
"Jadi, apa pagi ini aku udah diijinkan mengantarkan ratuku ini hemm?" tanya Sakti disaat mereka berdua sedang sarapan.
Zea terdiam dan berpikir sejenak,
"Bagaimana jika besok aja?"
"Yaaahh..." Sakti kecewa mendengar jawaban Zea karena lagi-lagi gagal semobil dengan istri yang sedang membuatnya tergila-gila.
Zea meraih tangan kiri suaminya dan dengan lembut mengenggamnya.
"Mas, hari ini biar aku sama Nella dulu. Lagipula aku harus menghargai dia, selama ini aku selalu sama dia aku gak mau nanti dia salah paham jadi aku harus bicara dulu padanya jika mulai besok aku diantar mas Sakti. Jadi tolong ngertiin ya."
"Iyaa sayang. Anything for you. Yang penting jangan nakal, jangan buat aku khawatir dan cemburu."
Zea tersenyum senang dengan pesan Sakti yang terdengar sangat manis dan romantis ditelinganya.
Disaat mereka berdua sedang berbicara dengan tenang dan mesra para pembantu rumah tangga dirumah Sakti melihatnya menjadi ikut senang. Bagaimana tidak, jika kedua majikan mereka berdamai kemungkinan besar mereka bisa kembali bekerja dan tinggal dirumahnya itu, tidak perlu mondar mandir lagi.
"Mbok apa ibu dan bapak sudah akur?" bisik Keke salah seorang ART pada mbok Nah.
"Huuussstt... Jangan bergosip dengan urusan majikan. Nggak sopan, tugas kita kerja ya kerja aja." sahut mbok Nah sembari meletakkan jari telunjuk didepan mulutnya.
"Ih mbok Nah mah, kita bukannya mau bergosip mbok. Tapi kalau bapak dan ibu udah akur kita ikut senang. Kita nggak perlu lagi mondar mandir untuk kerja." sahut Indah seorang ART lainnya.
"Kita do'ain aja yang terbaik buat mereka."
"Iya mbok. Aku do'ain semoga bapak dan ibu selalu akur, harmonis rumah tangganya. Juga cepat dapat momongan supaya kebahagiaan mereka lengkap." jawab Keke sembari berdo'a.
"Aamiin." sahut yang lainnya turut mengaminkan do'a Keke.
Kemudian mereka kembali ke tugas kerja masing-masing.
"Oh ya Zee, kemarin aku sempat loh datang ke kafe tempat kamu bekerja."
"Oh ya?"
"Hemm" Sakti menganggukkan kepalanya.
"Tapi nggak ketemu sama kamu. Katanya kamu dikafe pusat, emang kafenya ada berapa banyak cabang?" sambung Sakti kemudian.
"Ada tiga mas."
"Trus aku ketemu sama pelayan disana dia memberitahu aku kalau kamu mendapatkan banyak hadiah dari fans. Emang dia pikir kamu artis apa sampai banyak fans! Dia salah orang kali ya. Dia juga memanggilmu ibu, sejak kapan kamu menjadi seperti ibu-ibu! Ngeselin!" gerutu Sakti diakhir ceritanya.
"Uhuuukk..." Zea tersedak, terkejut dengan penjelasan suaminya. Terang saja Sakti bicara seperti itu karena Sakti belum tau siapa dan bagaimana kehidupan Zea selama sembilan bulan ini.
"Zee, pelan-pelan makannya. Jangan kebiasaan tersedak." ucap Sakti sembari memberikan segelas air untuk Zea.
"Emang pelayan disana mengatakan apa saja mas?" tanya Zea penasaran begitu selesai menetralisir batuknya.
"Emm nggak banyak sih, cuma tanya apa aku mau titip barang untukmu, dan oh ya dia bilang kamu artis dikafe itu. Maksudnya gimana sih? Apa ada Zea lain selain kamu?"
Zea menggelengkan kepalanya, membuat reaksi wajah Sakti justru tampak menjadi penasaran.
"Jadi kamu artis disana maksudnya bagaimana? Jangan bilang kamu bekerja sebagai penyanyi dikafe itu." ucap Sakti dengan wajah menegang.
"Apaan sih mas? Aku kan nggak bisa nyanyi, suara aku aja fals banget."
"Trus kamu kerja bagian apa? Jangan bilang juga kamu sebagai pelayan! Nggak, nggak,... Mulai sekarang nggak boleh kerja lagi. Enak aja istriku jadi pelayan kafe. Mending jadi ratuku dirumah hanya melayani aku saja!"
"Mas, aku ingin tetap kerja. Jangan larang aku."
"Yaa nggak papa kerja, aku buatin aja kafe sendiri biar kamu bisa kelola sendiri. Nggak perlu kerja sama orang. Apalagi jadi pelayan."
"Memangnya kenapa kalau jadi pelayan? Apa dimata mas Sakti terlihat rendahan?" tanya Zea dengan nada tidak suka.
"Bukan itu Zee! Tapi kalau kamu jadi pelayan kafe bagaimana jika nanti ada yang godain, naksir, atau genit sama kamu?"
"Hihihi..." Zea tertawa senang mendengar alasan Sakti.
"Kok malah ketawa sih?"
"Mas Sakti tenang aja, aku kerja bukan dibagian pelayanan. Aku bagian admin. Jadi nggak perlu banyak interaksi langsung dengan pelanggan, hanya sesekali saja."
__ADS_1
"Beneran?"
"Iyaa mas."
"Yaa udah. Asal kamu jangan sampai digoda atau tergoda laki-laki lain yaa! Bisa ku hajar dia nanti. Kalau ada yang kurang ajar sama kamu, cerita sama aku."
"Iyaa mas. Kok jadi posesif banget sih?"
"Yaa gimana Zee, aku takut kamu direbut orang lain. Dan soal hadiah itu, jangan bilang kalau diantara barang-barang itu ada yang dari laki-laki." Sakti menatap serius mata Zea.
Sedangkan Zea hanya membalasnya dengan senyuman dan mengendikkan kedua bahunya.
"Zee... pliisss... jawab. Apa ada laki-laki diantara mereka semua yang memberimu hadiah?"
"Yang pasti bukan aku yang meminta loh ya. Dan aku belum tentu mengenal mereka."
"Zee aku heran bagaimana bisa admin kafe bisa seperti artis?"
"Aku nggak tau."
"Apa jangan-jangan kamu juga kerja sampingan jadi artis?" selidik Sakti masih penasaran.
"Hahaa bisa aja. Yaa udah lanjut sarapan lagi dan berangkat kerja. Nanti malam aku masakin spesial mau?" Zea mengalihkan bahasan obrolan mereka karena malas meladeni cecaran Sakti.
"Nggak usah, kamu kan capek abis kerja juga."
"Aku pulang sore mas. Jadi punya waktu untuk masak. Tapi kalau mas Sakti nggak mau masakanku ya udah aku masak buat pak Dadang sama pak Udin aja."
"Eh jangan! Enak aja! Masa malah masak buat mereka?"
"Yaa mas kan nggak mau."
"Emang aku tadi ada mengatakan nggak mau?"
Zea menggelengkan kepalanya.
"Ya udah nanti aku juga mau pulang cepat. Moga aja nggak ada halangan. Jadi mau makan masakan istri. Eh tapi,-"
"Apa?"
Wajah Zea bersemu merah dengan gombalan Sakti yang membuatnya merasa senang sekaligus aneh karena tidak menyangka Sakti memiliki sisi kepribadian humoris sekaligus romantis. Mengingat sikapnya dulu yang begitu temperamental.
Selesai sarapan Sakti sudah bersiap berdiri didekat mobilnya bersama dengan Zea yang berada disebelahnya. Terdengar juga dari arah luar pagar suara klakson mobil Nella memberi isyarat kedatangannya pada Zea. Sakti mengikuti Zea menghampiri mobil Nella, semua itu tidak luput dari pandangan mata Nella.
Sakti mengetuk kaca mobil Nella, meskipun enggan Nella membuka sebagian kaca mobilnya.
"Hai, pagi Nell." sapa Sakti dengan ramah namun justru diacuhkan Nella.
"Sarapan apaan sih lo pagi-pagi mukanya dah gitu. Kurang sajen lo ya?" sambung sakti dengan kesal karena merasa diacuhkan. Sakti sangat sadar alasan Nella mengacuhkannya selama ini adalah karena sikapnya pada Zea dulu. Namun Sakti berharap dengan semakin membaik hubungannya dengan Zea juga akan memperbaiki kembali hubungannya dengan Nella.
"Apaan sih lo! Nggak lucu!" jawab Nella semakin sensi.
Zea mengusap punggung Sakti untuk menahan agar tidak terpancing dengan sikap Nella.
"Gue titip istri gue ya! Lo jagain! Jangan sampai ada cowok yang gangguin!" selesai mengucapkannya tanpa menunggu jawaban Nella, Sakti segera kembali pandangannya pada Zea yang berada disebelahnya tanpa perduli dengan ekspresi Nella yang mendadak melonggo mendengarkan ucapannya.
Sementara Zea berpamitan dengan Sakti dan mendapatkan restu dengan kecupan dikeningnya yang tertutup jilbab. Sedangkan Nella hanya bisa terngangga dengan sesekali mengerjapkan matanya seakan tidak percaya dengan adegan yang terjadi didepan matanya.
"Nell... Nella..." panggil Zea sembari melambaikan tangannya didepan mata Nella.
Nella tergagap saat tersadar Zea sudah duduk manis dikursi sebelahnya.
"Zee, apa aku ngga lagi mimpi?"
Zea hanya menanggapinya dengan senyuman karena sudah paham alasan dibalik pertanyaan sahabatnya.
"Zee aku yakin si bodoh itu habis kesambet malaikat." ujar Nella yang masih belum bisa mempercayai bahwa apa yang baru saja dia lihat adalah kenyataan perubahan diri Sakti.
"Hihi... Mana ada kesambet malaikat sih Nel?"
"Ya habis kok bisa dia berubah sedrastis itu apa coba kalau bukan kesambet malaikat? Kalau kesambet setan mah pasti dia kesurupan trus ngamuk bukannya malah jadi gitu."
"Huuusssttt..." Zea meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya.
__ADS_1
"Jangan ngomong yang ngga-ngga Nell. Khusnudzhon aja. Ingat Allah memberi sesuai prasangka kita. Berprasangka baik aja supaya Allah benar-benar membuat mas Sakti berubah."
"Iyaa ustadzah." sahut Nella sembari memutar stir mobilnya dan memulai perjalanan mereka menuju D'Generation Cafe.
* * *
Sepanjang hari Sakti lalui dengan semangat dan bahagia. Sampai-sampai karyawan heran melihat bos mereka yang biasanya cuek dan tegas pada bawahan menjadi ramah dengan membalas sapaan para karyawannya dengan senyuman. Tidak hanya itu, biasanya Sakti seringkali marah jika ada kesalahan dalam laporan ataupun pekerjaan karyawannya kini menjadi lebih sabar dan memberi arahan. Semua itu tidak luput menjadi gosip dan teka-teki atas perubahan dirinya.
Tokkk tokkk tookkk...
Pintu ruang kerjan Sakti diketuk sekretarisnya.
"Masuk!"
"Maaf pak, ada nona,-" belum selesai Diam nenyelesaikan kalimatnya tubuhnya terdorong.
"Sayaang..." panggil Vivian dengan suara nyaring sembari berlari kecil menuju meja kerja Sakti.
Sakti terkejut dengan kedatangan Vivian dikantornya.
"Oke keluarlah!" perintah Sakti pada Dian.
"Kenapa datang kemari? Aku sedang sibuk Vi."
"Sayang kok gitu sih? Aku udah bela-belain kesini bukannya disambut malah gitu?" tanya Vivian merajuk manja.
"Maaf Vi, tapi aku benar-benar sedang sibuk!"
"Sesibuk-sibuknya kamu pasti selalu luangin waktu buat aku. Kenapa sekarang nggak? Ada apa? Jangan-jangan udah udah ada yang lain ya?" cecar Vivian sembari menunjuk hidung Sakti dengan tatapan curiga namun dibuatnya menjadi kesan semanja mungkin.
"Ngomong apa sih Vi, yang lain siapa?"
"Mana ku tau." jawabnya sembari mengendikkan bahunya
"Aku tadi bertemu Adam di kafe."
"Apa?" tanya Sakti tersentak kaget membuat Vivian menatapnya aneh.
"Biasa ajalah. Emangnya kenapa kalau ketemu Adam dikafe?" tanya Vivian dengan tatapan curiga.
Sakti segera memperbaiki raut wajahnya menjadi senormal mungkin.
"Karena ini masih jam kerja. Kenapa dia malah nongkrong di kafe!" jawab Sakti berbohong, Sakti menutupi kebenaran bahwa sebenarnya Sakti jugalah yang meminta Adam orang kepercayaannya untuk mengawasi Zea di kafe.
Vivian menganggukkan kepalanya,
"Iya juga sih. Tapi bodo amatlah. Aku kangen kamu sayang." Vivian melingkarkan kedua tangannya dipundak Sakti dan duduk dipangkuannya.
"Vi, ini dikantor." ucap Sakti merasa tidak nyaman dengan tingkah Vivian.
"Kamu kenapa sih yang? Kok jadi kaya gini ke aku? Biasanya kamu nggak pernah keberatan aku begini." protes Vivian yang menjadi semakin kesal dengan sikap Sakti yang berubah dingin kepadanya.
"Ya ini dikantor. Bagaimana kalau ada Dian masuk!"
"Kamu lupa bagkan kita pernah bercinta disini hemm?" tanya Vivian dengan nada semakin meninggi.
"Udahlah Vi aku lagi sibuk dan pusing. Jangan ajak berdebat sekarang kamu pulang dulu nanti aku telfon ya." pinta Sakti.
"Kok malah ngusir sih!"
"Bukan ngusir Vivian sayang, tapi aku pengen fokus. Kalau kamu disini godain aku terus bagaimana bisa fokus? Bagaimana kalau ada masalah dengan kerjaanku?"
"Heeehhh...." Vivian menghela nafas panjang.
"Ya udah aku pulang sekarang tapi telfon aku sebelum jam 3 sore atau aku akan datang kerumah dan menginap selama satu bulan."
"Terserah kamu saja." jawab Sakti malas.
"Oke, aku pulang dulu ya. Jangan lupa telfon." ucap Vivian kemudian mengecup bibir Sakti sebelum akhirnya pergi dengan berjalan berlenggak lenggok menggoda.
"Aaarrrgghhhh...." Sakti mengacak rambutnya yang tertata rapi untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Lalu mengusap kasar bibirnya karena merasa jijik dengan bekas bibir yang dulu begitu membuatnya kecanduan.
"Ciihh... Apaan lagi ini!" ucapnya dengan kembali mengelap bibirnya menggunakan tisu terdapat noda merah bekas lipstik Vivian.
__ADS_1