
Sakti dengan sigap menyiapkan makan malam Zea, sedangkan Zea hanya bisa tersenyum bahagia melihat aktivitas Sakti yang sibuk menyiapkan makan malam untuknya, meskipun hanya menghangatkan masakannya dengan microwave tapi itu sudah cukup menjadi hal yang spesial untuknya. Zea benar-benar merasa diperlakukan seperti ratu, benar-benar seperti mimpi yang menjadi nyata.
"Yap, akhirnya seleaai juga. Silahkan dinikmati makan malamnya." kata Sakti sembari duduk dihadapan Zea. Sedangkan Zea tergagap baru menyadari makanannya sudah siap.
"Mas nggak makan?" tanya Zea karena hanya melihat ada satu piring dihadapannya.
"Tadi udah makan soalnya keburu kelaparan nungguin kamu bangun tidur."
"Emmm begitu. Tapi apa enaknya makan sendiri sedangkan duduknya berdua." Zea menatap makanan yang dihadapannya menjadi kurang berselera.
"Makan sepiring berdua mau?" tanya Zea ragu-ragu memberikan tawaran yang terlalu berani baginya pada Sakti.
"Sepiring berdua?" Sakti mengulang pertanyaan Zea dengan tatapan mata serius.
"Ah maaf mas bukannya mau kurang ajar. Kalau mas Sakti merasa jijik aku ambilkan piring lagi ya." jawab Zea gugup takut Sakti tersinggung, kemudian bangkit hendak mengambil piring satu lagi untuk Sakti. Tapi langkahnya tertahan karena Sakti menarik tangannya.
Zea menatap Sakti yang justru tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau ngapain hemm? Lupa kalau malam ini kamu adalah ratunya? Apapun kata ratu adalah titah untukku."
"Tapi,-"
"Nggak ada tapi. Kita makan sepiring berdua, tapi,-" Sakti menjeda ucapannya dan menatap Zea dengan serius.
"Tapi apa mas?" tanya Zea penasaran.
"Aku penasaran gimana rasanya disuapin ratu."
Wajah Zea seketika merona mendengar ucapan Sakti.
"Emang nggak papa? Mas sakti nggak merasa jijik sepiring berdua denganku?"
"Jijik? Yang benar saja!" Sakti mengangkat kedua alisnya.
"Tapi sendoknyakan bekas,-"
"Bekas bibirmu?" Sakti memotong ucapan Zea yang terdengar ragu.
"Nggak papa, jangankan pakai sendok bekas bibirmu, disuapin langsung pakai bibirmu aku juga mau." lanjut Saktitanpa tampak rasa malu, sedangkan wajah Zea semakin memanas mendengar ucapan fulgar suaminya. Bahkan Zea merasa jantungnya nyaris melompat keluar karena begitu kencang debaran didadanya.
Sakti semakin tersenyum puas melihat wajah Zea yang merah padam dan menjadi salah tingkah karena ucapannya.
Makan malam terindah dalam pernikahan mereka dilalui dengan sukses. Sakti semakin agresif mengeluarkan jurus-jurus gombalnya yang membuat Zea entah berapa puluh kali harus berjuang keras menenangkan debaran didadanya.
Setelah selesai acara makan malam sepiring berdua yang romantis dan memacu adrenalin Zea, Sakti duduk disofa ruang keluarga dimana dulu adalah tempat favorit Anita dan Zea menghabiskan waktu bersama. Sementara Zea masih sibuk memotong berbagai macam buah segar dan membawanya pada Sakti.
"Looh kok duduk dibawah?" tanya Sakti heran ketika melihat Zea duduk diatas matras bulu dilantai granit itu.
"Aku duduk disini aja mas."
"Mana ada ratu duduk dibawah hemm? Sini duduk disebelahku!" pinta Sakti sembari menepuk sofa kosong disebelahnya.
__ADS_1
"Tapi aku nyaman disini mas bisa lebih bebas bergerak."
Sakti enggan berdebat memilih turun dan duduk tepat disebelah kanan Zea.
"Loh kok malah mas Sakti ikut duduk disini?"
"Iyalah, pengen deket-deket sama istri boleh dong?"
Lagi-lagi ucapan sakti yang mengklaim dirinya sebagai istri membuat hati Zea merasa terbang. Zea merasa benar-benar dimiliki tiap kali Sakti mengakui bahwa Zea adalah istrinya.
Zea hanya tersipu malu dan memasukkan potongan buah kedalam mulutnya sebagai kamuflase agar tidak diketahui Sakti bagainana rona bahagia diwajahnya mendapatkan perlakuan dan kata-kata membahagiakan berulang-ulang dari suaminya.
"Aaa..." Sakti membuka lebar mulutnya minta agar Zea menyuapinya.
"Mas mau?"
"Menurutmu?"
Zea segera menyuapkan sepotong melon kemulut Sakti dan dengan rasa bahagia Sakti menerimanya. Namun kebahagiaan kali ini mengingatkan Sakti pada mendiang mamanya, Anita. Ditatapnya wajah ayu yang berada disebelah kirinya. Wajah teduh dan membuatnya damai, dalam beberapa hari ini membuatnya seperti menjadi manusia baru yang lupa pada semua hal buruk yang pernah terjadi diantara mereka.
" Yaa Allah betapa bodoh dan tidak bersyukurnya aku menyia-nyiakan wanita sesempurna Zea. Mama, aku baru menyadarinya sekarang kenapa mama memilih Zea untuk menjadi istriku, selama ini aku dibutakan pada amarah dan keegoisanku sehingga tidak sedikitpun sudi melihat kebaikannya... Benar kata orang bijak bahwa ibu hanya akan memberikan yang terbaik untuk anaknya, sekalipun terkadang memaksa dan terkesan egois. Karena naluri seorang ibu tidak pernah salah untuk memilihkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mama, mungkinkah Sakti masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya? Kesempatan untuk mempertahankan rumah tangga yang mulai mama bangun untuk kami berdua sedangkan sudah terlalu banyak aku menorehkan luka dihati Zea. Mungkinkah Zea sudi memaafkan dan menerimaku?" batin Sakti, tanpa terasa bulir air matanya jatuh.
"Zee.."
Zea menoleh pada Sakti yang tepat berada disebelahnya, jarak mereka begitu dekat hingga hembusan nafas hangat bisa saling mereka rasakan. Mereka saling mengunci pandangan matanya. Sakti menyingkirkan beberapa helai rambut Zea yang menghalangi pandangannya menikmati wajah ayu wanita yang berhari-hari membuatnya seakan menjadi manusia baru.
"Zee, aku, aku ninta maaf untuk semua yang pernah aku lakukan padamu. Aku, sungguh menyesal. Maafkan semua kebodohan yang pernah kuperbuat, yang sudah sangat menyakitimu." ucap Sakti dengan tulus, begitu tulusnya air mata Saktipun ikut mengalir sebagai bukti kesungguhan dan penyesalannya.
Zea menatap netra coklat indah milik Sakti yang sudah mengeluarkan bulir air mata. Semua kenyataan ini terlalu cepat bagi Zea, membuatnya binggung harus menjawab apa.
"Mas, aku, aku,-"
Belum sempat Zea menyelesaikan ucapannya bibir Zea sudah dibungkam Sakti dengan bibirnya. Bukan karena Sakti bernafsu pada Zea namun Sakti terlalu takut jika jawaban Zea adalah penolakan. Tidak ada penolakan dari Zea, Sakti memperdalam ciumannya. Zea memilih memejamkan matanya menikmati perlakuan suaminya. Satu-satunya hal yang Zea rasakan adalah moment ini terlalu manis dan indah untuk disia-siakan.
Sakti terus menikmati bibir lembut milik istrinya, mengecapnya dengan penuh hati-hati dan kelembutan. Semakin lama semakin membuat Sakti merasa seakan kecanduan dan enggan untuk melepaskan tautan bibirnya meskilpun hanya sesaat. Meskipun ciumannya tidak mendapatkan balasan dari Zea namun dengan diamnya Zea Sakti yakin bahwa Zea menerimanya.
Nafas Zea mulai tersegal-segal karena Sakti tidak memberikannya kesempatan untuk mengambil nafas dengan bebas, akhirnya Sakti melepaskan tautan bibir mereka. Dengan lembut sakti mengusap bibir Zea yang memerah karena ulahnya.
"Aku tidak tau kenapa Zee, tapi aku tidak ingin jauh dan kehilangan kamu. Akhir-akhir ini tidak ada satupun yang bisa membuatku merasa nyaman dan bahagia selain jika dekat denganmu." ucap Sakti sembari menempelkan keningnya dengan kening milik Zea.
"Mas, apa ini mimpi?" tanya Zea lirih.
Pertanyaan Zea membuat Sakti tersenyum bahagia, bagi Sakti pertanyaan itu menandakan bahwa Zea pun merasakan apa yang Sakti rasakan.
"Nggak Zee, ini nyata. Mungkin aku sudah jatuh cinta padamu."
Zea mengangkat wajahnya, menatap manik coklat dihadapannya, seakan menelusuri hingga kedalam rongga-rongganya untuk menemukan kejujuran dari ucapan Sakti.
"Secepat itu?"
"Bukankah cinta itu memilih sendiri kepada siapa dia akan bertuan, tidak ada ketentuan waktu kapan kedatangannya, dan tidak memiliki ukuran besar rasanya." jawab Sakti meyakinkan Zea.
__ADS_1
"Bagaimana jika ternyata itu hanya obsesi atau rasa emosional sesaat?"
"Jika kamu ijinkan aku akan berusaha untuk membuktikan Zee." jawab Sakti mantab.
Zea hanya tersenyum, kemudian pertama kali dalam pernikahan mereka Zea berani memeluk suaminya.
"Alhamdulillah, syukur ku ucapkan padamu Yaa Robb, terima kasih sudah menyadarkan suamiku, menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dihatinya untukku. Semoga ini tidak palsu, tidak semu, dan tidak akan layu." do'a Zea dalam batinnya.
"Zee,.."
"Hmm..." jawab Zea masih dalam pelukan Sakti.
"Apa kamu bahagia malam ini?"
Zea enggan menjawabnya, memilih megeratkan pelukannya dengan Sakti.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia. Andai mama masih ada pasti akan ikut sangat senang melihat kita saat ini." bisik Sakti sembari mengecup pucuk kepala istrinya.
"Mama melihat kita dari surga mas."
"Oh ya mas. Bagaimana dengan,-..." Zea memberi jeda pada ucapannya, dirinya ragu menyebutkan nama wanita lain disaat mereka sedang bermesraan.
"Apa?"
"Emm... maaf ya mas, bagaimana dengan Vivian? bukankah mas Sakti sangat mencintai dia?"
Seketika raut wajah Sakti berubah, Sakti sama sekali tidak menyangka jika Zea akan menyinggung nama Vivian yang dalam beberapa hari ini dia lupakan. Sedangkan Zea menyadari perubahan mimik wajah Sakti segera melepaskan pelukannya. Bagaimanapun sisa-sisa trauma didalam diri Zea terhadap amarah Sakti dimasa lalu masih ada.
"Zee, maafkan aku. Bisakah jangan pertanyakan perkara Vivian saat ini? Percaya sama aku, aku akan menyelesaikan semuanya."
"Apa mas Sakti akan menikahinya?"
"Nggak sayang. Kamu istriku, jika kamu bersedia kita memperbaiki semua dan memulai lagi aku akan mengakhiri hubunganku dengan dia."
"Benarkah?"
"Benar. Aku janji."
"Bukankah mas Sakti pernah bilang kalau sangat mencintai dia? Kenapa semudah ini mau melepaskan dia dan memilih bersamaku yang dulu begitu mas Sakti benci?"
Sakti terdiam. Wajahnya bagai ditampar puluhan kali oleh Zea dengan pertanyaannya.
"Zee, aku tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang. Beri aku kesempatan memperbaiki semuanya." ucap Sakti meyakinkan Zea, seraya menakup kedua pipi istrinya.
"Bagaimana jika suatu saat mas Sakti melakukan hal yang sama padaku?"
"Nggak akan. Cobalah percaya padaku."
"Aku akan coba."
"Terima kasih Zee, terima kasih sayang." Sakti mengulang ucapannya. Hatinya lega mendapatkan kesempatan dari istrinya. Sakti sadar tidak bisa memaksa Zea namun sebagai lelaki Sakti juga tau bahwa dirinya wajib memperjuangkan apapun yang ia inginkan.
__ADS_1