Terabaikan

Terabaikan
Bagian 9


__ADS_3

"Assalamu'alaikum" Zea dan Nella dengan kompak mengucap salam pada bu Sinta yang tengah sibuk menyapa tamu-tamunya yang datang.


"Wa'alaikumsalam Zea, Nella, kalian sudah datang." jawab bu Santi sambil mendekati mereka dan bersalam cipika-cipiki.


"Ayo masuk, acara udah mau dimulai nih." lanjut bu Sinta mengajak mereka bergabung dengan tamu undangan lainnya.


Bu Sinta meninggalkan Nella dan Zea yang duduk bersebelahan dan kedepan kemudian bu Sinta duduk bersebelahan dengan suaminya. MC mulai membuka acara syukuran itu, dari pembukaan acara itu baru mereka berdua ketahui bahwa itu adalah acara syukuran karena anak pertama bu Sinta baru saja menyelesaikan pendidikannya, ilmu kedokteran di Australia.


Tak lama kemudian MC memanggil putra bu Sinta dan memperkenalkannya pada tamu undangan, tampak seorang pria muda, gagah, tinggi, dengan wajahnya yang tampan berwibawa yang ia warisi dari wajah ayahnya, juga mata senyum lembut dan meneduhkan yang ia warisi dari ibunya. Berjalan dengan penuh kharisma dan berhenti ditengah-tengah antara kedua orang tuanya.


"Masya Allah ganteng banget tuh cowok." ucap Nella mengagumi pemuda itu dengan mata tetap tertuju padanya.


Zea menyenggol tangan Nella,


"Istighfar inget suami sama anak dirumah."


"Astaghfirullah... Aku inget Zee sama suami dan anak. Tapi pemandangan bagus gini juga perlu dinikmati, biar nggak mubazir."


"Huussstt...!!! Bukannya mubazir, Zina mata malah iya!"


Nella hanya menanggapi Zea dengan nyengir kuda menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Acara berjalan dengan lancar, dan waktunya untuk mereka berpamitan pada pemilik rumah.


"Bu Sinta, kami berdua pamit dulu." ucap Nella sembari menyalami bu Sinta serta memberi isyarat salam pada suaminya.


"Terima kasih ya Nella, Zea udah datang. Oh ya tapi kenalin dulu ini anak ibu paling ganteng. Satria." bu Sinta memperkenalkan putranya dengan bangga pada Zea dan Nella.


Zea dan Nella memberi isyarat salam pada putra bu Sinta,?


"Selamat ya mas Satria, semoga ilmunya bermanfaat untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan." Zea memberikan ucapan selamat pada Satria sedangkan pandangan Satria justru terkunci pada Zea. Merasa mendapatkan pandandangan yang tidak biasa membuat Zea menjadi salah tingkah, tidak terkecuali bu Sinta yang justru melemparkan candaan pada mereka.


"Ih Satria, kok malah terpana lihatin Zea sih? Kendipin tu mata tar ada lalat lewat bertelor tau rasa looh." seloroh bu Sinta membuat Satria menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah.


"Ah mama apaan sih. Terima kasih mbak Zea do'anya." ucap Satria sambil berusaha terlihat normal namun tidak dengan matanya yang masih enggan berpaling dari wajah Zea.


Zea membalasnya dengan anggukan kepala dan kemudian berlalu melewati Satria yang matanya masih curi-curi kesempatan terus mengikuti Zea sembari menyalami tamu-tamu lain yang berpamitan.


"Ciee... Ternyata pak dokter muda jatuh kedalam pesonamu juga Zee." goda Nella saat mereka sudah keluar dari rumah bu Sinta dan berada didalam mobil.


"Apaan sih!"


"Ganteng, muda, calon dokter hebat kayaknya mah."


"Trus kenapa?"


"Yaah masa kamu malah tanya kenapa, yaa kan kalau dia mau kenapa ngga disambut aja?"


"Jangan ngawur deh Nell! Ingat kalau aku ini istri orang, istri sepupumu sendiri!" Zea mengingatkan status dirinya pada Nella yang mengodanya.


"Iya istri yang tak dianggap!" ucap Nella ketus.


"Nell, dianggap atau tidak nyatanya kami masih berstatus suami istri."


"Dan tidak berstatus yang sama dalam waktu tiga bulan lagi!" sanggah Nella tak mau kalah.


"Nell tega banget ngomong gitu?" protes Zea dengan wajah memelas, Zea tidak bisa marah karena sepedas-pedasnya ucapan Nella adalah kenyataan yang sedang dan akan dia hadapi, apalagi hanya Nella yang selalu ada untuknya bahkan disaat dirinya sangat terpuruk sembilan bulan lalu. Dan Nella pula yang membantu Zea merubah drastis diri dan hidupnya dalam sekejap. Kenyataan ini tentu tidak akan pernah Zea lupakan seumur hidupnya.


"Yaa abis aku kesel banget tau ngga! Pernikahan ngga jelas gitu masih dipertahankan. Mending sudahi dan mulai lagi dengan pernikahan baru yang normal. Kamu berhak bahagia Zee, berhak mendapatkan yang terbaik bukan orang bodoh yang sama Allah dikasih istri seperti mutiara tapi malah milih cewek bermuka plastik." jawab Nella sengit.

__ADS_1


"Nggak semudah itu Nella."


"Mudah saja jika kamu bisa berpikir realistis dan menerima kenyataan!"


"Nell siapa pula yang sudi menerima aku apa adanya jika dia tau aku berstatus janda dua kali? Berat Nell buatku, terlebih untuk memulai rumah tangga baru. Yaa kalau suaminya lebih baik lagi, kalo sama aja gimana?"


"Heeeuufftt...." Nella menghela nafas kasar, dirinya kesal karena tidak mampu mengangkat sahabatnya dari masalah yang terus menjeratnya.


"Soal pria yang bisa menerimamu apa adanya pasti banyak Zee, lihat saja setiap hari berapa banyak orang yang begitu menyanjungmu dan memberikanmu hadiah. Bahkan bukan cuma pria dewasa ibu-ibu dan anak-anakpun ikut ngefans sama kamu."


"Mereka menyukaiku karena tidak tau siapa aku sebenarnya Nell."


"Akh itu perasaanmu saja. Jikapun mereka tau aku yakin mereka tetap akan menyukaimu. Mereka menyukaimu karena dirimu, karena kepribadianmu, bukan karena statusmu."


"Nell semua butuh waktu."


"Dan kamu harus ingat Zee semua juga butuh usaha, dan tiap orang memiliki hak dan kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. semua orang berhak bahagia. Tidak terkecuali kamu." Nella menekankan kata bahagia pada ucapannya.


"Iya Nell aku pasti akan ingat."


"Buktikan pada si bodoh itu kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia."


"Bagaimana kalau aku nggak bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia?" tanya Zea sembari tersenyum memancing reaksi Nella yang bicaranya ceplas ceplos karena mudah terpancing.


"Pasti bisa. Kalau perlu aku bisa bantu seleksi. Masa dari semua penggemarmu nggak ada yang masuk kriteria. Tapi, tunggu dulu! Bukannya Satria bisa masuk dalam kandidat utama? Hahahahaa..." Nella seketika tertawa.


"Nella! Dia terlalu sempurna untuk aku yang bukan siapa-siapa."


"Cieee... Apa jawabanmu ini jadi tanda-tanda?"


"Hah tanda-tanda apa?" tanya Zea dengan wajah bersemu merah.


"Huuh apa gak nyesel tuh sepupuku yang bodoh itu kalau dia sekarang tau gimana banyaknya orang yang ngefans sama kamu."


Ucapan Nella membuat Zea kembali teringat dengan perubahan sikap Sakti akhir-akhir ini.


"Nell, menurutmu lebih baik aku pindah ke apaprtemen sekarang atau aku tetap tinggal dirumah itu sampai selesai? Masih sisa tiga bulan lagi Nell."


"Kalo menurutku sih mending kamu pindah ajalah. Disitu juga ngapain, tar ketemu sama si bodoh itu lagi malah jadi penyakit."


"Tapi Nell, dulu aku sendiri yang meminta untuk tinggal disana selama satu tahun. Dan kamu tau alasanku untuk tetap tinggal disana adalah untuk,-"


"Untuk perjuangin pernikahan kalian agar tetap bertahan. Tapi masalahnya kamu juga disana hanya tinggal Zee, kamu tidak memiliki ruang gerak karena point-point perjanjian bodoh kalian. Lagipula si bodoh Sakti itu juga sering bawa tu cewek plastik kerumah, memang kamu ngga sakit hati apa kalian tinggal dirumah dan pisah kamar, bukannya tidur sama kamu malah milih tidur sama perempuan lain? Dan apa kamu yakin masih mau nerima laki-laki seperti dia?" Nella memotong ucapan Zea.


"Nell, pernikahan bukan permainan."


"Aku paham! itu justru kamu sendiri tanpa kamu sadari ikut memainkan pernikahan kalian ini."


"Aku? Kok bisa?" tanya Zea merasa tidak terima dengan tudingan Nella.


"Coba kamu pikir aja Zee, kamu bertahan dalam pernikahan yang sudah hancur, parah banget malah, dengan alasan ingin memperbaikinya. Tapi menurutku kamu selama ini bukan memperbaikinya tapi kamu cuma menunda waktu untuk mengakhirinya. Aku tau kamu melakukannya karena takut dengan pesan tante Anita. Tapi jika itu menyiksa dirimu sendiri dan justru nambahin dosa buat apa Zee? Menikah itu ibadah, dimana dengan menikah mestikan kalian mempunyai lahan untuk mencari pahala bukan justru buat dosa. Kamu juga coba pikir Zee, dengan kamu mengikat Sakti dengan menunda perceraian itu berarti kamu juga ikut andil dalam dosa zina yang dia perbuat dengan cewek muka plastik itu. Kalau memang mereka saling cinta ya selesaikan urusan kalian lalu biarkan mereka menikah. " Terang Nella panjang lebar.


Zea terdiam merenungi ucapan Nella. Semua yang Nella ucapkan adalah benar, jika dirinya ingin bertahan semestinya dia memberanikan diri untuk menunjukkan pada Sakti bahwa dirinya dan pernikahan ini layak untuk dipertahankan. Namun nyatanya Zea tidak memiliki keberanian bahkan sekedar untuk bertemu dengan Sakti.


"Sorry Zee bukannya aku mau mojokin kamu tapi aku hanya ingin kamu melepaskan tali yang selama ini menjadi belenggu hidupmu." lanjut Nella kemudian begitu melihat mimik wajah Zea yang berubah mendung.


"Nell, sebenarnya,-"


Nella menoleh pada sahabatnya sesaat dan kembali fokus mengendarai mobilnya.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah beberapa hari ini mas Sakti sikapnya berubah padaku."


"What?" teriak Nella terkejut sampai mendadak menginjak rem mobilnya. Untung jalan yang mereka lalui sepi jadi tidak membahayakan orang lain.


"Maksud lo si bodoh itu berubah sikapnya? Jangan bilang lo sama dia udah ketemu dan ada interaksi langsung!" Nella mencecar Zea dengan muka panik.


"Awalnya ngga sengaja bertemu Nell, dan setelah itu dia jadi bersikap aneh."


"Oh My God! Ini nih alasan kenapa mestinya kamu cepat-cepat pindah karena sepintar-pintarnya kamu menghindar namanya serumah pasti akan bertemu juga. Lagian dia bersikap aneh gimana?" tanya Nella sembari meminggirkan mobilnya untuk berhenti agar bisa lebih fokus mendengarkan cerita Zea tanpa beresiko membahayakan keselamatan mereka.


Zea kemudian menceritakan awal mula pertemuannya dengan Sakti beberapa hari lalu hingga sampai pada sikap Sakti yang terkesan posesif padanya. Sedangkan Nella hanya bisa menggelengkan kepalanya dan sesekali membolakan matanya seakan Nella sendiri tidak percaya dengan sikap Sakti yang mendadak berubah.


"Kira-kira apa yang direncanakan mas Sakti ya Nell?" tanya Zea setelah mengakhiri ceritanya.


"Si bodoh itu mungkin perlahan otaknya sudah mencair makanya jadi mulai bisa mikir."


"Nella, kok jawabnya gitu sih? Serius Nella" ucap Zea gemas.


"Yaa habis apa coba alasannya? Kalaupun dia punya rencana apa rencananya Zee?"


"Kalau aku tau, aku ngga tanya kamu dong!"


Nella kemudian mengamati wajah Zea dengan seksama.


"Kayaknya aku tau alasan si bodoh itu kenapa tiba-tiba berubah."


"Oh ya? Apa?" tanya Zea bersemangat.


"Kamu!" jawab Nella mantab.


"Aku? Maksudnya?" giliran Zea yang seketika binggung.


Nella mengambil dan membuka tas yang diletakkan disebelahnya dan mengambil sebuah kaca kecil lalu menyerahkannya pada Zea.


"Nih ambil!"


Zea menerimanya dengan wajah binggung.


"Maksudmu apa Nell?"


"Lihat mukamu pakai cermin itu!"


Zea menurut saja perintah Nella, berpikir ada riasan atau yang salah dengan wajahnya. Tapi tidak dia temukan keanehan diwajahnya.


"Wajahku nggak ada yang aneh!"


"Iya wajahmu nggak ada yang aneh. Tapi perubahan wajahmu dari yang lalu dengan yang saat ini adalah jawabannya."


Zea terdiam mendengar jawaban Nella. Dari semua kemungkinan yang ada jawaban Nella memang yang paling masuk akal untuk dijadikan alasan Sakti mendadak bersikap baik padanya.


"Tapi Nell aku kok merasa bukan karena ini meskipun pendapatmu masuk akal. Karena perempuan itu jauh lebih segalanya dari aku."


"Ciiihh... Lebih segalanya dari mana? Dia cantik tapi kelihatan banget oplasnya Zee. Sedangkan kamu cantik alami, dulu Sakti mengabaikanmu karena dia belum menyadari bahwa sebongkah batu jika diasah bisa jadi berlian."


"Trus aku harus bagaimana Nell?"


"Yaa tergantung kamu Zee. Kalau kamu mau bertahan dengan pernikahanmu, mungkin ini adalah jalan yang Allah kasih untuk kamu."


"Nell, andaipun benar dia berubah hanya karena aku merubahh diriku, lalu bagaimana jika sikap mas Sakti ini hanya sesaat? bagaimana jika suatu saat mas Sakti kembali pada wanita itu karena pada dasarnya cinta mas Sakti adalah untuk dia."

__ADS_1


Nella terdiam, bahkan dirinyapun tidak bisa membayangkan jika ini hanya untuk mempermainkan Zea lagi. Nella tidak akan pernah bisa menerima sahabatnya terpuruk kedua kali dalam permainan sepupunya, Sakti. Nella ikut serta menanggung semua penderitaan Zea. Pikirannya kembali terlintas bayangan saat Zea berhari-hari sakit dan dirawat di rumah sakit, kondisinya melemah karena tidak makan berhari-hari dan tubuhnya kurus seperti tidak lagi memiliki semangat hidup. Bagaimana repot dirinya harus mondar-mandir kerumah sakit karena dirumah dirinya meninggalkan Laura yang masih kecil. Bahkan dibulan pertama Zea bahkan tiada hari tanpa melamun dan menangis, saat malam dirinya teriak-teriak karena mimpi buruk yang disebabkan k trauma dan depresi, hingga hampir saja Nella bawa ke rumah sakit jiwa. Namun suami Nella ikut serta membantu merawat Zea dengan mengundang psikolog kerumah untuk membantu memulihkan kejiwaan Zea yang terguncang.


__ADS_2