
Zea tampak banyak diam selama dikafe. Wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu yang berat, dan semua itu tidak luput dari perhatian sahabat terbaiknya, Nella.
"Mikirin apa? Ada masalah?" kedatangan Nella membuyarkan lamunannya.
Zea terdiam sejenak, menimbang perlukah dia menceritakan peristiwa pertemuannya dengan Sakti tadi malam dan berlanjut dengan perubahan drastis sikapnya pada Zea. Namun Zea merasa sekarang bukanlah saat yang tepat, lagipula Zea belum tau apa yang tengah Sakti rencanakan dengan perubahan sikapnya saat ini. Jadi Zea memilih untuk menyimpannya sendiri dulu.
Zea menggelengkan kepalanya.
"Jangan bohong sama aku Zee, kamu boleh tidak cerita sama aku jika itu pilihan terbaikmu. Tapi ingat aku masih bisa diandalkan untuk jadi tempat pertama jika kamu perlu cerita."
"Aku tau Nell. Makasih yaa untuk semuanya. Kamu yang sahabat terbaik dalam hidupku." Zea memeluk Nella yang duduk disebelahnya.
"Zee, kita hari minggu nanti gada acara kan yaa?" Nella mengurai pelukan mereka.
"Kenapa?"
"Soalnya kemarin bu Sinta telfon aku. Dirumahnya ada acara syukuran gitu dan kita diundang. Aku lupa kasih tau kamu kemarin. Jadi rencananya pengen bareng kerumah bu Sinta."
"Emm... syukuran apa?"
Nella mengendikkan bahunya tanda tidak tau.
"Ya atur kamu gimana baiknya, aku ikut aja."
"Ya udah aku ke cabang 2 dulu ya, kamu lanjutin tuh hitung keuangan bulan ini, jangan banyakan ngelamun tar salah hitung bisa gak jadi dapat untung kita." goda Nella sambil geloyor pergi.
Zea hanya membalas candaan sahabatnya itu dengan senyuman.
Drrttt.... drrttt...
Suara getar notifikasi pesan masuk diponsel Zea.
Zea dengan malas membuka aplikasi pesan diponselnya, dari sekian banyak pesan yang masuk ada nama Sakti yang membuatnya nyaris mengira dirinya salah membaca nama.
Sakti
"Pulang kerja jam berapa? Mau pulang bareng?"
Zea bukannya segera membalas tapi justru dirinya kembali gelisah. Hatinya tidak berhenti bertanya-tanya apa sebab sikap Sakti tiba-tiba berubah 180° menjadi lebih hangat dan perhatian padanya.
"Mungkinkah mas Sakti sudah berubah? Mungkinkah dia sudah sadar? Atau dia sedang merencanakan sesuatu karena tinggal 3 bulan lagi perjanjian kita berakhir. Tidak, tidak, mas Sakti tidak mungkin sudi bersikap sebaik itu padaku jika tidak ada rencana lain dibaliknya. Tapi apa? Bukankah dia sendiri yang selama ini begitu benci dengan keberadaanku, lalu kenapa sekarang dia seakan begitu ingin nempel padaku? Yaa Robbi apa rencana mas Sakti yang sebenarnya?" batin Zea.
Drrttt... drrrttt...
Sakti
"Kok cuma dibaca? Sibuk ya?"
"Huufftt... aku mesti jawab apa coba?" grutu Zea sebelum akhirnya memutuskan untuk menolak dengan halus tawaran Sakti karena Zea takut jika akhirnya akan dicecar pertanyaan dan dapat omelan dari Nella jika mereka pulang bersama. Zea sudah sangat paham seberapa Nella ikut sangat kecewa dengan sikap Sakti pada dirinya dulu.
Zea
"Sedikit sibuk mas. Mas Sakti nggak usah repot-repot jemput, takut mas Sakti kecapekan. Aku bisa pulang sendiri kok."
Ditempat lain Sakti yang sudah tidak sabar menunggu balasan dari Zea tiba-tiba wajahnya berubah kesal begitu membaca balasan dari Zea. Kedua jari jempol Sakti bergerak cepat mengetik balasan pesan dan mengirimkannya pada Zea.
Sakti
"Aku nggak sibuk jadi nggak capek. Nggak papa juga sesekali pulang bareng sekalian."
Jawaban Sakti sukses membuat kedua mata Zea membulat sempurna.
"Sekalinya baik justru bikin takut. Yaa allah sebenarnya apa yang terjadi dengan mas Sakti?" gumam Zea sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap menolak tawaran Sakti.
Zea
"Aku pulang sama teman aja mas. Biasanya aku juga pulang bareng sama dia. Kebetulan searah. Aku tadi belum sempat ngomong sama dia, nggak enak kalau nanti dia nunggu aku."
Sakti melempar ponselnya keatas meja. Dadanya terasa panas sampai menarik dasi yang tertali rapi dileher dan melonggarkannya.
"Siapa temannya itu? Bisa-bisanya tadi pagi dia nolak berangkat bareng dan sekarang nolak pulang bareng. Jangan-jangan laki-laki ditaman tadi pagi. Zea awas saja kalau sampai kamu bersama laki-laki lain." ucap Sakti sambil mengepalkan kedua tangannya.
Ponsel Sakti berdering, dengan cepat ia lihat layar diponselnya berharap panggilan dari Zea, namun seketika wajahnya berubah malas ketika melihat nama Vivian yang muncul. Biasanya Sakti paling semangat mendapat telfon dari Vivian namun tidak untuk saat ini, moodnya sedang tidak baik.
"Hallo." sapa Sakti dengan malas.
"Hallo sayang, sibuk ya?"
"Iya aku lagi sibuk nih. Ada apa?"
"Nanti bisa jemput aku distudio nggak?"
__ADS_1
"Maaf, aku nggak bisa jemput kamu memangnya nggak bawa mobil sendiri?"
"Bawalah, cuma aku kangen sama kamu. Pengen berdua dan dimanjain kamu." terdengar suara Vivian menggoda manja. Sakti yang mendengarnya menjadi merasa aneh bahkan membuat perutnya mual dan bergidik. Padahal biasanya suara Vivian yang mendayu-dayu manja adalah suara yang paling membuatnya lemah dan sulit untuk menolak apapun permintaan Vivian.
"Lain kali aja ya. Aku sibuk banget hari ini." jawab sakti kembali beralasan.
"Bagaimana kalau aku langsung kerumahmu aja seperti biasa?" Vivian belum mau menyerah untuk merayu Sakti.
"Jangan!!!" jawab sakti reflek membuat suaranya menjadi keras.
"Kok teriak sih?" protes Vivian dengan nada marah.
"Maksudku jangan kerumah, aku aja belum tau nanti pulang jam berapa. Lain kali saja kita ketemu yaa! Aku sibuk nanti kita sambung lagi oke." tanpa menunggu jawaban dari Vivian Sakti langsung mematikan telfonnya dan kembali melemparkan ponselnya keatas meja.
* * *
Sudah 5 jam Sakti menunggu Zea disalah satu cabang kafe D'Generation dari jam 5 sore sampai jam 10 malam, Sakti sengaja memilih meja didekat pintu keluar untuk menunggu Zea, berjaga-jaga jika Zea keluar agar bisa mengenalinya, sekian lama menunggu tapi belum tampak ada Zea dikafe itu.
Sakti melambaikan tangannya memberi isyarat memanggil pelayan.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Mbak, tau Zea?"
"Oh bu Zea, iya pak saya tentu tau. Bapak mau titip sesuatu untuk bu Zea?"
"Nggak, cuma mau tanya apa Zea masih didalam?"
"Oh bu Zea hari ini tidak kesini pak, tadi yang kesini cuma bu Nella."
"Nella? Untuk apa Nella datang kesini?" batin Sakti bertanya-tanya namun segera ia abaikan, tujuannya kesini adalah Zea bukan yang lain.
"Memangnya kalau tidak disini trus dia dimana?"
"Mungkin bu Zea dikafe pusat pak. Kalau bapak mau titip sesuatu untuk bu Zea, bisa sama saya saja. Besok kalau bu Zea kesini saya sampaikan. Tadi juga banyak yang titip untuk bu Zea."
"Banyak yang titip untuk Zea? Maksudnya?" tanya Sakti penasaran sekaligus cemburu.
"Itu yang ada disana semua adalah titipan fans-fansnya bu Zea." jawab pelayan itu sambil menunjukkan meja kasir yang disebelahnya ada estalase kaca besar berisi berbagai macam barang seprti boneka, buket bunga, kotak kado,dan lainnya.
"Fans? Memangnya Zea artis atau apa sampai banyak fansnya?"tanya Sakti semakin binggung.
"Aku kurang paham dengan maksudmu. Bisa tolong diperjelas?"
"Lha bapak ini sebenarnya kenal sama bu Zea nggak kok bapak malah binggung?" tanya pelayan itu balik.
"Iyalah saya kenal, saya adalah,-" Sakti tidak melanjutkan ucapannya.
"Sudah nggak jadi. Terima kasih ya." ucap sakti sembari mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya diatas meja.
"Tolong bayarkan ke kasir untuk pesanan saya." sakti bergegas pergi.
"Tapi pak uangnya kebanyakan."
"Ambil untukmu!" jawab Sakti tanpa berhenti berjalan.
Sakti dengan kesal masuk kedalam mobil.
"Sial banget nunggu 5 jam ternyata orangnya nggak ada." gerutu Sakti kesal karena tadinya ia ingin memberi surprise pada Zea dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Selain itu Sakti berpikir supaya Zea tidak akan memiliki alasan lagi untuk menolak pulang bersama justru gagal total.
Sakti mengambil ponsel di saku celananya dan melakukan panggilan pada Zea.
"Assalamu'alaikum mas..." suara Zea memberi salam.
"Wa alaikumsalam Zee, lagi dimana?"
"Aku dirumah mas."
"Emang udah pulang?"
"Sudah."
"Kapan? Jam berapa?"
"Dari jam 8 tadi. Memangnya ada apa mas?"
"Nggak papa. Kamu mau aku bawain sesuatu gak? Makanan atau apa gitu?"
"Nggak mas. Makasih, aku dah ngantuk mau tidur."
"Oh ya udah. Met istirahat ya."
__ADS_1
"Iya mas, makasih."
"Sama-sama Zee."
Tuuttt... tuuttt... tuuttt...
Suara panggilannya ditutup Zea.
Sakti menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya dikursi kemudi.
"Kenapa aku bisa melakukan hal bodoh dan segila ini sekarang karena Zea? Apa dia sengaja ingin mempermainkan aku untuk balas dendam? Ah, rasanya musthail Zea memiliki pikiran seperti itu." batin Sakti.
Sakti akhirnya memutuskan untuk kembali pulang dengan rasa kecewanya.
Drrrttttt... drrrttt....
Ponsel Sakti bergetar pertanda panggilan masuk.
Ada nama Kevin disana,
"Hallo.." sapa Sakti dengan nada malas.
"Hallo bro, kanapa lo suaranya lemas amat?" tanya Kevin diseberang telefon sana.
"Gak ada apa-apa sih, cuma lagi badmood aja."
"Wuiih,... Kebetulan nih, party yuk. Barusan cewek lo telfon gue ngajakin ke tempat biasa."
"Nggak aah, males, gue capek." penolakan Sakti sukses membuat Kevin terkejut. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama Sakti menolak untuk diajak party di club malam, terlebih ada Vivian disana.
"Lo ada masalah apa sih bro, tumben banget sampau nggak mau diajak party, biasanya elo yang ngajak kita-kita."
"Gue bener-bener lagi pengen sendiri. Lo pergi aja, gue mau pulang." selesai dengan kalimatnya Sakti langsung memutuskan panggilan telfon dari Kevin.
* * *
Sudah tiga hari Sakti selalu bangun saat adzhan subuh berkumandang lalu ikut Zea joging ditaman.
Setiap pagi Zea selalu mendapat surprise dengan keberadaan sakti yang sudah menunggunya untuk berangkat olahraga bersama. Belum lagi sikap Sakti yang mendadak begitu perhatian dan selalu mengajaknya berangkat dan pulang kerja bersama membuat Zea menjadi tidak nyaman. Ada rasa khawatir dan takut dengan apa yang Sakti rencanakan sebenarnya, selain itu juga Zea takut jika Nella tau maka akan salah paham padanya. Sampai hari keempat ini Zea masih bisa mencari-cari alasan untuk menghindari ajakan Sakti namun dirinya juga binggung mau sampai kapan terus-terusan menghindari sakti yang semakin ingin menempel terus padanya, bukan hanya itu sekarang Sakti semakin mewajibkan untuk mereka sarapan bersama setiap pagi.
"Hari ini kan weekend. Jalan-jalan yuk." ajak Sakti sambil menyendok nasi goreng sebagai menu sarapannya hari ini.
"Haah? Jalan-jalan? Berdua?" tanya Zea mulai merasa semakin tidak nyaman.
"Iyalah, memangnya mau ajak mbok Nah juga?"
"Em... Maaf mas tapi hari ini aku sudah ada janji."
"Acara apa? Kemana? Sama siapa?"cecar Sakti dengan raut wajah curiga.
"Mau datang ke undangan bu Sinta."
"Aku antar ya."
"Aku udah janjian berangkat bareng sama teman mas."
"Sama teman terus, sama aku kapan? Kamu selalu nolak kalau kuajak bareng. Kenapa? Takut ketauan pacarmu ya?"
"Astaghfirullah... Pacar apa mas?"
"Nggak papa. Lupain aja!" jawab Sakti dengan wajah kesal yang tidak ada niat untuk dia sembunyikan.
"Mas Sakti kenapa sih kok jadi aneh?"
"Aneh gimana? Aku biasa dan normal-normal saja."
"Maaf mas jangan tersinggung. Mas Mudah sekali berubah-ubah sikapnya. Sebentar baik, sebentar sabar, sebentar ngambekan."
"Kamu gak paham sama aku Zee. Kanapa sih susah banget buat kamu ngerti!" ucap Sakti semakin kesal.
"Mas, kalau aku nggak paham dengan kemauan mas ya tolong jelaskan supaya aku paham. Jangan mudah marah."
"Ya masa kamu dari kemarin nggak paham-paham."
"Paham apa mas?"
"Sudahlah. Aku malas berdebat." ucap Sakti seraya berdiri dan geloyor pergi masuk kedalam kamarnya dilantai atas tanpa menyelesaikan sarapannya.
Tiba-tiba selera makan Sakti hilang karena untuk sekian kalinya Zea menolak dirinya untuk pergi berdua, dan merasa keinginannya gagal untuk dipahami oleh Zea.
"Astaghfirullah kenapa mas Sakti ngomong gitu? Ternyata benar dia belum berubah sama sekali. Eh, tapi kenapa dia nggak marah atau hina aku seperti dulu? Kenapa dia tampak kesal tapi memilih pergi bukannya mencak-mencak melampiaskan emosinya padaku lagi?" Zea bermonolog.
__ADS_1