
Sakti dengan semangat bersiap pulang, meskipun terlambat karena banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan tapi tidak mengurangi semangatnya untuk segera pulang. Dalam benaknya membayangkan makan malam berdua dengan menu masakan istri pasti sangat romantis dan menyenangkan. Baru membayangkan saja sudah sangat senang apalagi nanti. Bahkan disepanjang jalan, senyum tidak memudar dari bibirnya, juga sesekali mengikuti lirik lagu yang ia putar untuk menemani perjalanannya pulang.
Sementara itu sebuah mobil masuk kehalaman rumah. Sepasang kaki jenjang dengan high heels berkilau, berjalan masuk kedalam rumah. Tidak perlu dia mengetuk pintu ataupun permisi karena dia sudah sangat terbiasa keluar masuk rumah karena selama ini si empunya memberikan ijin dan kebebasan kepadanya.
Dilihatnya mbok Nah sedang menata berbagai macam hidangan diatas meja.
"Wowww... banyak banget makanannya mbok. Mau ada acara apa nih?" suaranya mengagetkan mbok Nah.
"Non Vivian kapan datang?" bukan menjawab pertanyaan Vivian, justu mbok Nah bertanya kembali, karena binggung sekaligus panik dengan kehadiran sosok yang tengah berdiri sexy dihadapannya.
"Baru saja. Mbok Nah sibuk dan terlalu fokus pada makanan jadi nggak sadar deh kalo ada aku."
"Mas Sakti sudah pulang Mbok?" terdengar suara Zea dari arah dapur.
Vivian memandang tajam mbok Nah begitu mendengarkan pertanyaan Zea yang berada didapur, berbatas tembok dengan meja makan.
Tak berapa lama Zea muncul, bermaksud menyambut suaminya pulang. Namun yang berdiri dihadapannya membuat hatinya tiba-tiba panas sekaligus sakit seperti tertusuk ratusan pecahan kaca.
"Kamu nungguin Sakti pulang? Nggak salah? Jangan-jangan kamu masak sebanyak ini berharap untuk bisa makan malam berdua dengan dia? Haaaahh...? Yaa ampun, bangun woey...! Tidurmu terlalu nyenyak, bikin mimpimu terlalu tinggi!" kalimat demi kalimat angkuh bertubi-tubi Vivian lontarkan dari mulutnya.
Zea sadar betul siapa yang tengah dirinya hadapi sekarang. Dia berusaha menahan dirinya untuk tenang agar tidak emosi ataupun tidak terlihat lemah. Menghadapi wanita ular seperti Vivian haruslah dengan kecerdasan pikiran bukan dengan emosi.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Zea santai.
"Eh... siapa kamu, berani bertanya seperti itu padaku. Kamu pikir kamu memiliki hak untuk bertanya seperti itu padaku?"
"Tentu saja aku memiliki hak. Ini adalah rumahku, jadi aku berhak tau, menerima, maupun menolak orang asing kedalam rumah ini."
__ADS_1
"Apa kamu tidak salah ngomong? Hey, coba Mbok Nah ambilkan air dan siramkan kewajah perempuan itu. Dia sedang berbicara sambil tertidur, disaat mimpinya sedang tinggi."
"Mbok Nah itu cerdas, dan memiliki atitude. Dia nggak mungkin melakukan hal-hal yang hanya akan dilakukan oleh manusia berpikiran kerdil."
"Kamu! berani mengataiku! Mau cari mati hah?" tantang Vivian yang merasa berkali-kali mendapat perlawanan dari Zea.
"Pergilah kamu dari sini dengan baik, pintu keluarnya sama dengan pintu kamu masuk tanpa permisi tadi! Atau jika kamu tidak mau dengan baik-baik maka aku suruh scurity yang seret kamu keluar. Dan satu lagi, kamu mungkin tidak tau bahwa masuk kedalam rumah orang tanpa ijin itu bisa dipidanakan." ucap Zea tetap berusaha elegan dengan kalimat yang lebih keras.
"Hahahaaa... bukan hanya mimpi, ternyata kamu sedang mengigau ya! Eh asal kamu tau saja aku kesini karena Sakti yang memintaku datang. Dan kamu mau mengusirku? Kamu pikir kamu benar-benar nyonya dirumah ini? hahaha..." Vivian mengakhiri ejekannya dengan tawa keras.
"Mas Sakti memintamu datang? Tidak mungkin! Kamulah yang bermimpi!" Zea sedikit mulai terpancing ucapan Vivian.
"Duuh, rasanya baru kemarin aku nggak kesini, kenapa tiba-tiba kamu sudah gila? Apa begitu tinggi ekspektasimu pada Sakti? Sampai-sampai membuatmu gila. Ah sudahlah toh 2 bulan lagi kamu akan menjadi janda, dan aku yang akan menjadi nyonya dirumah ini. Jadi untuk apa kamu menyia-nyiakan waktumu merayu Sakti, dia nggak mungkin mau sama kamu."
"Anggap saja ucapanmu benar, tapi masalahnya sekarang akulah yang masih menjadi nyonya disini. Jadi aku lebih memiliki hak untuk apapun didalam rumah ini, termasuk menyingkirkan paksa kamu. Pergi saja kamu dari sini! Mbok Nah panggilkan scurity untuk mengusir serangga beracun ini! Dia benar² seperti kutu." Zea tak mau kalah, dia tetap menjaga nada bicaranya meskipun sebenarnya dia sudah sangat muak mendengarkan ucapan Vivian.
Sementara Vivian masih terus bicara dengan kalimat-kalimat jahatnya. Mbok Nah yang baru saja keluar memanggil pak Dadang kembali lagi, bukan dengan scurity melainkan dengan Sakti.
Sakti memandang Zea yang sudah nampak menahan emosi serta kekecewaan yang besar padanya.
"Zee, aku bisa jelaskan semua ini." ucap Sakti dengan suara bergetar, wajahnya panik, serta Zea mampu melihat jelas ketakutan besar dari matanya. Zea tidak pernah melihat tatapan Sakti yang demikian.
"Benar. Kamu memang harus menjelaskan ini semua, sekarang mas. Agar dia tau bagaimana status dan posisinya disini." jawab Zea berusaha tetap tegar.
Sementara Sakti panik dengan kondisi seperti ini, Vivianpun tak luput merasa binggung melihat Sakti yang tidak seperti biasanya.
Zea dengan sikapnya yang tenang memilih duduk disalah satu bangku dimeja makan tersebut.
__ADS_1
"Vivian, duduklah. Mas Sakti, duduklah dan jelaskan semuanya sekarang agar aku maupun dia bisa paham dengan status dan posisinya baik dalam status, dalam hidupmu, maupun didalam rumah ini." ucap Zea tenang.
"Zee, biarkan Vivian pergi akan aku jelaskan semua padamu." Sakti mendekat dan memilih duduk disebelah Zea.
"Sakti! Ada apa sih? Kok kamu malah tiba-tiba bersikap lembek begini sama dia?" tanya Vivian yang sudah tidak tahan lagi untuk mengerti semua yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Vivian diamlah! Akan sangat lebih baik kalau kamu menutup mulutmu saat ini!" Sakti menekankan ucapannya perlahan namun penuh emosi yang tertahan.
"Tidak mas! Aku dan dia sama-sama berhak tau. Apakah ada yang belum kamu selesaikan dengan dia? Atau justru ada yang harus kamu selesaikan dengan aku segera?" ucap Zea dengan tenang, membuat Sakti semakin takut untuk menghadapi situasi ini.
"Zee, aku mohon biarkan Vivian pergi dulu. Aku akan menyelesaikan ini semua. Kali ini saja percayalah padaku." suara Sakti bergetar memohon pada Zea.
"Drama apa lagi ini? Kamu membuat ulah apa hah?" ucap Vivian sembari jemarinya menunjuk pada Zea.
"Jaga ucapan dan jari-jarimu! Aku selama ini diam bukan berarti bisa terus kau injak! Seberapapun lamanya harimau tidur pasti ada saat dia terbangun juga!" seketika nada bicara Zea meninggi. Bahkan tatapan tajamnya membuat nyali Vivian menciut seketika.
Sakti meraih dan mengenggam erat tangan kanan Zea. Menatap Zea masih dengan tatapan yang semakin sulit untuk Zea pahami. Ini bukanlah Sakti yang dulu, Sakti yang dulu tidak punya tatapan mata selemah ini dihadapannya.
"Mas, kamu seorang laki-laki. Pantang bagi laki-laki itu menghindar ataupun lari dari tanggung jawabnya dalam situasi apapun. Saat ini mas Sakti hanya perlu menjelaskan pada kami tentang status dan posisi kami masing-masing didalam hubungan, didalam rumah, maupun didalam hidupmu. Selama ini bagaimanapun dirimu aku tetap bertahan hingga titik ini. Mungkin inilah saatnya kamu harus bisa menetapkan sikapmu mas." ucap Zea masih dengan nada tenang disetiap katanya.
Sementara Vivian yang melihat keduanya semakin panas. Segera diraihnya lengan tangan Sakti dan menariknya dengar keras.
"Sayang, sudahlah. Semakin lama disini kita akan semakin gila seperti dia." ucap Vivian sembari melirik Zea.
Sakti berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Vivian, Zea berdiri.
"Baiklah, mungkin memang akan sangat jauh lebih baik jika kalian berdua saja yang bicara. Mas Sakti aku permisi dulu."
__ADS_1
Sakti terpaku mendengar ucapan tegas Zea.
"Mbok Nah, tolong bereskan makanan ini. Jangan sampai ada serangga yang menyentuh makanan yang ku buat dengan susah payah." Ucap Zea sedikit keras karena Mbok Nah didalam dapur dan sengaja menggunakan kata serangga untuk menyindir Vivian.