
"Zee, tunggu! Kita bicara dulu Zee. Berdua Zee, aku akan jelaskan padamu." pinta Sakti masih sambil berusaha melepaskan genggaman Vivian.
Zea sekilas menoleh pada Sakti, kemudian melihat tangan Vivian yang masih kuat memegangi lengan suaminya.
Pandangan mata Zea sudah cukup menjadi jawaban bahwa dirinya enggan untuk menanggapi permintaan suaminya.
"Vivian lepaskan!" bentak Sakti sembari menyentakkan tangannya dari genggaman Vivian.
"Sayang! Kamu kok kasar sama aku! Jangan bilang ada sesuatu diantara kalian selama ini yang tidak aku tau."
"Vi, sudahlah. Aku sudah lelah denganmu. Kamu hanya tau meminta uang, menghabiskannya untuk gaya hidupmu. Kamu pikir aku mencarinya semudah kamu menghambur-hamburkannya?" ucap Sakti mulai frustasi menghadapi kedua wanitanya.
"Apa? Kenapa? Selama ini kamu tidak pernah keberatan, kamu selalu memberikan apapun yang ku mau. Apa karena kamu merasa sudah bosan denganku? Kamu sudah mengambil kehormatanku. Dan sekarang kamu mau mencapakkan aku?" cecar Vivian dengan air mata yang mulai tidak sanggup ia bendung.
"Vi, kamu yang melemparkan dirimu padaku!" ucap Sakti sambil mengusap kasar rambutnya.
"Itu karena aku mencintai kamu. Karena kamu yang selalu menjanjikan kebersamaan padaku. Karena kamu, selalu meyakinkan aku bahwa aku dan kamu akan bersama. Kamu menjanjikan kebahagiaan untukku. Dan kamu,-"
"Vi, tapi aku sudah menikah Vi." sela Sakti menjeda kalimat Vivian yang mulai hilang kendali.
"Menikah? Kamu bilang kamu sudah menikah? Bukankah kamu yang mengatakan pernikahan ini demi ibumu. Bahkan setelah ibumu meninggal, kamu akan menceraikan perempuan itu, kamu masih tetap meyakinkan aku bahwa akulah pilihanmu, bukan dia!" Vivian semakin menggila dan berteriak.
"Tapi aku sekarang sadar Vi, itu salah."
"Nggak mungkin! Nggak mungkin secepat ini kamu berubah pikiran. Pasti perempuan itu memakai pelet, atau dia pasti melakukan sesuatu padamu!" Vivian semakin kehilangan kendali, dirinya tidak siap menerima situasi saat ini. Ini semua terlalu tiba-tiba untuk dia pahami.
"Vi, cukup! Cukup Vi, kita selama ini melakukan salah. Melakukan dosa." Sakti mengguncang kedua bahu Vivian agar Vivian sadar.
"Lalu, kamu sekarang ingin aku menyerah begitu saja? Kamu ingin aku pergi begitu saja? Jangan berharap! Kamulah yang dulu mengejarku, kamu yang dulu menggilaiku, aku akan meminta pertanggung jawabanmu!"
"Katakan, apa yang kamu inginkan. Aku akan memenuhinya." tanya Sakti mencoba meyakinkan Vivian.
__ADS_1
Vivian terdiam sebentar, lalu matanya lurus menatap tajam mata Sakti.
"Aku ingin pernikahan." ucapnya melemah.
"Baiklah, kamu ingin menikah dengan siapa, aku akan menyiapkan pernikahan terbaik untukmu dan pria itu."
"Kamu gila Sakti!" ucap Vivian marah kemudian menampar wajah Sakti.
"Kamu, kamu berani menamparku?" wajah Sakti memerah.
"Kenapa tidak! Kamu sakit jiwa Sakti! Kamu tanya aku ingin menikah dengan siapa? Tentu saja denganmu! Kamu pikir lelaki mana yang sudi menikahi perempuan yang sudah kamu rusak selama ini? Perempuan yang sudah berkali-kali kamu tiduri. Kalaupun ada pasti dia sama bajingannya denganmu!" teriak Vivian semakin marah.
Sementara Zea yang sendari tadi menangis dibalik pintu masih bisa mendengar perdebatan Sakti dan Vivian.
"Yaa Allah, Yaa Tuhanku... Aku turut serta menanggung dosa atas perbuatan mereka. Aku telah menjadi istri yang lemah, membiarkan suamiku bermaksiat dan zina. Yaa Allah, bagaimana hujjahku kelak dihadapan-Mu. Beri hambamu yang lemah ini kekuatan serta petunjuk. Ampuni kami Yaa Robb..." batin Zea seraya memukul-mukul kecil dadanya. Berharap sesak didadanya berkurang.
"Vi, tapi aku tidak bisa Vi. Aku tidak bisa mengulangi kesalahan yang telah kusadari. Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku dengan Zea." Sakti kembali memberikan penjelasan pada Vivian.
"Vi, aku akan memberikan cukup uang untuk kamu bisa melanjutkan hidupmu."
"Sakti!!! Ini bukan hanya soal uang lagi. Tapi soal kehidupanku dimasa depan! Bagaimana kamu akan bertanggung jawab!" Vivian semakin frustasi mendengarkan penjelasan Sakti.
"Bagaimanapun caranya Vi, tapi tidak dengan menikah ataupun kita bersama. Aku telah sadar selama ini aku sudah banyak berdosa, aku sudah sangat menyiksa Zea. Bagaimana aku bisa menyakiti ataupun meninggalkan dia lagi Vi. Dia sudah banyak mengalah dan menderita karena kita."
"Bukan kita. Tapi kamu. Kamulah yang salah, karena jika saja saat kamu memutuskan menikahi dia, dan kamu berhenti mengejarku! Kalau saja kamu habiskan bulan madumu dengan dia, bukan dengan aku! Dan andai saja,-"
"Cukup Vi, Cukup!!!" Sakti lagi-lagi memotong perkataan Vivian. Selama ini hatinya merasa baik-baik saja bahkan bisa melalui semua yang diucapkan Vivian itu dengan senyuman, tapi kini hatinya sakit, terasa malu bak dilempari kotoran pekat diwajahnya..
"Kamu benar-benar jahat! Kamu tega sama aku! Kamu lelaki paling bedebah didalam hidupku!" ucap Vivian dengan lantang.
"Kamu boleh mengatai aku apapun Vi, memang ini semua salahku. Karena itulah aku harus memperbaikinya."
__ADS_1
"Ya! Kamu memang harus memperbaikinya. Perbaiki seperti rencana yang kamu susun dulu. Ceraikan dia dan menikah denganku!"
"Tidak akan Vi. Aku tidak akan menceraikan dia apapun alasannya!" tegas Sakti kembali.
"Baiklah, kalau begitu." sejenak Vivian melemah dan menjeda ucapannya.
"Kamu tidak perlu menceraikan dia, tapi kamu juga harus menikahi aku. Kamu harus membagi apapun tentang dirimu pada aku dan dia."
"Mana mungkin Vi! Zea tidak mungkin mau, akupun tidak mungkin mampu adil dengan dua istri. Kumohon mengertilah."
"Kamulah yang harus mengerti. Bukan aku! Kamu benar-benar bedebah Sakti! Aku tidak akan diam sampai disini. Lihat saja aku akan menuntut semua janjimu." selesai mengucapkannya Vivian lalu berlari keluar. Rasanya sudah tidak sanggup lagi berdebat dengan Sakti yang kini sudah berubah tidak mampu memahaminya lagi.
Sakti terduduk karena kedua kakinya terasa lemas dan gemetar.
"Mas Sakti..." Zea datang menghampiri Sakti yang tengah duduk lemas.
Sakti menatap kedua mata sembab Zea.
"Zee maafkan aku, aku mohon." ucap Sakti lemah. Ada ketulusan dalam ucapannya.
Zea mengangguk, kemudian merangkul suaminya. Zea paham bahwa kejadian malam ini menjadi pukulan berat untuk Sakti. Zea berharap setidaknya pelukan dari dirinya bisa menenangkan suaminya.
Setelah sakti cukup tenang, Zea memapah suaminya masuk kedalam kamar.
"Mas aku bersihkan dulu ya pakai air hangat. Atau mas Sakti mau mandi sekalian biar lebih fresh?" tanya Zea sembari dengan hati-hati membuka sepatu suaminya.
"Zee, jangan pergi." pinta Sakti seraya menarik tubuh Zea agar duduk disampingnya.
"Nggak mas. Kalau Mas Sakti mau aku tungguin disini ya nggak papa. Aku akan nunggu mas Sakti sampai selesai mandi."
Zea paham bahwa bukanlah jawaban itu yang Sakti harapkan. Zea hanya ingin sejenak memberi waktu agar Sakti bisa membersihkan tubuhnya dan menenangkan dirinya agar bisa berpikir jernih.
__ADS_1
Akhirnya Sakti hanya menurut dengan perintah istrinya, Zea.