Terabaikan

Terabaikan
Bagian 16


__ADS_3

Kepala Sakti masih dipenuhi masalahnya dengan Zea dan Vivian. Ada ketakutan dalam dirinya, jika dirinya akan ditinggalkan Zea, karena kejadian malam ini. Terlebih perjanjian yang mereka buat akan berakhir dalam waktu dua bulan lagi. Jika dulu Sakti selalu menunggu saat perpisahan, sekarang justru dirinya amat ketakutan. Sakti bahkan tidak habis pikir bagaimana Zea masih begitu memperdulikannya setelah semua yang Vivian ucapkan tadi. Sakti sangat yakin jika istrinya bukanlah Zea sudah pasti tidak akan sudi melihat wajahnya lagi setelah mendapatkan pelakuan dan kenyataan bagaimana suaminya begitu berdosa selama ini. Begitupun dengan ucapan-ucapan Vivian tadi yang begitu tajam dan tepat sasaran. Sakti memikirkan, bahwa mungkin akan benar jika saja bukan dirinya yang akan menikahi Vivian, lalu lelaki baik-baik mana yang mau menikahinya. Meskipun dia model dengan penampilan yang luar biasa sexy tetap saja jika seorang wanita kehilangan mahkotanya maka dia pun kehilangan kehormatannya. Mungkinkah dia akan tetap bersama Zea dan juga sekaligus menikahi Vivian.


"Oh, Shiiiitttt...!!!" Sakti mengusap kasar wajah tampannya yang tampak kusut.


"Yaa Allah, beginikah balasan untukku atas dosaku pada istriku? Kenapa dulu disaat aku tidak menginginkannya tidak segera KAU jauhkan saja  dia dariku. Kenapa sekarang disaat aku menyadari kesalahan dan dosaku, lalu aku ingin memperbaikinya justru seakan KAU persulit langkahku?" batin Sakti seraya bulir air bening terjun bebas dari bendungan kelopak matanya.


"Mama apa yang harus Sakti lakukan ma? Mengapa jadi begini ma?" Sakti meronta menyebut mamanya.


Sementara itu Vivian melepaskan semua kekesalannya dengan menemui teman-teman sesama model di night club. Entah sudah berapa banyak minuman keras yang ia masukkan kedalam perutnya. Dan dia terus menerus mengeluarkan kata-kata kotor untuk mengungkapkan kekecewaan hatinya.


"Vi udah ah, lo nggak asyik kalo lagi gini. Bikin malu kita doang tau gak!" ucap Angela salah seorang temannya.


"Eh diem lo! Elo aja yang pulang sana kalau nggak suka. Biar semua tau kalo elo emang bukan sahabat yang setia sama gue!" Ucap Vivian sembari menunjuk Angela, dengan tangannya yang sudah tidak mampu ia kendalikan.


"Rio, papah nih Vivian daripada tar bikin masalah." pinta Jesica.


"Loh kok gue sih?"


"Iyalah elo, kan elo laki-laki, masa iya mesti kita yang perempuan yang mapan atau gendong dia."


"Iya dah, berisik lo." Rio yang enggan berdebat dengan teman-teman wanitanya memilih mengalah. "Anji sini bantuin, jangan benggong mulu ah!" Rio menggerutu.


Anji membantu Rio memapah Vivian, meskipun Vivian tetap merota tapi tubuhnya yang sudah tidak stabil kalah dengan tangan kekar kedua teman prianya itu.


"Dah gue masukin ke dalam mobilnya tuh. Sekarang mau gimana nih?" tanya Rio dengan nafas masih nggos-nggosan.


"Bawa balik ke appartemen dia dong." Jawab Keke sembari memberikan tas milik Vivian.


"Kita lagi?" tanya Anji sembari menerima tas dari tangan Keke.


"Iyalah nji, elo sama Rio. Masa kita sih?" sahut Angela dengan cepat.


"Lah kok jadi cuma kita berdua yang ngurus ni anak. Kalian enak banget!" Rio tidak terima merasa dikerjain teman-teman perempuannya.


"Udahlah. Jangan berisik. Buruan!" titah Angela.

__ADS_1


"Udah ah kita antarin ajalah daripada kelamaan, debat sama perempuan juga nggak bakal kita jadi benar, apalagi menang." jawab Anji, sebelum Rio memprotes perintah Angela.


Disepanjang perjalanan Vivian terus menerus merancau, sesekali berteriak dan menangis dengan suara yang keras membuat Rio dan Anji menjadi semakin kesal menghadapi Vivian saat mabuk.


"Ni bocah biasanya mabok tapi nggak merepotkan gini. Ada masalah apaan sih sama Sakti sampai bikin dia seperti ini." tanya Anji membuka percakapannya dengan Rio.


"Mana aku tau, kita tadi datang barengan, dia udah mabok sambil mengumpat dan memberikan sumpah serapahnya pada Sakti.


Kalau ku perhatikan dari setiap ucapannya tadi, kayaknya dia putus sama Sakti."


"Hah? Mana mungkin, secara Sakti cinta mati sama Vivian."


"Elo nggak tau aja, istrinya sakti sekarang jadi seleb sosmed. Dia sekarang udah berubah 180°. Udah banyak followernya, follower elo juga paling setengahnya." jelas Anji.


"Ah masa iya? Bagi nama akun sosmednya! Penasaran gue secantik apa sih!"


"Ah elo tiap hari mantengin dan scroll HP tapi berita yang lagi hangat kaya gini bisa-bisanya elo ketinggalan."


"Seriusan? Trus Vivian tau kalau istrinya Sakti jadi seleb sosmed?" Rio menjadi semakin penasaran.


"Mestinya sih sudah. Tapi kalau memang sudah, pasti Vivian makin menjadi-jadi vermak dirinya. Tapi kok ini masih anteng-anteng aja."


"Ji, gue tinggal bentar ya."


"Eh mau kemana lo?"


"Gue mau jemput cewek gue bentar."


"Lah gue sendiri dong."


"Iyalah. Bentaran doang Ji. Dah ah gue pergi dulu, tar gue balik lagi." Rio langsung nggeloyor pergi.


Sepeninggal Rio, Anji memilih menunggunya disofa diluar kamar Vivian.


* * *

__ADS_1


Tok .. tok .. tok....


Zea mengetuk pintu kamar Sakti.


"Mas, bangun." panggil Zea untuk yang kesekian kalinya. Namun tidak ada jawaban dari Sakti.


"Mas, aku masuk ya."


Setelah menunggu cukup lama tidak ada jawaban dari dalam Zea masuk. Zea mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan itu, namun tidak menemukan keberadaan suaminya.


"Mas, apa mas Sakti didalam kamar mandi?" Zea seraya mengetuk pintu kamar mandi.


Namun tetap tidak ada jawaban, dan Zea membuka pintu yang tidak dikunci itu. Dan betapa terkejutnya Zea mendapati suaminya tengah tidak sadarkan diri dibawah wastafel.


"Mas, bangun mas" Zea berusaha menyadarkan suaminya dengan menepuk-nepuk lembut wajahnya.


Zea panik, kemudian kembali meletakkan kepala Sakti dan berlari mencari pertolongan.


"Mbok Nah, mbok Nah.." teriak Zea dari lantai atas.


"Iyaa bu, ada apa?" mbok Nah tergopoh-gopoh mencari sumber suara yang teriak memanggil namanya.


"Mbok cepat panggil pak Dadang dan pak Udin. Mas Sakti pingsan dikamar mandi. Dan mbok Nah cepat telfon dokter!"


"I-iya bu." sahut mbok Nah ikut panik.


Dokter masih memeriksa kondisi Sakti, sementara Zea masih belum tenang.


"Bu Zea, pak Sakti baik-baik saja. Beliau sepertinya hanya mengalami strees dan kurang istirahat. Sementara harus bedrest, dan perhatikan pola makannya. Sepertinya pak Sakti sedang mendapatkan banyak hal yang beliau pikirkan jadi kurang menjaga istirahat dan pola makannya. Karena pak Sakti memiliki riwayat penyakit lambung, jadi istirahat dan makanannya harus dijaga." jelas dokter pada Zea.


"Baik dok, terima kasih atas bantuannya." Zea menundukkan wajahnya memberi hormat.


"Mbok, tolong antar dokter Budi."


"Baik bu."

__ADS_1


Setelah mbok Nah dan dokter Budi meninggalkan kamar Sakti, Zea mendekat pada suaminya. Digenggamnya telapak tangan suaminya, dan mencium punggung tangannya tiga kali.


"Mas, sadar dong. Jangan bikin aku khawatir. Mas Sakti pasti kuat, jangan menyerah." bisik Zea lembut.


__ADS_2