Terabaikan

Terabaikan
Bagian 10


__ADS_3

Nella menepikan mobil yang ia kendarai didepan gerbang rumah Sakti untuk mengantarkan Zea pulang. Dari lantai atas rumah megah itu sepasang mata Sakti tidak lepas mengawasi suasana diluar. Hatinya sedikit lega karena ternyata Zea pergi dengan Nella sepupunya, bukan dengan pria lain seperti yang ada dalam pikirannya. Bagitu melihat Zea masuk Sakti segera turun, tidak lupa merapikan penampilannya sejenak didepan cermin besar didalam kamarnya.


"Baru pulang?" tanya Sakti mengagetkan Zea yang berjalan terburu-buru kekamarnya. Zea yang berniat ingin menghindari Sakti, tapi nyatanya dia masih tetap seperti hantu yang selalu tiba-tiba muncul disekitarnya.


"I-Iya mas." jawab Zea gugup karena terkejut.


Sakti menganggukkan kepalanya.


"Aku masuk dulu mas."


"Kenapa terburu-buru?"


"Aku capek mas mau istirahat."


"Yaahh... padahal aku pengen ngobrol sama kamu. Aku dah nungguin kamu pulang dari tadi, aku bosan pengen ada teman ngobrol." ucap Sakti dengan nada dan wajah memelas membuat Zea merasa tidak nyaman.


"Kenapa mas Sakti nungguin aku? Kenapa nggak panggil teman-teman mas Sakti kesini atau keluar bertemu mereka seperti yang biasa mas Sakti lakukan?"


"Nggak ah, nggak asyik. Aku pengennya ngobrol sama kamu Zee."


Perut Zea tiba-tiba merasa mual mendengar ucapan Sakti yang dia tau pasti dibuat-buat agar dirinya merasa bersalah dan luluh mau menemaninya. Tapi TIDAK!! Zea meyakinkan dirinya untuk tidak mudah terpancing dengan sikap suaminya itu.


"Maaf mas tapi aku benar-benar capek, aku ingin istirahat."


"Tega baget Zee, ya udah deh kamu istirahat dulu. Aku tunggu sampai kamu udah enakan yaa."


Jika sebelumnya Zea merasa tidak nyaman karena rasa takut dan khawatir dengan perubahan sikap Sakti namun saat ini rasa itu berubah menjadi rasa bosan dan membuatnya merasa mual dan jijik. Terlebih Sakti terkesan begitu terobsesi pada dirinya.


"Terserah mas aja. Aku ke kamar dulu ya."


Sakti hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah memelas.


Zea segera bergegas masuk kedalam kamarnya. Rasa ilfeel didalam hatinya bertumbuh begitu kilat dan tiba-tiba membesar. Katakanlah Zea sudah terprovokasi dengan ucapan Nella bahwa kebaikan Sakti sebatas melihat fisiknya yang berubah, bukan karena niat tulus menerima dan ingin memperbaiki rumah tangga mereka.


Didalam kamar Zea benar-benar melampiaskan rasa yang bercampur aduk didalam hatinya. Zea membanting tasnya keatas kasur kemudian memukul-mukul bantalnya sampai semua rasa yang sulitbia pahami dihatinya mereda, seiring dengan itu ia melampiaskannya dengan menangis dan membenamkan wajahnya kebantal yang sebelumnya ia pukuli.


"Abi, Umi, mas Arya, kenapa nasib Zea menjadi seperti ini setelah kalian bertiga tinggalkan? Zea hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Kenapa disaat Zea sudah berusaha menerima dan mencoba merelakan semuanya justru mas Sakti berubah sikapnya pada Zea? Apa benar semua ini hanya karena perubahan diri Zea? Apakah mas Sakti adalah laki-laki yang hanya menikmati paras bukannya ketulusan hati? Bagaimana jika ternyata dugaan Zea salah dan mas Sakti benar-benar sadar dan berubah? Apa yang harus Zea lakukan sekarang? Bagaimana Zea menghadapi semua ini? Hiks... hiks... hiks..." ratap Zea terus menerus sembari menangis sampai kelelahan dan kemudian tertidur.


Zea terbangun melihat jam didinding kamarnya menunjukkan jam 23:30 sudah hampir tengah malam. Zea dengan malas segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket karena keringat aktifitasnya tadi siang. Matanya pun terasa berat dan pedih akibat menangis terlalu lama tadi.


Selesai mandi Zea keluar kamar perutnya terasa lapar, bagaimanapun perut Zea harus diisi supaya penyakit lambungnya tidak kambuh. Zea berjalan santai ke dapur karena berpikir sudah tengah malam, mungkin Sakti sudah tidur dan tidak akan muncul tiba-tiba seperti hantu gentayangan yang menggangu hidupnya.

__ADS_1


"Sudah bangun?" lagi-lagi suara Sakti yang tiba-tiba ada dibelakangnya mengagetkan Zea.


Zea memutar badannya dan tampak Sakti tersenyum cerianya tampak menawan dengan memakai tshirt hitam dan celana pendek warna cream. Zea tidak munafik bagaimanapun buruknya sikap Sakti dulu dan apapun rancana Sakti sekarang Zea masih memiliki dan menyimpan rasa didalam hatinya untuk Sakti. Rasa itulah yang menggetarkan hatinya melihat pesona Sakti dalam penampilannya yang casual itu.


"Kok malah bengong sih? Kenapa? Aku ganteng ya?" tanya Sakti dengan narsisnya sambil tersenyum penuh percaya diri.


"Haaah? GR banget sih!" jawab Zea dengan wajah merona.


"Issh... Nggak papa kali narsis sama istri."jawab Sakti seolah tanpa beban mengatakannya, seolah tidak pernah ada kebencian besar didalam hatinya untuk Zea, seolah mereka selama ini adalah keluarga yang normal dan saling mengasihi.


Kembali dada Zea berdesir mendengar Sakti untuk kesekian kalinya mengatakan bahwa dirinya adalah istri Sakti. Ada rasa haru merayap menghangatkan hati Zea.


"Ishh issshh isshh... Sejak kapan mas Sakti bisa lebay begitu?"


"Sejak dulu sih. Cuma kamu aja yang nggak tau. Tapi bener kan kalau kamu terpesona denganku?"


"Siapa bilang? Aku hanya heran aja kenapa maa Sakti selalu tiba-tiba muncul, seperti hantu."


"Iya memang begitulah. Aku akan selalu menghantui hatimu."


"Iiiihh... Nggak lucu tau." ucap Zea, namun tampak jelas lain bahasa dimulutnya dengan tatapan mata serta wajahnya yang memerah.


"Biarin, namanya juga usaha. Kamu pasti laparkan?"


"Aku tadi udah suruh mbok Nah untuk masakin makanan kesukaan kamu, tapi udah dingin. Biar aku panasin dulu yaa. Habis itu baru deh kamu bisa makan sambil liatin wajah aku lagi sampai puas. Gimana?" tanya Sakti dengan kenarsisannya semakin menggoda Zea.


"Ih, apaan sih! Siapa juga yang mau liatin mas Sakti. Aku panasin sendiri aja makanannya. Mas Sakti tidur aja udah tengah malam."


"Ih enak aja, aku nungguin kamu bangun dari tadi, eh udah bangun malah diusir."


"Loh kenapa nungguin aku bangun? Kenapa mas Sakti nggak tidur aja?"


"Ya karena aku mau ketemu kamu, dekat kamu, ngobrol sama kamu."


"Haaahhh...?"


"Kok hah sih?"


"Yaa maksudku kenapa tumben banget mas Sakti dari tadi pagi sampai sore nungguin aku, bahkan sekarang sampai tengah malam juga nungguin aku?" tanya Zea menatap heran pada Sakti.


"Yaa habis mau ketemu kamu aja susah banget ngalah-ngalahin ketemu presiden."

__ADS_1


"Yaa bukannya susah mas. Selama ini kan kita juga nggak pernah bertemu mas Sakti fine-fine aja. Kenapa sekarang sampai rela nunggu seharian sampai tengah malam?"


Pertanyaan Zea membuat air muk Sakti seketika berubah. Sakti menyadari keadaan mereka sebelum adanya perubahan dalam beberapa hari ini. Bagaimanapun Sakti tidak bisa menyalahkan Zea jika merasa tidak nyaman dengan sikapnya.


"Kamu keberatan ya Zee? Atau merasa terganggu sama aku makanya kamu beralasan terus untuk menghindari aku? Kalau kamu merasa terganggu, aku nggak akan dekat-dekat kamu lagi. Yang penting kamu merasa nyaman dan bahagia." ucap Sakti lirih, kali ini ucapan Sakti terdengar tulus ditelinga Zea, bahkan tidak ada rasa takut, ataupun khawatir, seperti sebelumnya.


Sakti melangkah pergi meninggalkan Zea yang masih mematung. Zea sedang bimbang, menimbang bagaimana dirinya harus bersikap saat ini. Bukankah menghindari Sakti adalah keinginannya agar tidak terjerat dalam apapun rencana Sakti. Namun kali ini hatinya menolak, merasa tidak rela jika kehilangan sikap hangat dan perhatian Sakti yang selama ini begitu dia harapkan, dan lebih tidak rela jika Sakti akan kembali mengabaikan dirinya. Bukankah selama ini dia menunda perceraian hingga satu tahun alasan utamanya adalah ingin berusaha mempertahankan rumah tangganya? Jika memang tujuan utamanya adalah rumah tangganya tetap utuh maka ini adalah kesempatannya. Mungkinkah ini adalah jawaban dari Allah atas do'a-do'a yang ia munajatkan selama ini? Jika iya maka betapa kufur dirinya jika mengabaikan perubahan sikap Sakti dan justru mencurigainya. Namun rasa trauma dengan masalalu kembali membuatnya ragu, bagaimana jika ini semua palsu? Bagaimana jika Sakti ternyata hanyalah sedang menjalankan drama?


"Mas,..." Zea meraih tangan Sakti dan mengenggamnya dengan erat setelah berhasil menyusul langkah Sakti yang sudah hendak menaiki anak tangga.


Justru sekarang giliran tubuh Sakti yang menegang menyadari tangan Zea yang lembut sedang mengenggam tangannya. Selama pernikahan mereka secara sadar tidak sekalipun Sakti merasakan hangat dan lembutnya sentuhan tangan Zea. Jikapun Zea pernah menyentuhnya karena dirinya sedang tidak sadar saat dalam pengaruh minuman keras.


"Mas maaf kalau aku sudah buat mas Sakti tersinggung dan marah." ucap Zea dengan suara serak menahan tangis yang hampir pecah.


Sakti membalikkan tubuhnya, melihat Zea yang menundukkan wajahnya dengan tangan yang semakin erat mengenggam tangannya. Hati Sakti terasa sakit dan ngilu melihat Zea menangis. Tidak seperti dulu yang hatinya terasa puas ketika berhasil membuat Zea menangis dengan hinaan dan kata-kata kasarnya. Membuat Zea bersedih dengan sikap acuh dan tatapan jijik darinya.


"Zee..." ucap Sakti dengan suara bergetar sembari tangan kanannya menyentuh dagu Zea dan mengangkatnya agar Sakti bisa melihat wajah Zea. Terlihat wajah cantik Zea yang tanpa polesan kosmetikpun tampak mempesona dengan air mata yang mulai mengalir.


"Aku nggak marah, jangan nangis." ucap Sakti sembari mengusap lembut air mata yang mengalir dipipi mulus Zea.


"Aku nggak tau kenapa, tapi aku merasa selalu ingin dekat dengan kamu. Mungkin Allah sedang menghukumku Zee, maka dari itu jika kamu merasa tidak nyaman dengan keberadaanku aku tidak akan memaksa agar kamu bisa menerima, aku tidak akan mendekati kamu lagi." sambung Sakti menjelaskan pada Zea dengan mata berkaca-kaca, meskipun bibirnya mampu meloloskan kata-kata yang menyakitkan itu namun hatinya tidak sedikitpun berkurang rasa sakitnya.


"Aku hanya belum yakin jika semua sikap mas Sakti selama ini adalah benar-benar nyata." jawab Zea dengan bibir merahnya yang bergetar.


"Maafin aku Zee. Dosaku sama kamu terlalu besar sampai membuatmu trauma denganku."


"Aku,..." Zea tidak mampu melanjutkan ucapannya hanya tangisnya yang seketika pecah. Sakti segera meraih tubuh Zea dan memeluknya erat. Setelah sekian lama baru kali ini Zea merasakan pelukan hangat suaminya. Pelukan yang selama ini dia pikir hanya akan menjadi harapan tanpa kenyataan.


"Maafin Zea mas tidak bisa mengerti dengan mas Sakti."


"Sudah diamlah! Jangan bicara apapun. Biarkan aku tenang dan puas memelukmu. Bisa?" tanya Sakti tanpa merenggangkan sedikitpun pelukannya, dan hanya dibalas anggukan samar oleh Zea.


"Ya sudah, kamu tadi lapar dan mau makan kan? Malam ini kamu jadi ratunya dan aku yang melayani kamu." ucap Sakti mencairkan suasana sembari melepaskan pelukannya dan mengusap lembut rambut Zea yang terurai.


Zea melepaskan dirinya dari pelukan Sakti, menatap netra coklat yang tengah memandangnya dengan lembut, seakan menyemburkan ribuan kelopak mawar untuk menawan diri Zea dalam pesonanya.


"Mas Sakti serius?"


"Of course my queen." jawab Sakti sembari mengecup kening Zea. Zea menikmati perlakuan Sakti saat ini.


"Kamu cantik sekali. Bukan hanya ini tapi juga ini." puji sakti sembari membelai wajahnya kemudian menunjuk kearah hati Zea.

__ADS_1


"Lupakan tentang masa lalu, lupakan tentang rasa sakit dimasa lalunya atau apapun yang bisa merusak moment  malam ini.  Ini bukanlah mimpi, dan ini adalah kenyataan. Harus menikmati moment  indah ini dan semoga menjadi awal yang baik untuk selamanya. Yaa Allah, jika boleh meminta jangan akhiri malam ini dengan cepat agar aku bisa terus menjadi ratu bagi mas Sakti." batin Zea.


__ADS_2