
"Zee... pliisss... jawab. Apa ada laki-laki diantara mereka semua yang memberimu hadiah?"
"Yang pasti bukan aku yang meminta loh ya. Dan aku belum tentu mengenal mereka."
"Zee aku heran bagaimana bisa admin kafe bisa seperti artis?"
"Aku nggak tau."
"Apa jangan-jangan kamu juga kerja sampingan jadi artis?" selidik Sakti masih penasaran.
"Hahaa bisa aja. Yaa udah lanjut sarapan lagi dan berangkat kerja. Nanti malam aku masakin spesial mau?" Zea mengalihkan bahasan obrolan mereka.
"Nggak usah, kamu kan capek abis kerja juga."
"Aku pulang sore mas. Jadi punya waktu untuk masak. Tapi kalau mas Sakti nggak mau masakanku ya udah aku masak buat pak Dadang sama pak Udin aja."
"Eh jangan! Enak aja! Masa malah masak buat mereka?"
"Yaa mas kan nggak mau."
"Emang aku tadi ada mengatakan nggak mau?"
Zea menggelengkan kepalanya.
"Ya udah nanti aku juga mau pulang cepat. Moga aja nggak ada halangan. Jadi mau makan masakan istri. Eh tapi,-"
"Apa?"
"Jangan lupa pakai bahan cinta, dengan bumbu kasih sayang, dan beraroma rindu."
Wajah Zea bersemu merah dengan gombalan Sakti yang membuatnya merasa senang sekaligus aneh karena tidak menyangka Sakti memiliki sisi kepribadian humoris sekaligus romantis.
Selesai sarapan Sakti sudah bersiap berdiri didekat mobilnya bersama dengan Zea yang berada disebelahnya. Terdengar juga dari arah luar pagar suara klakson mobil Nella memberi isyarat kedatangannya pada Zea. Sakti mengikuti Zea menghampiri mobil Nella, semua itu tidak luput dari pandangan mata Nella.
Sakti mengetuk kaca mobil Nella, meskipun enggan Nella membuka sebagian kaca mobilnya.
"Hai Nell." sapa Sakti namun diacuhkan Nella.
"Sarapan apaan sih lo pagi-pagi mukanya dah gitu. Kurang sajen lo ya?" sambung sakti dengan kesal karena merasa diacuhkan. Sakti sangat sadar alasan Nella mengacuhkannya selama ini adalah karena sikapnya pada Zea dulu. Namun Sakti berharap dengan semakin membaik hubungannya dengan Zea juga akan memperbaiki kembali hubungannya dengan Nella.
"Apaan sih lo! Nggak lucu!" jawab Nella semakin sensi.
Zea mengusap punggung Sakti untuk menahan agar tidak terpancing dengan sikap Nella.
__ADS_1
"Gue titip istri gue ya! Lo jagain! Jangan sampai ada cowok yang gangguin!" selesai mengucapkannya tanpa menunggu jawaban Nella, Sakti segera kembali pandangannya pada Zea yang berada disebelahnya tanpa perduli dengan ekspresi Nella yang mendadak melonggo mendengarkan ucapannya.
Sementara Zea berpamitan dengan Sakti dan mendapatkan restu dengan kecupan kening dikeningnya yang tertutup jilbab. Sedangkan Nella hanya bisa terngangga dengan sesekali mengerjapkan matanya seakan tidak percaya dengan adegan yang terjadi didepan matanya.
"Nell... Nella..." panggil Zea sembari melambaikan tangannya didepan mata Nella.
Nella tergagap saat tersadar Zea sudah duduk manis dikursi sebelahnya.
"Zee, apa aku ngga lagi mimpi?"
Zea hanya menanggapinya dengan senyuman karena sudah paham alasan dibalik pertanyaan sahabatnya.
"Zee aku yakin si bodoh itu habis kesambet malaikat." ujar Nella yang masih belum bisa mempercayai bahwa apa yang baru saja dia lihat adalah kenyataan perubahan diri Sakti.
"Hihi... Mana ada kesambet malaikat sih Nel?"
"Ya habis kok bisa dia berubah sedrastis itu apa coba kalau bukan kesambet malaikat? Kalau kesambet setan mah pasti dia kesurupan trus ngamuk bukannya malah jadi gitu."
"Huuusssttt..." Zea meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya,
"Jangan ngomong yang ngga-ngga Nell. Khusnudzhon aja. Ingat Allah memberi sesuai prasangka kita. Berprasangka baik aja supaya Allah benar-benar membuat mas Sakti berubah."
"Iyaa ustadzah." sahut Nella sembari memutar stir mobilnya dan memulai perjalanan mereka menuju D'Generation Cafe.
* * *
Tokkk tokkk tookkk...
Pintu ruang kerjanya diketuk sekretarisnya.
"Masuk!"
"Maaf pak, ada nona,-" belum selesai Dian menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya terdorong.
"Sayaang..." panggil Vivian dengan suara nyaring sembari berlari kecil menuju meja kerja Sakti.
Sakti terkejut dengan kedatangan Vivian dikantornya.
"Oke keluarlah!" perintah Sakti pada Dian.
"Kenapa datang kemari? Aku sedang sibuk Vi."
"Sayang kok gitu sih? Aku udah bela-belain kesini bukannya disambut malah gitu?" tanya Vivian merajuk manja.
__ADS_1
"Maaf Vi, tapi aku benar-benar sedang sibuk!"
"Sesibuk-sibuknya kamu pasti selalu luangin waktu buat aku. Kenapa sekarang nggak? Ada apa? Jangan-jangan udah udah ada yang lain ya?" cecar Vivian sembari menunjuk hidung Sakti dengan tatapan curiga namun dibuatnya menjadi kesan semanja mungkin.
"Ngomong apa sih Vi, yang lain siapa?"
"Mana ku tau." jawabnya sembari mengendikkan bahunya
"Aku tadi bertemu Adam di kafe."
"Apa?" tanya Sakti tersentak kaget membuat Vivian menatapnya aneh.
"Biasa ajalah. Emangnya kenapa kalau ketemu Adam di kafe?" tanya Vivian dengan tatapan curiga.
Sakti segera memperbaiki raut wajahnya menjadi senormal mungkin.
"Karena ini masih jam kerja. Kenapa dia malah nongkrong di kafe!" jawab Sakti berbohong, Sakti menutupi kebenaran bahwa sebenarnya Sakti jugalah yang meminta Adam orang kepercayaannya untuk mengawasi Zea di kafe.
Vivian menganggukkan kepalanya,
"Iya juga sih. Tapi bodo amatlah. Aku kangen kamu sayang." Vivian melingkarkan kedua tangannya dipundak Sakti dan duduk dipangkuannya.
"Vi, ini dikantor." ucap Sakti merasa tidak nyaman dengan tingkah Vivian.
"Kamu kenapa sih yang? Kok jadi kaya gini ke aku? Biasanya kamu nggak pernah keberatan aku begini." protes Vivian yang menjadi semakin kesal dengan sikap Sakti yang berubah dingin kepadanya.
"Ya ini dikantor. Bagaimana kalau ada Dian masuk!"
"Kamu lupa bagkan kita pernah bercinta disini hemm?" tanya Vivian dengan nada semakin meninggi.
"Udahlah Vi aku lagi sibuk dan pusing. Jangan ajak berdebat sekarang kamu pulang dulu nanti aku telfon ya." pinta Sakti.
"Kok malah ngusir sih!"
"Bukan ngusir Vivian sayang, tapi aku pengen fokus. Kalau kamu disini godain aku terus bagaimana bisa fokus? Bagaimana kalau ada masalah dengan kerjaanku?"
"Heeehhh...." Vivian menghela nafas panjang.
"Ya udah aku pulang sekarang tapi telfon aku sebelum jam 3 sore atau aku akan datang kerumah dan menginap selama satu bulan."
"Terserah kamu saja."
"Oke, aku pulang dulu ya. Jangan lupa telfon." ucap Vivian kemudian mengecup bibir Sakti.
__ADS_1
"Aaarrrgghhhh...." Sakti mengacak rambutnya yang tertata rapi untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Lalu mengusap kasar bibirnya karena merasa jijik dengan bekas bibir yang dulu begitu menbuatnya kecanduan.
"Ciihh... Apaan lagi ini!" ucapnya dengan kembali mengelap bibirnya menggunakan tisu terdapat noda merah bekas lipstik Vivian.