, memandang Serin dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Bahkan makanan keramatnya yang jatuh tak ia pedulikan. Biarlah menjadi sampah, nanti akan ia buang di tempatnya.


Bagi Zin, Serin adalah teman pertamanya di SMP. Ia mengenal Serin dengan lebih baik daripada Salsa dan Putri. Dan ia benar-benar tahu bahwa sikap Serin perlahan mulai berubah karena Geo.


Sejak Serin menyadari bahwa dirinya menyukai Geo, sikapnya perlahan mulai berubah. Seolah yang ada di pikirannya hanya ada Geo, Geo, dan Geo saja.

__ADS_1


Tatapan Zin menjadi sendu. 'Semoga aja Serin nggak terlalu terpaku sama si Geo....' batinnya penuh harap.


.......


.......


.......


.......


.......



.......


.......


.......


.......


.......


"Tadi soalnya apa? 12-10x+2x²\=0?" tanya Mbak Yeni, tentor matematika. "Yang dicari akar-akarnya, kan? Ini bisa pakai rumus ABC. Nanti caranya kita harus cari diskriminannya dulu. Berarti D\=b²-4ac, habis itu cari akar-akarnya pakai X1.2\=-b±√D."


"Mbak, tapi kok rumus yang dikasih Bu Wahyu beda?" tanya Salsa yang paling pintar matematika di kelompok les mereka.


Mbak Yeni menghentikan penjelasannya, kemudian menoleh ke arah Salsa. "Oh ya? Kayak gimana rumusnya?"


"X1.2\=-b±√b²-4ac ÷ 2a, Mbak."


"Sama aja, Sal. Bedanya cuma nyari diskriminan sama nggak" balas Mbak Yeni.


"Oalaahh..." Salsa mengangguk-angguk paham, diikuti Zin dan Putri.


Sementara itu, Gladis melongo. "Aku sama sekali nggak paham" ujarnya watados.


Zin langsung menimpali, "Alah, kamu kan cuma mikirin Yusuf doang. Wajar aja kalau nggak paham."


"Heh! Coc*te.... Anj*ng lu, Zin!" desis Gladis.


"Padahal kan itu kenyataan, malah toxic" timpal Putri membela Zin.


"Tau, tu. Cih, gak seru. Skip" imbuh Zin.


Mbak Yeni menghela napas. "Ini sebenarnya pada ngapain, sih? Malah bahas ayang... Hadeh...." gumamnya yang masih bisa didengar oleh mereka.


"Makannya, Mbak, cari jodoh, lah" usul Putri.


"Nggak dulu, mending pacaran sama matematika" tolak Mbak Yeni. Ia kemudian menyadari sesuatu. "Eh, itu si Serin ngapain? Dari tadi kok bengong mulu?"


"Eh?" Mereka menatap Serin yang sedang menumpu kepalanya pada tangan sambil melihat ke atas. Jangan lupakan senyum aneh yang terpampang di sana.


"Ehehe.... Geo.... Hehehe..." gumam Serin.


"Biasalah, Mbak. Mikirin ayang" jawab Gladis sembari mendengus.


"Buset, ngeri amat" komentar Mbak Yeni. "Bocah, bocah. Gini amat, dah, anak-anak zaman sekarang."


"Tau, tu."


Zin kembali menatap Serin dengan wajah sendu. Perubahan sikap Serin tak diragukan lagi.


'Kalau gini terus, nilai Serin bakal terus menurun. Kasihan orang tuanya yang udah membiayai dia, tapi anaknya malah mikirin orang lain. Serin... Kapan kamu bisa kayak dulu lagi?....'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2