
"Gue mau ketemu bos lo." ucap Vivian tanpa memperlihatkan atitude yang baik.
"Maaf bu, pak Saktinya sedang tidak ada. Beliau tidak dikantor." jawab Dian dengan sopan, sebagaimana memang sudah tugasnya sebagai karyawan.
"Nggak ada dikantor? Kemana dia?"
"Maaf bu, untuk masalah itu pak Sakti tidak memberi tahukan pada saya."
"Ah nyebelin banget!" gerutu Vivian kemudian mengambil ponsel dan mencoba menelfon Sakti. Namun Vivian mencobanya berulang kali tetap gagal karena ponselnya tidak aktif.
"Pasti gara-gara perempuan itu." ucap Vivian penuh emosi. Kemudian tanpa permisi meninggalkan meja Dian.
Diloby kantor ketika Vivian hendak kembali ke parkiran, justru melihat Zea melangkah menuju lantai atas, dimana kantor Sakti berada. Ketika Zea sedang memasuki lift, Vivian tiba-tiba sudah berada dibelakang mengikuti Zea.
Zea terkejut dengan keberadaan Vivian yang tiba-tiba, terlebih ini adalah kantor.
Zea menarik nafas panjang, berusaha sekuat mungkin menahan emosinya dan berusaha mengabaikan keberadaan Vivian.
Ketika melewati meja staf-staf lain, Zea melemparkan senyuman serta sapaan dengan bahasa tubuh yang anggun dan berkelas. Sebagian besar tentu sudah mengenal Zea dari sosial media mereka. Mereka mengira Zea akan menjalin kerja sama dengan perusahaan ini, karena mereka belum tau bahwa Zea adalah suami atasan mereka, Sakti. Selama ini Sakti memang menyembunyikan status pernikahannya dengan Zea, dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Sedang dibelakangnya Vivian tanpa malu masih mengekorinya dengan wajah sinis. Tentu saja dua kepribadian yang bertolak belakang itu akhirnya membuat karyawan saling melempar pandangan dan berbisik.
"Selama pagi bu Zea." sapa Dian dengan ramah.
Zea membalasnya dengan senyuman dan menganggukkan kepalanya lembut,
"Selamat pagi."
"Bu Zea, tadi pak Sakti sudah menelfon saya dan,-"
"Baiklah. Tidak perlu diperpanjang sekarang penjelasannya." Zea memberi isyarat dengan melirik pada posisi Vivian yang bergaya angkuh dan terkesan norak dibelakangnya.
"Baik bu. Silahkan, saya antar ke ruangan pak Sakti." ucap Dian kemudian yang sudah sadar dengan keberadaan Vivian.
"Tidak perlu, saya akan masuk sendiri. Kamu lanjutkan perkerjaanmu. Jika aku memerlukanmu aku akan menghubungimu."
"Baik bu."
Zea kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruangan yang cukup besar. Dimana segala sesuatunya tertata dengan rapi. Tidak terkecuali Vivian yang masih juga mengikutinya.
__ADS_1
"Katakan, apa perlumu sampai harus mengekor padaku." ucap Zea sembari meletakkan tas kecilnya dimeja kerja Sakti.
"Ngapain kamu kesini?"
"Untuk apa kamu ingin tau urusanku. Dan tidak perlu juga aku memberi tahumu tentang urusanku." jawab Zea dengan gaya elegannya.
"Hallah, gaya banget. Kamu pikir kamu bisa menang dari aku!"
"Kita tidak sedang berkompetisi. Karena tanpa berkompetisi denganmu, sudah jelas akulah pemenangnya, akulah pemilik yang sah."
"Kamu!" Vivian menunjuk wajah Zea namun tidak melanjutkan ucapannya.
"Hati-hati dengan telunjuk ini." ucap Zea sembari menyingkirkan jari telunjuk Vivian dari depan wajahnya.
"Karena jika tidak bijaksana menggunakannya, bisa jadi akan ada orang yang memotong dan mengambilnya." lanjut Zea dengan tatapan mata tajam.
"Kamu terlalu percaya diri. Kamu tau, aku seringkali memadu cinta dengan Sakti disini." ucap Vivian mencoba memprovokasi Zea.
Hati dan telinga Zea terasa panas mendengarnya, namun dia tau bahwa Vivian sedang memprovokasinya untuk marah dan lepas kendali.
"Oh ya? Sayang sekali, setelah entah berapa banyaknya kau dicicipi suamiku, akhirnya kamu dibuang juga. Ah, mana ada kumbang yang terus-terusan mau menghisap sari bunga beracun."
"Oh ya? Tapi sayang, suamiku itu sekarang sangat pintar dan bijaksana. Dia lebih memilih tersiksa dan melawan racun itu hingga mati daripada hidup dengan selalu meminum racunmu."
Mata Vivian memerah, dirinya mulai terpancing dan terjebak dengan permainan yang dia mulai.
" Kamu pasti tidak tau penyebab kematian tante Anita." Vivian mengalihkan topik yang membuat Zea mudah terprovokasi.
"Apa maksudmu!" disinggung mengenai almarhumah ibu mertuanya Zea menjadi terpancing dan penasaran.
Vivian tersenyum licik, merasa umpannya mulai membuat penasaran Zea.
"Kamu tau sebelum tante Anita masuk rumah sakit itu, Sakti dan temannya sedang membicarakan rencananya untuk menceraikan kamu dan melemparkan kamu pada temannya."
"Apa? tidak mungkin!"
Smirk puas tampak dari wajah Vivian, membuatnya semakin ingin menyerang balik Zea.
__ADS_1
"Apanya yang tidak mungkin. Sakti sendiri yang mengatakan bahwa dia akan menceraikanmu dan memberikanmu pada temannya sebagai hadiah, karena dia sangat tidak mengingknkanmu. Obrolan mereka kemudian didengar oleh tante Anita. Lalu jantung tante Anita kambuh sampai akhirnya dia meninggal."
Mata Zea mengembun, dirinya masih bisa menerima dan memaafkan kesalahan sakti Sakti selama ini, namun jika ucapan Vivian benar, bagaimana dia bisa memaafkan suaminya itu. Bagaimana dia bisa dinikahi lelaki sekejam itu.
"Itulah sebabnya, mengapa Sakti begitu terpukul dan menyesal hingga mengurung diri berhari-hari, itu karena rasa bersalahnya pada tante Anita." lanjut Vivian.
Sejenak Zea terdiam, kemudian bertepuk tangan,
"Hebat! Kamu bukan hanya tidak tau malu, tapi kamu juga pandai sekali mengarang cerita. Kenapa tidak menjadi penulis saja!" ucap Zea dengan ekspresi wajah tenang.
"Hahahaahaa... Kamu ternyata benar-benar bodoh. Selama ini kamu hanya dianggap pembatu oleh Sakti, selamanya akan begitu. Laku sekarang ketika kamu diperlakukan sedikit lunak kamu langsung besar kepala. Berpikir bahwa Sakti benar-benar tulus padamu. Heh, mimpimu ketinggian. Bangun!!"
"Kurasa kamulah yang terlalu tinggi berharap bisa merebut milikku. Aku heran bagaimana bisa suamiku itu dulu bisa memiliki selera wanita begitu rendah."
"Dia justru terlalu tergila-gila padaku. Lihat, semua yang pakai ini, Saktilah yang membelikannya. Dia selalu memanjakan aku, memberikan apapun yang aku inginkan. Sedangkan kamu? Kamu hanya memiliki goresan tinta diatas selembar kertas."
"Dan kamu bangga mendapatkan semua itu dari suami wanita lain? Duh.. duh.. Bukankah kamu selalu mengatakan kamu berpendidikan dan seorang model top. Tapi atitudemu kemana? Harga dirimu kamu letakkan dimana? Anggaplah kamu sudah mendapatkan banyak hal dari suamiku, lalu apakah sebanding dengan yang kamu korbankan? Dan sebanyak-banyaknya yang kamu dapat, tidak akan lebih banyak dari hak yang menjadi milikku."
"Berhenti berkhayal! Sebaiknya kamu simpan kepercayaan dirimu itu. Karena Sakti pasti akan menceraikanmu!"
"Baiklah, kita buktikan nanti. Siapa yang akan menanggis dan mengemis kepada suamiku nanti!"
"Dan bersiaplah, ketika Sakti nanti membuangmu, maka kamu akan dilemparkan pada lelaki lain."
"Omong kosong!"
"Jika kamu tidak percaya tanyakan pada Kevin! Apakah aku jujur atau bohong!"
Dada Zea naik turun, dia kesulitan mengatur nafasnya karena bagaimanapun ucapan Vivian telah berhasil memprovikasi dirinya.
"Kevin?"
"Iya Kevin, sahabat Sakti. Ah sudahlah, sudah terlalu lama aku buang-buang waktuku disini. Aku akan pergi, dan jangan lupa dengan ucapanku tadi. Daaah..." Vivian berjalan melenggak lenggok meninggalkan Zea.
Zea memalingkan wajahnya kearah lain.
Tangisnya pecah, kedua tangannya berusaha menutupi suara tangisnya agar tidak terdengar orang lain.
__ADS_1
"Mas, haruskan sesakit ini?" ucap Zea melemah...