Terabaikan

Terabaikan
Bagian 17


__ADS_3

Zea mengunggu Sakti tersadar namun tak jua ada tanda-tanda suaminya itu untuk bangun.


Hari ini sungguh hari yang melelahkan untuk mereka. Bagaimana tidak, setelah berkutat dengan pekerjaan rencana bahagia mereka untuk makan malam hancur seketika dengan kedatangan Vivian. Bukan hanya lelah fisik, pikiran merekapun ditekan sedemikian berat, bahkan mereka lupa untuk sekedar mengisi perut mereka.


Jam 03.00 dini hari Sakti tersadar, kepalanya terasa berat serta tubuhnya lemas. Ketika hendak menggerakkan tangannya baru dia sadari ada Zea yang tertidur dengan posisi duduk disebelah ranjangnya sembari menggenggam tangannya.


Seketika ada begitu banyak rasa menjalar menuju relung hatinya.


Antara bahagia, terharu, serta sakitnya merasa begitu bersalah pada istri yang baru mulai ia cintai. Sejenak Sakti terdiam, mengumpulkan sisa kekuatan yang masih ia miliki. Perlahan diangkatnya Zea dan ditidurkan diatas ranjangnya. Sekelebat terlintas ucapannya dimasa lalu, dimana dia begitu melarang keras bahkan mengharamkan Zea untuk naik keatas ranjangnya. Bayangan demi bayangan atas dosa dan tindakan bodohnya dulu terlintas begitu cepat didalam ingatannya. Ditatapnya wajah cantik istrinya yang tetap anggun berbalut hijab sederhana. Dinikmatinya pemandangan indah, lukisan nyata bidadari surga yang Allah wujudkan didunia. Hati Sakti berteriak keras atas penyesalannya yang dulu tidak bersyukur.


Tanpa Sakti sadari butir air matanya yang sendari tadi ia tahan, terjatuh tepat dikelopak mata Zea. Perlahan Zea membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang sudah mendung.


"Mas Sakti, sudah sadar?" tanya Zea sembari mencoba untuk bangun tapi ditahan oleh Sakti.


"Emm.." Sakti menganggukkan kepalanya, tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari kedua mata Zea.


"Jangan bangun, tetaplah disini." pintanya.


"Tapi mas,-"


"Tolong Zee, jangan tolak permintaanku. Aku butuh dekat denganmu saat ini." bisik Sakti dengan suara bergetar, kemudian memejamkan matanya sejenak untuk menata hatinya agar mendapatkan kelegaan didalam dadanya.


"Aku, aku takut Zee, aku benar-benar takut." Sakti melanjutkan ucapannya lalu memeluk erat tubuh istrinya untuk pertama kalinya diatas ranjang.


Zea menegang mendapatkan perlakuan seperti itu, namun dia berusaha untuk tetap tenang meskipun pacuan jantungnya semakin tidak terkendali.


"Mas Sakti takut apa?" tanya Zea kemudian memngusap pelan punggung suaminya.


"Aku takut kamu meninggalkanku Zee... Aku takut mama kecewa, aku takut aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri disepanjang sisa hidupku nanti."


"Baiklah, tapi tolong jangan begini. Badanmu berat dan aku sulit bernafas mas." Zea berusaha melepaskan kungkungan suaminya.


"Berjanjilah akan tetap disini." pinta Sakti memberi syarat sebelum melepaskan pelukannya.


Zea menghembuskan nafas panjang sesaat dan menyanggupi permintaan Sakti,


"Baiklah, aku akan tetap disini menemanimu ."


Perlahan Sakti melepaskan pelukannya dan berbaring disebelah Zea, mereka saling berhadap-hadapan.


"Zee, apakah kamu marah?" tanya Sakti sembari tangannya mengusap lembut pipi Zea.


"Entahlah mas."


"Apakah kamu kecewa padaku?"


Zea menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sembari memejamkan matanya sejenak.

__ADS_1


Kemudian Zea menatap lurus kedua mata Sakti yang begitu menantikan jawabannya,


"Tentu saja aku kecewa mas.Sangat bohong dan munafik jika aku mengatakan tidak."


"Zee, maafkan aku. Asal kamu bersedia memaafkan aku, aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku." ucap Sakti terbata-bata, kembali matanya berkaca-kaca.


"Tidak perlu melakukan apapun. Setiap orang memiliki kesalahan dan masalalu. Jika kamu tidak membawa kesalahan dan masalalupun itu dimasa depan. Aku tentu memaafkanmu mas. Alangkah sombongnya aku jika tidak memaafkan kesalahan suamiku, sedangkan Allah saja maha memaafkan."


"Terima kasih Zee. Aku berjanji akan menyelesaikan ini secepatnya. Selama aku berusaha menyelesaikannya, berjanjilah kamu akan menguatkan langkahku."


"Aku akan menemanimu. Jangan kecewakan aku lagi."


"Tidak Zee, tidak akan sayang." pertama kalinya Sakti memanggil Zea sayang. Bukan sekedar kata namun memang kasih sayang kepada istrinya telah tumbuh subur didalam hatinya. Terlebih ketika dirinya menghadapi masalah sepelik ini, tidak sejengkalpun Zea mundur meninggalkannya.


"Zee, kamu tau aku adalah lelaki paling bodoh namun sangat beruntung."


"Kenapa bodoh?"


"Karena aku dulu mengabaikan wanita sesempurna dirimu padahal telah Allah satukan kita dalam tali persatuan yang agung, yang Allah sendiri menjadi saksi atas ikatan suci kita. Tapi aku masih berdo'a semoga saat ini aku belum terlambat untuk menyadari dan memperbaikinya."


Wajah Zea bersemu merah mendapatkan sanjungan setinggi itu dari suami yang dulu hanya setiap hari menghinanya.


"Mas Sakti jangan berlebihan memujiku. Aku tidak sebaik itu."


"Kamu bahkan seribu kali lebih baik dari itu."


"Oh ya mas Sakti belum makan malam.


"Aku nggak berselara makan."


"Mas jangan begitu, tadi dokter berpesan, supaya mas Sakti sementara waktu istirahat dan jaga pola makannya."


"Tapi sayang,-"


"Kali ini mas Sakti yang nurut sama aku. Kita makan berdua. Tunggu sebentar aku siapin." tanpa menunggu persetujuan maupun penolakan dari suaminya Zea langsung bangkit dan bergegas mengambil makanan.


* * *


"Anjiii... Sialan lo...!" teriak Vivian nyaring.


"Apaan sih lo Vi, teriak-teriak. Berisik tau!" jawab Anji tak mau kalah sengit karena masih nyenyak tidur harus terganggu dengan teriakan lantang Vivian.


"Eh berengsek, semalam lo apain gue!" tanya Vivian penuh emosi.


"Ah kan elo yang minta sama gue Vi." jawab Anji dengan santai sembari kembali membetulkan bantal yang ia peluk.


"What? Jangan ngada-ngada mana mungkin! Elo yang manfaatin keadaan karena gue teler!"

__ADS_1


"Ah berisik lo. Elo yang minta, maksa gue juga."


"Nggak, nggak mungkin." Vivian masih belum percaya dengan apa yang terjadi padanya dan Anji tadi malam.


"Apanya yang nggak mungkin. Lo ngerjain gue karena lo kira gue cowok elo."


"Shiiittt...." kedua tangan Vivian menjambak rambutnya.


"Trus kenapa elo nggak nolak!"


"Eh elo nyosor terus, gue udah berusaha malah elo maksa bangunin adek gue. Ya gue normal Vi, lo bangunin ade gue duluan ya gue layanilah." jawab Anji santai seolah tanpa beban dosa.


"Apa? Nggak! Nggak mungkin!"


"Nggak mungkin apaan, elo juga yang banyak nikmatin. Gue sampai kewalahan."


"Stop! Diam!" teriak Vivian lagi. Telinganya tidak lagi mampu mendengarkan penjelasan Anji.


"Eh tapi ternyata elo liar juga. hahahaaa..." ucap Anji tanpa malu membuat Vivian semakin naik darah.


"Diaam! Mending lo pergi sana!"


"Enak banget lo! Mabok gue anterin, sang* gue gue layanin, gilirah dah puas aja gue lo usir."


"Setan! Lo kok makin nyebelin sih ji! Pergi!"


"Ya bentar, gue mandi dululah. Mana pakaian gue."


"Ya mana gue tau ji!"


"Lah kan elo yang lepas trus lo lemparin kemana semalam?" tanya Anji dengan sengaja kembali mengungkit kejadian yang tidak Vivian lakukan tanpa sadar.


"Anjiiii! mana gue tau. Gue nggak sadar! Mending buruan pergi dari sini. Atau gue cakar muka lo tar!" teriak Vivian dengan emosi sudah dipucuk kepala.


"Yakin lo gak mau nambah lagi? Mumpung gue disini Vi! Kalo gue dah pulang, lo nyesel gue males balik kesini lagi."


"Setan! Minggat sana!"


"Ah gak asyik lo. Dah enak aja ngatain gue setan. Semalem lo panggil gue sayang."


Vivian melempar bantal yang ada didekatnya pada Anji. Membuat Anji spontan turun dan berdiri.


"Anji! Sialan! Pakai celana lo bego!" teriak Vivian sembari menutup matanya begitu melihat Anji tanpa sehelai benangpun.


"Napa lo. Semalam lo dah liat semua Vi, segala pura-pura malu."


"Pergi!" teriak Vivian sembari mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya hingga menutupi wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2